
Ban Fulong yang menghadapi Patriark sekte tombak angin masih berusaha keras, kekuatan keduanya terbilang seimbang.
"Ban tua, kau ternyata semakin lemah saja." Que Ye memandang Ban Fulong dengan tatapan mencibir.
Huh..
Ban Fulong mendengus mendengar ocehan Patriark sekte tombak angin, tapi pria tua itu tiba tiba terkekeh.
"Heheh.. Aku sengaja menunggumu, aku kasihan dari dulu kau di bawahku. Sekali kali kau harus berdampingan denganku, dan aku sudah memberikan kesempatan kepadamu," balas Ban Fulong dengan wajah meremehkan.
"Biar ku tambal mulutmu, Ban tua!" Que Ye yang beberapa saat lalu mengambil jarak melompat sambil mengeluarkan teknik tombak andalannya.
Woosh... Wuuush...
Angin berputar membalut tombak Que Ye, perlahan kecepatan angin semakin meningkat dan terlihat samar membentuk mata tombak di ujung tombak.
"Terimalah Ban tua, ... Teknik tombak angin!"
Que Ye mulai menggerakkan tangannya, tangan kanan berada di depan tangan kiri, tombaknya menyodok ke depan.
Slepp...
Tombak berhasil mengoyak jubah Ban Fulong, tapi tak bisa membuat pria tua itu terluka.
Ban Fulong melompat dan menyambar cepat dengan pedang, dia mulai memperagakan gerakan khas sekte pedang suci.
Pertarungan dua pembesar itu bukan hanya mempengaruhi mereka, tapi juga beberapa orang disekitarnya.
Teknik keduanya seolah tak mengenal kawan atau lawan, dampak teknik tersebut membuat petarung tingkat grand master ke bawah tunggang langgang keteteran mencari pegangan.
Seolah tak peduli dengan sekitarnya, dua pria tua itu terus bertarung, sesekali terdengar pekikan juga teriakan.
Bruak!!
Gerbang benteng berhasil didobrak, pasukan berzirah kekuningan menampakkan wajah panik sementara yang memakai zirah hitam semakin gencar semangatnya.
Pasukan yang di luar masuk ke desa karang hijau. Melihat pasukannya telah masuk semua, Wei Jia tersenyum puas, dia kemudian mengangkat pedangnya dan memecah pasukan menumpas pasukan lawan.
"Lama tidak berjumpa, Kakak?" Wei Jia melompat dan bergabung dengan Tang Min menyerang Wei Huan.
"Jangan sebut aku kakak! Aku tidak sudi mempunyai adik sepertimu! Merupakan penghinaan bagiku mempunyai adik seorang pemberontak!" Wei Huan mengatakan dengan wajah jijik.
__ADS_1
"Pemberontak? Terserah kau mau menyebutnya apa, tapi apakah kau tidak berpikir ini semua karenamu?" tanya Wei Jia.
"Karena ku? Kau sendiri yang menentukan jalanmu, ini semua tak ada hubungan denganku." Wei Huan membantah dengan tegas.
"Tentu saja ada hubungan denganmu, jika kau tidak ada akulah yang menjadi Kaisar!" bentak Wei Jia.
"Teruslah berkhayal, jika itu dapat membuatmu puas." Wei Huan tak lagi peduli dengan apa yang Wei Jia lontarkan.
"Tidak akan lama lagi akan menjadi kenyataan, karena ... "
"Kau akan mati!" Wei Jia bergerak dengan kecepatannya, tangannya sudah membawa belati.
"Jangan memanjat terlalu tinggi, kau hanya petarung raja bintang lima!" Wei Huan membalas serangan Wei Jia dengan serangan fatal.
Blar!
Sebuah siliet pedang menyasar ke tempat Wei Huan berdiri, beruntung dia sempat menarik tubuhnya menjauh.
Wei Huan menoleh ke samping, tak jauh darinya sudah berdiri pria tua yang sudah berada di sisinya bertahun-tahun, tapi yang dia lakukan hanya untuk memata-matai geraknya.
"Tak kusangka kau berani keluar setelah berkhianat kepadaku?!" Wei Huan berkata sinis kepada pria tua tersebut yang tak lain, penatua Du.
"Aku tidak pernah berkhianat, dari awal memang aku tak berada di pihakmu, apakah pantas menyebutku pengkhianat?" Penatua Du membalas dengan tersenyum mencibir.
Trang!
Pedangnya di tangkis oleh Wei Jia dengan belatinya, Penatua Du yang melihat celah dengan cepat mengayunkan tangannya.
Namun, dengan cepat Wei Huan melompat ke belakang, menghindari pukulan yang mengincar perutnya.
Tang Min yang semula diam hendak menyerang Wei Huan, tapi seorang pria seumurannya datang menghalanginya.
"Kau terlihat kesepian!" Tuan Besar Li melompat dengan wajah tenang, seolah dia tidak berada dalam peperangan.
"Li Shimin, tak mengira kita akan berada di pihak yang berlawanan." Tang Min menyapa Tuan Besar Li dengan senyum mengembang, tapi sangat jelas dia menyayangkan karena dalam pihak yang bersebrangan.
Keduanya merupakan teman seperjuangan, mereka juga terkenal dekat, tapi begitulah hidup, terkadang yang sekarang teman di waktu yang akan datang akan menjadi lawan, begitupun sebaliknya.
"Aku merupakan orang Kekaisaran Wei, hidupku adalah milik Kekaisaran Wei. Seharusnya kau sudah memikirkan hal ini akan terjadi ketika kau membuat ulah." Li Shimin mengatakan dengan wajah acuh tak acuh.
"Heh... Maka aku tak akan sungkan!" Tang Min mengeluarkan jurusnya, tebasan yang ia lakukan menimbulkan suara yang terdengar nyaring, bersamaan dengan itu siluet ombak angin maju menghantam Li Shimin.
__ADS_1
Li Shimin tak berniat menghindar, dia melirik ke belakang, melihat begitu banyak orang yang akan terkena jurus tersebut bila dia menghindar.
"Tapak Pemecah!!"
Blar!
Siluet tangan dengan jari terbuka lebar menghantam gelombang dan menyebabkan ledakan tak ringan, debu berterbangan menutupi sekitaran pertempuran.
Tang Min menghempas goloknya, membuat debu seketika hilang menyebar.
Di tengah pertempuran yang berat sebelah antara pasukan Wei Huan dengan pasukan Wei Jia, datang sebuah pasukan dari desa karbit.
Melihat sejumlah orang bergerak dengan langkah berat membuat pasukan Wei Huan semakin terpuruk, berbanding terbalik dengan pasukan Wei Jia.
Tapi tidak terlihat sedikitpun wajah senang dari pimpinan pasukan berzirah hitam tersebut.
"Bukankah seharusnya mereka datang dari barat? Kenapa dari timur?" Wei Jia membatin sambil memandang gerbang terbuka yang menampakkan pasukan dalam perjalanan.
Crush..
Wei Jia yang tengah bertarung bersama Penatua Du melawan Wei Huan harus membayar mahal kelengahannya.
Sebuah sayatan melintas di perut atas Wei Jia, dia tak sempat untuk menghindari serangan kakak tirinya.
Wei Jia melompat mudur dan merapat ke arah Penatua Du. "Bukankah Tang Yu'er akan lewat desa barisan? Kenapa mereka datang dari timur?"
"Hamba tidak mengerti Yang Mulia, tap..." Ucapan pria tua itu terhenti saat jarak pasukan semakin mendekat, matanya membuka lebar dengan wajah membeku.
"Itu pangeran mahkota! Pangeran mahkota datang!" teriak pasukan Wei Huan dengan semangat, seolah mereka mendapatkan tenaga mereka kembali.
Wei Yun langsung melompat dan menghadap ayahnya.
"Ayah?!" Wei Yun Wei membungkuk hormat, kemudian berdiri dan melanjutkan perkataannya. "Maafkan Yun'er yang datang terlambat."
"Tidak masalah, ayo kita bertarung bersama!" ajak Wei Huan dengan semangat, kehadiran putra pertamanya merupakan energi melimpah baginya.
"Dengan senang hati, ayah!" Wei Yun yang semenjak berusia dua puluh dua tahun meninggalkan istana tumbuh menjadi pemuda yang tangguh. Dia terlihat dewasa dengan kumis serta brewok tipis di wajahnya.
Pasukan yang dibawa oleh Wei Yun juga tidak bisa di bilang kecil, di antara mereka terdapat petarung raja, meskipun hanya tingkat satu. Sedangkan Wei Yun sendiri masih berada di tingkat petarung grand Master bintang sembilan, tapi itu sudah sangat genius melihat umurnya yang ke 28 tahun.
Pertarungan yang semula berat sebelah perlahan seimbang, pasukan Wei Yun merupakan orang yang tidak bersedia bergabung dengan perkumpulan gerhana, mereka membuat sebuah persembunyian di desa Mian, desa terujung bagian timur.
__ADS_1
Perkumpulan gerhana yang terlalu percaya diri tidak menyadari adanya kelompok diantara wilayah mereka, sehingga kelompok itu dapat berkembang dan datang saat dibutuhkan.