Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter...148 : Liontin Giok Prisma


__ADS_3

Hari hari berikutnya adalah saat paling krusial bagi klan Zhou, semua orang bahu membahu membangun kembali bangunan yang telah berubah menjadi reruntuhan.


Di kediaman Patriark Klan...


Zhou Fei duduk di kursi kayu dengan tangan menopang dagu, pria tua itu tampak tertekan.


Haih..


Zhou Fei menghela nafas pasrah, ia frustasi akan krisis keuangan yang menimpa klan Zhou. Untuk membangun kembali klan Zhou, akan memerlukan sangat banyak biaya.


Tak tak tak...


"Kau terlihat sangat pusing Patriark, apa yang sebenarnya mengganggu pikiran mu?" tanya seorang pemuda dengan sedikit menundukkan kepala hormat.


Kelopak matanya yang semula tertutup, melirik pemuda di hadapannya.


"Ada apa?" Zhou Fei bertanya masih dengan sebelah tangan menopang dagu.


Dengan cepat Zhou Fan meraih kursi di dekatnya, kemudian duduk dan mulai angkat bicara.


"Patriark, apakah klan Zhou mempunyai sesuatu yang dapat menyebabkan perselisihan, misalnya barang berharga?" tanya Zhou Fan dengan wajah serius, ekspresinya dalam sekejap telah berubah.


Zhou Fei menyipitkan sedikit matanya, memperhatikan raut wajah Zhou Fan. Namun saat mendengar pertanyaannya, seketika Zhou Fei duduk tegap.


Brak...


Tanpa sadar tangan kirinya yang ia pakai untuk penyangga kepalanya memukul pegangan kursi dengan keras.


Zhou Fan terkejut, namun dengan cepat menguraikannya. Dalam hati dia bergumam, "Seperti yang aku pikirkan."


"Ehem... " Zhou Fei berusaha bersikap biasa, berusaha untuk tetap tenang.


Setelah duduk kembali dengan tenang, Zhou Fei memandang pemuda di hadapannya.


"Apa yang membuatmu berpikiran demikian?" tanya Zhou Fei dengan wajah sudah tenang.


Klan Zhou memang mempunyai sebuah barang yang mungkin itu adalah peninggalan dari nenek moyang terdahulu mereka, Sebuah giok berbentuk prisma berwarna biru kekuningan dengan gambar bintang pada setiap sisinya.


Zhou Fei tidak pernah sekalipun mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan giok tersebut, karena sudah menjadi amanah dari Patriark terdahulu.


Zhou Fei menyimpan rapat rapat rahasia giok tersebut untuk dirinya, dan berniat akan memberikannya kepada penerusnya, Patriark klan Zhou setelahnya.


...


Zhou Fan menggaruk tengkuk kepalanya, kemudian berkata dengan ragu. "Sebelum Patriark Bai meninggal, dia mengatakan ada seseorang di balik semua yang terjadi pada malam itu...,"


"Dia mengatakan orang di belakangnya akan datang pada akhirnya, namun dia tak menyebutkan kapan dan siapa orang di belakangnya." Zhou Fan membeberkan informasi yang setiap malam mengganggunya.


Zhou Fei mengelus jenggot putihnya, manik matanya mengincar langit langit ruangan yang bahkan sudah tersisa separuh.


Menurut apa yang disampaikan Zhou Fan, Zhou Fei tak bisa menganggap masalah ini sepele, dia menimang dengan sangat hati-hati.


"Emn... Aku tak tahu ini adalah barang berguna atau tidak, yang aku ketahui ini adalah peninggalan yang di wariskan untuk Patriark klan Zhou." Zhou Fei mengeluarkan kalung di balik pakaiannya.


Zhou Fan memandang kalung di tangan Zhou Fei, giok berwarna biru kekuningan terlihat begitu mencolok, membuat semua orang akan memandangnya tanpa sadar.


"Apakah... " Belum sempat Zhou Fan membuka lebih lebar mulutnya, Zhou Fei terkekeh pelan, membuat Zhou Fan menatapnya heran.


"Ini adalah barang yang aku maksud, ini adalah peninggalan yang di berikan khusus oleh Patriark klan sebelumnya kepadaku...,"


"Meskipun aku tak tahu kelebihan atau kegunaan benda ini, aku selalu menyimpannya, menjaga agar tetap berada dalam dekapanku," ujar Zhou Fei seraya memandang giok berbentuk prisma tersebut.


Zhou Fan menyipitkan matanya, memandang lekat giok menggantung sebagai liontin.


"Bolehkah aku melihatnya, Patriark?" tanya Zhou Fan sopan.


"Ambillah, kau juga sudah mengetahui nya, tak masalah untuk membiarkanmu melihat lebih dekat." Zhou Fei mengulurkan tangannya, disambut dengan ceria oleh Zhou Fan.


Zhou Fan menelisik giok di tangannya begitu hati-hati, bahkan ia sampai memiringkan kepalanya hanya untuk mengamati lebih mendalam.


Zhou Fei menggelengkan kepala jengah, memandang Zhou Fan dengan tatapan aneh.


"Kau begitu semangat, apakah kau tahu apa itu?" Zhou Fei bertanya dengan suara rendah, ia tak berharap Zhou Fan akan dapat mecahkan rahasia di dalam giok tersebut.


Zhou Fan yang tadinya fokus dengan giok di tangannya, menengadahkan kepalanya memandang Zhou Fei, lalu menggeleng kecewa.


"Aku tak tahu..," ucap Zhou Fan.


"Wajar jika kau tak tahu, Patriark klan sebelumnya juga tidak mengetahui banyak mengenai giok prisma," ujar Zhou Fei.


"Apakah mungkin, giok prisma ini yang menjadi tujuan mereka?" tanya Zhou Fan tiba tiba.


"Entahlah, aku tak tahu apakah giok itu berharga, tapi ada kemungkinan apa yang kau katakan merupakan kebenaran." Zhou Fei mengatakan dengan sedikit keras.


"Meskipun aku tak tahu giok ini, aku yakin giok ini bukan merupakan barang biasa," Ucap Zhou Fan dengan sangat yakin.


"Tak perlu kau katakan aku juga sudah tahu, tidak mungkin para pendahulu meninggalkan barang tak berguna kepada keturunannya!" ujar Zhou Fei sedikit kesal.


"Ya-ya-ya... Kita kesampingkan masalah giok, saat aku datang wajah Patriark lebih bruk dari pada kotoran anjing, apa yang menggangu pikiranmu, Patriark?" tanya Zhou Fan diakhiri kekehan.


"Hng... Malah cengengesan," Seru Zhou Fei dalam benaknya.

__ADS_1


"Kau tahu... "


"Tidak!" sanggah Zhou Fan dengan spontan.


"Bisakah kau diam?!" Zhou Fei melirik Zhou Fan sinis.


"Baiklah baiklah... " Zhou Fan melambaikan tangannya berulang dengan wajah canggung.


Zhou Fei kembali membuka suaranya setelah melihat Zhou Fan kembali diam.


"Klan Zhou mengalami kerugian yang tak sedikit, untuk memulihkan kondisi klan Zhou seperti semula, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit...,"


"Kekayaan klan Zhou memang memadai jika di gunakan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi, namun tidak akan bisa membawa klan Zhou kembali ke kondisi sebelumnya." Zhou Fei menutup penjelasan yang dengan helaan nafas pasrah.


"Andai klan Zhou mempunyai seorang alkemis, meskipun hanya tingkat pertama itu akan sangat membantu," ujar Zhou Fei lagi.


"Apakah seorang alkemis dapat membantu klan Zhou?" tanya Zhou Fan dengan senyum licik terurai nyata.


"Ya, itu akan sangat membantu...," jawab Zhou Fei.


"Bukankah hanya seorang alkemis, apa susahnya?" tanya Zhou Fan masih dengan seringainya.


"Kau bicara seolah kau adalah alkemis, jika kau seorang alkemis aku akan bersujud di hadapanmu sekarang juga," tukas Zhou Fei dengan nada tegas.


"Wowow... Aku sungguh terkejut, aku akan membawa banyak orang untuk menjadi saksi. Haha.. " Zhou Fan mengatakannya dengan mengejek.


"Berhentilah membual, kau membuat kepalaku semakin berdenyut." Zhou Fei memijit kening keriputnya, sambil memejamkan mata.


Zhou Fan tak menjawab, dia mengibaskan tangannya dan seketika di sana terlihat puluhan botol pill.


Suara botol pill berserakan menggangu Zhou Fei yang lagi berfikir, pria tua itu mengusap wajahnya kemudian memandang Zhou Fan dengan kesal.


"Bisakah ka... " Perkataannya terhenti saat melihat begitu banyak botol tak asing dengan jumlah puluhan bahkan ratusan.


Zhou Fei memandang bergantian Zhou Fan serta botol pill yang berserakan di lantai. "Kau... Apakah kau,"


Zhou Fan terkekeh pelan, sambil melirik ke arah Zhou Fei dia berkata.


"Pria sejati tidak menarik perkataannya!"


Zhou Fei menyipitkan matanya, tangannya bergerak meraih salah satu botol pill yang berada tak jauh darinya.


Perlahan pria tua itu membuka dan mencium aromanya, aroma khas dari pill membuat kening Zhou Fei mengerut seketika.


Bukan masalah jika pill di dalamnya merupakan pill tingkat pertama, tapi yang dapat ia rasakan pill di dalam botol di tangannya lebih tinggi tingkatannya.


Zhou Fei melempar botol pill di tangannya, kemudian meraih botol pill lainnya yang berserakan di bawah lantai.


Tangannya membuka penutup botol dengan cekatan, pandangannya mendadak kosong saat mengkonfirmasi apa yang ada di dalam botol merupakan pill.


"Mendapatkan?" Zhou Fan mengernyitkan dahinya, menatap kesal pria tua di hadapannya.


"Semua pill ini adalah maha karya pemuda tampan di hadapanmu, apakah wajahku ini terlihat seperti penipu, aku berkata yang sebenarnya," ujar Zhou Fan.


"Ck... Berhentilah bermain main, dan katakan yang sebenarnya, karena ini akan sangat membantu klan Zhou. Ayo, cepat katakan!" desak Zhou Fei sedikit memaksa.


"Percaya atau tidak aku akan memukul mulut pak tua ini..," Zhou Fan menggerutu dalam hati.


"Sudah aku katakan ini adalah pill buatanku, apa yang membuatmu tak percaya?" tanya Zhou Fan.


"Bagaimana aku bisa percaya, pill pill ini setidaknya merupakan pill tingkat tiga ke atas. Bahkan jika merupakan pill tingkat pertama, aku masih tak percaya." Zhou Fei menggeleng tegas.


"Ya sudah jika kau tak percaya," Zhou Fan mengambil kembali botol pill miliknya.


"Eh eh.. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau kembali memasukkannya?" tanya Zhou Fei mencoba meraih botol yang beterbangan dan mulai lenyap.


"Bukankah kau tak percaya kepadaku, aku hanya membual, lalu kenapa kau tak mau melepaskan pill pill tak berhargaku?" tanya Zhou Fan dengan wajah mengesalkan.


"Aku percaya aku percaya,... Cepat keluarkan kembali." Pinta Zhou Fei, dengan pill pill tersebut klan Zhou akan sangat terbantu, selain bisa menjualnya, juga bisa digunakan oleh orang sendiri.


"Aku berubah pikiran, aku tak mau membantumu," ujar Zhou Fan.


"Tapi, jika.. " Zhou Fan tersenyum licik.


Zhou Fei menatap Zhou Fan antusias, menunggu syarat dari Zhou fan.


"Jika kau memberikan giok prisma itu kepadaku, aku akan dengan senang membantu," ujar Zhou Fan.


Zhou Fei seketika memasang wajah datar, perlahan muncul guratan garis hitam di dahinya.


"Tidak, aku tidak akan menyerahkannya. Giok prisma hanya akan di turunkan kepada pewaris patriark klan Zhou," jelas Zhou Fei sembari mendekap kalungnya erat.


"Cih! Lagi pula kau tak tahu apa gunanya, dan lagi giok prisma dapat membawa berbagai ancaman datang...,"


"Meskipun aku juga tidak tahu apa kegunaannya," tambah Zhou Fan dalam hati.


Zhou Fei berfikir, otak tuanya berusaha mencermat perkataan Zhou Fan.


"Baiklah,.. " Dengan sedikit ragu Zhou Fei menyerahkan keluang ber liontin giok prisma kepada Zhou Fan.


'Setidaknya giok prisma lebih aman bersama dengannya, juga dia merupakan pemuda yang paling pantas menjadi penerusku. Aku tak bisa membayangkan potensi klan Zhou dengan dia sebagai pemimpinnya.' Tanpa sadar kerutan di wajah Zhou Fei semakin jelas, pria tua itu tersenyum memandang Zhou Fan.

__ADS_1


"Dengan ini aku akan menemukan dalang di balik penyerangan," gumam Zhou Fan.


Setelah menyimpan kalung ber liontin giok prisma, Zhou fan mengayunkan tangannya, dan seketika botol pill berhamburan keluar, bahkan jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.


Zhou Fei tertegun, matanya seolah tak percaya. "Apakah dia merupakan alkemis, seperti yang dia katakan?"


Meskipun berkata 'percaya' Zhou Fei tak benar benar percaya, dia mengatakan hanya kerena tak ingin pill pill itu di bawa kembali.


Pikirannya terguncang, namun dia tetap tak ingin percaya bahwa Zhou Fan merupakan seorang alkemis.


Saat akan berpamitan pergi, Zhou Fei menghentikan nya, kemudian pria tua itu meraih sebuah kotak yang terlihat sangat usang.


"Ini adalah wadahnya, aku menyerahkan kalung itu kepadamu, seharusnya juga termasuk wadahnya," ucapnya sembari melemparkan kotak kayu usang dengan lebar sejengkal tangan.


Klak..


Zhang Fan menangkap kotak kayu dengan sempurna, melihat dengan jelas kotak di tangannya, matanya semakin menyipit.


"Kotak ini sedikit tidak asing," gumam Zhou Fan yang kemudian memasukkan kotak tersebut ke dalam cincin penyimpangan, namun sebelum itu dia terlebih dahulu menempatkan kalung berlian giok prisma di dalamnya.


Zhou Fan kemudian kembali ke kediamannya, dengan perasaan aneh dia berjalan santai.


Sampainya di ruangannya Zhou Fan kembali mengeluarkan kotak usang yang baru saja ia peroleh.


Sambil duduk bersila di lantai Zhou Fan berusaha mengingat dalam pikirannya, karena kotak usang itu sungguh tak asing dalam kepalanya.


Tak bisa mengingatnya, telunjuknya mengetuk ngetuk lantai, berusaha menggali ingatannya.


Tak tak tak...


Lama mencoba namun tetap tak bisa mengingatnya, seorang wanita paruh baya datang memasuki kamarnya.


"Fan'er kau kenapa, kau terlihat serius?" tanyanya yang kemudian duduk di atas ranjang di samping Zhou fan duduk.


"Ah... Ibu, bukan masalah penting." Ucap Zhou Fan yang tak mau ibunya khawatir.


Meskipun tahu anaknya menutupi sesuatu darinya, Zhou Qian tak memaksa putranya untuk mengungkapkan apa yang menjadi beban pikirannya.


"Baiklah, ibu akan kembali..." Saat akan berdiri, pandangannya mengarah ke kotak usang yang berada di sebelah Zhou Fan.


"Kau masih menyimpan kotak usang ini? Ibu kira kau akan membuangnya setelah mengambil gulungan yang ada di dalamnya." Zhou Qian membalik balikkan kotak usang yang sudah berada di tangannya.


Zhou Fan mengerutkan kening, matanya menyipit menatap ibunya.


Klak klak....


Terdengar suara benturan dari dalam kotak, membuat Zhou Qian menyipitkan matanya.


"Apa yang ada di dalamnya?" tanya Zhou Qian spontan.


Eh..


"Emn... Kalung ya hanya kalung," jawab Zhou Fan.


"Oh... " Zhou Qian kembali menaruh kotak kayu usang di samping Zhou Fan, kemudian berdiri dan berlalu pergi.


Sambil beranjak keluar wanita paruh baya itu tidak lupa mengajak Zhou fan. "Ayo makan, ibu sudah menyiapkannya di meja makan."


"Hem.. Ya," gumam Zhou Fan sambil mengekor ibunya.


"Pantas saja aku tak asing dengan kotak usang itu, bahkan ibu langsung mengira kotak itu merupakan kotak yang sama dengan kotak peninggalan keluarganya...," gumam Zhou Fan dalam hati.


Zhou Fan tak mengira akan dapat menghubungkan kejadian penyerangan klan Zhou dengan keluarga ibunya.


"Nanti saja aku pastikan," ujar Zhou Fan dalam benaknya.


Sambil berjalan dia terus memikirkan hubungan semua itu, perlahan memori ingatannya semakin jelas.


Keluarga ibunya yang dibantai, keluarga Lee, kitab emperor serta gurunya, pedang darah malam, dan sekarang klan Zhou.


Semakin lama memikirkannya semakin pusing kepalanya.


Huh...


Zhou Fan menghela nafas rendah, sampainya di meja makan dia duduk di tempat biasa ia duduk.


Makan siang tak memerlukan waktu yang lama, ketiganya memakan makanan meraka tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Ayah, ibu, Fan'er kembali ke ruangan." Pamit Zhou Fan dengan segera saat piring di hadapannya telah ludes tak tersisa.


Zhou Hu dan Zhou Qian menyipitkan matanya, kemudian saling memandang satu sama lain.


Keduanya pun mengedikkan bahunya bersamaan, seolah melemparkan jawabannya masing masing.


Zhou Fan berada di ruangannya, menatap dua kotak kayu usang yang sekarang berada di masing masing tangannya.


"Sungguh kebetulan yang luar biasa,.. Bahkan orang bodoh akan tahu bahwa kejadian ini saling berkaitan." Zhou Fan mengatakan sambil menatap bergantian dua kotak di tangannya.


Zhou Fan meletakkan kotak yang merupakan kotak peninggalan keluarga ibunya, kemudian membuka dan mengeluarkan kalung ber liontin giok prisma.


"Andai aku tahu aku kegunaan giok prisma, mungkin aku dapat mencari siapa otak serangan kepada klan Zhou dan keluarga ibu." Zhou Fan menggantung sambil mengayunkan kalung di depan wajahnya.

__ADS_1


Zhou Fan membaringkan tubuhnya, sebelum memejamkan mata, dia bergumam.


"Siapapun itu, aku akan membalasmu."


__ADS_2