
Genap enam bulan Zhou Fan berada di Kota Teratai...
"Sepertinya aku harus menemuinya, entah berapa lama dia ber kultivasi," ujar Zhou Fan sambil meregangkan otot ototnya.
Zhou Fan memutuskan untuk menemui Wei Guanlin yang ia kira masih berada di sekte pedang suci, ia tidak tahu bahwa wanitanya telah pergi beberapa bulan yang lalu.
Dengan wajah semangat dia melesat ke tempat sekte pedang suci berada, tidak membutuhkan waktu lama untuk pemuda itu kembali ke tempat yang pernah ia kunjungi.
Sampainya di depan gerbang, Zhou Fan dapat melihat suasana tak seramai saat turnamen di gelar, bahkan orang yang berlalu lalang di gerbang sekte pedang suci dapat di hitung dengan jari.
Zhou Fan mendekati murid yang berjaga di pintu gerbang, terlihat sekitar 3 pemuda seumurannya yang bertugas di sana.
Ketiga pemuda yang mendapati seorang pemuda berwajah asing mendekati gerbang, dengan cepat menghadang.
"Siapa, dan ada keperluan apa datang ke sekte pedang suci?" tanya salah seorang pemuda dengan sopan.
Zhou Fan menarik sudut bibirnya, dalam hati dia bergumam. "Sekte nomor satu memang beda, muridnya sungguh ber tatakrama, meskipun nama sekte pedang suci merupakan dominasi di Ibukota, murid murid ini masih begitu sopan kepada tamu asing sepertiku."
Dengan wajah tersenyum Zhou Fan lebih mendekat, "Ada seseorang yang ingin aku temui, bisakah aku masuk?"
"Siapa yang ingin anda temui, karena beberapa tetua dan murid tengah melakukan pelatihan tertutup, jika diantaranya adalah orang yang kau cari tentu kau tak dapat bertemu dengannya." Pria berambut ikal menyahut sembari berjalan mendekati Zhou Fan dan temannya.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Putri Wei, apakah dia sedang melakukan pelatihan tertutup?" tanya Zhou Fan.
"Tuan putri?" Keduanya bergumam, kemudian saling pandang dan menelisik Zhou Fan dari atas sampai ke bawah.
Mendengar Tuan Putri di sebut, pemuda yang ketiga ikut mendekat. "Apa hubunganmu dengan Tuan Putri Wei? Tidak semua orang dapat bertemu dengannya, apalagi jika tidak memiliki janji."
"Emng..." Zhou Fan bingung ingin mengatakan apa hubungannya dengan Wei Guanlin, jika mengatakan dia adalah kekasihnya tentu dia akan langsung diusir, karena dikira hanya membual.
Zhou Fan tersenyum kecut, membuat ketiga pemuda dihadapannya menyipitkan mata.
"Huh... Kau hanya pemuda lusuh yang datang ingin melihat tuan putri, apakah kau layak?" Pemuda ketiga mendengus lalu kembali ke tampatnya berjaga.
"Maafkan teman kami, tapi memang sulit jika kau tidak mempunyai janji untuk bertemu, apalagi dia adalah tuan putri," ujar pria yang datang pertama.
Zhou Fan menghela nafas, kemudian berniat pergi, namun matanya tak sengaja menjumpai seseorang yang mungkin dapat membantunya.
Hendak menyapanya, dia lupa jika dia tak mengetahui nama gadis itu.
Zhou Fan beralih ke dua pemuda yang masih disampingnya, "Kawan, siapa nama dari wanita itu?"
__ADS_1
Zhou Fan menunjuk Rourou yang kebetulan tengah berjalan keluar dari gerbang, sungguh kebetulan yang melegakan.
"Oh.. Dia? Dia adalah senior Rourou, dia merupakan kakak seperguruan dari tuan putri, kenapa?" Pemuda berambut ikal menatap Zhou Fan dengan heran.
"Bukan apa-apa... Terimakasih." Zhou Fan melesat mengejar Rourou yang bergerak dengan kecepatan sedang.
Merasa sudah dalam jarak wajar, dia memanggil Rourou. "Senior Rou!"
Rourou yang tengah melesat dengan spontan menghentikan langkah kakinya saat mendengar namanya dipanggil.
"Senior Rou," Sekejap mata Zhou Fan sudah berada di hadapan Rourou.
"Akh..!" Rourou yang terkejutnya hendak memukul Zhou Fan, tapi dengan cepat dia menarik tinjunya saat melihat jelas wajah pemuda di hadapannya.
"Kau?!" Rourou menyipitkan matanya, berusaha mengingat nama pemuda dihadapannya.
"Ah iya aku ingat, kau Zhu Fan bukan?" Rourou mengelus janggut mulusnya.
"Huh... Zhou Fan, bukan Zhu Fan," sanggah Zhou Fan.
"Sama saja begiku, Zhu Fan Zhou Fan, aku tak peduli." Rourou mengayunkan tangannya, seolah bukan persoalan penting baginya. "Kenapa kau menghentikanku?"
"Aku ingin menemui Lin'er, tapi para penjaga gerbang itu tak memperbolehkan orang masuk tanpa janji," ujar Zhou Fan.
"Mana aku tahu ... Sekarang kau sudah berada disini, jika kau yang mengatakannya, meraka pasti memperbolehkan aku untuk masuk," ujar Zhou Fan dengan senyum percaya diri.
Rourou diam berpikir, meskipun Zhou Fan masuk kedalam, dia tidak akan bertemu dengan Wei Guanlin, karena dia telah pergi ke Kekaisaran Shi.
"Dia sedang berada dalam pelatihan tertutup, tidak bisa menemui orang, bahkan jika itu kau sekalipun." Rourou mengatakan dengan wajah melengos ke samping, dia tak kuasa untuk berkata bohong.
"Apakah yang kau katakan adalah yang sebenarnya, entah mengapa aku merasakan perasaan tak tenang, seakan akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan," gumam Zhou Fan dengan wajah heran, matanya menatap Rourou lekat.
"Te.. tentu saja yang aku ka...katakan adalah kebenaran, ka.. kau mungkin ter.. terlalu cemas, sampai kau berpikir macam macam.. He.. He.. " Rourou tertawa canggung, tanpa sadar gadis itu menggaruk tengkuk kepalanya.
Melihat sikap Rourou yang sedikit aneh, membuat prasangka Zhou Fan semakin menguat, dia meraih tangan Rourou dan mencengkeramnya kuat.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, saat berkata tentang Lin'er, kau terlihat gugup, sebenarnya apa yang terjadi." Tanpa sadar Zhou Fan semakin menguatkan cengkeramannya.
"Bisakah kau melepaskan cengkeraman tanganmu, kau membuatku ..." Rourou menarik tangannya yang perlahan terlepas dari tangan Zhou Fan.
"Katakan kepadaku, dia adalah wanitaku, apa yang terjadi kepadanya adalah tanggung jawabku." Zhou Fan terus mendesak Rourou untuk mengatakannya.
__ADS_1
Melihat tekat dan kasih Zhou Fan kepada Wei Guanlin, membuat Rourou bimbang.
Gadis itu terlihat berpikir,kemudian menghela nafas panjang.
Huft...
"Sebaiknya kita mencari tempat untuk berbincang, tidak enak kan jika terus berdiri di sini." Rourou memandang ke sekitar.
Di tengah orang berlalu lalang dia berdiri di tangah jalan, membuat beberapa orang memerhatikan.
"Kau benar, tapi dimana kita akan pergi, aku tak terlalu mengerti tempat yang bagus untuk di datangi." Zhou Fan ikut memandang ke sekitar.
"Ikuti aku!" ucap singkat Rourou yang kemudian tak lagi terlihat di tempatnya semula.
".." Zhou Fan dengan cepat menyusul, tak lama keduanya sampai di sebuah kedai, tempat untuk bersantai.
Keduanya masuk dan langsung menuju ke tempat paling atas.
"Kau harus menenangkan dirimu terlebih dahulu," ucap Rourou yang membuat Zhou Fan berpikir aneh aneh.
"Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Zhou Fan dengan panik, cemas, sekaligus khawatir.
"Dia sudah pergi... "
Brak!
Baru dua tiga patah kata, Zhou Fan menggebrak meja dengan kuat, membuat Rourou berhenti bercerita.
Meja sampai bergoyang akibat hentakan tangan Zhou Fan, beberapa pasang mata memandang dengan tatapan heran.
"Aku tak percaya, dia tak mungkin pergi. Kau jangan mempermainkanku!" sentak Zhou Fan sambil berdiri menunjuk Rourou dengan marah.
"Tidak ada untungnya aku berbohong kepadamu, dia telah pergi ... " Rourou kembali mengulang perkataannya, dan lagi lagi di potong oleh Zhou Fan.
"Siapa yang membunuhnya, aku akan balas berkali kali lipat, Aku tak akan melepaskan orang yang membunuh kekasihku!!" Dengan wajah berapi api Zhou Fan berteriak, membuatnya menjadi bahan tontonan semua orang yang ada di lantai tempatnya berada.
"Bisakah kau duduk dengan tenang, kau menjadi tontonan semua orang, dan siapa yang ... " Rourou sedikit tidak enak karena membuat kegaduhan, saat dia ingin menjelaskan, ucapannya lagi lagi dan lagi di potong oleh Zhou Fan.
"Bagaimana aku bisa tenang jika Lin'er telah tiada, Aku akan menghabisi orang itu. Akan aku habisi!" Zhou Fan berteriak dengan wajah berurai air mata.
Rourou menggertakkan giginya memandang pemuda yang sangat tidak masuk akal dalam kepalanya, desisas kesal terdengar dari bibir yang mengunci, dia berdiri dengan tangan menggebrak meja.
__ADS_1
Brak!
"Diam kau bodoh! Bisakah kau mendengarkan sampai aku selesai bercerita?!"