
Pertarungan dimulai, seperti tebakan semua orang, pemuda dengan pedang ganda tak mampu memberikan dampak nyata sejak serangan pertama.
Namun, pemuda itu tak menyerah. Dia terus menggempur sambil menahan serangan pria paruh baya yang terlihat meremehkannya.
Serangan yang dikeluarkan tak ada yang mengincar titik fital, seolah serangan itu hanya sekedar ayunan pedang.
Pemuda itu sedikit tidak suka dengan apa yang dilakukan pria paruh baya, tapi dia tak bisa melakukan protes, karena itu juga salahnya yang terlalu lemah.
Dia hanya bisa memacu diri sendiri agar lebih kuat, meskipun harus kalah juga kalah dalam pertarungan.
Trang...
Pedang ganda terus mencoba menyerang, sementara pria paruh baya lebih condong bertahan, bahkan titik buta padanya terlihat begitu jelas, seolah sengaja memperlihatkan kelemahan saat bertahan.
Tak terasa pertarungan berlalu begitu cepat, pemuda dengan pedang ganda nya tak mampu mengalahkan pria paruh baya yang memang memiliki kekuatan dua tingkat di atasnya.
Meskipun telah mengerahkan segala usaha dan daya upayanya untuk memberikan perlawanan seimbang, dia tak bisa bertahan lama. Kapasitas mereka berada dalam tingkatan yang berbeda.
"Aku harap tak bertemu petarung kaisar lainnya, atau aku akan tamat saat itu juga." Yin Cun menyatukan telapak tangan sambil memandang langit.
Zhou Fan yang melihat hal itu tertawa mencibir. "Pecundang."
Yin Cun menyipitkan mata, dia lantas memutar pandangan ke arah Zhou Fan. "Dibandingkan dengan 'pecundang', aku lebih suka menyebutnya dengan 'berhati-hati'."
Pemuda itu mengatakan dengan begitu percaya diri, entah dari mana sifat tidak tahu malu pada dirinya dia dapatkan.
Zhou Fan tak lagi mempedulikan apa yang dikatakan Yin Cun, dia lebih berminat pada siapa yang akan menjadi lawannya saat bertanding di babak kedua.
Setelah memastikan 25 nama yang masuk ke babak ke tiga, tetua Que kembali naik ke arena pertama. Pria tua itu menyebut satu persatu nomor yang sudah ada di kertas yang di bawa.
"3 melawan 50, arena pertama... 61 melawan 125, arena ke dua ... Dan yang terakhir, arena ke dua belas, 123 melawan 100." Mendengar hal itu semua peserta yang merasa mendapatkan nomor nomor itu langsung naik ke atas arena.
Zhou Fan masih berdiri di tempatnya, pemuda itu nampak mengerutkan kening. "Aku yakin nomor 99 belum disebutkan."
__ADS_1
Yin Cun yang mendengar gumaman Zhou Fan tertawa lirih, senyuman mengejek terpancar dengan sempurna. "Hahaha... Mungkin kau tak memenuhi kriteria, jadi kau tak dipanggil."
Zhou Fan tak mempedulikan ucapan Yin Cun. Bagaimana pun dia harus masuk ke sekte bulan sejati, sangat tidak mengenakkan jika harus mengikuti seleksi yang akan datang.
"Ada yang merasa belum disebut nomornya?" Tiba tiba tetua Que bertanya, membuat semua orang memutar kepala meski tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari.
Zhou Fan mengangkat tangan, di tangannya, terlihat nomor 99 yang dia apit menggunakan dua jari.
"Karena jumlah peserta 125, maka satu orang akan langsung melaju ke babak selanjutnya. Keberuntungan juga merupakan kemampuan, sekte bulan sejati sangat menghargai orang orang yang beruntung." Tetua Que menarik tangan yang semula dia lipat di punggung, pria tua itu kemudian turun dan menghampiri Zhou Fan.
"Kau masuk ke babak selanjutnya." Tetua Que mengambil nomor milik Zhou Fan, dia langsung merobek dan mengganti dengan nomor baru.
Zhou Fan hanya diam, meskipun dia terkejut, dia berusaha bersikap setenang mungkin. Berbeda dengan Yin Cun yang kini menatap Zhou Fan dengan pandangan curiga.
Beberapa orang di sana juga memandang penuh iri dan cemburu. Mereka berpikir alangkah indahnya jika mereka yang berada dalam posisi Zhou Fan.
"Sial, kenapa bukan aku saja yang lolos ke babak ke tiga tanpa bertarung. Karena berhadapan dengan petarung kaisar aku harus tersingkir."
"Jika tahu begitu aku akan balik nomorku, 66 merupakan angka sial."
Sementara seseorang hanya dengan duduk diam sudah masuk ke babak ke tiga, sungguh membuat orang kesal.
Yin Cun masih memandang Zhou Fan dengan tatapan penuh kecurigaan, tak sekalipun pandangannya terlepas dari pemuda di hadapannya.
"Apa yang telah kau lakukan di belakangku?" Yin Cun berperan seolah dia begitu dirugikan, dia menatap Zhou Fan dengan pandangan tajam.
Zhou Fan hanya mengangkat kedua bahunya, dia sendiri tak mengira akan lolos begitu saja tanpa harus bertarung.
"Kau pasti kenal orang dalam, siapa itu, katakan kepadaku?" Yin Cun bertanya dengan semangat, dia terus mendesak Zhou Fan dengan prasangka nya.
Bng...
"Apanya yang orang dalam, aku adalah pemuda jujur. Itu murni karena keberuntunganku." Sambil berkata Zhou Fan memukul kepala Yin Cun, pemuda itu terlalu berisik dan mengganggu.
__ADS_1
"Cih... Apanya yang keberuntungan, ... Jangan bilang tetua Que adalah ayahmu, hem... Aku sudah dapat menebak jika itu memang benar." Yin Cun mengelus dagunya yang mulus.
"Sepertinya pukulan pelan tak membekas dalam ingatan, seharusnya aku memukul lebih kuat." Zhou Fan menggoyangkan kepalan tangan di depan wajahnya.
Yin Cun langsung menutup kepala dengan kedua tangan. "Aku hanya bergurau, kenapa kau begitu kejam."
Zhou Fan hanya menanggapi dengan dengusan kesal.
"Aku juga hanya bergurau." Zhou Fan membalas dengan wajah datar.
"Cih... Bergurau katanya?" Yin Cun mendengus dan membatin dengan kesal.
Sementara pertarungan babak kedua putaran ketiga sedang berlangsung, 24 peserta bertarung begitu gigih memperebutkan 12 tiket yang masih tersisa.
Setelah lama bertarung, satu persatu arena telah memastikan pemenangnya. Kini 12 peserta yang beru saja memenangkan pertarungan bergabung ke dalam daftar peserta babak ke tiga.
Zhou Fan menjadi pusat perhatian semua orang, dia yang mengikuti babak ke tiga tanpa bertarung di babak ke dua membuat peserta lain merasa iri.
Namun dia tak bisa menghilangkan pandangan mereka terhadapnya, jadi dia hanya bisa diam dan mencoba untuk tidak peduli.
"Babak ketiga berbeda dengan babak selanjutnya, dalam babak ini kalian tidak akan bertarung dengan sesama peserta. Kalian akan masuki sebuah ruang ujian, dan di dalam sana kalian harus melawan beast."
"Beast yang ada di sana bermacam macam, dari tingkat tiga empat lima bahkan enam. Setiap orang akan diberikan kesempatan satu jam, dan setiap orang akan memasuki ruangan yang berbeda."
Tetua Que mengakhiri penjelasannya, dia kemudian mengajak 63 peserta yang masih tersisa untuk menuju tempat babak ke tiga berlangsung.
Namun sebelum itu, selain peserta yang lolos, semuanya diperkenankan keluar dari wilayah kota Lan Yuliang.
Rombongan yang tak lebih dari seratus orang itu bergerak bersama, setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, mereka berhenti dan mendapati sebuah menara besar dan juga tinggi di hadapan mereka.
"Menara di depan kalian itu adalah tempat kalian mengikuti babak ke tiga, kalian dapat melihat pintu pintu di sekujur badan menara, itu adalah pintu masuk ke dalam ruang ujian babak ke tiga."
"Setidaknya ada sekitar seratus pintu, dan setiap pintu tidak saling terhubung. Formasi ruang yang ada di dalam juga tidak sama, ada yang berlatar hutan, padang pasir, padang es dan masih banyak lagi."
__ADS_1
Tetua Que menoleh ke belakang, memandang sekilas peserta yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kalian bisa memilih pintu sendiri, seperti apa medan yang kalian dapatkan itu tergantung keberuntungan."