Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 259 : Babak Selanjutnya


__ADS_3

Setelah mengalahkan lawannya, Zhou Fan menjadi pusat perhatian. Bukan sekedar dalam pandangan penonton, tapi juga peserta lain di sekitarnya.


Kecepatan Zhou Fan dalam mengeluarkan lawan begitu cepat, bahkan peserta lain yang bertarung terlebih dahulu belum menampakkan hasil yang nyata.


Tentu apa yang dilakukan Zhou Fan begitu menarik minat mereka untuk melihat.


Dalam pikiran semua peserta di arena ke-empat, tak jauh berbeda dari pemikiran penonton, mereka berpikir pemuda yang terlempar terlalu ceroboh.


Namun berbeda dengan pria paruh baya yang berdiri di tengah arena, matanya menatap tajam ke arah Zhou Fan, dia seolah enggan untuk berpaling dari pemuda itu.


Zhou Fan melengos, dia tak peduli dengan tatapan yang diberikan kepadanya, dia melihat ke sekitar dan mengamati pertarungan mulai kembali normal.


Huft...


Senyuman puas terlihat samar di wajahnya, melihat tak ada yang berniat melawannya, membuat dia bisa menyimpan tenaga agar tidak terbuang sia sia.


Namun itu tak bertahan lama, karena pria paruh baya berjalan ke arahnya. Dengan langkah kaki kecil dia menarik pedang besar yang menyeret di lantai arena.


"Kau kuat." Dua kata, hanya dua kata yang terucap dari mulutnya. Tak ada kalimat setelahnya.


Zhou Fan hendak menjawab, atau setidaknya akan mengangguk. Namun pria paruh baya itu terlebih dahulu menyela. "Yang kuat harus segera disingkirkan."


Mendengar hal itu, Zhou Fan mengerutkan kening. Melihat pria paruh baya mulai meregangkan tubuhnya, Zhou Fan spontan memasang belati di depan dada.


Pria paruh baya tersenyum penuh arti, entah itu dia meremehkan atau memuji apa yang dilakukan Zhou Fan. Ekspresi wajahnya begitu sulit dimengerti.


Shut...


Tanpa aba aba, pria paruh baya melesat memburu Zhou Fan. Pedang besar mengibas dengan begitu gagah.


Trang...


Saat dua senjata bertabrakan, percikan api tercipta, hawa panas sangat terasa di sekitar keduanya.


Pria paruh baya menarik pedang besar miliknya, dia lantas memutar pedang besar sambil tubuhnya juga ikut berputar.


Angin berhembus kencang, bersamaan dengan itu sebuah badai terlihat mengarah ke arah Zhou Fan berdiri.


Zhou Fan maju dengan belati raja api, ketika dia merangsek masuk gumpalan energi terpusat di mata belati.

__ADS_1


Blar!


Seolah gas bertemu dengan api, badai itu hancur dan menimbulkan ledakan.


Ledakan itu tidak bisa dibilang sederhana, bahkan beberapa peserta di dekat mereka langsung terpental hingga keluar arena.


Seluruh orang yang menyaksikan tak ada yang dapat menahan keterkejutan. Sekarang mata mereka benar benar terbuka, kekuatan pemuda yang sempat mereka remehkan ternyata sanggup mengimbangi kekuatan pria paruh baya jagoan di arena ke-empat.


Meskipun serangan sudah mengeluarkan beberapa orang, pria paruh baya seolah belum puas jika belum mengalahkan Zhou Fan.


Dengan kaki yang sebelumnya dia tekuk, pria paruh baya melompat. Tak sampai di sana, dia mengerahkan teknik bertarung yang senantiasa menjadi kebanggaannya.


"Amarah Naga!"


Teriakan pria paruh baya terdengar begitu lantang, tanpa sadar peserta di dekat mereka menghentikan pertarungan dan memandang ke arah pria paruh baya.


Zhou Fan tak mau kalah, ada seorang yang tengah menunggunya, tidak akan dia biarkan kesempatan itu pergi begitu saja.


Kaki kanan dia tarik sedikit ke belakang, tangan kanan yang membawa belati dia taruh di dekat dada, sedang tangan kiri terjuntai ke bawah. Pandangan matanya lurus ke depan, tak dia biarkan pria paruh baya hilang dari pandangannya.


Begitu pria paruh baya melesat, Zhou Fan juga mengikuti apa yang lawannya lakukan. Pemuda itu merasa jika harus terus bertahan, dia akan mengeluarkan usaha yang jauh lebih melelahkan, lebih baik bertarung dan sebisa mungkin mengalahkan lawan.


Trang...


Phak...


Namun gerakan itu masih dapat dihentikan oleh pria paruh baya, dengan yang menggenggam pedang dia menahan sambil menarik pedang besar.


Zhou Fan menarik kembali ayunan tangannya, kaki kanan terangkat menyambar pundak pria paruh baya.


Bhak...


Pria paruh baya sedikit terkejut, tapi dia masih bisa mengangkat tangan kirinya.


Pertarungan antara kedua orang itu sangat hebat, tak sadar seluruh peserta mulai merasakan dampak pertarungan antar petarung kaisar.


Satu persatu keluar arena. Baik yang terimbas jurus atau serangan kedua orang itu, atau mereka yang menyerah karena tak ingin membahayakan nyawa sendiri.


Zhou Fan belum menyadari bahwa sekarang hanya tersisa dia dan juga pria paruh baya, bahkan lawannya pun juga tidak menyadari. Keduanya terlalu asik bertukar serangan, sampai melupakan tentang seleksi babak pertama.

__ADS_1


"Tunggu sebentar...," Pria paruh baya melompat sambil menarik serangannya, Zhou Fan juga ikut melompat beberapa kali ke belakang.


Zhou Fan celingukan, mencari peserta lain yang sebelumnya sangat asik bertarung di sekitar mereka, tapi sekarang tak terlibat sama sekali.


"Kau lihat, sekarang hanya tersisa kita berdua. Mari kita akhiri pertarungan, kita tuntaskan saat bertemu di babak selanjutnya."


Pria paruh baya menyimpan pedang besar di punggung, pedang yang mempunyai panjang hampir setara dengan tinggi tubuh pria paruh baya terlihat enteng saat digantung di punggung pemiliknya.


Zhou Fan ikut menyimpan belati raja api, dia memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan.


Dia mengakui kekuatan pria paruh baya itu terbilang kuat, jika dia tidak serius menggunakan belati, dia mungkin akan celaka dengan permainan brutal yang pria paruh baya itu peragakan.


Namun jika Zhou Fan menggunakan pedang, seratus persen dia dapat mengalahkannya.


Setelah beberapa saat hanya diam di atas arena dan menyaksikan kepergian pria paruh baya, Zhou Fan turun sambil mengambil sebuah nomor tanda bahwa ia adalah peserta babak selanjutnya.


Pandangan kagum terus terpancar dari orang orang yang memandang nya, sangat jelas pandangan mereka sebelumnya sudah berganti.


Kini tak ada yang tak percaya akan kemampuan Zhou Fan, pemuda itu seolah telah berhasil meruntuhkan benteng dalam pikiran mereka.


"Sepertinya saudara Yin Cun mendapatkan lawan yang merepotkan." Zhou Fan mengamati Yin Cun tengah beradu kekuatan dengan pria yang tak lagi dapat dibilang muda.


Terlihat jenggot juga kumis yang lebat bak hutan belantara. Zhou Fan dapat melihat kekuatan pria paruh baya itu setidaknya berada di atas tingkatan Yin Cun.


Namun ada yang aneh dari aura yang dilancarkan temannya, seolah pemuda itu tak gentar dengan lawan yang lebih kuat darinya.


"Sepertinya saudara Yin Cun memiliki beberapa kemampuan unik." Zhou Fan menerka apa yang sebenarnya ada di balik kepercayaan diri Yin Cun.


Tidak mungkin jika percaya diri muncul tanpa adanya persiapan, tentu ada sesuatu yang membuat seseorang merasa percaya diri.


Zhou Fan yang memperhatikan setiap gerakan yang dikeluarkan oleh Yin Cun, mengerutkan kening ketika melihat tongkat milik temannya bersinar samar.


"Apakah dia juga memiliki senjata pusaka?" Pikiran itu tiba tiba terlintas dalam kepalanya.


Jika benar apa yang dia pikirkan, tingkat itulah yang menjadi sebab melonjaknya kepercayaan diri Yin Cun.


Namun perlu diingat, bahwa senjata pusaka memiliki kemampuan yang berbeda beda, tidak tahu apa yang bisa dilakukan tongkat di tangan Yin Cun.


Zhou Fan yang semula tidak yakin Yin Cun dapat bertahan, hanya bisa menggeleng sambil menarik sedikit sudut bibirnya.

__ADS_1


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan."


__ADS_2