
Tak terasa seminggu telah berlalu, kawasan desa giok sudah kembali pada aktivitasnya, bangunan bangunan yang hancur menjadi puing puing sudah berdiri tegak.
Zhou Fei mengadakan parayaan kecil kecilan, sebagai ganti perayaan berdirinya Klan Zhou yang seharusnya menjadi acara paling ditunggu.
Selain sebagai pengganti perayaan yang tertunda, juga sebagai bentuk syukur mereka atas bencana yang sudah berlalu.
Di aula klan Zhou, yang kini sudah kembali berdiri dengan agungnya, beberapa orang duduk di sebuah meja bundar besar.
Sekitar enam puluhan orang duduk melingkar di sekeliling meja, yang didominasi keluarga tetua klan Zhou.
Zhou Fan duduk di sebelah ayahnya, dia juga diapit oleh Zhou Han dari sisi lainnya.
Meskipun dulu mereka tak pernah akur, khususnya Zhou Han, sekarang keduanya lebih terlihat akrab.
Di tengah meja sudah tersedia makanan beraneka ragam, dari olahan daging hingga sayuran.
Zhou Fei duduk dengan wajah santai, seolah bebannya beberapa hari lalu telah lenyap.
Permasalahan biaya kerugian klan Zhou sudah dapat ia atasi, meskipun bukan sepenuhnya ia lakukan.
Dengan ratusan pill tingkat dua ke atas, Zhou Fei mendapatkan koin emas tidak sedikit. Namun dia tak menjual semua pill pill itu, untuk pill kultivasi dia lebih memilih untuk membagikannya kepada anggota klan lainnya.
Dari semua yang berada di aula, tetua pertama menjadi pria paling bahagia.
Setelah beberapa hari tak sadarkan diri, dia bangun dengan kultivasinya yang telah menerobos ke tingkatan petarung raja bintang satu.
Dia yang tak mengetahui apa yang terjadinya, bertanya kepada Zhou Han yang kebetulan berada di samping tempat tidurnya.
Tanpa menyembunyikan apapun dari ayahnya, dia mengatakan semua yang terjadi, serta siapa yang menyelamatkan nyawanya.
Mendengar cerita anaknya, dia sungguh merasa berdosa kepada keluarga tetua pertama. Padahal semasa hidupnya dia selalu mencoba merendahkan keluarga itu, namun saat dia dalam kondisi hidup mati, merekalah yang menjadi penolongnya.
Malam dimana tetua pertama siuman, dia dan Zhou Han bertamu ke kediaman tetua kelima.
Saat pertama kali mengetuk pintu, wajah pria tua itu menampakkan ekspresi ragu, namun ia tetap mengetuk sampai suara langkah kaki bergerak mendekat.
Zhou Qian yang menyambut kedatangan sepasang ayah dan anak hanya tersenyum dan mempersilakan masuk.
Dua keluarga itu berbincang di dalam, menghabiskan malam dengan saling meminta maaf.
Mulai detik itu, tetua pertama serta anaknya Zhou Han mengakrabkan diri dengan keluarga tetua kelima.
__ADS_1
...
Zhou Fei yang merasa suasana sangat mendukung, mencoba membuka suara.
Ehem.. Hem..
Zhou Fei berdehem sembari menggoyangkan jakunnya, mencoba menarik pertama semua orang agar mengarah kepadanya.
Semua orang menoleh ke arah yang sama, memandang pria tua yang tengah berdiri.
Zhou Fei memandang puluhan orang yang duduk mengitari meja bundar raksasa.
"Saudaraku, aku ingin mendengar tanggapan kalian mengenai penyerangan beberapa waktu lalu." Zhou Fei mengatakan dengan tatapan sedu, mengingat banyaknya korban yang jatuh berhamburan.
Semoga orang yang di sana sontak mengeluarkan apa yang pertama kali keluar dari pikirannya dengan spontan.
"Peristiwa malam berdarah, banyaknya anggota klan Zhou yang meninggal mendaratkan goresan luka yang mendalam bagi kita semua."
"Klan Zhou masih terlalu lemah jika dibandingkan dengan kekuatan klan besar kota lain."
"Ya.. kita terlalu lemah, tak bisa menjaga klan kita dari terkaman klan lain."
"Kau benar, klan Zhou masih sangatlah lemah."
"Yang lemah bukanlah klan Zhou, melainkan aku yang sebagai pemimpin, tak becus menjadikan klan Zhou sebagai klan yang tangguh." Zhou Fei mengatakan dengan wajah menyesal.
Sebagai seorang patriark klan Zhou, dia tak dapat melindungi orang orangnya, dia tak dapat melindungi kediaman leluhurnya.
Di tengah keterpurukan, suara pelan namun tegas terdengar meyakinkan.
"Anda tak perlu begitu menyalahkan diri sendiri, kita tidak bisa mengulang apa yang telah terjadi....,"
"Kita hanya bisa menjalani, menjadikan apa yang telah terjadi sebagai sebuah pelajaran. Jadikanlah dorongan peristiwa penyerangan itu sebagai pembakar semangat dalam diri...,"
"Semua ini terjadi karena kita terlalu lemah, jika tidak ingin kembali merasakan kapahitan untuk kedua kalinya kita harus berjuang, berjuang menjadi semakin kuat."
Semua orang memandang ke arah seorang pemuda dengan pakaian hitam keemasan.
Zhou Fei turut menengadahkan kepalanya, memandang pemuda yang dengan sangat tenang melontarkan kata kata.
"Meskipun terdapat keinginan, kelangkaan sumberdaya pill menjadi masalah besar bagi kota batu hitam. Jika menjadi kuat bisa semudah berkata, pasti akan banyak orang yang memiliki kekuatan tak terbatas." Seorang pria tua berkata dengan wajah frustasi, dia masih berada di tingkatan petarung grand master bintang enam, padahal umurnya sudah mendekati kepala sembilan.
__ADS_1
"Menyalahkan kelangkaan pill sebagai alasan merupakan ciri orang gagal, jika kau tak berusaha, kau tak akan pernah dapat melampaui batasanmu...,"
"Semua butuh usaha, tidak ada yang namanya hasil tanpa usaha!" Zhou Fan menakan kalimat terakhir dengan menyelipkan tenaga dalam.
Semua orang mematung mendengar perkataan Zhou Fan, pemuda yang bahkan kekuatannya tak dapat di lihat semua orang yang berada di sana termasuk ayahnya sendiri.
Mereka mulai berpikir, mencerna untaian kata yang disampaikan Zhou Fan.
Zhou Hu dan Zhou Qian memandang kagum putranya, pasangan orang tua itu tak mengira putranya akan begitu berwibawa.
Keduanya saling pandang, lalu tersenyum bersamaan.
Melihat semua orang mendadak merenung, Zhou Fei membuka mulutnya.
"Jika kalian membutuhkan pill kultivasi untuk berkultivasi, datanglah kepadaku setelah ini, aku akan membagikan masing masing satu butir pill kultivasi setiap satu bulan sekali, ini juga berlaku bagi anggota klan lainnya yang tak hadir dalam perjamuan," ujar Zhou Fei yang terdengar sangat meyakinkan.
Mendengar perkataan patriarknya, Zhou Fan mendadak merasakan prasangka buruk, keringat di punggungnya mulai merembes memenuhi sela sela pakaian.
Puluhan orang di sana menjadi bersemangat, meskipun mereka tak tahu dari mana patriark mendapatkan keyakinan mengatakannya, mereka tetap percaya dengan perkataannya.
"Patriark, apakah yang anda katakan akan terlaksana? Jika anda hanya ingin menyulut semangat kami itu akan sangat menyakitkan saat kenyataan datang." Seorang wanita paruh baya dengan mengatakan dengan wajah penasaran, sekaligus ragu.
"Kalian tenang saja, apa yang aku katakan akan terlaksana. Juga pill yang akan kalian dapatkan adalah pill kultivasi tingkat ketiga." Zhou Fei mengatakan dengan wajah tersenyum.
Pill tingkat tiga? Whoa...
Seketika semua orang menjadi bersemangat, sampai melupakan fakta bahwa di kota batu hitam hanya tersedia pill kulit tingkat pertama.
Zhou Qian, Zhou Hu, serta Zhou Ze hanya tersenyum masam, dalam hati mereka menyerukan pernyataan yang sama. "Apakah mereka tak berpikir ini terlalu tidak masuk akal, di kota batu hitam tak ada alkemis yang dapat membuat pill kultivasi tingkat tiga. Mereka juga tidak tahu bahwa Zhou Fan merupakan alkemis, lalu mereka berpikir patriark mendapatkannya dari mana?"
Ketiganya tahu siapa yang dapat membuat pill kultivasi tingkat tiga dengan mudah, jadi wajar jika mereka merasa aneh dengan semua orang yang bahkan tak mengetahuinya.
Zhou Fan masih merasakan perasaan tak nyaman, dia beberapa kali merubah posisi duduknya.
"Setidaknya anggota klan Zhou sekitar ratusan bahkan ribuan orang, dan dia mengatakan akan memberikan setiap orang satu, apakah patriark mendapatkan seorang alkemis hebat?" Zhou Fan memangut dagunya sembari melirik Zhou Fei yang ternyata melirik ke arahnya.
Ting...
Kilatan mata Zhou Fei membuat Zhou Fan seketika memalingkan wajahnya.
Hem...
__ADS_1
"Ini akan merepotkan!"