
Begitu memasuki ruanganya sembari memapah Zhou Fan, Xiao LingYun mendaratkan tubuh pemuda itu di atas tempat tidurnya.
Xiao LingYun kemudian menarik kursi di dekatnya dan duduk berhadapan dengan Zhou Fan.
"Kau ini terlalu banyak dosa, tubuhmu sangat berat." Xiao LingYun terus menggerutu, entah mengapa dia bisa menghentikan ayahnya yang akan membunuh pemuda yang jelas jelas selalu terlihat mengesalkan baginya.
"Kau jangan terlalu percaya diri, aku melakukan ini hanya sekedar kasihan melihatmu," ucap Xiao LingYun sembari mengobati luka Zhou Fan.
"Hng...," desis Zhou Fan dengan suara acuh.
"Tidak bisakah kau mengucapkan terimakasih, jika bukan karena aku mungkin kau sudah mati di tangan tetua Khu." Xiao LingYun bersungut-sungut, tapi masih mengelap tubuh Zhou Fan.
"Apakah aku harus berterimakasih kepada orang yang menyebabkan banyak masalah untukku? Kalau begitu, 'terimakasih'!" ucap Zhou Fan dengan nada sarkastik.
Xiao LingYun hanya diam, tidak menjawab perkataan Zhou Fan.
Zhou Fan menoleh ke arah gadis itu. "Katakan saja jika kau ingin meminta maaf, mungkin aku akan memaafkan saat melihat ketulusanmu."
Cih...
"Tidak akan!" Xiao LingYun melenggang pergi meninggalkan Zhou Fan yang malah berbaring di atas tempat tidur, kepalanya sedikit sakit akibat serangan yang mengenainya.
...
Di luar ruangan dua pria tua berdiri di balik pintu.
"Pangeran, bukankah baik jika nona muda memiliki kekasih yang kuat sepertinya?" ucap Khu Tao kepada tuannya.
"Cih.. Peduli apa kalau dia hebat!" Xiao Tang melirik sinis bawahannya, kemudian melanjutkan perkataannya. "Tidak ada yang boleh merebut putriku dariku!"
"Pangeran, apakah kau tidak ingin memiliki menantu, ataupun cucu?" keluh Khu Tao yang tentu dia ucapkan dalam benaknya.
"Lihat saja, pemuda... siapa namanya?" tanya Xiao Tang kepada Khu Tao, tapi dijawab gelengan oleh pria tua itu.
"Kau ini apa gunanya, bukankah dia salah satu peserta, kenapa kau tidak mengetahui namanya?" tanya Xiao Tang dengan suara tertahan, dia tidak ingin dua orang atau lebih tepat putrinya akan mendengarnya.
Khu Tao mengangkat bahunya. "Hamba sungguh tak mengetahuinya, pangeran."
"Ayo pergi... Biarkan bocah itu selamat kali ini, awas saja jika sudah keluar." Xiao Tang mengibaskan jubahnya, pergi dengan wajah garang.
"Pangeran, bagaimana tentang kelanjutan duel yang sudah mencapai sesi ke-lima?" tanya Khu Tao sembari menyusul Xiao Tang dari belakang.
"Batalkan!" ucap tegas Xiao Tang, lalu menambahkan. "Aku sudah tidak berminat lagi, juga tidak akan ada yang dapat mengalahkan bocah itu jika di teruskan, aku tidak akan membiarkannya menang."
Khu Tao mangut mangut, dia hanya bisa menahan tawa terhadap sikap tuannya yang tidak bisa dia saksikan setiap saat.
.
.
.
.
Uh...
__ADS_1
Zhou Fan yang sebelumnya memejamkan mata, begitu membuka mata, kepalanya terasa agak berat
Dia melenguh sambil meraba keningnya. Sebuah kain beserta salep yang terbuat dari tanaman herbal menempel di sana.
Eh?
Saat mencoba bangun, tak sengaja tangannya menyentuh tangan Xiao LingYun, gadis itu pun terbangun sembari mengusap kelopak matanya.
"Jangan banyak bergerak, luka di dada kirimu akan terbuka jika kau terlalu banyak bergerak." Xiao LingYun mencoba kembali merebahkan tubuh Zhou Fan tapi dengan cepat pemuda itu tepis.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri... Dan aku yang lebih tahu bagaimana kondisiku." Zhou Fan berusaha untuk berdiri, tapi luka di dada kirinya terasa sangat sakit.
Akh...
Zhou Fan meringis sambil memegangi dada kirinya, dia pun kembali duduk di atas tempat tidur.
"Kau jangan keras kepala, sebaiknya kau tetap tenang." Xiao LingYun tak memikirkan kalimat yang terlontar dari mulut Zhou Fan.
Mata Zhou Fan yang tak sengaja memperhatikan wajah Xiao LingYun, keningnya seketika mengerut.
wajah di hadapannya sungguh sangat jelas dalam kepalanya, gadis itu tidak menggunakan cadarnya, membuat wajahnya terpampang nyata dalam pandangan pemuda itu.
"Ternyata memang dia, pantas saja gadis ini selalu mengincarku...," batin Zhou Fan dengan wajah kecut.
Ingin rasanya dia berteriak kesal, tak akan pernah dia bayangkan kejadian begitu kebetulan. Sesaat Zhou Fan hendak mengungkap hal itu, tapi dia urungkan begitu mengingat kejadian yang teramat memalukan baginya.
"Apa yang kau berikan padaku?" tanya Zhou Fan, pemuda itu mencoba mengalihkan pikirannya dengan bertanya kepada Xiao LingYun.
"Itu adalah salep khas Kekaisaran Xiao, tidak semua orang bisa mendapatkannya, kau beruntung karena aku baik kepadamu. Dengan salep itu, luka di tubuhmu tidak akan bertahan lama." Xiao LingYun mengatakan dengan senyum manisnya.
"Jika hanya mengandalkan kekuatan internal, kau memang bisa memulihkan diri, tapi luka luar yang ada di tubuhmu tidak akan pulih secepat menggunakan salep tersebut ... Bisakah kau cukup menerima saja?" tukas Xiao LingYun panjang lebar.
Zhou Fan duduk dengan tenang, dia menyenderkan tubuhnya ke belakang. Dia tidak menanggapi penjelasan gadis di sampingnya, membuat gadis itu bersungut marah.
"Apakah kau puas melihatku seperti ini?" tanya Zhou Fan tiba tiba, membuat mata Xiao LingYun terbuka lebar.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara tak terima.
"Apakah aku harus menjelaskan dari awal?" Zhou Fan mengatakan dengan nada suara datar.
"Apakah kau mengira aku yang mengadukanmu kepada ayahku?" ucap Xiao LingYun tak percaya.
Zhou Fan tak menjawab, dia memalingkan wajahnya, tapi itu tanda bahwa dia mengatakan 'ya' pada pertanyaan Xiao LingYun.
Huft...
Xiao LingYun mengembuskan nafas kasar. "Memang aku mengakui, mungkin ayahku melakukan karena aku, tapi aku sungguh tidak mengadukanmu."
"Dimana pedang serta serigalaku?" tanya Zhou Fan yang menyadari pedangnya tidak berada di dalam cincin penyimpanan atau di sekitarnya.
Bukan menjawab pertanyaan Zhou Fan, Xiao LingYun malah bercerita. Dia menceritakan kisah seorang anak perempuan yang selalu dilindungi oleh ayahnya, dia sangat disayangi ayahnya, sampai membuat anak perempuan itu tidak memiliki teman selain ayahnya.
Dia hidup dalam kemewahan, makan makanan enak setiap hari, memakai pakaian mewah setiap saat, tapi dia tidak memiliki teman.
"Apakah menurutmu anak perempuan itu sangat menyedihkan?" tanya Xiao LingYun dengan bibir tersenyum kecut.
__ADS_1
Zhou Fan yang semula menghindari Xiao LingYun melirik gadis itu.
"Apakah itu adalah kisahnya?" batin Zhou Fan dengan ekor mata masih melirik Xiao LingYun.
"Apakah kau ingin bebas berpetualang?" tanya Zhou Fan tiba tiba.
Xiao LingYun menengok dengan senyum indahnya, lalu kembali mengarah ke arah lain. "Itu adalah impianku sejak kecil, tapi aku tahu hal itu tidak akan pernah terjadi."
Sejenak Zhou Fan merasa gadis di hadapannya merupakan gadis berbeda dengan gadis yang membuatnya dalam masalah.
Melihat senyuman Xiao LingYun, membuat Zhou Fan dapat mengartikan 'senyuman dalam kepedihan'.
"Aku bisa membantumu." Zhou Fan dengan spontan mengajukan pernyataan konyol, membuatnya sedikit menyesal.
Xiao LingYun menatap Zhou Fan penuh harap, membuat Zhou Fan tak enak untuk membatalkan niatannya.
"Sungguh?"
"Heem," Zhou Fan hanya berdehem meyakinkan Xiao LingYun.
Zhou Fan pun menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya, Xiao LingYun hanya menjadi pendengar setia, dia tidak sekalipun menyela saat Zhou Fan membeberkan rencananya.
"Apakah ini tak masalah?" tanya Xiao LingYun dengan wajah cemas setelah Zhou Fan menyelesaikan penjelasan mengenai rencananya.
"Tenang saja," ucap Zhou Fan menenangkan.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan pedang darah malam, yang memang disimpan oleh Xiao LingYun, sementara Zhou Jim berada di luar ruangan.
...
Hari yang seharusnya menjadi penentu kenangan duel yang diselenggarakan, kini sepi mengikuti surat pernyataan acara yang tidak bisa dilanjutkan.
Kekecewaan menghiasi beberapa orang, khususnya yang sudah dalam jarak selangkah dari kemenangan. Namun mereka diberikan kompensasi berupa pill kultivasi tingkat kedelapan.
Tuan kota sekarang berada di ruangan utama beserta beberapa bawahannya, dia duduk didampingi istrinya.
Saat mereka tengah membahas beberapa hal, pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan pasangan muda mudi berjalan saling bergandengan.
Mata Xiao Tang seketika memerah marah melihat pemuda yang sedang menggenggam tangan putrinya.
"Sialan! Masih berani kau memperlihatkan wajahmu!" Xiao Tang berdiri dari duduknya, membuat semua orang mengikuti.
Xiao Tang sontak melambaikan tangan, menyuruh orang di sana kembali duduk, mereka pun dengan patuh mengikuti arahan pria tua itu.
Xiao Tang kemudian kembali fokus kepada pemuda di hadapannya. "Apakah lukamu sudah tidak terasa?!" Xiao Tang tersenyum mencibir.
"Ayah, bisakah kau tidak menggertak Fan?" ucap Xiao LingYun yang juga berada di hadapan Xiao Tang.
"Yun'er?" gumam Xiao Tang, dia tak percaya, di hadapan begitu banyak orang putrinya membela orang lain dari pada dirinya.
"Sialan kau, aku akan menghabisimu!" Xiao Tang mengangkat pedangnya, membuat beberapa orang berseru terkejut.
Trang...
Dengan pedang darah malam, Zhou Fan menahan, dia kemudian mengukir senyuman penuh arti kepada pria tua yang beradu pedang dengannya.
__ADS_1
"Apakah kau punya saran, ayah mertua?!"