Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 171


__ADS_3

"Diam kau! Kau tak bisa menuduhku begitu saja!" bentak Penatua Du kepada Zhou Fan, kemudian beralih menghadap Wei Huan dengan wajah sedu. "Yang Mulia, aku tak mengkhianati anda, apakah ini balasan yang hamba dapatkan setelah lama menemani anda?"


Cih


"Rubah," desis Zhou Fan pelan.


Wei Huan membantu Penatua Du berdiri, hal itu membuat mata Zhou Fan berkedut.


"Heh..." Penatua Du tersenyum miring, tanpa dilihat Wei Huan dia melemparkan senyuman menyindir kepada Zhou Fan.


"Kau hanya pemula, akulah pemain utama disini." Penatua Du membatin percaya diri.


Saat Zhou Fan akan protes tubuh penatua Du terpental jauh menabrak dinding ruangan.


Brak!


"Yang Mulia?" Penatua Du memuntahkan darah segar dari mulutnya, memandang Wei Huan dengan matanya yang mulai berat.


"Aku sudah sangat percaya kepadamu, penatua... Tapi kau berkomplot dengan mereka ingin menggusur posisiku, apakah aku memperlakukanmu dengan begitu buruk?" Wei Huan berkata dari posisinya berdiri.


Zhou Fan memandang ayah mertuanya, dia tersenyum sambil menggeleng, dia mengira Wei Huan akan percaya dengan ucapan Penatua Du bahkan setelah kedoknya terungkap.


"Jawab aku? Apakah aku pernah memperlakukan kau dengan buruk?" Wei Huan mengulangi pertanyaannya dengan mengeraskan suaranya.


Phuih...


Penatua Du meludah ke samping, liurnya bercampur dengan darah kental. "Kau tak pernah memperlakukanku dengan buruk, tapi aku lebih suka dengan adikmu, Wei Jia yang menjadi kaisar!"


Buakh!


Wei Huan mendapatkan tinjuan kepada Penatua Du, tinjunya melesat masuk mengenai perut pria tua itu.


Kultivasi Penatua Du yang berada di tingkat petarung raja bintang empat bukan lawan sebanding dengan Wei Huan yang merupakan petarung raja bintang enam.


"Prajurit!"


Wei Huan berteriak sangat keras, tak berselang lama puluhan prajurit berbaris rapi di sekitar ruang makan.


"Bawa pengkhianat ini ke dalam penjara bawah tanah!" Perintah Wei Huan kepada prajurit.


"Baik Yang Mulia!" Puluhan prajurit memapah penatua Du yang sudah terbelenggu dengan cincin tersemat di jarinya ke penjara bawah tanah.


Itu adalah cincin yang sama dengan cincin yang menahan Wei Guanlin, cincin penghilang kekuatan.

__ADS_1


Wei Huan kembali duduk di kursi tempat ia duduk sebelumnya, Zhou Fan yang mengerti situasi berniat meninggalkan ayah mertuanya sendiri.


Namun pria paruh baya itu menahannya. "Tunggu, tetaplah di sini, ada yang harus aku bicarakan denganmu."


Zhou Fan berbalik dan mendekati Wei Huan, perlahan dia mendudukkan dirinya tepat di samping Wei Huan.


"Apakah ada yang bisa aku lakukan, ayah mertua?" Zhou Fan berkata sedikit hati-hati.


"Yah, ini adalah tugas yang hanya kau yang bisa lakukan." Wei Huan mengatakan dengan wajah tersenyum kecut.


Zhou Fan diam tak berusaha memotong, dia sadar ayah mertuanya akan mengatakan suatu hal penting.


"Kekaisaran Wei sepertinya akan lengser, jika hal itu terjadi kau harus pergi ke Kekaisaran Shi, kau temuilah Lin'er, dia di sana pasti berada di kediaman kakeknya, Jendral Besar Tang ... " Wei Huan menjeda kalimatnya.


"Kau jangan berkata demikian ayah mertua," ucap Zhou Fan sambil menatap Wei Huan.


"Tunggu, biarkan aku selesai bicara..." Wei Huan mengangkat tangannya agar Zhou Fan tak menyela.


"Jika Kekaisaran Wei benar benar jatuh, maka aku juga akan tiada, karena aku tidak akan meninggalkan amanah kaisar sebelumnya. Aku tidak akan lari, karena aku bukan pengecut, meskipun aku harus kehilangan nyawa aku harus mati di sini." Wei Huan memandang sudut ruangan, pandangannya terasa sangat menyedihkan.


"Kenapa kau memikirkan kemungkinan terburuk, ayah mertua... Kenapa kau tidak berpikir, Kekaisaran Wei akan selalu berdiri?" ucap Zhou Fan dengan suara berkobar.


"Kheh... Sebagian kekuatan berada dalam kendali perdana menteri, sementara perdana menteri berada di pihak berseberangan." Wei Huan menggeleng dengan wajah pasrah.


Plak!


Zhou Fan memegangi pipinya yang merah akibat di tampar Wei Huan.


"Kau jangan bicara omong kosong! Jika kau terbunuh siapa yang menjaga Lin'er? Jangan berbuat macam macam." Wei Huan menunjuk Zhou Fan dengan marah.


Zhou Fan diam tak menjawab, dia tidak marah dengan perbuatan Wei Huan, karena dia sadar itu adalah bentuk kekhawatirannya.


"Jangan banyak berpikir, kau harus pergi saat pertarungan sudah sangat memburuk, aku menitipkan Lin'er kepadamu, kau harus menjaganya." Wei Huan berkata sedu, buliran air mata tak sengaja keluar dari matanya.


Zhou Fan tak mencoba membantah, tapi tidak ada sedikitpun niatan dalam dirinya untuk melarikan diri.


Zhou Fan meninggalkan Wei Huan sendiri, dia tahu ayah mertuanya butuh ketenangan.


Saat baru keluar, seorang prajurit berlari dengan tergopoh gopoh bahkan tak mempedulikan zirahnya yang kacau.


"Ada apa?" Zhou Fan menghalangi prajurit itu yang seperti hendak memasuki ruang makan.


"Itu... Penatua Du, melarikan diri," Prajurit itu mengatakan dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"Apa kau bilang?"


Wei Huan yang entah sejak kapan disana berteriak keras.


"Yang Mulia?" Prajurit itu membungkuk hormat.


"Apa yang kau katakan?" Wei Huan meninggikan suaranya.


"Pe... Penatua Du melarikan diri, Yang Mulia." prajurit itu berkata ragu.


"Bagaimana bisa!" bentak Wei Huan dengan wajah marah.


"Salah seorang prajurit ternyata merupakan penyusup, saat akan sampai di penjara bawah tanah, penyusup itu mengalahkan kami semua, kekuatannya setidaknya adalah petarung raja bintang satu." Prajurit itu menjawab dengan takut.


Brak! Pyar....


Wei Huan menendang porselen yang tak jauh darinya, sampai membuatnya pecah berkeping-keping.


Wei Huan memijit kepalanya yang semakin terasa pusing, dia mengayunkan tangannya tanda agar prajurit itu segara meninggalkan mereka.


Zhou Fan dengan sigap memapah Wei Huan membawanya ke ruangan ayah mertuanya itu.


Sampai nya di sana dia perlahan membantu pria paruh baya itu untuk berbaring, terlihat dari wajahnya, Wei Huan sekarang dalam kondisi sangat buruk.


Setelah menemukan pengkhianat yang telah bersembunyi lama, malah bisa kabur begitu saja, bagaimana tidak stres, mengingat juga perkumpulan gerhana yang semakin hari semakin menjadi.


....


Sehari setelahnya, Zhou Fan ikut menghadiri rapat istana. Rapat yang biasanya akan penuh sesak dengan para bangsawan juga perwakilan sekte, terlihat lenggang tersisa beberapa puluh orang saja.


Yang hadir hanyalah pihak yang secara nyata menyatakan dukungan kepada Wei Huan, sementara untuk pihak lainnya tidak diundang. Juga yang hadir merupakan orang yang memang terkenal loyal terhadap Kekaisaran.


Zhou Fan merupakan satu satunya orang yang tidak memiliki latar belakang jelas, khususnya di mata para pihak yang hadir.


Meskipun pertanyaan terngiang dalam pikiran mereka, tidak ada yang melontarkan pertanyaan langsung kepada pemuda itu.


Rapat berlangsung alot, meskipun mereka mendukung Wei Huan, beberapa diantara mereka masih ragu untuk berkontribusi penuh bila terjadi perang.


Wei Huan tidak memaksa mereka yang tidak bersedia, dia menerima hal tersebut meskipun sedikit kecewa dalam perasaannya.


Rapat berakhir, semua orang satu persatu keluar dari aula rapat, tersisa Wei Huan serta Zhou Fan yang masih berada di tempatnya.


"Kau lihat, ... Tidak ada kemungkinan untuk menang, pihak lawan setidaknya memiliki kekuatan enam puluh persen kekuatan Kekaisaran Wei, yang berada di pihakku hanya tiga puluh persen, sementara sepuluh persen lainnya memilih untuk angkat tangan." Wei Huan tersenyum kecut sambil menghela nafas panjang.

__ADS_1


Zhou Fan hanya diam tak menanggapi lontaran kata pasrah yang dikeluarkan oleh Wei Huan


__ADS_2