
"Sebentar lagi akan giliran mu, saudara Zhou." Wu Zetian berkata tanpa mengalihkan pandangannya.
Zhou Fan mengangguk, dia tahu sebentar lagi akan tiba waktunya bertarung. Yang menjadi perhatiannya, dia penasaran siapa lawannya.
Zhou Fan sudah mengetahui bahwa lawannya bernama Bu Qiong, tapi dia hanya sekedar tahu namanya saja, karena namanya tertera di daftar peringkat nomor 91.
Setelah peringkat 11 murid luar keluar sebagai pemenang, wasit di atas arena mengangkat tangan sambil memanggil murid selanjutnya, dan ini adalah waktunya Zhou Fan.
Ketika nama Zhou Fan disebut, seketika suasana menjadi ramai. Nama Zhou Fan selama sebulan terakhir telah menghebohkan dengan pencapaiannya, dan sekarang muncul di hadapan begitu banyak orang.
Tak hanya murid luar, murid dalam bahkan tetua yang ada di sana menaruh harapan besar terhadap Zhou Fan.
"Sebuah keberuntungan dapat bertanding dengan pemuda menakjubkan sepertimu." Pemuda dengan wajah seputih salju itu berkata sopan sambil mengeluarkan tombaknya.
Kesan pertama Zhou Fan terhadap Bu Qiong ini sangat baik. Untuk sesama murid luar, Bu Qiong tidak memandang rendah dirinya, padahal dia adalah angkatan baru.
"Saudara Bu, jangan berkata seperti itu. Kau tidak lebih buruk dibandingkan denganku. Mari bertarung, aku akan meladeni dengan serius." Zhou Fan juga mengeluarkan belati raja api.
"Seperti yang saudara Zhou katakan." Bu Qiong memutar tombaknya sekali, kakinya sedikit dia tarik sedang tangan kiri ditempatkan di pinggang.
Begitu wasit memulai pertarungan, Zhou Fan langsung mengibaskan belati raja api.
"Pisau angin!"
Beberapa pisau runcing terbentuk dari pusaran angin, melesat menyerang Bu Qiong.
Namun pria berusia tiga puluh lima tahun itu melompat sambil mengarahkan tombaknya ke depan.
Ketika ujung tombak menahan pisau angin, ledakan kecil terdengar bersahutan.
Slash... Slash...
Meski tingkat kultivasi nya berada di tingkat petarung raja bintang delapan, dia bertarung dengan percaya diri. Mungkin dia tak tahu pasti kekuatan lawan, entah bagaimana reaksi Bu Qiong ketika mengetahui tingkatan lawannya.
"Pisau angin!"
Kali ini yang keluar bukan hanya tiga atau empat, melainkan belasan pisau dengan ukuran lebih kecil. Namun tersimpan kekuatan lebih besar di bandingkan dengan sebelumnya.
__ADS_1
Bu Qiong langsung mengambil sikap siaga, dia mundur beberapa kali sambil merentangkan tombaknya ke depan.
"Menerkam mangsa!"
Begitu pria itu berteriak, siluet kepala harimau keluar dari ujung tombak. Ukurannya yang besar dapat menghalau seluruh pisau yang hendak bersarang di tubuhnya.
Namun serangan belum berakhir, dari belakang, tiba tiba angin terasa lebih kencang. Dengan cepat Bu Qiong membalikkan badan, bersamaan dengan itu tangannya menyabit memutar tombak.
Trang...
Zhou Fan yang sudah bersiap menyerang, belati nya harus berhenti tepat di depan wajah Bu Qiong. Tombak dengan ukiran kepala harimau di mata tombaknya itu menahan dengan kuat.
"Kau kuat." Sambil berkata Zhou Fan menarik belati raja api, tanpa membuang waktu dia kembali menyerang mengincar pinggang.
Trang...
Namun sekali lagi serangan dapat dipatahkan. Dengan memegang kedua ujung tombak secara sejajar tubuhnya, dia menatap Zhou Fan. "Tak sebanding denganmu."
Bu Qiong dapat merasakan Zhou Fan masih menahan kekuatannya, dia mengingat betul saat pemuda itu mengalahkan Tue Yeun dan mengkudeta peringkatnya.
Keduanya terus beradu serangan, tapi Bu Qiong seolah tengah memikirkan sesuatu, dia tak begitu fokus, bahkan kerap mendapatkan pukulan juga sayatan di tubuhnya.
"Saudara Bu, jika kau tidak memiliki semangat untuk bertarung kau akan selamanya tak akan berkembang."
Sambil menyerang Zhou Fan berkata, dia tak menggunakan suara yang keras, dia menjaga harga diri Bu Qiong di hadapan banyak orang yang tengah memperhatikan mereka.
Mendengar nasihat Zhou Fan, Bu Qiong tersadar, dia pun mulai menyerang, dan kali ini dia menyerang dengan semangat. Meski tubuhnya telah kacau akibat kecerobohannya, dia tak masalah dengan hal itu dan bergerak semakin cepat.
Melihat pertarungan semakin seru, murid yang menonton berseru menyemangati. Meski kebanyakan mendukung Zhou Fan, juga tak sedikit yang mendukung Bu Qiong.
Namun tetap, Zhou Fan lah yang menang. Namun di wajah Bu Qiong tak menunjukkan penyesalan, bahkan dia tersenyum cerah dalam wajah pucat nya.
Semua orang tak ada yang bersuara ketika pertarungan berakhir, meskipun Bu Qiong kalah, dia juga telah mengerahkan kemampuan terbaiknya. Dia berhasil membuat semua orang merasakan ketegangan.
"Kau luar biasa, saudara Bu." Zhou Fan berjalan mendekati Bu Qiong, saat jarak hanya beberapa jengkal, dia mengulurkan tangan membantu Bu Qiong bangun dari duduknya.
Pria itu menerima dengan tangan terbuka, kemudian berdiri bersama menurun arena. Suasana yang sempat hening, langsung bergemuruh penuh dengan tepukan tangan.
__ADS_1
"Pertarungan ini adalah pertarungan paling seru saat ini. Bu Qiong sungguh sangat berjuang, dia adalah petarung yang tangguh."
"Kedua pihak benar benar luar biasa, meski Zhou Fan memenangkan pertarungan, Bu Qiong juga tidak buruk."
Masih banyak lagi ucapan ucapan seperti itu. Bu Qiong yang mendengar merasakan sedikit hiburan meski telah tersingkir dari persaingan.
"Saudara Zhou, aku harap kita dapat menjadi teman." Bu Qiong meninggalkan Zhou Fan sambil menunjukkan kepalan tangannya yang terangkat tinggi.
Sesaat setelah Zhou Fan turun, Yin Cun juga Wu Zetian menghampirinya, keduanya bagai serangga pengganggu di mata Zhou Fan.
"Dua orang ini, pasti tak lama lagi akan berpidato." Zhou Fan menghela nafas lemah, memutar bola mata dengan malas.
"Saudara Zhou, aku tahu kau luar biasa. Kau memang layak aku panggil sebagai kakak tertua." Wu Zetian menepuk pundak Zhou Fan sebelah kiri, sedang sebelah kanan sudah ada Yin Cun.
Yin Cun tak hanya diam, dia dan juga Wu Zetian bagai lalat yang terus berdengung mengitari makanan.
Di tempat duduk...
"Adik seperguruan Wei, sepertinya aku melihatmu tersenyum. Aku baru tahu kau juga bisa tersenyum." Seorang di samping Wei Guanlin memergoki wanita itu saat memandang Zhou Fan.
Mendengar pernyataan kakak seperguruan, dia langsung memalingkan wajahnya, tak lagi mengambil pandang terhadap Zhou Fan lagi.
"Adik seperguruan, apakah kau mengenal pemuda bernama Zhou Fan itu?" Dengan mengulum senyum di bibirnya, kakak seperguruan Wei Guanlin mengatakan dengan nada menggoda.
Wei Guanlin mencoba mengondisikan ekpresi wajahnya, sambil menyimpan semburat perasaan malu dia mengalihkan perhatian.
"Kakak seperguruan Miao, bukankah kau datang untuk mencari tunanganmu?"
Dan benar saja, wanita bernama Miao Ling itu langsung teringat dengan tujuan kedatangannya. Dengan mata tajamnya dia kemudian mencari tunangannya, dari tempat yang lebih tinggi tersebut dia tak percaya tak dapat menemukannya.
"Kenapa aku merasa tak asing dengan sosok di samping pemuda bernama Zhou Fan itu, dia ...." Miao Ling menatap begitu lekat. Karena sosok tersebut membelakanginya, dia tak dapat memastikan dengan jelas.
Wei Guanlin spontan kembali memgamati ke tempat Zhou Fan, tapi bukan pemuda itu yang menjadi titik fokusnya, melainkan dia sosok di sampingnya.
Begitu mereka berbalik, terpampang lah wajah mereka. Pandangan mata Miao Ling seketika memerah, memperlihatkan kegeraman yang mendalam.
"Yin Cun sialan! Aku akhirnya mendapatkanmu!"
__ADS_1