
Melihat istrinya sudah masuk kedalam, Zhou Hu manatap anaknya, "Fan'er ajaklah Yin'er berkeliling kediaman, ada suatu hal yang ingin aku bicarakan dengan tetua ketiga," ucapnya lagi kepada anaknya.
Zhou Fan mengajak Zhou Yin keluar ruangan itu, dan berniat mengajaknya mengelilingi kediamannya.
Zhou Yin ingin sekali menolak ajakan Zhou Fan, tapi ayahnya sudah meliriknya dan mengangguk tanda bahwa ia menyuruhnya menyetujui ajakan Zhou Fan.
Di halaman belakang kediaman Zhou Fan...
Sepasang pemuda pemudi sedang terlihat bersama, tapi salah satu dari keduanya terlihat begitu enggan untuk bersama dengan lainnya.
"Kau tidak perlu mengikutiku!" ucapnya dengan ketus.
"Cih, kau kira aku ingin bersamamu, aku hanya menuruti kemauan ayahku....," balas Zhou Fan yang juga tidak kalah ketus.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan, kau hanya sampah yang bahkan tidak bisa berkultivasi...," Zhou Yin memandang Zhou Fan dengan tatapan remeh.
Zhou Fan termenung mendengar apa yang di ucapkan gadis di sampingnya.
Sampah? Begitukah gadis itu memandangnya, dimana gadis kecil yang selalu lengket kepadanya, apakah semua yang dia katakannya di masa lalu adalah omong kosong?
**
Flashback.....
Di sebuah bukit di Desa Giok, terlihat dua anak kecil sedang duduk berdampingan dengan saling menautkan tangan mereka, keduanya nampak sangat menikmati semilir angin yang menerpa bagaikan ombak samudra.
"Kakak Fan, apakah kau sudah menyukai seseorang?" tanya gadis kecil itu pada anak yang ia panggil Kakak Fan itu.
"Kedua orang tuaku, aku sangat menyukai dan menyayangi mereka," ucap anak laki-laki itu dengan polos.
"Bukan itu yang Yinyin maksud, maksud Yinyin gadis yang kaka Fan suka, apakah Kakak Fan mempunyainya?" tanya gadis sambil menjelaskan maksud ucapannya.
Anak yang dipanggil Kakak Fan itu menoleh, lalu manggelang tanda ia tidak mempunyai seseorang selain kedua orang tuanya.
Kedua anak kecil itu tidak lain adalah Zhou Fan serta Zhou Yin saat mereka berumur 9 sampai 10 tahun, dikarenakan kedekatan kedua orang tua mereka, hubungan keduanya terbilang dekat bahkan mereka sangat amat lengket.
"Bagus!" seru Zhou Yin kecil dengan semangat.
"Kalau begitu Yinyin akan menjadi istri Kakak Fan kelak!" ucapnya lagi dengan semangat.
Zhou Fan membalas ucapan gadis kecil di sampingnya dengan anggukan disertai senyuman.
Hari berganti hari, bahkan bulan, dan akhirnya satu tahun pun sudah terlewati.
Dengan umur Zhou Fan yang bisa dikatakan sudah saatnya mulai berkultivasi, ayahnya atau tetua kelima membawa Zhou Fan ke tempat semua orang tua membawa anaknya untuk memeriksa bakat dari anaknya.
Bukannya pulang dengan membawa kabar baik, sepasang bapak dan anak itu harus menelan pil pahit, Zhou Fan di nyatakan tidak bisa ber kultivasi di karenakan kondisi tubuhnya yang tidak bisa memiliki tenaga dalam.
Zhou Yin yang mendengar kabar Kakak Fannya tidak bisa berkultivasi pun datang untuk memberikan semangat dan dukungan.
__ADS_1
"Kau tidak usah putus asa Kakak Fan, Yinyin yakin Kakak Fan pasti bisa berkultivasi tahun depan, Yinyin juga akan pergi bersama Kakak Fan ke aula klan, karena umur Yinyin tahun depan sudah 11 tahun." Zhou Yin membujuk Zhou Fan yang terlihat sedih setelah dinyatakan tidak bisa berkultivasi.
Setahun setelah Zhou Fan memeriksa bakatnya dan dinyatakan tidak bisa berkultivasi, dia kembali untuk memeriksakan bakatnya kembali, tapi kali ia datang bersama dengan Zhou Yin yang akan memeriksa bakatnya juga.
Sikap Zhou Yin masih seperti biasanya kepadanya bahkan setelah ia gagal, tapi tepat setelah gadis itu menjadi seorang kultivator, perlahan sikapnya kepada Zhou Fan berubah terutama setelah kegagalan Zhou Fan untuk kedua kalinya.
Perlahan sikap Zhou Yin mulai berubah, ia mulai menghindari Zhou Fan, ia berusaha menjaga jarak dari pemuda itu.
Zhou Fan yang merasakan perubahan sikap Zhou Yin terhadapnya pun pergi ke kediamannya untuk mencarinya, sudah beberapa bulan ia tidak melihat Zhou Yin, apakah gadis itu sakit? pikir Zhou Fan.
Zhou Fan mengunjungi kediaman Zhou Yin begitu ia bangun dari tidurnya, pikirannya tidak tenang dan selalu terpikir gadis itu.
Tok... Tok.... Tok
"Yinyin, apakah kau di dalam?" Zhou Fan sudah mengetuk pintu kediaman gadis itu sejak tadi tapi tidak ada respon atau balasan sedikitpun.
Zhou Fan semakin cemas dan ia mengetuk pintu itu lebih keras sambil sesekali memanggil nama gadis itu.
Di dalam kediaman Zhou Yin....
"Yinyin apakah kau tidak menemui Fan'er, ayah rasa dia mengkhawatirkan dirimu karena kau selalu berdiam di kamar sejak beberapa bulan terakhir, bahkan kau keluar hanya untuk makan," ucap tetua ketiga pada putri semata wayangnya itu.
"Aku hanya ingin fokus berkultivasi ayah." Zhou Yin berkata dengan nada kesal.
Ia tidak ingin ayahnya tahu kalau ia berusaha menghindari Zhou Fan, ia takut ayahnya itu akan marah kepadanya melihat hubungan ayahnya dengan tetua kelima.
Bukannya tetua ketiga tidak mau membukakan pintu untuk Zhou Fan, tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa jika pemuda itu menanyakan putrinya, sedangkan putrinya tidak ingin menemuinya.
Dengan wajah di tekuk Zhou Yin berjalan ke arah pintu, ia dengan sengat tidak rela membukakan pintu untuk Zhou Fan.
Setelah lama menantikan seseorang datang membukakan pintu, akhirnya terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan seorang yang memang ia ingin temui.
"Apakah kau baik baik saja Yinyin, kenapa kau tidak menemuiku beberapa bulan ini?" Zhou Fan bertanya sambil tangannya meraih kedua tangan Zhou Yin.
Zhou Yin merasa tidak nyaman dengan perilaku pemuda dihadapannya.
Plakk...
Zhou Yin menghempaskan tangan pemuda itu yang dengan lancangnya menggenggam tangannya.
"Aku baik baik saja, kau tidak perlu mempedulikan diriku," ucapnya datar.
Zhou Fan belum merasakan perubahan sikap Zhou Yin kepadanya, karena ia masih begitu mengkhawatirkan gadis itu.
"Yin yin, ayo kita pergi ke bukit biasanya?" ajak Zhou Fan dengan semangat.
"Aku tidak bisa, aku harus latihan." Zhou Yin tanpa rasa bersalah ataupun menyesal menolak ajakan Zhou fan.
Entah hanya perasaannya saja, Zhou Fan merasa gadis dihadapannya bukanlah gadis yang sama dengan gadis kecil yang mengatakan akan menjadi istrinya.
__ADS_1
Zhou Fan meninggalkan kediaman tetua ketiga dengan sedikit kecewa, tapi ia senang mengetahui orang yang penting baginya terlihat baik baik saja.
Semakin berjalannya waktu, hubungan Zhou Fan dan Zhou Yin semakin jauh, bahkan saat Zhou Fan menyapanya saat mereka tanpa sengaja bertemu, gadis itu selalu mencoba menghindar darinya, bahkan berpura pura tidak melihatnya
Suatu hari Zhou Fan mendatangi tempat yang menurutnya sangat berarti baginya, bukit yang biasa ia kunjungi.
Sebenarnya Zhou Fan kesana hanya untuk menenangkan pikirannya, melihat sikap Zhou Yin yang sedikit berbeda, jujur ia merasa sedih dengan perubahan sikap hadis itu yang cenderung menghindarinya.
Saat Zhou Fan sampai di puncak bukit ia melihat seorang yang selalu mengganggu pikirannya, Zhou Yin.
Meskipun Zhou Yin tidak mengganggap keberadaannya beberapa bulan terakhir, tapi Zhou Fan tidak bisa untuk tidak memikirkan gadis itu.
"Yinyin.... " Zhou Fan memangil seseorang yang berdiri membelakangi nya.
Gadis itu membalikkan badannya, ia ingin sekali meninggalkan tempat ini setelah melihat siapa yang memanggilnya, tapi tangan gadis itu dicekal oleh Zhou Fan.
"Apa masalahmu!" ucapnya dengan nada meninggi.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kenapa kau terlihat menjauhiku, apa salahku? jika aku melakukan kesalahan tolong jelaskan kepadaku, tapi tetaplah seperti dulu," ucap Zhou Fan dengan nada memohon.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, kau mau penjelasan, kan?" Zhou Yin berkata kesal.
"Kau mau tahu kesalahanmu, kan?" tambahnya.
Zhou fan mengangguk mendengar ucapan gadis dihadapannya.
Zhou yin menghempaskan cekalan tangan Zhou fan, "Salahmu adalah kau tidak bisa berkultivasi, kau itu sampah! dan seorang sampah tidak layak berdiri disampingku, jadi mulai sekarang jauhi aku, atau kau tidak akan bisa menanggung akibat yang akan kau dapatkan, ingat!"
Zhou Yin meninggalkan Zhou Fan yang masih terdiam di tempatnya.
Zhou Fan diam tak bergerak, tapi wajahnya menunduk dengan ekspresi suram, matanya melancarkan kilatan tajam.
Ha ha Haha
Tiba tiba Zhou Fan tertawa, tertawa sangat keras, tapi sangat jelas ada kepahitan yang tersirat dalam tawanya.
"Haha.... Haha..." Zhou Fan tertawa sangat keras sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Menertawakan dirinya sendiri! bagaimana tidak, seseorang yang ia anggap sebagai orang yang akan selalu berada di sampingnya malah secara terang terangan menghinanya bahkan mengatainya dengan sebutan 'sampah'.
Kekecewaan, kesedihan, amarah, semua campur menjadi satu.
Zhou Fan bangkit dan menunjuk langit dengan wajah sembabnya.
"Aku bersumpah akan menjadi kuat! persetan dengan semua orang! akan kubuktikan pada mereka aku bukanlah seorang sampah, akan kubuat mereka semua menyesal!" Zhou Fan meraung marah mengeluarkan tekadnya,
Langit serta bukit menjadi saksi bisu sumpah seorang pemuda yang akan membuat sejarah di dunia kultivator....
Flasback of...
__ADS_1