
Loin Gu yang berhadapan dengan Yuan Yue berhasil mengambil jatah satu tempat yang tersisa di babak ke tiga, kini namanya sudah masuk ke dalam kotak menyusul ke dua puluh tiga nama lainnya.
Nama Loin Gu melambung usai memenangkan pertarungan melawan Yuan Yue.
"Murid angkatan baru kali ini benar benar mengejutkan, dari dua puluh lima orang, dua diantara mereka mengikuti ujian murid dalam. Dan yang menambah keterkejutan lagi adalah dua orang perwakilan tersebut sampai pada babak ke tiga." Seorang tetua berkata dengan air muka bersemangat.
Beberapa tetua di sana juga memperhatikan, tentu mereka merasakan hal serupa.
Namun di sisi lain, murid dalam peringkat atas. Sedikit tidak suka dengan penampilan Zhou Fan dan juga Loin Gu. Mereka merasa terancam akan keberadaan kedua sosok tersebut.
"Kakak Zai, dua murid ini sepertinya tidak boleh dibiarkan." Ji Shou, murid dalam peringkat lima puluh besar berkata kepada pria di sampingnya.
"Mereka hanya semut, belum pasti mereka dapat menonjol di pelataran dalam." Zai Xuan berkata dengan nada acuh, dia adalah peringkat lima belas murid dalam, kini dia berada di tingkat petarung kaisar bintang lima.
Mendengar perkataan Zai Xuan, beberapa orang di sekitarnya mengangguk, mereka akhirnya juga menyetujui gagasan Zai Xuan.
Saat di sekitarnya hening, Zai Xuan membuka suara. "Namun jika mereka berulah, maka harus bertindak."
Hahahahaha...
"Kau memang bijak, kakak Zai." Ji Shou tertawa diiringi juga tawa yang lainnya.
Sementara itu, di atas arena sudah ada dua orang yang saling berhadapan. Keduanya sama sama wanita, juga menggunakan senjata serupa, yakni sebuah belati.
"Saudara Zhou, bagaimana menurutmu dengan dua wanita itu?" Yin Cun berkata sambil mengedipkan sebelah mata.
Zhou Fan langsung menengadahkan kepalanya, mengamati dua wanita yang sudah siap bertarung.
"Aku rasa yang kanan lebih unggul, meski kultivasinya tak jauh berbeda, aku merasa yang kiri terlihat agak kurang baik kondisinya." Zhou Fan dapat melihat beberapa luka yang belum sepenuhnya pulih.
Meski luka seperti tak berarti bagi seorang petarung, juga akan berpengaruh saat bertarung.
Yin Cun hanya memandang dengan tatapan bodoh, bukan itu yang dia maksud.
__ADS_1
"Maksudku, penampilan mereka. Apakah kau tak merasa keduanya memiliki wajah yang rupawan?" Yin Cun sekali lagi mengedipkan mata.
Zhou Fan menyipitkan mata, memandang lebih jelas kedua wanita di atas arena.
Memang kedua wanita itu memiliki wajah yang rupawan, tapi di bandingkan dengan Wei Guanlin serta Qing Yuwei, jelas sangat jauh.
Tanpa sadar Zhou dan melirik ke tempat Wei Guanlin, mendapati ekspresi datar dari wanitanya dia langsung memalingkan wajah ke arena.
"Sialan, bajingan ini selalu mendatangkan masalah untukku." Zhou Fan membatin sambil melirik sinis Yin Cun.
Sementara itu di tempat duduk Wei Guanlin. Wanita itu memanasi kakak seperguruannya yang sudah panas melihat Yin Cun main mata.
"Kakak seperguruan, sepertinya tunangan mu melirik wanita lain saat kau tak ada."
Mendengar hal itu, Miao Ling mendengus kesal. "Lihat saja, akan ku buat dia merangkak di hadapanku!"
....
Yin Cun tiba tiba bergidik ngeri, bulu bulu di tangannya berdiri seolah mengatakan sebuah ancaman akan datang.
"Kenapa akhir akhir ini aku sering merasakan firasat buruk ya? Sepertinya aku harus sering sering berendam pada malam bulan purnama." Yin Cun bergumam pelan sambil menggosok tengkuk kepalanya.
Di sisi lain, pertarungan di arena sudah berakhir. Benar yang dikatakan Zhou Fan sebelumnya, wanita sebelah kanan memenangkan pertarungan.
"Zhou Fan, melawan Qi Lian."
Mendengar nama Qi Lian, beberapa orang di sana langsung membuka mulut terkejut. Qi Lian merupakan peringkat empat, bahkan dia dalam babak selanjutnya mengalahkan lawan hanya dengan satu serangan.
Pada babak ketiga melawan Zhou Fan, sungguh membuat semua orang bersemangat. Mereka menantikan apa yang dapat Zhou Fan lakukan ketika berhadapan dengan peringkat empat murid luar.
Zhou Fan maju dengan langkah pasti, tak menghiraukan tatapan penuh arti dari beberapa orang di sana.
Mungkin mereka merasa Zhou Fan akan kalah melawan Qi Lian, karena sejatinya Qi Lian berada satu tingkat dengan peringkat di atasnya dalam hal kultivasi. Tepatnya berada di tingkat petarung kaisar bintang dua.
__ADS_1
Zhou Fan memandang lawan di depannya, pria kekar dengan pakaian tanpa bahan, berdiri dengan tombak di tangan kanannya.
Kulit coklat, dengan wajah seram. Membuat orang memiliki pandangan negatif terhadapnya.
Pada kesempatan kali ini, Zhou Fan tidak yakin dapat mengimbangi Qi Lian dengan menggunakan belati raja api. Dia di atas arena masih belum mengeluarkan senjata.
"Keluarkan belati mu, apakah kau tak akan bertarung? Jangan bilang kau takut, dan berniat menyerah?" Setiap kata yang dikeluarkan sangat kental akan nada cibiran.
Beberapa orang di sana merasa yang diucapkan Qi Lian masuk akal. Melihat Zhou Fan hanya diam, membuat pemikiran tersebut semakin berkembang.
"Apakah dia hanya akan diam dan menyerah?" Miao Ling berkata tanpa sadar, dia sangat menyayangkan jika Zhou Fan turun tanpa melawan.
Wei Guanlin yang mendengar langsung memotong, dengan yakin dia menekankan. "Dia tidak mungkin menyerah, dia akan bertarung. Dan aku yakin dia akan menang."
Miao Ling mengerutkan kening, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Adik seperguruan, sepertinya kau sangat mengenalnya. Aku semakin penasaran dengan hubungan kalian."
Wei Guanlin tak lagi menanggapi ucapan kakak seperguruannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah arena.
"Zhou Fan, bukankah kau begitu dominan pada pertarungan sebelumnya, kenapa kau sekarang hanya diam?" Sekali lagi Qi Lian mengejek Zhou Fan.
Wasit masih berada di antara keduanya, oleh sebab itu Zhou Fan tak menanggapi ucapan lawannya. Saat wasit menoleh ke arahnya, dia langsung mengayunkan tangan mengeluarkan pedang.
Saat pedang darah malam keluar, semua orang menatap dengan penuh heran, di sisi lain mereka juga penasaran. Zhou Fan yang selama ini dikenal dengan pengguna belati, sekarang membawa pedang untuk bertarung.
Sungguh mereka tak habis mengerti!
"Saudara Yin, kau tahu bahwa saudara Zhou juga pengguna pedang?" Wu Zetian bertanya kepada Yin Cun, mengira hubungan dua teman itu sudah terjalin lama.
Namun kenyataannya, Yin Cun juga baru berteman dengan Zhou Fan. Dia tak mengetahui bahwa Zhou Fan juga merupakan pengguna pedang. Dia menggeleng sebagai jawaban.
Semua orang juga mendapatkan pertanyaan yang sama, Zhou Fan yang mereka ketahui adalah pengguna belati, bukan pengguna pedang.
"Zhou Fan ini menyimpan begitu dalam kemampuannya, dilihat saja aku sudah dapat menebak dia juga ahli dalam menggunakan pedang." Seorang tetua di sana menggeleng sambil mengelus dagu.
__ADS_1