
Qing Yuwei menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan datar, sementara pemuda itu mendekat ke arahnya.
"Anggap saja ini sebagai permintaan maafku kepadamu."
Zhou Fan mengeluarkan sebuah belati rank epic dengan gagang kepala burung phoenik.
"Belati ini aku dapatkan dengan susah payah, aku harus berjuang dengan mempertaruhkan nyawa untuk belati itu. Kau harus menjaganya dengan baik."
Zhou Fan mengarang cerita, padahal pemuda itu mendapatkannya dari cincin gurunya.
Qing Yuwei yang mendengar pengorbanan Zhou Fan mendapatkan senjata itu sedikit melunak, tangan indahnya meraih belati itu lalu mengelusnya dengan jari jari tangannya.
Andai dia tahu cerita sesungguhnya, mungkin dia akan menusukkan belati itu pada Zhou Fan.
"Hemm... Baiklah. Tapi ingat kau jangan membuatku khawatir lagi." Qing Yuwei kembali bersedih.
Zhou Fan tak menjawab, karena dia tak bisa berjanji hal itu. Perjalannya baru saja di mulai, akan ada keadaan yang pasti membuat nyawanya terancam dan itu pasti.
.
.
.
Pagi hari berikutnya, ini adalah hari terakhir yang tersisa dari waktu yang di berikan untuk menjelajahi makam kuno.
Zhou Fan dan Qing Yuwei sudah berada di pusat area makam kuno. Tempat tersimpan nya pedang yang dirumorkan sangat kuat.
Meskipun berada di pusat area makam kuno, tapi daerah ini lebih bisa dikatakan sebagai pasar loak.
Tempat ini adalah tempat berkumpulnya para peserta yang mencari atau menjual barang berharga yang didapatkannya, terkadang ada juga yang bertukar antar barang yang didapatkannya.
"Benar benar bukan makam biasa!" Zhou Fan takjub dengan pandangan sekitar nya.
Qing Yuwei terkekeh melihat Zhou Fan seperti sangat terpukau dengan area pusat yang memang layaknya seperti pasar.
Berbagai jenis orang dan kalangan saling tawar menawar barang yang mereka dapatkan.
"Hei kawan, maukah kau menukar bunga krisan itu dengan rumput roh ini."
"Saudaraku, mari lihat! Ini adalah daun jinten, hanya seratus koin emas!"
"Pak tua, bisakah kau menurunkan harganya?!"
Semua orang sibuk dengan urusannya masing masing.
"Wei'er, katakanlah jika kau menginginkan sesuatu." Zhou Fan menoleh ke arah Qing Yuwei.
Gadis itu hanya mengangguk lalu kembali melihat lihat sekelilingnya.
Setelah merasa bosan dengan hanya keliling saja, Qing Yuwei mengajak Zhou Fan melihat sesuatu yang dikerumuni masa.
"Fan, ayo kita kesana?!" Qing Yuwei menarik paksa tangan Zhou Fan sambil tangan satunya menunjukkan ke arah kerumunan orang.
Sebenarnya apa yang membuatnya tertarik? Pikir Zhou Fan.
Ha! Zhou Fan menganga saat melihat sebuah pedang menancap layaknya paku bumi.
__ADS_1
Padang yang sangat tirani, pikir Zhou Fan.
"Apakah yang bisa menarik pedang ini akan menjadi pemiliknya?" Tanya Zhou Fan antusias.
"Seperti yang kau pikirkan. Tapi tidak ada yang bisa mengangkat pedang itu, bahkan membuatnya bergerak." Qing Yuwei menggeleng.
"Lihat! Banyak sekali yang mencoba mengangkatnya, tapi mereka hanya kembali dengan tangan kosong," Tambahnya.
Zhou Fan melihat pedang seukuran setengah tingginya itu, melihatnya saja membuat darahnya bergejolak, apalagi saat menggunakannya. Pasti menyenangkan, pikirnya.
"Kau mau kemana?" Qing Yuwei bertanya saat melihat Zhou Fan berjalan mendekati pedang itu.
"Mengangkatnya!" Ucap Zhou Fan singkat.
"Kau..." Qing Yuwei tak bisa lagi berkata, dia sudah menjelaskan bahwa tak akan ada yang bisa mengangkatnya tapi Zhou Fan tak menghiraukannya.
Hng... Akhirnya Qing Yuwei pasrah.
Lagi pula tak ada ruginya jika Zhou Fan gagal menariknya. Pikir Qing Yuwei.
Sementara Zhou Fan kini tengah berada tepat di hadapan pedang pusaka malam.
"Aura yang sangat kuat," Gumam Zhou Fan.
"Aku hanya bisa berusaha, biar takdir yang menuntunku," Gumamnya lagi.
Zhou Fan menggenggam gagang pedang itu dan bersiap menariknya, tapi tiba tiba pemuda itu tertarik masuk ke alam bawah sadar.
"Apakah kau menginginkanku menjadi abdimu?!" Sebuah suara serak menggema membuat Zhou Fan tersentak.
Zhou Fan memutar tubuhnya. tapi tak ada siapa pun disekitarnya, bahkan dia seolah berada di dalam sebuah ruangan gelap tanpa penerangan.
"Apakah kau menginginkanku menjadi abdimu?!" Sekali lagi suara itu terdengar.
"Siapa di sana, keluar kau!" Teriak Zhou Fan.
"Apakah kau menginginkanku menjadi abdimu?!"
Lagi lagi yang keluar hanya pertanyaan yang diulang.
Zhou Fan berpikir sebentar lalu dia mengangguk.
"Ya... Aku menginginkanmu untuk mengabdi kepadaku!" Zhou Fan berkata tegas.
Tak penting siapa yang berbicara padanya, tapi dia yakin ini ada hubungannya dengan pedang pusaka malam.
Tepat setelah Zhou Fan berkata demikian, sebuah cahaya masuk ke dalam tubuh melalui dahinya.
Shut...
Zhou Fan sampai terhuyung karena terlalu terkejut ada sesuatu yang melesat ke arahnya.
Bersamaan dengan itu, sebuah ingatan perlahan terukir dalam ingatannya.
Seorang pemimpin negeri, dengan kekuatan tak tertandingi.
Yang juga seorang alkemis tertinggi. Dia adalah orang paling berpengaruh dalam dunia ini.
__ADS_1
Karena pengaruhnya yang melebihi seorang kaisar sekalipun, menjadikannya seorang musuh bersama, dengan segala macam cara lawannya berusaha mengalahkannya, tapi usahanya sia sia.
Namun siapa sangka, saudara yang paling dia percaya, yang selalu berada disampingnya, akan menaruh perasaan iri kepadanya karena kekuasaan yang dimilikinya.
Saudaranya dengan tega meracuninya, bahkan berkolusi dengan para musuhnya.
Tapi langit masih melindunginya, dia bisa kabur dari kepungan musuhnya dan melatirkan diri dengan membawa racun dalam tubuhnya.
Racun yang sangat hebat, yang bahkan tak dapat ditemukan penawarnya.
Hanya demi kekuasaan, seorang saudara yang sangat ia percaya menghianatinya.
Hanya demi kekuasaan saudaranya melupakan tali persaudaraan diantaranya.
Hanya demi kekuasaan, saudaranya melupakan jasanya, kenangan diantara mereka.
Di akhir hidupnya, orang itu menuliskan semua yang ia ketahui dalam sebuah kitab, bernama 'kitab emperor'.
Zhou Fan terkejut saat ingatan itu mengatakan kitab emperor.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam kepala Zhou Fan.
Siapa orang terkuat itu?
Apakah itu gurunya?
Semakin lama Zhou fan semakin menyadari betapa luasnya dunia.
Entah berapa bayak dunia seperti ini di luar sana, pikir Zhou Fan.
Perlahan Zhou Fan kembali ke alam nyata.
Zhou Fan mengerjapkan matanya yang sebelumnya tanpa ia sadari tertutup rapat.
"Apakah semua ini nyata?" Zhou Fan berpikir apakah yang beri saja ia alami adalah kenyataan.
"Sudah berapa lama aku disini?" Gumam Zhou Fan bingung.
Karena Zhou Fan berada dalam alam bawah sadar selama lebih dari dua jam. Pemuda itu berpikir ia sudah berdiam di sini selama dua jam juga.
Tapi pikirannya segera ia tepis, melihat tidak ada reaksi aneh dari sekitarnya memiliki hati Zhou Fan yakin semua orang tak menyadari kalau Zhou Fan terbawa ke alam bawah sadar.
"Seharusnya akan lebih mudah!" Zhou Fan sangat yakin akan dapat mengangkatnya, selain karena kekuatannya, Zhou Fan meyakini apa yang terjadi dalam alam bawah sadar adalah hal yang nyata.
Zhou Fan merapatkan genggaman kedua tangannya pada gagang pedang pusaka malam.
Zhou fan mulai berhitung...,
1
2
Semua orang ikut tegang menyaksikan Zhou Fan mengangkat pedang, tapi ada juga yang bersikap acuh, karena merasa itu adalah hal yang sia sia.
Bersamaan dengan itu, seorang wanita muda menatap Zhou fan dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.
"Aku tak mengira akan bertemu denganmu di sini."
__ADS_1