Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 250 : Menuju Lan Yuliang


__ADS_3

Keesokan paginya, Zhou Fan yang telah siap dengan segala keperluannya tak lagi menunda perjalanannya.


Rogue yang akan ditinggal, hanya menatap sedu kakaknya. Tak ketinggalan, serigala berwujud anjing yang ada disampingnya juga menunjukkan ekspresi sedih.


"Kau sudah membawa plakat sekte bulan sejati?" tanya Huang Yu mecoba bersikap perhatian, tidak mungkin dia hanya diam di saat melepas kepergian cucu menantunya.


"Kau tenang saja, kakek. Aku sudah menyimpannya dengan aman. Tanpa plakat ini aku tak akan bisa mengikuti seleksi, bagaimana aku bisa melupakannya." Zhou Fan menunjukkan plakat yang sebelumnya tersembunyi di balik pakaian.


Di ruangan itu hanya ada Huang Yu, Rogue, Zhou Jim dan tentunya Zhou Fan.


Rogue mendekat. "Kakak?"


"Apa, sekarang kau baru memanggilku kakak. Kemana kau kemarin malam, ha?" Zhou Fan melotot, dia berkata dengan ekspresi marah, meski itu hanya dibuat buat.


Rogue menunduk, dia bukan sedih karena dimarahi Zhou Fan, tapi lebih mengarah ke masalah dia yang akan ditinggalkan.


Zhou Fan merupakan satu satunya orang yang menurutnya adalah keluarga, setidaknya sebelum bertemu dengan Huang Yu.


Haih...


"Kau baik baik di sini bersama kakek." Zhou Fan mengusap puncak kepala Rogue, gadis itu hanya diam menikmati belaian sang kakak.


"Terus berlatih, dan tingkatkan kekuatan. Jika saat aku kembali kau tidak sesuai harapanku, siap siap saja..." Zhou Fan menyeringai, membuat Rogue yang semula menitikkan air mata tertawa tak bersuara.


"Kakek, aku titip Rou bersamamu." Zhou Fan memberi salam layaknya kepada orang tuanya, dia menghormati Huang Yu sebagai kakek mertuanya.


"Meskipun kau tak menyuruh, akan aku melakukan. Lagi pula dengan keberadaannya di sini tidak membuat hariku menjadi sepi." Huang Yu mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.


Sejak sepeninggalnya istrinya, dia merasa hidup dalam kesepian, kesendirian, dan juga kesedihan.


Begitu cucunya datang dari Kekaisaran Wei, dia berubah bersemangat, tapi apa yang ia pikirkan tidak sesuai.


Wei Guanlin memang bersama dengannya, tapi dia lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan, bahkan tidak memiliki waktu untuk menemani Huang Yu.


Huang Yu sadar, itu terjadi karena cucunya sedang menghadapi masalah yang pelik. Dia tidak menyalahkan cucunya, dia malah merasa kasihan kepadanya.


"Aku berangkat kakek, Rou, Jim." Tak lupa Zhou Fan berpamitan kepada sosok serigala yang sudah menemani perjalanannya.

__ADS_1


Zhou Jim paham akan perkataan Zhou Fan, dia berdiri tegak dengan keempat kakinya, wajahnya memandang punggung Zhou Fan yang kini sudah terhalang pintu ruangan.


Awu....


Zhou Jim melolong panjang, dia seolah lupa bahwa dirinya berada di ruang tertutup.


"Jim, apakah kau tidak bisa diam?" Rogue memperlihatkan matanya yang melotot tajam.


Zhou Jim seketika diam, meringkuk di pojokan.


...


Matahari baru saja menunjukkan diri, bahkan panas sinarnya belum terasa. Permukaan tanah nampak basah, memperlihatkan bahwa kemarin malam hujan melanda.


Zhou Fan mengendarai kuda, yang tentunya merupakan pemberian dari Huang Yu.


Dia melintas membelah lautan manusia yang berjalan di pinggir jalan.


Jalanan desa meskipun terlihat ramai akan orang beraktivitas, tak sekalipun mereka berani untuk berada di tengah. Banyak sekali kereta kuda ataupun kuda yang melintas diantara mereka, akan membahayakan nyawa sendiri jika memaksa.


Gemertuk kaki kuda terdengar hebat, kuda bergerak semakin cepat dan hanya meninggalkan jejak yang mengecap sepanjang jalan yang dilaluinya.


Sambil tetap menjaga agar tubuhnya tetap duduk tegak, Zhou Fan mengeluarkan sebuah lampiran. Terlihat beberapa titik juga garis yang saling terhubung di sana.


"Kota Lan Yuliang, setidaknya memerlukan waktu beberapa hari untuk sampai di sana. Juga terdapat hamparan biru, yang pastinya itu adalah perairan. Jadi aku harus menaiki kapal." Zhou Fan menggulung kembali peta yang berada di tangannya, lalu menyimpan dalam cincin penyimpanan.


Kuda hitam terus melaju, tanpa terasa hari semakin terang dan matahari sudah berada di atas kepala, bayangan terlihat tepat dibawah, panasnya sungguh menusuk sampai ke tengkorak.


Meski begitu, tak akan menyurutkan tekat pemuda itu, dia terus mengerahkan kuda agar bergerak sedikit lebih cepat.


Nampak di wajah serta leher butiran butiran keringat mulai keluar, dan merembes membasahi pakaian. Pakaian yang semula berwarna biru langit menjadi biru laut.


Zhou Fan masih belum berhenti, kuda hitam masih kuat berlari. Sudah dua desa dia lalui tanpa ada niatan untuk beristirahat.


Zhou Fan berpikir, selagi hari masih terang, sebaiknya terus bergerak. Jika hari sudah berganti malam, baru dia akan beristirahat. Entah itu dimana, yang penting dia akan berhenti.


Hari berjalan begitu cepat, matahari sudah hampir meninggalkan langit, dia bersembunyi dibalik bukit. Namun sinar redup mentari masih terlihat jelas, jalanan hutan terlihat remang remang.

__ADS_1


Zhou Fan yang merasa sebentar lagi langit akan gelap, kembali memacu kuda agar lebih cepat, setelah beberapa saat dia dapat melihat sebuah perkampungan di depan matanya, sekitar jarak ratusan meter.


Tanpa pikir panjang Zhou Fan menarik sedikit tali kekang kuda, membuat kuda hitam spontan menahan kaki agar berlari lebih pelan.


Melintasi gapura desa, Zhou Fan turun tanpa melepaskan pegangan tangan pada tali kekang. Kemudian dia menarik kuda sambil berjalan ke salah satu bangunan yang terlihat besar.


"Tuan muda, apakah anda mencari tempat untuk menginap?" Seorang pria paruh baya keluar dari bangunan itu dan seolah menyambut kedatangan Zhou Fan.


Zhou Fan mengikat kuda di tempat yang memang disediakan, sambil berjalan mendekati pria paruh baya dia berkata. "Ya paman, aku memesan satu ruangan."


Pria paruh baya itu tersenyum, kemudian tanpa mengurangi rasa hormat kepada Zhou Fan dia kembali berkata. "Silakan ikuti saya, tuan muda."


Pria paruh baya itu berbalik dan membawa Zhou Fan masuk, begitu masuk dapat dilihat bangunan yang nampak sepi dari luar itu begitu ramai di dalam.


Di lantai satu tidak ada tempat untuk bersantai, hanya ada tempat untuk bersenang senang. Mulai dari permainan catur, dadu hingga kartu semua lengkap ada di sini.


"Paman, sepertinya aku akan di sini sebentar." Zhou Fan berkata sambil melirik orang orang yang tengah bermain tebak kartu dengan beberapa kendi arak di samping mereka.


Pria paruh baya itu mengangguk, sebelum Zhou Fan melangkah, dia terlebih dahulu bersuara. "Jika demikian, tuan muda bersenang senang lah. Untuk masalah ruangan biar saya yang mengurusnya."


Mendengar perkataan pria paruh baya, Zhou Fan mengangguk, dia pun menuju salah satu meja yang terlihat paling ramai.


Tanpa banyak membuang waktu Zhou Fan mendekat, keningnya yang semula tenang berubah mengerut bersamaan dengan semakin jelas penampakan di depan.


Yang membuat berbeda ternyata yang dipertaruhkan merupakan pill tingkat tinggi, entah itu pill kultivasi ataupun jenis lainnya, itu sama dalam meja bundar tersebut.


Dari banyak meja yang ada, meja satu ini yang paling membuat orang penasaran. Semua orang yang baru saja datang, pasti akan menolah begitu mendengar teriakan teriakan dari arah meja ini.


"Sudah, aku berhenti! Aku mengaku kalah untuk hari ini." Pria berpakaian merah pergi dengan wajah kesal.


"Siapa yang akan bermain? Dua pill kultivasi tingkat kedelapan perbandingan satu bagi dua. Dua untukku." Pria berambut keriting dengan tubuh cungkring berkata dengan suara senang.


Namun tak ada yang menanggapi ucapannya, bukan marah dia malah tertawa. "Hahaha dasar sampah, ak - "


Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya, sebuah botol pill berguling di atas meja.


"Biarkan aku menemani kau bermain."

__ADS_1


__ADS_2