Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 199 : Bertemu 'Lagi'


__ADS_3

"Dua ratus sepuluh ribu koin emas!" teriak dari barisan paling atas, membuat beberapa orang menengadahkan kepala melihatnya.


Zhou Fan menyipitkan matanya, tak dia sangka ada yang mau berebut dengannya untuk mendapatkan bunga anggrek hitam.


"Ck... Akan sulit jika mereka terus memaksa, bisa bisa semua orang di sini akan curiga akan kualitasnya." Zhou Fan membatin dengan nada mengeluh sekaligus kesal.


"Dua ratus lima puluh koin emas." Zhou Fan berseru dengan wajah memandang barisan orang yang bersaingan dengannya.


"Gila! Apakah dia bodoh, menghamburkan kekayaan hanya untuk pengharum ruangan?" seru salah seorang yang duduk tak jauh dari Zhou Fan.


"Mungkin aku harus melelang tahi kuda, bahkan aromanya lebih kuat dari pada anggrek hitam...," cibir lainnya yang disambut tawa beberapa orang lainnya.


Di barisan atas, lima orang dengan satu pria serta empat wanita tengah saling berbincang.


"Guru, apa mungkin dia tahu kegunaan anggrek hitam?" tanya salah seorang wanita kepada pria paruh baya di sampingnya.


"Aku rasa dia mengetahuinya, jika tidak bagaimana mungkin dia mengeluarkan ratusan koin emas tanpa banyak berpikir." Sang Guru mengatakan sambil memijit pelipisnya.


"Jika begitu tidak akan mudah jika kita bersaing dalam lelang, dana yang kita bawa juga terbatas. Lebih baik kita biarkan saja dia memenangkan lelang, tapi kita harus mendapatkannya, walau harus memohon kepadanya."


"Apakah kau akan menundukkan kepalamu?" tanya sang guru kepada muridnya.


"Demi kakek, aku harus melakukannya." Gadis itu mengatakan dengan wajah bersungguh sungguh.


"Baiklah... Demi patriark aku juga akan menundukkan kepalaku," ucapnya sambil tersenyum hangat ke arah muridnya.


....


"Apakah mereka tidak menaikkan tawaran lagi?" gumam Zhou Fan sambil melirik barisan atas, meskipun sebenarnya tidak terlalu kelihatan dari tempatnya berada.


"Apakah tak ada yang mau menaikkan harga?" tanya pemandu wanita ingin meyakinkan.


Setelah menunggu beberapa waktu lalu, akhirnya pemandu wanita itu mengetuk palu yang ia bawa.


Sama seperti sebelumnya, seorang pelayan berpakaian hitam melompat ke tempat Zhou Fan, dia kemudian menyerahkannya dengan sangat hati-hati.


Zhou Fan kembali mengeluarkan koin emas yang telah ia sebutkan, meski telah menghabiskan begitu banyak koin emas, dia tak menyesal, karena dengan setangkai anggrek hitam yang ia dapatkan sudah cukup untuk membuat beberapa pill kultivasi tingkat delapan.


Semakin lama lelang berlangsung semakin riuh para peserta, tapi semua itu tidak cukup menarik perhatian Zhou Fan.


Lelang sudah sampai ke barang terakhir, sebuah kitab yang berisikan kumpulan jurus tombak menjadi titik puncak acara lelang.

__ADS_1


Satu jurus saja sudah sangat berharga, tapi sekarang terpampang nyata kumpulan jurus tombak. Entah berapa harga yang harus dikeluarkan oleh orang yang menginginkannya. Pikir Zhou Fan.


Seruan harga terdengar bersahutan, layaknya lantunan nyayian yang terdengar menggairahkan, khususnya bagi istana bulan. Bagaimana tidak, harga yang dilontarkan tidak main main, bahkan sekarang sudah menginjak satu juta, dan itu masih terus bergerak naik.


"Satu setengah juta koin emas!"


"Satu juta tujuh ratus ribu koin emas!"


Zhou Fan hanya menyaksikan sambil tangannya bergerak mengelus Zhou Jim yang sejak masuk ruang lelang sudah tertidur.


Saat sampai pada kisaran tiga juta, suara tawaran mulai mereda, hanya satu dua yang masih mengajukan tawaran, itu pun dengan suara sedikit ragu.


"Empat juta koin emas!"


Colloseum seketika sunyi saat pria tua meneriakkan nominalnya, tak ada yang sanggup melawannya sekarang.


Begitu kitab tersebut di serahkan, semua orang hendak bubar. Namun pemandu wanita berkata dengan suaranya yang memenuhi ruangan.


"Harap semuanya kembali untuk duduk di tempat duduk, karena lelang belum selesai!"


Semua orang yang sudah dalam keadaan berdiri berangsur-angsur kembali ke tempat duduknya.


Meskipun wajah dongkol menghiasi sebagian besar orang, rasa penasaran membuat mereka bertahan.


"Apakah mungkin masih tersisa barang utama yang lebih berharga dari kitab kumpulan jurus?!" ucap mereka dengan wajah tak ingin percaya.


"Kalian pasti lelah setelah mengikuti lelang yang panjang. Lelang hari ini sudah selesai, tapi masih ada satu barang tambahan, meskipun kami tak menjamin barang ini akan menarik perhatian kalian." Pemandu wanita itu berusaha menahan para peserta lelang, setidaknya setelah melihat barang yang terakhir.


Bersamaan dengan itu dua pelayan wanita berjalan dengan kotak kayu besar di tangan mereka.


Wajah semua orang semakin penasaran, saat pemandu wanita itu membuka penutup yang membungkus kotak kayu membuat semua orang melongo.


"Hanya tulang?"


"Cih... Aku juga punya jika hanya seonggok tulang."


Ekspresi kecewa menghiasi wajah semua orang. Mereka mengharapkan sesuatu batang yang bagus, tapi malah dihadapkan dengan tulang seekor beast.


"Kalian jangan memandang ini hanya sebuah tulang, tapi ... " Pemandu wanita bingung dengan perkataannya sendiri, jika bukan dianggap sebagai tulang lalu apalagi.


"Seribu koin emas!" seru Zhou Fan memecah keheningan.

__ADS_1


"Sepertinya serigalaku merasa lapar, kebetulan di sini ada tulang, kenapa tidak aku berikan kepadanya?" ucap Zhou Fan sambil mengangkat kedua tangan sebahu.


"Cih... Ambil saja, siapa yang mau tulang busuk itu, lebih baik aku membeli makanan untuk diriku sendiri dari pada untuk membeli makanan anjing."


Semua orang berhamburan keluar, menyisakan Zhou Fan serta beberapa orang yang masih berkepentingan.


"Anak muda, apakah kau tahu tulang ini?" tanya Penatua Zeon saat Zhou Fan turun mengambil tulang.


"Aku tak tahu," jawab singkat Zhou Fan sambil mengangkat kedua bahunya.


Zhou Fan pun mendapatkan tulang itu dan menyimpannya dalam cincin penyimpanan.


Zhou Fan keluar dari bangunan istana bulan, tapi baru saja dia berbelok, satu orang keluar menghadangnya.


"Apakah kau ingin merampokku?" tanya Zhou Fan acuh kepada penghadangnya.


"Bukan begitu... Ah sepertinya aku pernah bertemu denganmu," ucap pria berikat kepala sambil mengelus dagunya.


"Ah aku ingat... Kau adalah pemuda yang tiba tiba menyerangku, di desa Biyu!" ucap pria berikat kepala dengan wajah terkejut ala orang baru teringat suatu hal.


"Sepertinya seranganku cukup memberikan kesan terhadapmu, paman." Zhou Fan berkata sambil terkekeh.


"Kau masih muda, tapi sudah sekuat ini... Aku penasaran apa yang kau makan setiap hari?" tukas pria berikat kepala sambil berjalan lebih mendekat.


"Guru!"


Empat wanita datang bersamaan, pakaian putih dengan motif biru terasa tidak asing dalam kepala Zhou Fan.


"Kau?!"


Keempat wanita muda itu menunjuk Zhou Fan dengan kesal, mereka masih mengingat jelas pemuda yang dengan terang terangan mengusir mereka.


"Mereka guru dan murid, bukankah terlalu kebetulan?" ucap Zhou Fan dalam hati.


"Oh ya... Kami belum mengenalkan diri, bagaimana bisa aku melupakan hal penting seperti ini." Pria berikat kepala mengatakan dengan nada menyesal.


"Namaku Qiu Ren ... Mereka keempat muridku, yang ini Shu Yue dan ketiga wanita berwajah mirip ini adalah Bi Yin, Bi Rong dan juga Bi Jiao, mereka adalah kembar tiga." Pria berikat kepala yang mengaku bernama Qiu Ren mengenalkan mereka satu persatu.


"Guru apa yang kau lakukan, bukankah seharusnya kita mencari orang itu?" Shu Yue memandang Qiu Ren dengan tatapan mengeluh.


"Kenapa malah berbincang dengan pria tak tahu diri ini!" Perkataan Shu Yue walau pelan namun cukup untuk bisa tersampaikan ke telinga Zhou Fan.

__ADS_1


Zhou Fan tersenyum, lebih tepatnya memaksa untuk tersenyum.


"Sepertinya gadis ini belum pernah di tampar orang lumpuh!"


__ADS_2