
Kota batu hitam, Klan Zhou...
Malam nanti adalah malam penting bagi seluruh anggota Klan Zhou, saat malam tiba klan Zhou akan mengadakan perayaan berdirinya klan Zhou, sejarah berdirinya klan Zhou yang amat panjang merupakan bukti klan ini bukanlah klan biasa.
Ratusan ribu tahun lalu, Klan Zhou hanyalah keluarga cabang, yang harus menyetorkan seserahan setiap satu bulan sekali.
Dimulai dari pergolakan klan utama yang ribut akibat perebutan kekuasaan, Patriark klan Zhou memanfaatkan keadaan yang tengah tegang untuk membuat klan Zhou lepas dari jeratan keluarga utama.
Bukan perkara mudah untuk melepaskan diri, membutuhkan waktu tak kurang dari dua tahun hanya untuk klan Zhou bisa terbebas dari kekangan, pergerakan di lakukan secara pasif, tapi saat sebuah celah sudah terbuka lebar mereka langsung melakukan segala upaya.
Pada akhirnya klan utama menyerah atas klan Zhou, kedua pihak menandatangani sebuah perjanjian dimana di dalamnya tertulis klan Zhou telah resmi terlepas dari kendali klan utama.
Meskipun harus mengakui kekalahannya, klan utama tak tinggal diam, mereka melakukan semua cara agar klan Zhou tidak di terima klan ataupun keluarga di ibu kota.
Tapi tekad klan Zhou tidak pernah goyah, seakan kebebasan adalah harga mati, mereka berdiri tanpa adanya pengakuan dari klan ataupun bangsawan disekitarnya.
Awalnya bukan masalah besar berdiri tanpa pengakuan klan bangsawan lain, tapi perlahan klan Zhou tidak bisa lagi bergerak bebas, seakan mereka dipaksa untuk menyerah.
Klan Zhou tak menyerah, mereka malah semakin gencar berusaha, semua keturunannya diberikan sumberdaya berharga, berharap salah satu diantara keturunan klan Zhou dapat berbicara banyak.
Usaha tidak mengkhianati hasil, di turnamen Kekaisaran, dimana seluruh kota juga ikut berpartisipasi, salah seorang pemuda klan Zhou mengangkat bendera klan Zhou dan berdiri di jajaran tiga teratas, membuat nama klan Zhou di kenal banyak orang.
Mulai saat itu Klan Zhou mulai mendapat respon baik dari berbagai pihak. Perlahan tapi pasti klan Zhou mulai berdiri tegak dan bahkan menancapkan akarnya.
Klan Zhou dapat bernafas lega, meskipun harga yang harus dibayar sejak perjuangannya tidaklah murah, lebih dari separuh anggota klan Zhou terbunuh dalam upaya perjuangan mereka saat melepaskan diri dari klan utama.
Meskipun terbunuh, semua orang yang meninggal tidak ada yang menampakkan wajah menyesal sebelum ajal, mereka mati dengan wajah tersenyum.
Membangun kehidupan yang lebih baik untuk keturunan mereka merupakan hadiah setimpal bagi mereka, meskipun mengirim nyawa menjadi bayaran. Mereka merasa itu masihlah sebanding dengan senyum keturunannya.
Dari tahun ke tahun, klan Zhou yang semula berada di wilayah ibu kota pindah ke kota batu hitam karena suatu alasan. Saat pertama kali mengijakkan kaki, mereka berharap bisa mendapatkan sambutan baik dari klan lokal.
Namun kenyataan tak seindah realita, dari awal memasuki perbatasan, mereka disambut ribuan orang dengan masing masing senjata di tangan.
Patriark klan Zhou saat itu, terkenal begitu pandai dalam bernegosiasi, dia maju sendiri, membungkukkan sedikit badannya agar dapat berbincang dengan masing masing patriark klan.
Meskipun berjalan alot, akhirnya kedua klan lokal yang tak lain adalah klan Ling dan Klan Shui memberikan suaranya, dan menyetujui klan Zhou untuk tinggal.
Awalnya klan Zhou hanyalah klan kecil, tapi perlahan klan Zhou merangkak naik, dan kekuatannya tak lagi dapat diremehkan, bisa dikatakan sebanding dengan dua klan besar lokal.
Kemudian ketiganya membentuk Perserikatan sebagai tiga klan besar, yang masing masing diberikan wilayah untuk dikelola.
Berkembangnya pola hidup membuat hubungan ketiga klan besar tak lagi damai, meskipun tidak lebih dari persaingan, ketiganya selalu ingin lebih baik dari lainnya.
***
Seorang wanita paruh baya tengah duduk di halaman depan kediamannya, sampai suara tak asing menyapanya.
__ADS_1
"Qian'er, kenapa kau terlihat murung?"
Wanita yang tak lain adalah Zhou Qian tersebut menengadahkan kepala dan menjumpai suaminya yang kepalanya kini berada di atas kepalanya, merengkuh tubuhnya dari belakang.
Zhou Qian kembali memandang ke depan, kemudian membuang nafas lemah.
Huft..
"Nanti malam adalah peringatan berdirinya klan Zhou, pasti akan sangat ramai, andai Fan'er bisa datang dan bersama kita, mungkin akan lebih menyenangkan." Zhou Qian mengatakan dengan mata terpejam, tersirat kerinduan di wajahnya terhadap putra semata wayangnya.
"Mungkin dia disana tengah bersenang senang, sampai tak ingat untuk kembali," tukas Zhou Qian tiba tiba kesal.
"Khe.. Khe.. Biarkan dia bersenang senang, lagi pula dia bukanlah anak kecil yang tak bisa melindungi dirinya sendiri." Zhou Hu memutar tubuh istrinya, membuat keduanya berhadapan dan saling memandang.
"Meskipun kau berkata seperti itu, tetap tak akan merubah pandanganku tentangnya, dalam diriku, dia tidak akan lebih dari putra kecilku, sampai kapanpun tak akan pernah berubah." Zhou Qian memalingkan wajahnya yang masih tampak kesal.
.
.
.
Malam yang di tunggu akhirnya tiba, kediaman aula klan terlihat begitu ramai akan orang yang memasang wajah bersuka cita.
"Ini adalah kesempatan yang kau tunggu, bukan?" seru seorang pemuda sambil menyenggol lengan pemuda yang tampak lebih gagah darinya.
"Selamat selamat, kau jangan lupakan aku dan saudara Yu saat kau menjadi patriark klan Zhou." Pemuda lain yang baru saja bergabung menyambut dengan perkataannya.
"Yang dikatakan saudara Yi sungguh tepat sekali, setidaknya jadikan kita sebagai tetua di klan Zhou di masa depan nanti." Zhou Yu menaik turunkan alisnya.
Yang di balas tawa kedua temannya, kemudian dia juga ikut tertawa.
"Tentu saja, kalian berdua telah bersamaku sejak dulu, tentu aku tidak akan melupakan peranan kalian terhadapku." Zhou Han merangkul bahu kedua temannya.
"Hahaha..." Ketiganya kembali tertawa sampai seseorang menegurnya.
"Apa yang kalian lakukan disini, bukankah sudah aku katakan jangan berkeliaran. Jika Patriark mencarimu dan tak menemukanmu, mungkin harapanmu hanya akan menjadi harapan selamanya, tak akan menjadi kenyataan." Bersamaan dengan itu seorang pria paruh baya datang tanpa di undang.
Ketiganya tersentak kaget, kemudian memandang ke arah yang sama.
"Ayah?!"
"Paman?!"
Ketiganya berseru bersamaan, saat mengetahui siapa yang mendatanginya.
"Han'er, kau jangan terlalu jauh dari patriark, detik detik terakhir akan menjadi pertimbangan penting bagi patriark. Ayah hanya bisa memberikan kau kesempatan, apakah kau dapat menjadi penerus, itu patriark yang menentukan."
__ADS_1
Zhou Kay mengatakannya dengan wajah serius, dia tentu tak ingin perjuangannya yang selalu menyodorkan anaknya di hadapan patriark akan sia-sia hanya karena kecerobohan anaknya.
Beberapa orang tidak tahu, bersamaan dengan perayaan berdirinya klan Zhou akan juga di umumkan siapa penerus patriark klan Zhou.
Hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya, salah satunya adalah Zhou kay, yang merupakan tetua dari klan Zhou.
.
.
.
Di aula yang sudah ada ratusan meja panjang berjajar, mendadak hening bersamaan dengan suara lantang yang menggelegar.
"Perhatian!"
Semua orang kemudian memusatkan pandangan kepada seorang pria tua berambut putih yang tengah berdiri dengan kedua tangan terlipat di punggung.
Wajah keriput nya tak menghalangi wibawanya, seakan memancarkan aura besar di hadapan semua orang.
"Malam untuk kalian semua, sungguh tak terasa klan Zhou sudah berdiri berabad abad, kita sebagai generasi klan Zhou harus menjaga klan ini tetap berjaya..,"
"Selain akan merayakan berdirinya klan Zhou, aku sebagai patriark akan mengatakan sebuah pengumuman penting. Aku, Zhou Fei akan mengatakan siapa yang akan menjadi penerusku ... "
Semua anggota klan Zhou seketika menegang, seolah terkena serangan dadakan. Mereka berdiri dengan wajah terkejut lagi jantung berdebar.
Banyak gumaman bising disana, menebak siapa yang akan menjadi penerus patriark, banyak yang menebak itu adalah Zhou Fan, tapi juga tak sedikit yang menyuarakan Zhou Han.
Turnamen setahun yang lalu tentu mereka tahu, betapa hebatnya kemampuan Zhou Fan, dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri pemuda tersebut menjadi nomor satu di kota Batu Hitam.
Tapi hanya dalam kurun waktu tersebut beberapa orang mulai kembali melupakannya, beberapa dari mereka menganggap Zhou Fan hanya memiliki keberuntungan yang diluar nalar, tidak sebanding dengan putra tetua pertama.
"Semuanya diam! Berikan waktu kepada patriark untuk menyelesaikan ucapannya." Zhou kay mengatakan dengan lantang, wajahnya tak ayal menyembunyikan kesenangan, dia sangat yakin putranya lah yang akan menjadi penerus patriark klan.
Seketika aula klan menjadi hening kembali, bukan meraka takut, tapi lebih karena penasaran siapa yang akan keluar dari mulut Zhou Fei.
"Ehem.. " Zhou Fei berdehem pelan, kemudian berkata.
"Yang akan menjadi penerusku... " Zhou Fei menjeda dengan sengaja, membuat semua orang berkeringat dingin karena terlalu penasaran.
"Zhou... " Sebelum mulutnya berkata lebih, sebuah ledakan dahsyat terjadi tak jauh dari tempat aula berada.
Bhoom!
Seketika ledakan tersebut membuat semua orang memasang wajah cemas, patriark dan beberapa orang lainnya dengan cepat melesat ke tempat ledakan.
Sampainya di sana, matanya tak dapat berkedip, pupilnya melebar dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Siapa kalian?!"