
Seperti yang dipikirkan oleh Zhou Fan, Yin Cun dapat bertahan hingga peserta tersisa lima orang, meski tubuhnya penuh luka dan juga sayatan bahkan darah terus mengucur keluar dari pelipis matanya, dia masih bisa mengulum senyum di bibirnya.
Perlahan Yin Cun mendekati Zhou Fan, tak henti hentinya pemuda itu menampilkan ekspresi puas.
"Lumayan," ucap Zhou Fan dengan nada mengejek.
Perkataan itu sukses membuat kening Yin Cun mengerut. Dengan mata setajam elang dia menatap Zhou Fan. "Lumayan kau bilang, kau tak tahu bagaimana aku berjuang untuk mendapatkan posisi lima besar, aku telah berusaha."
Terlihat jelas Yin Cun memang sangat berusaha, bahkan setelah turun arena nafasnya masih begitu memburu.
Zhou Fan hanya tersenyum menanggapi kekesalan Yin Cun, sedang yang diolok hanya mendengus sambil berusaha mengkondisikan nafasnya.
Satu persatu arena mulai memastikan hasil pertandingan babak pertama, keseluruhan peserta yang masuk ke babak selanjutnya sekitar 125 orang.
Karena masing masing telah memegang nomor urut, tak perlu bagi mereka untuk ribut pasal kapan akan bertanding. Hanya diam menunggu nomor mereka disebutkan.
"Saudara Zhou, kau jangan sampai bertemu denganku. Meskipun kekuatanku tak berada di atas mu, aku adalah lawan yang tangguh." Yin Cun menepuk pundak Zhou Fan sambil memasang wajah bangga.
"Jika kau bertemu denganku sebelum memastikan masuk ke sekte bulan sejati, kau harus siap menyaksikan harapanmu hancur." Zhou Fan berkata begitu kejam, membuat orang yang mendengar bergidik ngeri.
Namun Yin Cun yang tahu bahwa Zhou Fan hanya bergurau, tidak begitu mempedulikan ucapan tersebut, dia malah tertawa sambil berkata. "Setidaknya aku harus memberikan kenang kenangan saat hal itu benar benar terjadi."
Yin Cun dapat menebak kekuatan Zhou Fan berada di atasnya, hal itu tidak terlepas dari dia yang tak bisa melihat kekuatan dalam diri Zhou Fan, juga dari pertarungan di babak pertama yang bahkan Zhou Fan menyelesaikan lebih cepat dibandingkan dengannya.
Tetua Que yang entah saat pertandingan hilang kemana, sekarang muncul kembali di tengah kerumunan semua orang, karena arena pertama berada di tengah tengah arena lainnya, pria tua itu berdiri di atas arena pertama dengan tangan terlipat di punggung.
"Selamat untuk peserta yang melaju ke babak selanjutnya, sedang untuk yang belum mendapatkan kesempatan, berlatih lah lebih giat dan datang lagi saat seleksi dibuka kembali."
__ADS_1
Dari atas arena meskipun tidak terlalu jelas, tetua Que dapat melihat raut muka beberapa orang yang terlihat sumringah, tapi itu tak lebih banyak dibandingkan dengan wajahnya kecewa juga sedih diantara mereka.
Demi kelangsungan kultivasi mereka, tetua Que memberikan beberapa patah kata. Dengan perkataan sederhana seperti itu, beberapa orang yang semula menampakkan wajah sedih nan kecewa berubah semangat dan penuh tekad.
Senyum tipis tersirat dari bibir pria tua itu, meskipun para peserta yang gagal bukanlah masalah penting baginya, dia tetap merasa sayang jika karena satu kali kegagalan mereka akan mengalami kebekuan dalam kultivasi.
Saat dimana seorang kultivator tak lagi dapat berkembang karena adanya rasa putus asa dan kecewa dalam diri mereka, itulah yang dinamakan kebekuan kultivasi. Meskipun mereka mencoba dengan berbagai sumber daya, mereka tak akan bisa, hanya angin kosong yang mereka dapatkan.
Seleksi berhenti untuk beberapa saat, hal itu dilakukan guna memberikan waktu bagi para peserta yang akan bertanding pada babak selanjutnya memulihkan diri. Karena pada saat sudah dimulai, tidak diperbolehkan memakai pill pemulihan atau pill sejenis lainnya.
Yin Cun duduk bersila di dekat Zhou Fan, sedang pemuda itu sendiri hanya berdiri sambil menyaksikan keseriusan peserta lain yang tengah mengembalikan tenaga dalam mereka.
Setelah beberapa saat, beberapa orang mulai kembali berdiri, tubuh mereka seolah mendapatkan tanaga baru, menjadi semakin kuat dengan semangat bergelora.
Siapa yang tak semangat jika tujuan mereka akan segera tergapai dengan beberapa langkah lagi, hanya perlu bertahan dalam beberapa babak dan mereka akan mendapatkan apa yang memang menjadi harapan mereka.
Semua orang termasuk penonton bergumam sendiri, mereka memperkirakan siapa yang akan menjadi pemenang dari segala pemenang, atau yang manjadi peringkat pertama.
Kebanyakan dari mereka, memaparkan bahwa pria paruh baya dengan kultivasi petarung bintang dua yang akan menjadi pemegang gelar tersebut.
Namun juga tak sedikit yang menyebutkan kandidat lain yang akan keluar sebagai pemenang.
Memang sangat masuk akal jika mereka menebak bahwa pria paruh baya itu yang menjadi pemenang, karena dari segi kultivasi dia lah yang tertinggi.
"37 melawan 24, arena pertama... 39 melawan 78 arena ke dua... 58 melawan 1, arena ke tiga ...."
Tetua Que menyebutkan satu persatu pasangan yang akan bertanding, dia menyebutkan lima puluh nomor secara acak, bahkan mungkin dia tidak akan ingat jika harus menyebutkan lagi pasangan nomor bertarung yang telah ia sebutkan.
__ADS_1
"Lihat, bahkan langit pun percaya dengan kemampuanku, aku langsung bertanding di arena pertama." Yin Cun menunjukkan nomor miliknya, di sana tertera angka tiga dan tujuh yang saling berdekatan.
Zhou Fan menggeleng pasrah, dia tak tahu harus bagaimana lagi menanggapi teman yang baru dikenalnya beberapa hari itu.
Meskipun terkadang sangat menjengkelkan dengan ucapan ucapan yang terlontar begitu saja dari mulutnya, Zhou Fan menyukai sifat yang demikian. Dibandingkan dengan yang memujanya bahkan menjilat demi mendapatkan keuntungan.
"Ingat, kembali dengan selamat." Zhou Fan mengatakan sambil terkekeh.
Yin Cun meninggalkan Zhou Fan sambil mendengus, pemuda itu berjalan santai menuju ke arena pertama.
"Aku dapat melakukannya, ini mudah. Aku dapat melakukannya, ini mudah." Yin Cun terus bergumam sambil berjalan, bibirnya terus berkomat kamit menyuarakan dukungan mental terhadap dirinya sendiri.
Begitu menaiki arena, seorang pemuda juga baru saja naik dari arah berlawanan. Kini di atas arena ada tiga orang, dua peserta dan satu yang menjadi penengah dan penilai pertandingan.
Diam diam Yin Cun menghela nafas, dia sempat berpikir lawannya merupakan salah satu petarung tingkat kaisar, tapi yang terjadi tidak sesuai prasangka nya, lawannya merupakan petarung tingkat raja bintang delapan.
Menghadapi petarung yang memiliki kultivasi setara dengannya bukan hal yang tidak mungkin bagi Yin Cun, selama dia mau berusaha dia dapat melakukannya.
"Dalam babak kedua ini, kalian tidak perlu khawatir akan terpental keluar, karena formasi ruang yang sekarang berbeda dengan sebelumnya." Pria paruh baya yang berada di antara Yin Cun dan lawannya berkata sambil melirik bergantian dua pemuda.
"Diperbolehkan menyerah, tidak boleh menyerang saat lawan sudah menyerah. Jika salah satu pingsan, pihak lain akan jadi pemenang."
Mendengar ucapan pria paruh baya, Yin Cun mengangguk dengan tegas, sementara lawannya terlihat tidak begitu peduli.
Sambil mengorek telinga dengan jari kelingking, pria yang mempunyai rambut pendek bergelombang itu pun mendengus.
Heh...
__ADS_1
"Tak perlu banyak basa basi, cepat mulai. Biar aku bisa bersantai."