
Seleksi murid dalam telah menentukan tiga nama yang berhak masuk ke pelataran dalam.
Yung Lao, Te Sha-murid luar peringkat ke dua dan tentunya Zhou Fan. Ketiganya lolos dengan mengalahkan lawan masing masing.
Pertandingan final tidak akan dilanjutkan, karena langit sudah mulai gelap. Memang tidak sesuai perkiraan, karena pertarungan berjalan alot, dan setiap murid luar menampilkan pertarungan yang sangat luar biasa.
Terlepas dari tiga nama teratas, posisi empat kebawah telah ditentukan. Feng Xiao harus rela menempati posisi ke enam setelah kalah berturut-turut dalam perebutan posisi ke empat.
Zhou Fan kembali ke kediaman, tapi terlebih dahulu dia mampir ke tempat gurunya. Namun setibanya di taman, tidak ada tanda tanda keberadaan tetua Louxi.
Zhou Fan tak tahu harus mencari kemana, karena gurunya itu tidak pernah pergi ke tempat lain, dan jika pun pernah itu tidak akan lama.
Atas pemahaman tentang gurunya, dia tinggal di gazebo taman untuk beberapa waktu. Namun sampai bulan bersinar terang, yang ditunggu tidak kunjung datang.
"Di mana guru? Tidak biasanya dia pergi sampai selama ini." Zhou Fan berdiri dari duduknya, dia berbuat mencari walau entah kemana tujuannya.
Saat menjelajahi taman yang luas, Zhou Fan menemukan Yin Cun yang tengah berjalan menuju kediaman.
__ADS_1
"Yo teman, kenapa kau terlihat panik?" Yin Cun menepuk pundak Zhou Fan, menilik wajah temannya yang terlibat berkeringat.
Zhou Fan menceritakan sedikit tentang masalahnya, Yin Cun meski tak tahu ada masalah apa dan kemana harus mencari, dia memutuskan untuk membantu Zhou Fan.
Waktu terus berlalu, tak terasa bulan semakin bersinar terang.
"Apakah kita perlu melapor kepada tetua Que?" Yin Cun memberi saran, dia berpikir mungkin tetua Que tahu di mana tetua Louxi berada.
Namun Zhou Fan menggeleng. "Tidak perlu, bisa jadi guru tengah menyelesaikan suatu urusan, besok saja aku kembali."
Yin Cun mengangguk, dia kemudian menarik pakaian Zhou Fan dan mengajaknya kembali ke kediaman. Zhou Fan sebenarnya berusaha memberontak, dia mengingat ada janji dengan Wei Guanlin.
"Kau kenapa, ini sudah sangat malam, aku ingin berbaring di atas kasur yang empuk." Yin Cun berhenti, membuat Zhou Fan memiliki kesempatan untuk melepas cengkeraman tangan temannya.
Zhou Fan melihat bulan, benar yang dikatakan Yin Cun, ini sudah sangat malam, mungkin Wei Guanlin telah tidur, dan dia tidak tega untuk membangunkan nya.
"Tidak apa, masih ada esok hari. Mati satu tumbuh seribu, kesempatan akan selalu ada." Zhou Fan meyakinkan diri sendiri, membuat Yin Cun yang berada di sampingnya hanya mengerutkan kening.
__ADS_1
Sementara di kediaman Wei Guanlin, halaman taman depan, gadis itu menunggu Zhou Fan. Namun sampai larut malam sama sekali tidak terlihat batang hidung nya.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan?!" Wei Guanlin mendengus kesal, dia sudah membenahi diri agar terlihat sempurna, menyambut suaminya dengan wajah gembira.
Namun harapannya perlahan terkikis ketika melihat bulan semakin bersinar. Dengan kesal dia berdiri, membalikkan badan berniat pergi.
Hem...
Wei Guanlin mulai melangkah meninggalkan arena taman, tapi saat dia hendak membuka pintu, sekali lagi dia berbalik, mengharapkan kedatangan Zhou Fan.
Namun pemuda itu sama benar benar tidak datang. Dan itu membuat Wei Guanlin semakin kesal.
Jika bukan karena perkataan Zhou Fan, dia tidak mungkin akan bersiap seperti ini. Namun suaminya tidak menepati perkataan yang dikeluarkan, membuat apa yang dia lakukan terasa tanpa tujuan.
Wei Guanlin membuka pintu, sebelum masuk dia melirik ke belakang. Setelah memastikan tidak ada yang datang, dia menutup dengan cepat.
Huh...
__ADS_1
"Lain kali aku tidak akan berharap."