
Beberapa saat sebelumnya....
"Lin'er apakah kau mencari suatu barang yang kau butuhkan?" Rourou yang melihat Wei Guanlin gelisah, tak tahan untuk bertanya.
"Saudari Guanlin kau terlihat cemas!" Seru gadis muda yang seumuran dengannya.
Wei Guanlin diam, hatinya bergejolak secara tak tentu. Dia merasa akan terjadi suatu hal yang dapat menarik perhatiannya.
"Senior, saudara Li, aku akan berjalan kesana." Wei Guanlin menunjuk kerumunan orang yang terlihat begitu ramai.
Wei Guanlin meninggalkan kedua rekannya untuk menuju ke tempat ramai tersebut.
Kedua gadis itu saling pandang, lalu bergegas menyusul Wei Guanlin.
"Kenapa kalian mengikutiku? Apakah kalian tidak mempunyai barang yang kalian incar." Wei Guanlin menaikkan salah satu alisnya.
"Tidak!" Jawab keduanya singkat.
Huft...
Wei Guanlin mengangkat kedua bahunya lalu kembali fokus dengan tujuannya.
Akhirnya mereka bertiga sampai di tempat, sebuah pedang tertancap dalam di tengah tengah, banyak orang mencoba untuk menariknya tapi tak ada yang sanggup mengangkat pedang itu, bahkan untuk mengetarkannya saja tidak.
"Senior, apakah kau pikir ada yang bisa mengangkat pedang disana?" Wei Guanlin menunjuk pedang pusaka malam.
"Hanya orang yang ditunjuk langit yang bisa mengangkatnya." Rourou bergumam pelan, tapi itu sudah cukup untuk Wei Guanlin mendengarnya.
"Aku harap bisa melihat orang yang ditunjuk langit itu." Harap He Li.
"Heh! Saudara Li kau harus menunggu beberapa tahun dari sekarang jika kau menantikannya." Wei Guanlin terkekeh.
"Kalau itu pangeran berkuda yang ditakdirkan untukku, aku rela bahkan jika harus menunggu selama hidupku." He Li berkata dengan yakin.
Wei Guanlin dan seniornya tak lagi dapat menahan tawanya.
Phuft...
Layaknya wanita anggun pada umumnya, kedua gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Cih, kalian hanya iri denganku." He Li memalingkan wajahnya kesal.
"Saudara Li, kau harus tahu, Lin'er sudah memiliki pangerannya dan pangerannya akan datang menjemputnya." Seakan telah menembak dia sasaran dengan satu batu, Rourou mengejek kedua gadis itu sekaligus.
He Li menampakkan wajah terkejut sementara Wei Guanlin berdiri dengan wajah memerah, bahkan gadis itu seakan ingin pergi meninggalkan kedua rekannya.
"Lihat! Mukanya memerah. Haha..." Rourou semakin mengolok Wei Guanlin.
Hahaha..
He Li tertawa lepas
"Heh, ternyata putri es kita sudah mempunyai kekasih." He Li ikut mengejek Wei Guanlin.
"Ehem... Bisakah kalian diam." Wei Guanlin berkata dengan wajah masih memerah, wajahnya masih enggan bertatapan dengan kedua rekannya.
"Ya baiklah baiklah. Tapi kau harus memperkenalkannya kepada kami, ya kan senior?!" He Li mengerlingkan matanya.
Mereka bertiga akhirnya fokus dengan aksi orang orang yang mencoba menarik pedang pusaka malam.
__ADS_1
Tapi Wei Guanlin tak benar benar memperhatikannya, gadis itu memikirkan Zhou Fan.
Sudah sekian banyak orang yang mencoba, tapi tidak ada yang berhasil.
Saat semua orang berpikir tidak ada yang bisa menariknya, seorang pemuda tampan dengan pakaian maroon berjalan ke arah pedang pusaka malam.
He Li yang melihat pemuda sangat tampan sedang berjalan di hadapannya, tak bisa mengalihkan perhatiannya.
"Saudara Guanlin, jika dibandingkan dengan kekasihmu lebih tampan mana?" He Li menarik lengan pakaian Wei Guanlin.
Wei Guanlin yang dari tadi melamun dengan cepat menoleh ke arah He Li, sambil memasang wajah bingung.
He Li yang mengerti, segera menunjuk ke salah seorang pemuda berpakaian maroon tanpa melihat ke arahnya.
Wei Guanlin mengangkat kedua bahunya, dia tak bisa melihat wajah pemuda itu karena sekarang posisi sang pemuda membelakanginya.
He Li yang mendapat jawaban acuh mendengus, lalu menatap pemuda berpakaian maroon.
Mulutnya membulat membentuk huruf O saat mengerti alasan Wei Guanlin tak memberikan jawaban.
"Tunggu sebentar lagi, dia pasti akan menghadap kemari. Aku yakin kau akan terkejut melihat wajahnya yang begitu tampan..." He Li manaik turunkan kedua alisnya, dia terus meninggikan pemuda berpakaian maroon, yang membuat kedua gadis di sampingnya mengernyitkan kening.
Heem...
Wei Guanlin acuh tak acuh, lalu kembali memejamkan matanya.
Tak lama suara He Li terdengar tepat di telinganya, yang membuat Wei Guanlin dangan terpaksa membuka mata.
Matanya membulat sempurna saat melihat jelas wajah pemuda berpakaian maroon.
"Fan?!" Tanpa sadar gadis itu bergumam.
Melihat senyuman di wajah Wei Guanlin membuat kedua orang rekannya menatap aneh ke arahnya.
Saudara Guanlin..
Lin'er..
Rourou dan He Li berusaha memanggil Wei Guanlin, tapi tidak ada respon dari gadis cantik tersebut.
Melihat mata Wei Guanlin yang menatap rindu pemuda berpakaian maroon, membuat Rourou dan He Li terheran.
Keduanya saling berpandangan, lalu mulai berperang dengan pikirannya masing-masing.
"Apakah dia adalah pria itu? Bukankah terlalu kebetulan?" Rourou bertanya tanya dalam benaknya.
Sementara He Li merasa Wei Guanlin menyukai pria incarannya.
"Ternyata dia disini! Kami begitu dekat, tapi... " Wei Guanlin bingung apakah ia harus menemuinya atau tidak.
Namun sebuah suara nyaring membuat hatinya tercubit.
"Fan! Semangat."
Wei Guanlin melirik ke pemilik suara dan menemukan seorang gadis cantik yang terlihat masih muda.
Wei Guanlin memandang Zhou Fan bergantian dengan gadis yang memberikan semangat.
"Siapa gadis ini? Apa hubungannya dengan Fan gege?"
__ADS_1
"Apakah dia kekasihnya?"
Wei Guanlin memasang wajah kecewa, sungguh hatinya terasa nyeri mengatahui hal itu.
Dia berbalik, lalu meninggalkan tempatnya berada dengan wajah bergelimang air mata.
Rourou dan He Li yang melihat kejadian itu tak bisa berpikir lagi. Keduanya lalu mengejar Wei Guanlin yang tampak sedih.
"Saudara Guanlin!"
"Lin'er!"
Panggil keduanya bersamaan, namun tak dihiraukan oleh gadis itu.
Wei Guanlin berhenti saat merasa sudah sangat jauh dengan tempatnya semula.
"Lin'er apakah dia..." Tanya Rourou.
He Li nampak terkejut mendengar pertanyaan Rourou, kemudian gadis itu memasang wajah penasarannya.
"..." Wei Guanlin hanya mengangguk tanpa bersuara.
Seketika wajah Rourou memerah marah, layaknya naga yang kehilangan telur.
Bruak...
Tanah di bawah kaki Rourou berlubang karena hentakan gadis itu.
"Tunggulah disini Lin'er, aku akan memberikan pelajaran kepada bajingan itu." Rourou mengatakan dengan wajah bersungut marah.
Sedangkan He Li mencoba menenangkan Wei Guanlin dengan mengelus punggung gadis itu.
"Tunggu!"
Rourou berhenti saat mendengar suara Wei Guanlin. Lalu menoleh dengan wajah bingung.
"Biarkan saja kakak, dia mungkin mempunyai alasan yang jelas. Aku hanya memerlukan sedikit waktu saja untuk menenangkan perasaanku..."
Rourou mengerti kesedihan adik seperguruannya, baru pertama kali dia mendengar Wei Guanlin memanggilnya 'kakak', itu menggambarkan betapa sedihnya ia sekarang.
Rourou menghampiri Wei Guanlin, lalu memeluknya erat-erat.
"Lin'er, sebelum itu kau harus meminta penjelasan kepadanya secara langsung." Rourou membujuk Wei Guanlin untuk menemui Zhou Fan.
"Aku rasa itu tidak perlu senior, aku akan terus menunggunya, menunggu kedatangannya." Wei Guanlin memandang langit dengan wajah sedikit sedih.
"Kalau kau tak melakukannya, biar aku saja yang menghampirinya!" Seru Rourou dengan wajah marah.
Saat akan menjauh, Wei Guanlin memutuskan untuk menanyakan sendiri kepada Zhou Fan.
"Tunggu senior... aku akan pergi sendiri. Tapi tidak sekarang."
Huh, Rourou bernafas pasrah.
"Terserah kau saja, tapi jika kau tak melakukannya juga, aku yang akan bergerak."
Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat lain.
"Aku akan tetap menunggumu, meskipun aku tak tahu apakah kau mencariku!"
__ADS_1