
"Kepala keluarga bangsawan memang sangat kaya." Zhou Fan menggeleng sembari tersenyum puas.
Setelah mengambil cincin tuan besar Shang dan beberapa bawahannya, Zhou Fan segera pergi tanpa peduli mayat orang orang yang dibunuhnya.
"Sebaiknya aku mengisi perutku terlebih dahulu." Zhou Fan bergumam kemudian berjalan menuju tempat biasa ia makan, rumah makan di sebalah gedung paviliun obat.
Memasuki pintu rumah makan, seorang menyambutnya dengan ramah.
"Mari tuan?"
Pelayan itu membungkukkan badannya, lalu menuntun Zhou Fan ke lantai paling atas.
Dia seketika tahu siapa Zhou Fan saat memasuki pintu, semua pelayan mengetahuinya, seorang pemuda kenalan Ketua Sin dan juga teman Zhang Xiaoyu.
Zhou Fan hanya memasang wajah datarnya dan berjalan di depan pelayan itu.
Melihat beberapa tempat kosong, Zhou Fan langsung mengarah ke meja dekat jendela.
Pelayan itu terus mengikuti sampai Zhou Fan duduk di tempatnya, lalu bertanya pesanan yang pemuda itu pesan.
"Sediakan yang paling istimewa dari rumah makan kalian, jangan lupa anaknya juga," ujar Zhou Fan.
"Apakah ada yang lain tuan?" Pelayan itu bertanya dengan wajah memerah.
Zhou Fan mengernyitkan dahinya, menatap pelayan itu dari atas sampai ke bawah, lalu menggeleng kuat.
"Tidak tidak, itu saja." Zhou Fan melambaikan tangannya, menyuruh pelayan itu secara pergi.
Pelayan itu mengerti, dia hanya mengangguk kecil, lalu pergi.
"Bagaimana aku bisa berpaling jika aku sudah mempunyai dua wanita sempurna dalam hidupku," gumam Zhou Fan dalam hati, membayangkan wajah kedua kekasihnya.
Huft...
Zhou Fan memangku kepalanya, memandang ke arah jendela, terlihat begitu banyak orang yang berlalu lalang.
Tiba tiba di sebelah Zhou Fan terdengar gebrakan meja.
Brak!
"Pindah! Tuan muda menginginkan tempat di dekat jendela." Seorang pria paruh baya dengan kumis tipis berteriak setelah menggebrak meja dengan keras.
Zhou Fan menatap pria paruh baya itu, matanya menyipit saat ia menyebutkan tuan muda.
__ADS_1
Mengalihkan perhatiannya ke belakang pria paruh baya, dan menemukan 'tuan muda' yang ia cari.
"Heh... Tidak ayah tidak anak, sama saja," gumam Zhou Fan membatin.
Zhou Fan memandang Tuan Muda Shang yang sedang berdiri bersebelahan dengan seorang pria tua berambut hitam keputihan.
Tuan Muda Shang tersenyum menyeringai, menganali pemuda di hadapannya yang tak lain adalah pemuda yang mencari masalah dengannya di paviliun obat.
"Bocah kere, akhirnya kita bertemu lagi. Kau saat itu sungguh berani mempermalukan tuan muda ini di hadapan begitu banyak orang, sekarang saatnya untuk menghitung utangmu kepadaku." Tuan Muda Shang tersenyum penuh kemenangan.
Tuan Muda Shang beralih ke pria tua di sebelahnya, "Paman kedua, dia adalah pemuda yang aku ceritakan. Dia bahkan tak menganggap Keluarga Bangsawan Shang dimatanya."
Pria tua yang di panggil paman kedua mebelisik Zhou Fan dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Dia lalu menggeleng pelan, tersenyum kecut dan kemudian berkata. "Seorang sampah sekarang mempunyai keberanian yang tinggi, bahkan tidak menempatkan Keluarga Bangsawan Shang dimatanya, sungguh berani, tapi aku heran dari mana keberaniannya itu."
Zhou Fan malah tersenyum menanggapi ucapan paman kedua, membuat pria paruh baya berkumis tipis selalu lagi menggebrak meja.
Brak!
"Apa maksudmu?! Beraninya kau menertawakan tuan besar kedua," ujarnya dengan nada tinggi.
Zhou Fan seketika menatap pria paruh baya di hadapannya dengan pandangan mata tajam, membuat pria paruh baya mengucurkan keringat dingin.
"Sampah sepertimu, apakah berhak untuk berkata?" Dengan nada dingin Zhou Fan bertanya.
Pria paruh baya berkumis tipis meneguk ludahnya kasar, tenggorokannya terasa kering.
Sementara tuan besar kedua, atau Shang Qiu mengeryit heran.
Jelas jelas dia hanya melihat tingkat kultivasi Zhou Fan adalah petarung mahir bintang sembilan, tapi hatinya tidak tenang, dan terus memikirkannya.
"Bocah, kau tak juga meminta ampun dari tuan muda, apakah kau ingin mati?!" Meskipun dengan kaki bergemetar pria paruh baya berkumis tipis tetap bersikukuh.
Zhou Fan menggeleng acuh, lalu tertawa kecil.
"Pergilah, aku tidak ingin membuat masalah. Anggap saja kalian beruntung." Zhou Fan melambaikan tangannya beberapa kali.
Beberapa orang yang kebetulan berada di lantai itu, memasang telinga, jiwa ingin tahu mereka seolah tergerak melihat suasana ramai.
Sementara Shang Qiu sudah berwajah merah padam, guratan urat di wajahnya sungguh membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.
"Beruntung? Bukankah kau terlalu memandang tinggi dirimu?!" Dengan nada tertahan Shang Qiu berkata, nadanya sangat jelas memancarkan ketidaksukaan terhadap Zhou Fan.
__ADS_1
"Bagaimana diriku, hanya aku yang tahu. Orang awam seperti kalian tidak akan tahu betapa luasnya samudra...,"
"Hidup dalam sebuah lingkaran bukan berarti dunia seluas lingkaran, aku memahi jika kau sudah mulai... Em... Pikun, bertambahnya usia terkadang membuat seseorang kehilangan pola pikirnya." Zhou Fan berucap dengan tertawa pelan.
Tuan Muda Shang, Shang Yui. Mengeram marah, tapi dia tahu dia tidak akan bisa mengalahkan Zhou Fan.
"Paman kedua, kau tidak akan melepaskannya dengan mudah, kan? Dia dengan terang terangan menghinamu, dia juga mengrendahkan bangsawan Shang." Shang Yui tidak bisa melawan, tapi dia bisa memanfaatkan keberadaan pamannya untuk memberikan pelajaran.
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, lalu berguman dalam hati. "Heh, bahkan ayahmu terbunuh olehku, apa yang bisa dilakukannya dengan kultivasi yang berada di tingkat petarung raja bintang satu?"
Zhou Fan memandang Shang Yui, kemudian beralih memandang Shang Qiu.
"Tentu saja tidak!" jawab Shang Qiu singkat.
"Kau sebaiknya berlutut, lalu patahkan lenganmu. Lakukan sendiri atau aku akan melakukannya untukmu!" ancam Shang Qiu dengan wajah garangnya.
"Heheh.." Zhou Fan tertawa mencibir, menertawakan kebodohan tiga pria di hadapannya.
"Kau! Tuan besar kedua telah memberikanmu sebuah pilihan mudah, tapi kau tidak menghormatinya!" Pria paruh baya berkumis tipis menunjuk dengan marah.
Cek... Krak!
Arg!
"Siapa kau? Sungguh berani menunjuk wajahku?!" Zhou Fan dengan cepat menarik telunjuk pria paruh baya berkumis tipis, lalu mematahkannya.
Shang min, atau pria paruh baya berkumis tipis meringis kesakitan, menarik tangannya lalu mengecupnya.
"Kau sungguh berani, tapi kau salah mencari lawan!" seru Shang Qiu.
Zhou Fan tertawa mendengar ancaman Shang Qiu.
"Hahah... Aku ingat, beberapa saat yang lalu ada seseorang yang berkata kepadaku seperti apa yang kau katakan. Dan apakah kau tahu, apa yang terjadi kepadanya sekarang?" tanya Zhou Fan.
Shang Qiu terdiam, beberapa orang yang berada di lantai tiga terkejut.
Keluarga bangsawan Shang memang bukanlah bangsawan paling terkenal, tapi mereka setidaknya berada di jajaran atas keluarga bangsawan ibukota.
Melihat seorang pemuda dengan beraninya menantang tuan muda dan juga tuan besar kedua bangsawan Shang sungguh membuat orang memandang kagum.
Tapi juga ada beberapa orang yang memandang rendah Zhou Fan, menanggap menyinggung bangsawan Shang adalah sebuah kesalahan.
"Lalu, apa? Tidak terima?!" tanya Shang Qiu seolah menantang Zhou Fan.
__ADS_1
Zhou Fan menekan pelipisnya, sambil bersandar dia berkata.
"Kalau aku berkata 'iya' kau mau apa?"