Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 90 : Makam Kuno... 8


__ADS_3

"Mundur!" Teriak salah seorang yang cepat menyadari bahaya yang akan menghadangnya.


Tapi naas, hanya dia dan pemuda sangar yang masih sempat mundur, sedangkan keempat teman mereka terpanggang matang.


"Lolos dua!" Zhou Fan bergumam sembari melirik kedua pemuda yang masih tersisa.


"Akan kupastikan, selanjutnya akan tepat sasaran," Ucap Zhou Fan pelan sambil menyeringai.


Zhou Fan melambai dan seketika keluar sebilah pedang yang selalu Zhou Gan kenakan, pedang yang selalu menemaninya bertarung.


Swush swush...


Zhou Fan memutar pedangnya hingga hanya terlihat bayangan dari pedangnya, perlahan Zhou Fan maju, setapak demi setapak.


Zhou Fan menghentikan putaran pedangnya, lalu menatap remeh kedua lawannya.


Mental untuk bertarung kedua pemuda yang masih tersisa kini telah hancur, melihat begitu mudahnya Zhou Fan menghabisi teman mereka bahkan tanpa bergerak, itu menimbulkan tekanan mental kepada mereka berdua.


Pemuda yang tadinya terlihat sangar dan garang, menjadi seperti kucing di hadapan Zhou Fan. Dengan saling berhimpitan dengan temannya, tubuh kedua pemuda itu bergemetar.


"Am..ampuni ny..nyawa kami tuan muda, ka..kami salah. Kami tak bisa mengenali tuan muda yang agung." Pemuda yang paling sangar itu bersujud ketakutan, sampai untuk bicara saja memerlukan waktu lebih lama baginya.


Zhou Fan memangut dagunya, dia seolah memikirkan ucapan pemuda sangar di hadapannya.


Hem..


"Apa yang aku dapatkan jika aku melepaskan kalian?" Tanya Zhou Fan asal.


"Em..." keduanya terdiam, saling lirik kemudian memandang Zhou Fan dengan berbinar. "Kami akan menjadi anak buahmu tuan muda, memiliki bawahan petarung master sepertiku merupakan keuntungan bagimu, bukankah begitu tuan muda?"


Zhou Fan lagi lagi menampilkan wajah serius, dia juga kembali memangut dagunya.


"Heh.. Kalian tak layak!" Ucap Zhou Fan singkat, lalu menyabetkan pedangnya tepat ke arah leher kedua pemuda itu.


Sling... Buck! Buck!


Kepala mereka berdua terjatuh menggelinding dari lehernya yang terpotong dengan begitu rapi, tubuhnya ambruk tepat sesudahnya.


"Huh!" Zhou Fan mendengus, dalam hati dia berkata. "Aku tak membutuhkan bawahan yang bisa menggigit."


Zhou Fan mengambil cincin penyimpanan pada keenam pemuda yang telah tewas di tangannya.

__ADS_1


Memang cecunguk sejati, pikir Zhou Fan.


Orang orang seperti inilah yang sangat berbahaya, disaat merasa kuat dia menggigit semua orang, tapi saat berjumpa dengan lawan yang kekuatannya di atasnya, mereka akan menjadi anjing penjilat.


Dunia tak akan pernah damai jika masih banyak orang orang seperti mereka, mereka harus basmi, kalau bisa sekalian sampai ke akarnya.


Sementara pemuda yang bertarung dengan Qing Yuwei seketika mengehentikan pertarungannya, melirik temannya sambil meneguk ludah dengan kasar.


Glek..


mendengar jeritan teman temannya dan melihat begitu mudah keenam temannya terbantai di tangan pemuda yang tampak lebih muda darinya, dia perlahan mundur, ketakutan sudah merasuki dirinya.


Melihat lawannya lengah, Qing Yuwei tak menyia-nyiakan kesempatan, dia melesat cepat menggorok leher pemuda yang menjadi lawannya dengan belati di tangannya.


Srett....


Bruk... Tubuh pemuda itu tersungkur ke tanah dengan leher hampir terputus.


Gadis itu menunduk, mengelap belatinya yang terkena darah dengan pakaian pemuda yang telah terbaring tanpa nyawa.


Merasa belatinya telah kembali seperti semula, Qing Yuwei menghampiri Zhou fan, dan langsung meraih tangan pemuda itu.


"Ada apa?" Zhou Fan merasa aneh dengan sifat Qing Yuwei.


"Kau begitu ganas, lihat! dia bahkan mati dengan mata melotot," Ujar Zhou fan seraya menunjuk mata pemuda yang dibunuh Qing Yuwei.


"Biarin, siapa suruh mereka mencari masalah!" Seru Qing Yuwei melirik Zhou Fan.


Huft...


"Aku tidak dapat mengerti dirimu, Wei'er. Terkadang kau sangat cerewet dan galak, namun sekarang kau begitu manja." Zhou Fan menggeleng sambil terkekeh, mengelus puncak kepala Qing Yuwei.


Sementara Qing Yuwei tak menghiraukan ucapan Zhou Fan, gadis itu malah semakin mengeratkan rangkulannya ke tangan Zhou Fan.


.


.


.


"Wei'er, kita sudah sehari disini, tapi kenapa tidak terdengar suara tanda untuk keluar?" Tanya Zhou Fan heran.

__ADS_1


Karena yang pemuda itu ketahui, batasannya hanya sehari saja untuk menjelajahi malam kuno.


"Itu karena waktu di dalam malam kuno ini tidaklah sama dengan di luar. Perbandingannya satu dibanding tiga, tiga untuk waktu di dalam makam ini dan satu untuk dunia nyata. Jadi paling lama kita akan berada di dalam makam ini selama tiga hari," Jelas Qing Yuwei.


Zhou Fan hanya mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar Qing Yuwei.


"Apakah kita akan ke pusat makam ini, karena disanalah terdapat pedang pusaka malam, yang entah rank apa pedang itu." Qing Yuwei berkata dengan penuh semangat.


"Baiklah, sepertinya memang harus kesana!" Ucap Zhou Fan.


"Apakah kau masih bisa berjalan, Wei'er?" Zhou Fan menggoda Qing Yuwei.


"Huh! Aku masih kuat. Hanya untuk berjalan saja itu tidak sulit bagikuku. Lagi pula siapa yang bertanggung jawab atas kondisiku!" Cibir Qing Yuwei dengan wajah kesal.


Zhou Fan tersenyum kecut, "Jika kau menginkannya lagi, kau hanya perlu memanggilku."


"Hng..." Qing yuwei mendengus kesal, kemudian gadis itu meninggalkan Zhou Fan yang selalu mengoloknya.


Sambil berjalan Zhou Fan tiba tiba merindukan Wei Guanlin, gadis itu memiliki sifat yang sedikit berbeda dengan Qing Yuwei. Dibandingkan dengan Qing Yuwei, Wei Guanlin lebih anggun dan menawan, sementara Qing Yuwei, enerjik dan menarik.


Terlepas dari itu semua, keduanya telah mendapatkan tempat masing masing dalam hati Zhou Fan.


Tanpa sadar, sebuah tekad tercipta dalam diri Zhou Fan. Tekad untuk menjadi pelindung sekaligus penjaga bagi kedua wanitanya.


Untuk melakukannya, dia memerlukan kekuatan, semakin kuat dirinya semakin tinggi keyakinannya untuk melindungi orang terkasihnya.


***


Sementara di bagian makam kuno lainnya, seorang gadis cantik dengan pakaian serba putih tengah berhadapan dengan sekumpulan beast lebah penghisap darah.


Meskipun bukanlah beast tingkat tinggi, beast lebah penghisap darah, memiliki satu keunggulan, yaitu kebiasaan yang selalu bergerombol, dalam satu kesempatan biasanya terdapat ratusan lebah yang ukurannya sekepalan tangan anak berusia tiga tahun.


Lebah penghisap darah tidak akan bergerak tanpa kawanannya dan juga mereka adalah beast teritorial, atau beast yang mengklaim suatu tempat sebagai daerah kekuasaannya.


Siapa yang memasuki daerah kekuasaannya akan mendapatkan tentangan dari beast lebah itu.


Gadis berpakaian putih menyerang beast lebah dengan dibantu dua orang teman yang berdiri tak jauh darinya.


"Senior, kau harus mengalihkan perhatian beast lebah itu, aku dan Saudari Li akan berusaha memberikan serangan fatal kepada mereka," ucap gadis berpakaian putih kepada perempuan yang ia panggil dengan sebutan senior.


"Baiklah, tapi kau berhati hatilah. Meskipun beast ini tingkat 3, kau tidak boleh menganggapnya enteng," Pesan wanita yang dipanggil senior.

__ADS_1


Semantara wanita yang dipanggil saudara Li sudah berada di posisinya, kemudian berseru kepada wanita berpakaian serba putih.


"Saudari Guanlin, kau menyerangnya dari arah kiri!"


__ADS_2