
"Oh... Hai?" Zhou Fan tersenyum canggung sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Penyusu -- "
Crash...
Gludak...
Belum sempat pria itu berteriak kencang memberitahukan semua orang, pedang darah malam sudah memisahkan kepala dari tempatnya.
"Cepat sekali datangnya?" Zhou Fan memiringkan kepalanya merasakan beberapa orang mulai mendekat, dia kemudian melesat mencari tempat yang luas.
Zhou Fan mendarat di halaman utama sekte gagak darah, tak lama ratusan pria berpakaian senada berdiri mengepung nya.
"Tak tahu diri! Aku tak membunuhmu, tapi kau malah membuat kekacauan dalam sekteku!" Patriak sekte gagak darah mendengus dingin.
"Aku bukan pria yang baik, tapi aku tak akan bergabung dengan sekte sesat semacam kalian." Zhou Fan mengatakan dengan nada acuh, tapi dia menekankan setiap kata yang terucap.
"Brengsek! Serang," ucap patriark sekte gagak darah dengan melambaikan tangannya.
Belum sempat mereka bergerak, siluet bayangan melesat menyabit kumpulan pria yang mengepung Zhou Fan.
Srak... Srak...
Akh!
Teriakan teriakan nyaring membuat semua orang panik.
Auuuuu....
Serigala besar berdiri di depan Zhou Fan sambil melolong panjang, matanya memandang kumpulan orang dengan tatapan tajam.
Geraman senantiasa keluar dari mulutnya, giginya terbuka sedikit menunjukkan taringnya yang tajam.
"Kerja bagus, Jim... Aku urus pria pria tua itu, dan kau urus lainnya." Zhou Fan menunjuk patriark serta pria tua di samping kanan juga kirinya yang ia yakini adalah tetua sekte gagak darah.
Shut...
Keduanya melesat menghilang dari tempatnya, Zhou Fan menerjang ke depan, sementara Zhou Jim melompat ke arah orang sekte gagak darah yang berada di belakang Zhou Fan.
Beast tingkat lima itu bergerak gesit, sambil melesat cakarnya merobek tubuh lawan, bahkan lawannya tak sadar jika telah berada di dalam alam kematian.
Di sisi lain, Zhou Fan menghadapi delapan orang yang rata rata petarung raja, dengan tingkatan paling tinggi tingkat petarung raja bintang lima.
Patriark serta tetua yang baru saja tersadar dari keterkejutan, dengan cepat maju melawan Zhou Fan, dengan delapan orang mereka tidak percaya jika tidak bisa mengalahkan seorang pemuda.
Salah orang tetua maju dengan kepercayaan diri tinggi, dia merasa pemuda lawannya bukanlah lawan sebanding baginya.
Dengan kekuatan petarung raja bintang tiga dia melancarkan tebasan.
Trang...
Buagh!
Tubuh tetua itu terpental dengan darah muncrat dari dalam mulutnya.
__ADS_1
Huk... Huk...
Melihat salah seorang diantara mereka mundur dengan luka parah membuat mereka seketika siaga.
Zhou Fan berinisiatif menyerang, dia mulai menggerakkan pedang darah malam.
"Teknik dewa pedang!" ucapnya tegas dalam benaknya.
Zhou Fan semakin luwes melakukan gerakannya, patriark serta tetua sekte gagak darah perlahan mulai terdesak, wajah mereka nampak pucat tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.
Trang....
Satu persatu lawan Zhou Fan mulai ambruk tak bernyawa, sementara Zhou Jim terus menghabisi orang sekte gagak darah lainnya.
"..." Tak ada kata yang terucap dari mulut patriark sekte gagak darah, matanya memancarkan dendam yang teramat besar.
Ingin rasanya dia menghabisi Zhou Fan, tapi dia tak berdaya, bahkan untuk bergerak tubuhnya sudah tidak kuat.
"Kurangi berbuat jahat jika ada kesempatan."
Crebs...
Satu tebasan, kepala serta tubuh terpisah dengan mata melotot, dia seakan belum rela mati di tangan seorang pemuda yang bahkan sebelumnya ia anggap sebagai anggotanya.
Hanya dalam beberapa saat halaman utama sekte darah dipenuhi mayat bertumpukan. Dengan hanya dia dan serigalanya, Zhou Fan menjadikan tempat itu sebagai pemakaman.
Zhou Fan kembali ke ruangan sebelumnya, meskipun pintu ruangan terbuka tak ada yang mencoba melarikan diri, membuat Zhou Fan merasa aneh.
"Kalian bebas sekarang," ucap Zhou Fan, tapi tetap saja tak ada tanggapan dari semua penghuni ruangan.
Zhou Fan menggaruk tengkuk kepalanya, dia tak tahu harus melakukan apa untuk membuat mereka tak takut kepadanya.
Huft...
"Sebaiknya aku menyelamatkan yang lain," ucap Zhou Fan kepada dirinya sendiri.
Zhou Fan menyisir semua area, dan dia sekarang berada di sebuah ruangan besar yang di dalamnya terdapat puluhan wanita yang baru saja dibawa bersama dengannya.
Begitu Zhou Fan masuk, dia mendapat tatapan sinis dari para gadis di sana.
"Kalian bebas," ucap Zhou Fan singkat.
Perkataan yang begitu tak terduga membuat mereka tak bisa menangkap maksud perkataan Zhou Fan.
"Apa maksudmu?!" tanya salah seorang gadis di sana dengan wajah dongkol.
"Kalian bebas," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Zhou Fan, membuat para gadis di sana terdiam sesaat.
"Apakah kau begitu suka bercanda, apakah kau kira kami tak mengingat wajahmu? Kau adalah bagian dari mereka!" cerca gadis lainnya.
Zhou Fan tak mempedulikannya, pandangan mereka terhadapnya, karena itu tidak penting baginya. Perlahan Zhou Fan mulai membalikkan tubuhnya, tapi seorang gadis menahannya.
"Tunggu tuan, apakah benar yang kau katakan?" tanya gadis itu yang terlihat berharap bisa keluar dari sana.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak, aku tak memaksa kalian jika ingin tinggal di sini." Tanpa membalikkan tubuhnya dia berkata, dia hanya berhenti sejenak lalu kembali melangkah.
__ADS_1
Puluhan gadis desa Luan termenung, lalu berjalan keluar, walau perasaan takut selalu menyertai pikiran mereka.
Begitu keluar, hal pertama yang mereka lihat adalah puluhan mayat berserakan dengan luka cakaran atau gigitan.
Mereka lantas melirik Zhou Jim yang selalu berada di samping Zhou Fan.
"Apakah kau dan serigalamu yang melakukannya?" ucap spontan salah satu gadis.
"Heem..." Zhou Fan hanya berdehem, kemudian melanjutkan perkataannya. "Di ruangan ujung terdapat puluhan orang, ajak juga mereka kembali ke desa."
Setelah mengatakannya, Zhou Fan pergi ke sebuah ruangan yang telah dia tandai, ruangan itu adalah gudang yang berisikan kekayaan sekte gagak darah.
Tak lama Zhou Fan kembali ke hadapan para wanita yang sudah bertambah banyak, di tambah dengan wanita yang berada di ruangan ujung.
"Dalam cincin penyimpanan ini adalah barang yang aku dapatkan dari gudang sekte gagak darah," ucap Zhou Fan sambil menunjukkan tangan kanannya yang memegang sebuah cincin penyimpanan.
Zhou Fan lalu melemparkan cincin tersebut kepada seorang wanita di dekatnya. "Kau bagi dengan rata, aku hanya mengambil barang selain koin emas."
"Terimakasih tuan!" Pandangan mereka terhadap Zhou Fan berubah, apalagi setelah pemuda itu memberikan barang rampasan kepada para wanita.
Zhou Fan mengangguk, lalu melesat bersama Zhou Jim pergi ke arah timur, melanjutkan perjalanannya.
Karena hari sudah hampir berganti, Zhou Fan pun tak beristirahat dia terus bergerak menyisir sebuah hutan yang memisahkan desa Luan dengan desa tujuannya.
Zhou Fan berhenti di perbatasan hutan, dia duduk di bawah sebuah pohon besar.
Auk..
Zhou Jim memasang wajah melas, sepertinya beast itu tengah lapar.
"Kau carilah sendiri, aku sudah tidak mempunyai daging sebagai persediaan." Zhou Fan mengatakan dengan nada menyesal.
Hrmm
Tak menunggu waktu lama Zhou Jim telah pergi berburu, dia kembali masuk ke dalam hutan, meski tidak merasakan kehadiran beast tingkat tinggi setidaknya penciuman serigala itu menangkap beberapa beast tingkat satu ataupun dua.
Zhou Fan menselonjorkan kakinya, sambil menunggu dia membuat api di dekatnya. Dia tahu bahwa Zhou Jim akan memelas kepadanya dan meminta di bakarkan daging hasil tangkapannya.
Beberapa saat kemudian, Zhou Jim kembali dengan beast kelinci berbulu perak di antara taringnya, tidak hanya satu ekor melainkan tiga ekor.
Ukuran kelinci yang bahkan lebih besar dari ukuran kepalanya membuat dia berjalan sambil menyeret mangsanya.
Bruk...
Zhou Jim melemparkan kelinci tersebut tepat di atas tubuh Zhou Fan yang tengah duduk berselonjor.
Zhou Fan meraih salah satu kelinci yang sudah tak bernyawa, dia memisahkan semua bagian yang bisa dia konsumsi, dan membuang yang tak berguna.
Satu persatu kelinci dia olah menjadi daging siap bakar, dia pun membakar ketiga daging dengan telaten, seolah tengah membuat pill.
Zhou Jim yang menyaksikan dari samping, hanya bisa menatap dengan liur berceceran.
Zhou Fan manarik tangannya, menjauhkan daging yang ia rasa sudah pas tingkat kematangannya.
Haih...
__ADS_1
"Daging bakar ala pemuda tampan siap di sajikan!"