Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 154


__ADS_3

Zhou Fan langsung melesat ke hadapan Tuan Kota, sementara Tuan Kota membalikkan badannya saat mendengar seseorang menyebutnya.


Tuan Kota mengerutkan keningnya, dia menelisik sosok berjubah hitam di hadapannya.


"Bukankah semua sudah jelas, kenapa kau kembali ke sini?" Tuan Kota berkata dengan nada nada sengit, guratan kemarahan terlihat jelas dari wajahnya.


"Aku rasa kau sudah salah paham, Tuan Kota." Zhou Fan menggoyangkan tangan kanannya di hadapan Tuan Kota.


Tuan Kota menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"


Dalam pandangan Tuan Kota, Zhou Fan merupakan salah satu dari kelompok yang baru saja mengancamnya. Tapi mendengar sanggahan sosok di hadapannya, dia tidak tahu siapa lagi yang datang menemuinya.


Zhou Fan membuka penutup kepalanya, Tuan Kota terlihat terkejut, karena wajah pemuda di hadapannya sudah sangat jelas terukir dalam ingatannya.


"Kau..." Perkataan Tuan Kota seakan tidak bisa keluar, dia terlalu tidak menyangka bahwa sosok di hadapannya merupakan pemuda yang pernah membuat gempar Kota Kapur Putih.


"Ya... Ini aku, Zhou Fan." Zhou Fan merentangkan tangan sambil mengangguk, dia seolah menunjukkan kepada Tuan Kota jika dirinya memang sungguh berada di hadapannya.


"Owh... Apakah kau mendengar sesuatu?" Tuan Kota berusaha bersikap biasa, dia berharap tidak ada yang tahu masalah dirinya dengan kelompok tersebut.


"Sangat jelas." Zhou Fan menjawab singkat padat dan juga jelas.


Jawabannya membuat Tuan Kota seketika memasang sikap siaga, dia memasang kuda kuda bersiap menyerang Zhou Fan.


"Percaya atau tidak, anda sudah tidak memiliki kemampuan untuk membungkam diriku." Zhou Fan berkata santai, tapi sungguh perkataannya menusuk masuk hati Tuan Kota.


"Apakah kau meremehkanku?" Tuan Kota meninggikan suaranya.


Tidak mungkin seorang pemuda dapat dibandingkan dengannya, apalagi mengalahkannya, itu merupakan pemikiran paling tidak masuk akal dalam pemikirannya.


"Aku bukan meremehkan anda, Tuan Kota. Tapi anda dapat mencoba jika tidak percaya." Zhou Fan berusaha menyikapi Tuan Kota dengan santai, karena dia membutuhkan informasi dari pemimpin Kota Kapur Putih tersebut.


Tuan Kota menyipitkan matanya, dia masih tidak percaya dengan perkataan Zhou Fan.

__ADS_1


"Dari pada berbincang tak jelas seperti ini, aku lebih tertarik dengan wanita berjubah yang baru saja pergi." Zhou Fan mengalihkan topik pembicaraan, rasa ingin tahunya begitu menggebu terhadap wanita berjubah.


"Kau jangan macam macam terhadapnya, atau kau akan menyesal pada akhirnya. Kekuatan di belakangnya bukan sekedar kronco biasa," ucap Tuan Kota dengan nada menasehati.


"Siapa yang berada di belakangnya?" Zhou Fan bertanya dengan tangan mengepal, tubuhnya seakan tersengat listrik saat membicarakan perihal tersebut.


"Sebenarnya apa tujuanmu, aku katakan sekali lagi, jangan mencari masalah dengannya!" ucap tegas Tuan Kota.


"Tidak akan pernah, mereka sudah mencari masalah denganku, aku tak akan pernah melepaskan mereka, sebelum membalas perbuatannya." Mata Zhou Fan memancarkan kemarahan, kebencian sekaligus dendam.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Pandangannya memancarkan keinginan membunuh." Tuan Kota membatin penasaran.


"Aku menghargai niatan anda yang memperingatkanku, tapi aku harus membalas darah yang orang yang bahkan mungkin tidak mengetahui alasan mereka terbunuh." Zhou Fan mengubah raut wajahnya dengan sangat cepat, dia berkata dengan wajah datar.


"Sebaiknya kita masuk," ajak Tuan Kota kepada Zhou Fan, dia merasa akan sangat berbahaya jika ada seseorang yang menguping.


Tanpa banyak berkata, Zhou Fan masuk ke dalam, mengikuti Tuan Kota dari belakang.


Keduanya kini duduk berhadapan, tidak ada sepatah katapun semenjak mereka masuk ke dalam.


"Kemungkinan besar dia dan juga orang di belakangnya merupakan dalang pemusnahan keluarga bangsawan Cao, di Kota Mawar, juga merupakan otak serangan Klan Zhou." Zhou Fan menjawab garis besar cerita, karena ia merasa tidak terlalu penting membahas hal itu terlalu rinci.


"Dari mana kau mendapatkan keyakinan bahwa mereka yang menjadi orang di balik itu semua? Dan apa hubunganmu dengan bangsawan Cao?" tanya Tuan Kota yang mulai mengikuti alur, dia merasa penasaran dengan cerita Zhou Fan.


"Aku bukanlah orang yang akan menuduh sembarangan, untuk bangsawan Cao, ibuku adalah orang terakhir yang tersisa, selain aku, anaknya!" ujar Zhou Fan singkat.


"Meskipun kau tahu siapa mereka, apakah kau pikir dapat melakukan sesuatu?"


"Kau hanya mengantarkan nyawa jika kau bertindak gegabah, setidaknya kekuatan mereka tidaklah lemah." Tuan Kota berkata dengan suara ragu, dia masih tidak yakin dengan kemampuan Zhou Fan.


"Meskipun sekarang aku tidak bisa mengalahkan mereka, tapi tidak berarti aku tidak akan berusaha, meskipun hanya memiliki harapan secuil, itu sudah cukup bagiku." Zhou Fan mengatakan dengan yakin, wajahnya tak sedikitpun memancarkan keraguan, yang ada hanya tekad untuk menyelesaikan masalah dalang penyerangan.


"Jadi bisakah Tuan Kota memberitahuku apa yang kau ketahui tentang mereka?" Zhou Fan mengatakan dengan nada sedikit memohon, dia sangat membutuhkan informasi, bahkan jika ada sedikit, itu akan sangat berguna baginya.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberitahumu, bukan karena aku tak mau, tapi aku belum yakin kau dapat berbuat banyak." Tuan Kota menggeleng, secara tidak langsung dia menantang Zhou Fan untuk berduel dengannya.


"Apakah karena kau melihat tingkatanku yang masih berada di petarung grand master bintang delapan, kau tidak mempercayai ucapanku?" Zhou Fan sedikit tidak nyaman dengan perkataan Tuan Kota.


"Aku tahu, kau pernah mengalahkan Patriark Bai yang mempunyai kultivasi petarung raja bintang satu, tapi itu tidak terlepas dari kecerobohan patriark Bai...,"


"Apakah kau bisa mengalahkan Patriark Bai jika dia bertarung serius?" tanya Tuan Kota.


"Kau sangat genius, jika kau terus meningkatkan kultivasimu beberapa tahun lagi, tidak menutup kemungkinan kau akan dapat mengalahkan mereka." Tuan Kota menasehati Zhou Fan, dia berpikir pemuda di hadapannya itu hanya bersikap impulsif karena tekanan beban hidupnya.


"Apakah Tuan Kota mendengar Patriark Bai sudah mati?" tanya Zhou Fan dengan wajah menyeringai.


"Aku tahu, semua orang di Kota Kapur Putih mengetahuinya. Menurut kabar yang beredar, Patriark Yu juga kehilangan nyawanya, sekitar satu bulan lalu keduanya sering bertemu, tak disangka mereka begitu setia kawan, sampai mati pun bersama." Tuan Kota menjawab dengan santai, tawa lirih keluar dari bibirnya.


"Orang yang membunuh keduanya, apakah Tuan Kota mengetahuinya?" Zhou Fan kembali bertanya.


"Untuk mengalahkan Patriark Bai, ataupun Patriark Yu tentu bukanlah orang sembarangan, pasti merupakan orang hebat," ujar Tuan Kota.


"Ya, dia sangat hebat. Tidak hanya itu, dia juga merupakan pemuda yang tampan." Zhou Fan membatin dengan dagu terangkat.


Tak... tak...


Dua buah cincin bergulir di atas meja, saat cincin berhenti berputar, Tuan Kota memandang kedua cincin bergantian dengan Zhou Fan.


"Apakah anda merasa tidak asing dengan kedua cincin itu?" Zhou Fan berkata dengan telunjuk menunjukkan cincin di atas meja.


"Hem... Yah, aku rasa aku pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat dimana." Tangan Tuan Kota mulai meraih salah satu cincin.


Mata tuanya menelisik cincin yang kebetulan milik Patriark Bai, di sana terukir jelas lambang Klan Bai.


Saat matanya melihat lambang Klan Bai, pupil matanya seketika melebar. Dia meraih cincin yang lain, sama seperti rekasi nya yang pertama, dia seakan tidak bisa lagi bernafas normal.


"I.. Ini, bagaimana mungkin!" Tuan Kota memandang Zhou Fan lekat.

__ADS_1


Sementara Zhou Fan mengedikkan bahunya, dengan wajah malas dia berkata.


"Karena aku yang membunuh mereka."


__ADS_2