
Setelah babak ketiga selesai, satu persatu orang mulai meninggalkan tempat pertandingan. Ujian murid dalam akan dilanjutkan besok ketika fajar baru datang.
Kini hari sudah menjelang petang, sangat tak mengenakkan jika harus terus dilanjutkan. 12 murid sudah mendapatkan tempat pada babak ke empat. Dan Zhou Fan termasuk ke dalamnya.
Kemenangannya melawan Qi Lian, semakin memperkokoh dominasinya dalam persaingan. Namanya kini menjadi salah satu kandidat kuat sebagai murid yang masuk ke pelataran dalam.
Namun memikirkan siapa yang menang, masih terlalu jauh, kekuatan 12 murid yang tersisa setidaknya berada di tingkat petarung kaisar. Tidak mudah mendapatkan posisi tiga besar.
Ketika berjalan hendak kembali ke pelataran luar, seorang wanita muda menghentikannya.
Zhou Fan yang melihat kaki jenjang dengan pakaian menjuntai ke bawah sontak mengangkat pandangannya.
"Lin'er?"
Wei Guanlin tersenyum memamerkan pesona yang sungguh menggoda.
Belum sempat kata kedua terlontar kan, pengganggu datang mengacau.
"Saudara Zhou, kau ternyata di sini. Ak -- " Ketika pandangan menyapu ke arah Wei Guanlin, pemuda itu seketika terdiam.
"Hei, siapa gadis ini?" Pemuda itu berkata dengan nada berbisik, wajahnya sengaja didekatkan ke telinga Zhou Fan.
Zhou Fan hanya bisa memutar bola mata jengah, temannya satu ini selalu bisa membuat hatinya menjadi tidak menyenangkan.
"Yin Cun sialan, akhirnya aku menangkap mu!"
Tiba tiba seorang wanita muda lain datang dan langsung menarik telinga Yin Cun. Pemuda itu langsung mencekal tangan sosok yang menarik telinganya.
"Babi! Siapa yang berani menarik telingaku!" Yin Cun membalikkan badan dan menatap wanita di belakangnya.
"Eh... Ling'er?" Nyali yang terkumpul seolah terpecah, wajahnya kini pucat pasi.
Miao Ling menatap tajam Yin Cun. Tunangannya itu sudah berjanji akan menyusulnya satu tahun lalu, tapi malah sekarang baru datang. Padahal dengan kemampuan yang dimiliki, sudah cukup untuk menjadi murid luar.
Zhou Fan yang tak tahu hanya bisa mengerutkan kening sambil memperhatikan. Melihat Yin Cun mendapatkan lawan sepadan, membuat Zhou Fan merasa bahagia.
"Ling'er, kau tahu bahwa -- "
Belum sempat Yin Cun menyelesaikan perkataannya, Miao Ling kembali menarik telinga Yin Cun.
Miao Ling tak membiarkan Yin Cun untuk menjelaskan, wanita itu terlihat sangat menakutkan bahkan bagi Zhou Fan yang tak tahu apa apa.
Mereka berempat pada akhirnya pergi ke kediaman Wei Guanlin, di sana ke empat nya saling bertukar cerita, dan perlahan terjalin keakraban antar mereka.
"Ternyata yang kau katakan, menemui istri saat itu memang benar?" Yin Cun mangut mangut sambil mengingat saat Zhou Fan kembali begitu larut.
"Menurutmu? Aku tak seperti kau yang tidak mengakui tunangan sendiri." Zhou Fan berkata sambil melirik Miao Ling.
"Kau jangan bicara sembarangan, saudara Zhou. Sepatah kata yang kau ucapakan, dapat mempengaruhi keselamatan ku." Yin Cun langsung menyangkal.
"Huh... Aku belum memberimu pelajaran ketika kau menatap wanita lain di ujian murid dalam." Miao Ling mendengus kesal.
__ADS_1
"Ling'er, kau tak bisa berkata seperti itu. Kau tahu aku hanyalah seorang pria muda dengan kondisi pikiran normal. Meski begitu aku tak akan berpaling darimu."
Perkataan Yin Cun yang dikeluarkan tanpa pikir panjang, ternyata membuat Miao Ling luluh, wanita itu menatap Yin Cun dengan tatapan berbeda.
"Kakak ipar, kau harus hati hati dengan suamimu." Yin Cun tersenyum membalas ungkapan Zhou Fan.
Wei Guanlin hanya menanggapi dengan santai, sama sekali tak sesuai perkiraan Yin Cun, membuat pemuda itu menghela nafas frustasi.
Zhou Fan tersenyum mengejek, tapi saat bersamaan ekspresi wajah Wei Guanlin berubah sengit.
"Awas saja jika berani!" Mungkin itu yang dikatakan jika Wei Guanlin bersuara.
Zhou Fan yang paham, langsung diam.
'Aku masih ingin hidup'
....
Setelah berlama lama di kediaman Wei Guanlin, Zhou Fan kembali bersama dengan Yin Cun. Namun begitu melintasi taman tempat gurunya biasa bersantai, dia memutuskan untuk mampir.
Yin Cun saat diajak berkata bahwa dia ingin kembali, jadi Zhou Fan ke sana seorang diri.
Sampai di gazebo, dia dapat melihat tetua Louxi tengah duduk menikmati teh. Kursi duduk goyang bergerak pelan, menikmati hembusan angin malam yang mulai datang.
"Guru.. "
Tetua Louxi tanpa melirik sudah tahu siapa yang datang, dia sekte bulan sejati tak ada yang akan memanggilnya 'guru' selain satu orang. Zhou Fan.
Zhou Fan yang tak mengetahui apa penyebab tetua Louxi berkata demikian hanya bisa memendam rasa penasaran.
"Tingkatan mu masih begitu rendah, kau bahkan tak bisa mengalahkan petarung kaisar bintang dua tanpa menggunakan pedang pusaka."
Perkataan tetua Louxi memperjelas masalah yang dibahas terhadap Zhou Fan. Namun pemuda itu merasa tidak mengerti maksud perkataan tetua Louxi.
"Guru, dengan tingkatan ku yang masih di petarung kaisar bintang satu, bukankah sudah baik aku mengalahkan petarung kaisar bintang dua?" Zhou Fan benar benar tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala gurunya.
Bukan menjawab, tetua Louxi hanya diam di tempatnya. Pria tua itu kemudian meraih tongkat yang tak jauh darinya, tanpa persiapan langsung menyerang Zhou Fan.
Zhou Fan yang tak siap, meski sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan, tak bisa menahan dorongan kekuatan tetua Louxi. Pemuda itu terpental hingga menabrak salah satu tiang gazebo.
"Guru, apa yang kau lakukan?" Belum sempat mendapatkan jawaban, tetua Louxi melesat dengan begitu cepat.
Tanpa pikir panjang Zhou Fan mengeluarkan pedang darah malam, membalas setiap gerakan tongkat yang bergerak sangat cepat.
Zhou Fan berusaha menangkis, tapi serangan tongkat begitu cepat, bahkan dengan teknik andalan pun Zhou Fan tak sanggup melawan.
Dalam hati Zhou Fan menyadari, kekuatan yang dimiliki masih sangat jauh. Dia mengetahui bahwa tetua Louxi masih menahan serangannya, jika tidak, bagaimana dia masih bertahan ketika puluhan pukulan tongkat menghantam tubuhnya.
Zhou Fan lagi dan lagi terpental, pedang di tangannya bahkan sudah terasa berat. Dia tak sanggup lagi melawan.
Tetua Louxi yang melihat Zhou Fan, menghela nafas panjang. Kemudian melempar tongkat ke sembarang tempat.
__ADS_1
Zhou Fan melotot sempurna, tongkat yang digunakan ternyata hanyalah kayu biasa. Namun bagaimana bisa kayu sepanjang satu meter setengah itu menahan pedang darah malam?
Mengetahui gelagat muridnya, tetua Louxi tertawa samar. "Meski senjata berperan penting dalam pertarungan, siapa penggunanya merupakan faktor utama."
Bahkan jika itu hanya batang pohon ataupun ranting, dapat menjadi senjata mematikan begitu berada di tangan yang tepat.
Secara tidak sadar, Zhou Fan menangkap makna yang diberikan tetua Louxi. Gurunya itu menginginkannya agar tidak terlalu bergantung pada pedang darah malam, menginginkan agar lebih percaya dengan kemampuannya sendiri.
"Murid mengerti, terima kasih guru!" Zhou Fan berdiri sambil membungkuk hormat.
Zhou Fan benar benar merasa tercerahkan. Selama ini dia berpandangan, 'ketika memiliki senjata berkualitas di tangan, maka tidak akan terkalahkan.'
Namun pemikiran salah itu telah luruskan oleh tetua Louxi. Zhou Fan sungguh sangat berterima kasih.
"Memang jenius, dengan sedikit petunjuk saja langsung mengerti." Tetua Louxi mengangguk sambil membatin senang. Dia seolah telah menemukan peti harta karun dalam sebuah lubang tinja.
"Kau ambil ini!" Tetua Louxi melemparkan sebuah cincin penyimpanan.
Zhou Fan sekali lagi dibuat bingung, dia hanya melihat cincin pemberian tetua Louxi yang kini sudah beralih tangan.
"Di dalamnya berisi tanaman herbal yang selama ini aku kumpulkan. Karena aku tak berbakat dalam bidang alkemis, kau pakai saja." Tetua Louxi memberi cincin seolah memberi makanan, begitu enteng tanpa beban.
Zhou Fan secara spontan memeriksa isi di dalam cincin. Dia penasaran, tanaman herbal seperti apa yang telah dikumpulkan gurunya.
Begitu mengetahui sedikit dari yang ada di sana, keringat merembes di sela pakaiannya. Wajahnya tampak senang juga tak percaya.
"Guru, ini ...." Zhou Fan tak lagi dapat berkata.
Di dalam cincin itu setidaknya terdapat banyak sekali tanaman herbal, dan yang membuat terkejut adalah tingkatan tanaman herbal itu benar benar tak dapat diremehkan.
Bahkan jika melihat sekilas, Zhou Fan dapat menangkap 'tembakau bintang', tanaman herbal yang menjadi bahan utama beberapa pill tingkat sepuluh.
Benar benar dermawan! Pikir Zhou Fan sambil memandang tetua Louxi.
"Tak perlu begitu, memang tak berharga. Namun kau dapat memanfaatkannya." Tetua Louxi berkata begitu enteng, tangannya mengayun sambil mulai merebahkan tubuhnya seperti semula.
Zhou Fan tersedak ludah sendiri mendengarnya, tak kuasa menahan gejolak perasaannya.
"Sekarang aku tahu, begitu menjengkelkannya sifat ku dulu_- "
..._ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ...
**Hahaha... Thor berondong untuk akhir bulan ini, semoga kalian puas dengan cerita murahan yang disajikan.
Terima kasih untuk kelian semua yang telah mendukung novel ini, sebagai penulis pemula yang minim akan pengalaman, dukungan kelian sungguh sebuah motivasi terbesar untukku.
Btw**...
**Maaf untuk bulan depan, novel ini akan berhenti sejenak. Kalian pasti tahu, mendekati lebaran semakin banyak kegiatan.
Mungkin pertengahan bulan akan kembali up, sekali lagi maaf yang sebesar-besarnya**...
__ADS_1