Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 142


__ADS_3

"Pergilah Qian'er, kau tak perlu berada disini." Wajah Zhou Hu seketika berubah cemas.


"Aku akan berada di samping suamiku, meskipun harus mati bersama sekalipun." Ucapan Zhou Qian membuat Zhou Hu meneteskan air matanya sekali lagi.


Zhou Hu berada di tingkat petarung raja bintang satu, sedangkan Zhou Qian berada di tingkat petarung grand master bintang tiga, semua itu tak terlepas dari sumber daya yang Zhou Fan berikan kepada keduanya.


"Mungkin ini hanya perasaan bersalahku kepada anakmu, setelah kejadian satu tahun yang lalu, aku sadar, aku bukanlah pemimpin yang baik, aku gagal menjadi pemimpin yang baik..," Zhou Fei memandang sepasang suami istri yang tak jauh darinya.


"Zhou Hu berterima kasih kepada patriark, tapi kau tak perlu sampai mempertaruhkan klan Zhou, serahkan masalah ini kepada kami, ayah dan ibunya." Zhou Hu mengatakan dengan pandangan melirik Zhou Qian.


Zhou Fei menghela nafas, kemudian dia berkata pelan. "Meskipun kau berkata seperti itu, apakah mereka akan melepaskan klan Zhou begitu saja?"


Dia merasa ini tidak semudah yang terlihat, ini terlihat seperti penyerangan yang memang sudah direncanakan, bahkan mereka membawa begitu banyak orang.


Pasti ada suatu hal lain yang membuat mereka ingin melenyapkan Klan Zhou, pikir Zhou Fei.


Beberapa anggota klan Zhou lainnya tiba tiba mengeluarkan senjata, mereka dengan cepat berdiri di belakang Zhou Fei.


"Yang dikatakan Patriark tidaklah salah, setelah aku pikir matang matang, aku akan berjuang dengan kalian, sampai darah penghabisan, walau aku bukan orang baik, aku adalah keturunan klan Zhou, aku tak akan punya muka untuk bertemu leluhur jika aku tak bertindak saat klan Zhou membutuhkanku." Zhou Kay yang tadinya berpikir egois, mulai melunak.


Dia berpikir, meskipun dia selamat dari terkaman bahaya ini, dia rasa adalah hal yang sia-sia, karena Klan nya sudah tiada.


"Hitung kami juga! Klan Zhou bukanlah pecundang!" seru beberapa orang di sana yang mulai bergelora.


Perasaan hangat menyelimuti hati Zhou Hu, ia tak mengira, terutama kepada Zhou Kay, tapi dia dapat melihat jelas mata tuanya yang tak menampakkan keraguan.


"Zhou Kay.. " Zhou Hu tanpa sadar bergumam, membuat sang pemilik nama menoleh ke arahnya.


Zhou Kay menampakkan wajah acuh. "Apa, aku hanya melakukannya demi klan Zhou, bukan karena kau dan putramu."


Meskipun dia berkata acuh, dalam hatinya dia sudah berniat untuk memulai hubungan baru, memulai dari awal, dalam ikatan sebuah Klan.


Zhou Hu tersenyum kecut, kemudian memandang ratusan orang di belakangnya.


"Owh... Aku kira akan ada pertunjukan yang lebih seru, ternyata hanya sampai seperti ini saja?" cibir patriark Yu sambil melipat tangannya di dada.


"Sialan, Diam Kau!!" Seorang pemuda dengan pedang terangkat berseru kencang.


Semua orang menoleh ke arah yang sama.


"Meskipun aku sangat tidak menyukainya, tapi klan Zhou adalah rumah bagiku, tidak ada yang boleh menginjaknya selama aku, Zhou Han! masih berdiri," tukasnya dengan gagah berani, semua anak muda Klan Zhou mengikutinya, termasuk kedua teman Zhou Han juga Zhou Yin.


"Khekhe... Ini akan menarik." Patriark Yu terkekeh pelan sambil bertepuk tangan tak bersuara.


"Di hari yang sama, tahun depan akan menjadi peringatan hancurnya klan Zhou. Semuanya, serang!" Patriark Yu mengkomandokan pasukannya.


Meskipun pasukan yang di bawa patriark Yu dan Patriark Bai tidaklah lebih dari empat ratus orang, kekuatan setiap orangnya rata rata adalah petarung grand master bintang satu.


Klan Zhou tak hanya diam menunggu, mereka melesat maju mencari lawan, mengepung dengan jumlah mereka yang lebih unggul.


Setiap satu orang pasukan patriark Bai atau patriark Yu, akan di kepung dua sampai tiga orang sekaligus.

__ADS_1


Sementara untuk para tetua klan Zhou mereka berhadapan dengan orang yang setara secara kekuatan.


Zhou Hu, Zhou Kay serta Zhou Fei berdiri sejajar, menghadapi patriark Yu juga patriark Bai.


Ketiganya membentuk formasi segitiga, berniat menyerang dari segala titik.


Patriark Bai berdiri membelakangi patriark Yu, Keduanya sudah siap dengan pedang di tangannya masing masing.


Patriark Bai sekarang berada di tingkatan petarung raja bintang dua, setelah kematian putranya dan kekalahannya, dia terus mengurung diri, meningkatkan kultivasinya.


Sementara patriark Yu masih berada di tingkat raja bintang satu.


Hyat!


Ketiganya melesat menyerang dua pimpinan lawan, menyerah bersamaan dengan senjata di tangan.


Meskipun Zhou Kay memiliki tingkatan kultivasi terendah, yakni petarung grand master bintang sembilan, dia tetap berusaha sekuat yang dia bisa.


Trang... Trang...


Pertarungan besar terjadi, bangunan bangunan di sekitar pertarungan hancur berantakan.


Tak jarang terjadi ledakan akibat jurus yang dikeluarkan, asap melambung tinggi menutup sinar bulan.


Yang tadinya akan mengadakan perayaan menjadi sebuah pertarungan skala besar, jalan desa giok yang sudah terpasang lampion hancur berhamburan.


Meskipun unggul dalam jumlah, tingkatan kultivasi yang terpaut jauh membuat klan Zhou tak bisa menekan pasukan Patriark Yu juga Patriark Bai.


Banyak anggota klan Zhou yang terbunuh, tapi juga tak sedikit pasukan kedua Patriark yang mati, meskipun tak sebanyak anggota klan Zhou, bahkan mungkin hanya seperempat dari jumlah korban Klan Zhou.


Pertarungan hebat dua lawan tiga masih berlangsung, meskipun berdiri dengan tangan gemetar, Zhou Kay tetap berdiri tegak.


Tak bisa menembus pertahanan dua orang tua di hadapan mereka, ketiganya meneriakkan sebuah jurus yang sama.


"Teknik sembilan pedang!"


Ketiganya bergerak cepat dengan pedang terus bergerak, mereka bergerak seirama, mengincar celah yang terlihat.


Namun tetap saja, bagi Patriark Bai yang sudah berada di tingkat petarung raja bintang dua, serangan tersebut terlihat begitu mudah.


Pria tua itu menahan dengan pedangnya, mengeluarkan teknik pedang yang dia kuasai.


Gerakan Patriark Bai membuat formasi terpecah, sekarang dia berhadapan dengan Zhou Kay dan juga Patriark Zhou.


Sementara Zhou Hu berhadapan langsung dengan Patriark Yu.


"Aku akan membalas perbuatan anakmu." Patriark Yu melesat ke arah Zhou Hu dengan wajah penuh dendam.


Trang....


Zhou Hu yang juga merupakan petarung raja bintang satu tak gentar menghadapi Patriark Yu, dia ikut melesat dan akhirnya terjadi bentrok antar kedua senjata.

__ADS_1


Keduanya saling mendorong pedang, wajah keduanya saling tatap, terlihat jelas sangat berusaha untuk mengalahkan lawannya. kilatan mata Patriark Yu terlihat begitu tajam, menusuk wajah Zhou Hu.


Sling... Serg..


Blar!


Zhou Hu menarik pedangnya, membuat pedang Patriark Yu menebas permukaan tanah.


Permukaan tanah meledak dan menyebar, membuat lubang seukuran kepala orang dewasa.


Tepat setelah menarik pedangnya, Zhou Hu mengayunkan tangan, mengincar leher Patriark Yu yang sedikit merendah akibat menahan gerakan pedangnya.


Mengetahui arah tebasan lawan,


Patriark Yu dengan cepat merunduk, kemudian mengait kaki Zhou Hu dengan kakinya.


Zhou Hu melompat, kemudian menendang kaki Patriark Yu yang menyeret di permukaan tanah.


Phak...


Bruak!!


Patriark Yu terseret beberapa langkah dan menabrak kayu besar, tapi dia masih dalam keadaan berdiri.


"Ternyata kau lumayan juga, Hahah.." Patriark Yu menakuk lehernya, menimbulkan retakan tulang yang khas, dia menatap tajam Zhou Hu lalu kembali melesat.


Zhou Hu mengangkat pedangnya setinggi dada, sedangkan kaki kirinya di tarik beberapa inci ke belakang.


Patriark Yu mendorong pedangnya yang terarah ke depan, membuat ujung pedangnya memercikkan percikan api.


Zhou Hu memutar tubuhnya, membuat pedang Patriark Yu meleset melintasinya.


Mengetahui pedangnya tak mengenai sasaran, pria tua itu menebas kesamping mengincar pinggang Zhou Hu.


Namun, dengan melentingkan tubuhnya Zhou Hu dapat menghindari serangan Patriark Yu.


Tak sampai di sana, patriark Yu kembali menyambar Zhou Hu dengan pedangnya.


Merasakan bahaya di atas kepala, Zhou Hu membentangkan pedang dengan kedua tangannya, kemudian mendorongnya ke belakang.


Patriark Yu yang terlalu lebar membuka kaki, menjadi kehilangan keseimbangan, tapi dia tak sampai terjatuh, dia menapak pedangnya ke tanah dan mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan kakinya.


Merasa ini adalah sebuah kesempatan, Zhou Hu bergerak cepat memburu Patriark Yu.


Bham!


Zhou Hu menurunkan pandangannya, melihat pedangnya menusuk masuk ke dalam permukaan tanah.


"Tidak semudah itu!"


Patriark Yu keluar dari debu yang bergumpal menutupi pandangan.

__ADS_1


__ADS_2