
Dua puluh lima orang tengah berdiri sambil memanggul batu besar di atas kepala, butiran keringat sudah menginvasi tubuh mereka, bahkan pakaian pun sudah basah dengan air peluhnya.
Namun dari keseluruhan, terdapat tiga orang yang masih sanggup bertahan. Ketiganya seolah tak merasakan beban di atas kepala yang sudah bersemayam sekitar satu jam.
"Aku akan mengalahkan mu!" ucap Loin Gu sambil melirik Zhou Fan. Pria berumur empat puluh-an tahun itu, telah menjadikan Zhou Fan sebagai tolak ukur kemampuannya.
Zhou Fan nampak tidak peduli, dia sudah cukup terganggu dengan keberadaan Yin Cun di sebelah kirinya, dan sekarang dua harus menutup kedua telinga ketika sebelah kanan juga menimbulkan ancaman.
Batang dupa masih tersisa setengah, tapi tangan kebanyakan murid sudah mulai tak tahan. Tak jarang mereka mengeluh dan mengutuk tetua yang dengan kejam memperlakukan mereka.
Mereka sebelumnya jiga pernah berlatih, tapi tidak sampai pada tahap seperti ini, mereka melatih keterampilan bertarung sambil mengolah kultivasi, dengan bantuan pill tingkat tinggi, mereka dapat dengan cepat meningkatkan kekuatan.
Zhou Fan tak mengalami kesulitan, dia yang sebelumnya pernah menjalani pelatihan fisik, lebih paham tentang bagaimana tubuh bekerja.
Mungkin diawal terasa menyiksa, menyakitkan. Namun ketika sudah menjalaninya, akan langsung kentara perbedaannya.
Itu seolah keong yang berjalan tanpa cangkangnya. Karena terbiasa membawa cangkang, keong akan berjalan lebih cepat tanpa membawa cangkang.
Sementara Loin Gu yang mempunyai tubuh kekar bak badak bercula itu sangat kokoh dengan kedua kaki yang besarnya hampir dua kali ukuran normal. Batu yang melayang di atas kepala, seolah belum seberapa baginya.
Yin Cun yang paling buruk, dia tak pernah melakukan pelatihan fisik, jelas kondisi fisiknya berada di bawah Zhou Fan dan juga Loin Gu. Namun baru yang diangkatnya sama beratnya dengan yang diangkat kedua orang tersebut.
Jika ada yang paling murka dengan pelatihan ini, Yin Cun lah orangnya. Wajahnya sudah memerah, tangannya juga gemetar dengan keringat terus meluncur dari sela pakaian.
Sebenarnya batu itu bukan masalah besar baginya, tapi itu jika menggunakan tenaga dalam. Sedang sekarang tenaga dalam adalah hal larangan, jika ketahuan, pria pria tua yang mengintai dari kejauhan akan langsung menerkam.
"Jangan kalian pikir dapat menyelipkan tenaga dalam, karena itu akan langsung ketahuan." Tetua di sana menatap Yin Cun dengan tatapan penuh arti.
Pemuda itu lantas menarik diri, niatnya yang semula hendak menyelipkan sedikit tenaga dalam di telapak tangan, malah ketahuan bahkan sebelum melakukannya.
Mau tidak mau, Yin Cun harus merelakan tangannya yang mulus semulus porselen. Tangannya perlahan mulai tak bisa dirasakan, mungkin karena kebas.
"Hahaha... Tanganku hilang, tanganku hilang." Yin Cun tertawa menggila, dia yang tak bisa merasakan tangannya dengan bodoh tertawa sambil berteriak.
Murid lainnya sebenarnya ingin tertawa, tapi baru saja mereka membuka bibir, tatapan tajam terarah kepada mereka. Juga mereka tahu beban batu yang ditanggung tak sebanding dengan yang mereka bawa.
__ADS_1
Tak terasa waktu terus berjalan, dupa di depan semua murid perlahan redup dan tak lagi mengeluarkan asap. Melihat waktu sudah habis, beberapa murid langsung menurunkan batu dari atas kepala.
Blar!
"Batu sialan, seenaknya kau duduk di atas kepalaku!" Yin Cun membanting batu begitu keras, batu langsung hancur karena dia menggunakan tenaga dalam untuk membanting ke lantai.
"Cih... Hanya sampai disini, aku kira seberat apa." Yin Cun menampilkan wajah meremehkan, seolah menghina batu yang sudah menjadi butiran butiran kerikil.
Zhou Fan yang di sampingnya hanya bisa geleng kepala. Beberapa saat lalu, Yin Cun masih menangis sambil memohon agar pelatihan segera selesai, begitu selesai, pemuda itu malah berlagak. Sungguh membuat orang kesal.
Yin Cun menggerakkan tangannya, ketika tangan mengayun. Dia dapat merasakan kecepatan tangannya beberapa kali lebih cepat.
"Hahaha... Tanganku terasa lebih kuat. Heh, dengan telunjuk saja aku pasti bisa mengangkat tubuhmu, saudara Zhou." Yin Cun menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Zhou Fan, membuat Zhou Fan semakin kesal.
Tap...
Zhou Fan menangkap telunjuk yang senantiasa bergerak di depan wajahnya, dia lantas menurunkan sambil berkata. "Sebaiknya kau hapus dulu ingus di hidungmu!"
Wajah Yin Cun langsung berubah buruk, tanpa mempedulikan murid lainnya, pemuda itu melenggang pergi, kembali ke kediamannya.
"Kau yang bernama Zhou Fan?" Salah seorang diantara mereka berkata dengan nada arogan.
Ketiganya memakai pakaian serupa dengan Zhou Fan, sekali lihat saja sudah tahu bahwa mereka adalah murid luar.
Zhou Fan hanya diam, tak menjawab atau mencoba berhenti, dia mengambil jalan melebar menghindari ketiga orang itu.
Namun ketiganya tak tinggal diam, kemanapun Zhou Fan bergerak, mereka selalu menghadang, mereka bagai benalu yang selalu mengikat inangnya.
"Beraninya kau mengabaikan tuan muda Tue, dia adalah murid luar peringkat sepuluh. Sedang kau hanya murid luar baru yang sedikit beruntung." Dua orang di kanan dan kiri berseru bersamaan.
Keduanya begitu kompak, seolah itu telah mereka hafalkan berkali kali.
"Kalian tahu, siapa aku?" Zhou Fan tiba tiba maju dengan tangan kanan menunjuk diri sendiri.
"Zhou Fan, kau adalah Zhou Fan. Murid baru yang memiliki sedikit keberuntungan." Yang di kanan berkata agak ragu.
__ADS_1
"Bodoh!"
"Apa kau bilang?" Pemuda yang dipanggil tuan muda Tue tak tahan dengan sikap Zhou Fan.
Dia adalah salah satu tuan muda dari kota Kekaisaran, dia lantas diperlakukan sebagai orang penting. Baginya, yang menentangnya akan mendapat ganjaran.
"Kalian sudah tahu siapa aku, lantas kenapa masih bertanya? Jika tidak bodoh, sebutan apa yang lantas untuk kalian?" Zhou Fan mengukir senyum sinis di bibirnya.
Dia tahu ketiga orang di hadapannya memiliki niat buruk terhadapnya, jika saja tidak berada di dalam sekte bulan sejati, dia bisa menyerang ketiga orang di depannya saat ini juga.
"Sialan! Aku menantang mu bertarung di arena!" Tue Yeun membentak kasar, tangannya menunjuk Zhou Fan sambil mengeluarkan tantangan.
"Aku menolak!" Tanpa berpikir, Zhou Fan menolak tantangan Tue Yeun.
Setelah menolak dengan begitu tegas, mata Zhou Fan bergerak menelisik Tue Yeun dengan cermat, dia pun terkekeh pada akhirnya. "Memangnya apa yang bisa kau pertaruhkan, kau tidak terlihat mampu untuk mengeluarkan taruhan."
Wajah Tue Yeun langsung memerah marah, harga dirinya seolah diinjak injak oleh murid baru ini.
"Sepuluh ribu koin emas! Aku bertaruh sepuluh ribu loin emas!" Tue Yeun mengeluarkan kantong berisi koin emas dan langsung membanting ke lantai.
Zhou Fan berdecak seolah memandang rendah Tue Yeun. Sepuluh ribu koin emas itu adalah jumlah yang terlalu sedikit, masih bisa dipandang jika ini adalah kota batu hitam, tapi mereka sekarang berada di Kekaisaran Shi, sepuluh ribu tentu saja belum memuaskan.
"Dua puluh ribu!" Tue Yeun menggandakan taruhannya, dia merasakan Zhou Fan hanya mencari alasan untuk menghindar, oleh sebab itu dia berani terus menekan.
Heh...
"Masih kurang? Aku akan menyerahkan posisi sepuluh besar kepadamu jika kau menang. Namun kau harus berlutut satu hari penuh di depan kediaman ku jika kalah." Tue Yeun tersenyum miring, dia sepenuhnya yakin dapat mengalahkan Zhou Fan, terlepas apa yang dia keluarkan, itu tak menjadi masalah.
Zhou Fan yang sedari tadi diam, mengangkat tangan dan melipatnya di depan dada. "Sepuluh besar, aku tak menerimanya, aku akan merebutnya! Karena kau menyuruhku berlutut, kau juga harus menerapkan hal serupa jika kau kalah."
"Baik, tak masalah!" Tue Yeun pergi dengan wajah dongkol, pertarungan digelar besok, dia harus mempersiapkan diri.
Zhou Fan tak menghiraukan kepergian Tue Yeun beserta kedua temannya, saat karak sudah beberapa langkah, Zhou Fan berkata.
"Ingat, yang kalah adalah pecundang!"
__ADS_1