
Di Istana Kekaisaran...
Seorang wanita muda tengah berdiri di balkon, menampilkan wajah sedu dia memandang lalu lalang orang di taman istana, dia adalah Wei Guanlin.
Huft...
Wei Guanlin menghembus nafas lemas, dia menopang dagunya di pagar balkon, dia seolah tak ada tenaga untuk terus berdiri.
Nampak dari sorot matanya, dia seolah ingin terbang bebas di angkasa, tapi dia tak bisa, bahkan untuk keluar istana saja dia tak bisa.
Wei Guanlin memandang jarinya, sebuah cincin yang membuat tak berdaya, sebuah cincin yang merubahnya menjadi selayaknya wanita biasa.
"Fan, kau harus mengeluarkanku dari sini." Wei Guanlin menatap langit, dia mendongak, tapi dia seolah engan berpisah dari pagar balkonnya, Wei Guanlin tetap menaruh dagunya.
Sudah dua bulan Wei Guanlin berada di dalam ruangannya, tepatnya di kurung oleh ayahnya, Kaisar Wei.
Flasback on..
Wei Guanlin yang biasanya berlatih di sekte pedang suci, sekarang berada di istana Kekaisaran, entah mengapa sangat ayah, Kaisar Wei berpesan kepadanya untuk kembali, ada suatu hal yang ingin disampaikannya, dan dia mengatakan hal ini amat sangat serius.
Wei Guanlin yang sudah tak memiliki ibu, begitu patuh terhadap ayahnya, dia pun mengiyakan, dan datang ke istana Kekaisaran.
Sampainya di rumahnya, Istana Kekaisaran, dia disambut begitu meriah, ayahnya sengaja meluangkan waktunya hanya untuk melihat kedatangan putri kesayangannya.
Di ruangan pribadi kaisar...
Sepasang ayah dan anak tengah duduk berhadapan, suasana yang tadinya di selingi tawa mendadak sunyi.
"Aku tak bisa menerimanya ayah," ucap Wei Guanlin tegas, membuat Kaisar Wei mengernyitkan dahinya.
"Mengapa?" Tanya kaisar Wei singkat.
"Maafkan aku ayah, aku tak bisa melakukan apa yang kau inginkan." Wei Guanlin merasa bersalah, tapi dia sungguh tak bisa melakukan apa yang ayahnya inginkan.
Wei Guanlin menunduk, dia tak berani bersitatap dengan ayahnya.
"Aku sudah memiliki seseorang di dalam hatiku," ujar Wei Guanlin dengan ragu, dia takut membuat ayahnya sedih, tapi memang hal itu tidak dapat dihindari.
Kaisar mematung seketika, mendengar perkataan anaknya, kemudian menatap lekat lekat wajah putrinya, tapi dia tidak menemukan titik kebohongan di wajah putrinya.
Huft...
__ADS_1
Kaisar mencoba mengatur nafasnya, "Meskipun begitu, kau harus tetap melakukannya."
Wei Guanlin tersentak, dia tak percaya ayahnya akan memaksanya saat dia sudah mengutarakan apa yang dia rasakan.
"Ayah, aku tak bisa bertunangan dengannya." Suara Wei Guanlin sedikit meninggi.
"Kenapa tidak bisa? Dan juga, dia adalah pemuda paling jenius, dia sudah berada di tingkat petarung grand master bintang tiga di usianya yang ke dua puluh tujuh tahun, selain itu dia merupakan putra perdana menteri, apa yang membuatmu menolaknya?" ujar Kaisar Wei yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
"Huh.. Dia tak lebih baik dariku, aku tak mau menikah dengan orang yang lebih lemah dariku." Wei Guanlin berkata dengan nada mengeluh.
"Jika dia tak masuk dalam kriteriamu, apakah ada yang bisa masuk ke dalamnya? Tang Guyu merupakan pemuda jenius, aku rasa tidak akan ada yang cocok denganmu selain dia," ujar Kaisar Wei.
"Kau belum pernah melihatnya, bagaimana kau menyimpulkan bahwa Tang Guyu lebih pantas darinya? Aku paling tahu pemuda yang paling pantas untukku, ayah?" ujar Wei Guanlin sedikit memohon.
"Baiklah, aku akan menantikan kedatangan pemuda yang kau maksud." Kaisar Wei mendekati Wei Guanlin dengan memasang senyum.
Wei Guanlin yang mengira ayahnya sungguh mengerti dirinya memeluk ayanya yang juga sudah merentangkan tangannya.
"Terimakasih ayah, aku akan membawanya untuk bertemu denganmu." Wei Guanlin memeluk ayahnya semakin erat.
Kaisar Wei tersenyum kecut, "Maaf Lin'er."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Wei Guanlin terjatuh ke dalam pelukan ayahnya, setelah Kaisar Wei menepuk tungkuk Wei Guanlin.
Beberapa saat kemudian, Wei Guanlin sadar, dan dia sudah berada di dalam ruangannya.
Wei Guanlin mengerjapkan matanya, mengusap matanya yang masih berkunang kunang. Setelah jelas penglihatannya, dia turun dari ranjangnya, menuju pintu.
Brak brak...
Saat Wei Guanlin menarik gagang pintu, pintu itu tidak bisa terbuka, merasa tenaganya kurang kuat, dia mencoba sekali lagi, dengan menambah sedikit tenaganya.
Krak Brak
Lagi lagi pintu tersebut hanya bergoyang, dan juga berdecit.
Wei Guanlin mengetuk pintu, berharap ada seseorang yang membukanya, dia belum terpikir akan ayahnya yang sengaja mengurungnya.
Tak ada balasan dari luar, membuat Wei Guanlin kesal,
"Buka pintunya, atau aku akan merusaknya?!" teriaknya dari dalam, membuat beberapa penjaga yang bertugas menjaga di luar berkeringat dingin.
__ADS_1
"Kasihan tuan putri, kenapa yang mulia mengurungnya?" Salah seorang prajurit yang berjaga bertanya kepada teman di sampingnya.
"Aku juga tidak tahu, lakukan saja tugasmu, atau kau akan terkena masalah karena mengobrol saat bertugas," ujar prajurit lainnnya yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi.
"Akh, kau ini... Berjaga bersama denganmu merupakan kutukan bagiku, dari sekian banyaknya prajurit kenapa harus kau yang menjadi partnerku, seorang prajurit yang tidak memiliki selera humor." Prajurit pertama berkata dengan nada mengeluh.
"Kau bisa mengatakannya secara langsung kepada yang mulia," ujarnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya yang senantiasa lurus ke depan.
Sementara di dalam ruangan, Wei Guanlin mencoba mengeluarkan tenaga dalamnya, tapi tak kunjung juga bisa.
Tanpa sadar manik matanya melirik ke jari manisnya, tersemat sebuah cincin yang nampak asing dalam ingatannya.
"Cincin siapa ini? Oh... Apakah karena cincin ini aku tak bisa mengolah tenaga dalamku?" Wei Guanlin bergumam dalam benaknya.
Dengan segera dia meraih cincin perak di tangannya, menariknya dengan sekuat tenaga, tapi cincin itu seolah telah menyatu dengan jarinya.
Brak Brak brak!
Wei Guanlin memukul pintu sembari kepalanya bersender di pintu, dalam hati dia bermonolog. "Ayah, kau sungguh tega mengurungku?!"
Wei Guanlin memasang wajah sedu, dia tak mengira ayahnya akan melakukan hal seperti ini hanya untuk memaksanya bertunangan dengan Tang Guyu.
Wei Guanlin menyerah untuk memohon, ia berjalan mengarah ke balkon, kebetulan ruangannya memiliki balkon.
Sampainya di tepi balkon, dia memandang ke bawah.
Huft...
Setidaknya ruangannya ini berada di lantai tiga, andai masih bisa mengerahkan tenaga dalamnya, tentu bukan masalah untuk melompat keluar dari ketinggian ini, tapi sekarang Wei Guanlin selayaknya wanita biasa yang tak bisa berkultivasi.
Di tambah dengan beberapa penjaga yang tengah berpatroli, menambah kesulitan untuknya.
Tiba tiba seseorang memasuki ruangan, seorang pria paruh baya datang mendekati Wei Guanlin.
"Apakah ini yang ayah inginkan?" Sebelum Kaisar Wei berkata, Wei Guanlin terlebih dahulu bertanya, dia bertanya dengan air mata meleleh di pipinya.
Sosok ayah yang selalu ia anggap sebagai panutan, hanya demi keinginannya dia rela mengurung putrinya.
Kaisar Wei tak menjawab, tanpa berkata dia memeluk Wei Guanlin, tapi tak ada balasan darinya.
Air matanya semakin deras, sambil terisak dia berusaha melepas pelukan ayahnya. Setelah terlepas dia membalikkan badannya, membelakangi ayahnya.
__ADS_1