
"Apa yang kau lakukan Lin'er?"
"Cih..." Wei Guanlin memalingkan wajahnya.
Lin'er?
Qing Yuwei menatap bergantian dua orang yang berada dalam satu ruangan bersamanya.
"Oh... Apakah ini kakak Lin?!" Qing Yuwei bertanya dengan semangat.
Zhou Fan mengangguk dengan cepat.
Huft...
Qing Yuwei bernafas lega, ia sempat berpikir Zhou Fan mempunyai banyak sekali wanita. Jika benar apa yang dia pikirkan, ia seakan telah jatuh ke dalam lubang setelah berjuang dari lubang lainnya.
"Puft..." Wei Guanlin tertawa melihat Qing Yuwei.
"Kakak Lin, maafkan aku karena membuatmu membagi Fan dengan ku." Qing yuwei berkata lirih.
Wei Guanlin tak menghiraukan perkataan Qing Yuwei, gadis itu malah menatap Zhou Fan tajam.
"Kalian berdua tenang saja, meskipun aku mempunyai banyak istri, aku tidak akan pernah meninggalkan mereka." Zhou Fan berkata dengan senyum lebar.
"Coba saja jika kau berani!!" Qing Yuwei dan Wei Guanlin berteriak serentak.
Zhou Fan sampai terkejut mendengarnya.
Glek...
Zhou Fan menelan ludahnya paksa, kemudian berlari keluar.
Brak... Pintu kamar dibantingnya.
tersisalah kedua gadis di dalam ruangan Zhou Fan. Mereka saling bercerita, tukar pendapat dan bergurau.
Suasana yang tadi tegang, seketika berubah hangat, dan sesekali terdengar tawa renyah keduanya, kamar itu berubah menjadi tempat yang menyenangkan bagi keduanya.
Selang beberapa saat, Zhou Fan kembali dengan membawa makanan bersamanya.
"Hmm... Ini makanan untuk kalian." Zhou Fan meletakkan nya di meja dekat ranjangnya.
Keduanya dengan patuh memakan makanan yang Zhou Fan bawa.
Tak lama, makanannya pun habis.
Qing Yuwei dan Wei Guanlin berdiri lalu berhenti di hadapan Zhou fan.
"Apa?"
Zhou Fan mengernyitkan keningnya. Melihat kedua wanitanya menodongkan tangannya kepadanya membuat dia bingung.
"Kami mau belanja," Ucap Wei Guanlin singkat.
"Dan kau harus ikut menemani kami." Tambah Qing yuwei.
Setalah dipaksa dengan berbagai ancaman, akhirnya Zhou Fan berdiri dari duduknya.
Dengan senyum licik dia mendekati keduanya, lalu memegang pundak keduanya. "Kalian harus membayarku kembali jika nanti sampai di penginapan."
Dengan semangat Zhou Fan melangkahkan kakinya keluar penginapan.
Wei Guanlin sungguh tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Zhou Fan, tapi Qing Yuwei sangat paham akan maksud perkataannya.
__ADS_1
"Adik, apakah kau tahu apa yang dikatakannya?" Tanya Wei Guanlin sembari melirik Qing Yuwei.
Qing Yuwei hanya tersenyum kecut, kemudian menggaruk tungkuk kepalanya yang tak gatal.
"Emn...aku juga tidak tahu apa yang dia maksud." Qing Yuwei menjawab dengan canggung.
"Aneh!" Cicit Wei Guanlin, kemudian dia berjalan pergi, meninggalkan Qing Yuwei yang masih dengan senyum kecutnya.
Mereka bertiga menyusuri pasar, sampai di depan sebuah gedung bernamakan toko serba ada, ketiganya berhenti.
"Fan, ayo kesana?" Ajak Qing Yuwei yang diangguki oleh Wei Guanlin.
"Tidak, kalian saja yang kesana, aku akan berkeliling di sekitar sini saja." Zhou Fan menggoyangkan tangannya dengan cepat.
"Huh..." Keduanya mendengus kesal, kemudian masuk kedalam gedung tanpa mempedulikan Zhou Fan.
Setelah kepergian kedua wanitanya, Zhou Fan mengehela nafas lega. Kemudian berkata sembari mulai berjalan melihat lihat pasar. "Jika aku ikut masuk kedalam, mungkin akan tumbuh lumut di tubuhku."
.
.
.
Setelah hampir berjam jam Zhou Fan mengitari pasar, ia kembali ketempat berpisah dengan kedua wanitanya.
"Dimana mereka, apakah belum keluar juga, entah apa yang membuat para wanita begitu menyukai berlama lama di tempat seperti itu," Gerutu Zhou Fan yang sekarang tengah duduk di kursi dekat pintu masuk gedung toko.
"Seharusnya aku berkeliling lebih jauh saja, sungguh bodoh, aku khawatir mereka akan mencariku saat keluar dan tak menemukanku...,"
"Ternyata mereka bahkan belum keluar sampai sekarang." Zhou Fan terus mendumal, sampai tak sadar kedatangan dua wanita disampingnya.
Ehem!
"Kalian sudah selesai?" Tanya Zhou Fan saat menjumpai Wei Guanlin dan Qing Yuwei berdiri tak jauh darinya.
"Heem." Jawab kompak keduanya, lalu pergi tanpa mengajak Zhou Fan.
"Huh. ini pasti Lin'er yang berulah." Desah Zhou fan yang sangat mengetahui sifat wanita pertamanya.
Biasanya Qing yuwei sangat lengket terhadapnya, tapi setelah bertemu dengan Wei Guanlin, sikap wanita itu sangat berketerbalikan.
Karena hari sudah sore, Qing Yuwei berpamitan kembali ke kediamannya, tapi sebelum itu dia sudah mengundang Zhou Fan untuk mampir menemui ayahnya.
Di kamar Zhou Fan sekarang tersisa sepasang insang bermain gender, yang tak lain adalah Zhou Fan dan Wei Guanlin.
"Lin'er, apa yang kau katakan kepada Wei'er?" Tanya Zhou fan.
Tapi tak ada balasan dari gadis itu, Wei Guanlin malah berpura pura tidur di ranjang Zhou Fan.
"Hehe..." Zhou Fan tersenyum licik.
Bugk...
Zhou Fan melompat menindih Wei Guanlin. "Apakah kau masih ingin berpura pura?"
Lagi lagi tak ada jawaban, tapi Zhou Fan sangat yakin bahwa Wei Guanlin belum tertidur.
Zhou fan mendekatkan bibirnya, lalu berbisik pelan di telinga Wei Guanlin.
"Apakah kau ingin bermain?" Suara Zhou Fan seperti listrik, menyengat.
Bukannya takut, dia malah tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya, hingga hanya beberapa inci yang tersisa diantara keduanya.
__ADS_1
Zhou Fan yang dari tadi menahan gejolak perasaannya, menjadi menggila saat mendapat serangan Wei Guanlin.
Zhou Fan menahan tungkuk kepala Wei Guanlin dan mengecup bibir gadis itu, bukan hanya kecupan tapi lebih dan lebih.
Wei Guanlin yang awalnya hanya menggoda Zhou Fan mulai berontak.
"Fan gege, cukup!"
Seoalah kerasukan setan Zhou Fan tak menghiraukannya, tangannya juga mulai naik entah kemana saja tangan itu bergerak.
Wei Guanlin dibuat panas dingin oleh pergerakan tangan Zhou Fan.
"Cukup, aku bilang cukup!" Buliran air mata keluar dari matanya, membuat Zhou Fan seketika menghentikan aksinya.
Melihat air mata merembes dari wajah Wei Guanlin, Zhou Fan merasa bersalah, lalu melesat keluar lewat jendela.
Brak... Suara jendela diterobos paksa oleh Zhou Fan.
Sepergian Zhou Fan, Wei Guanlin menangis dalam diam.
Gadis itu dilanda perasaan bersalah, dia tahu, bahwa dia yang memulainya. Pantas jika Zhou Fan marah, kecewa kepadanya.
Tapi jujur, dia belum siap. Melihat Zhou Fan pergi dengan rasa kecewa dan bersalah, dalam hati dia merasakan kepahitan.
Sementara itu, Zhou Fan keluar kamarnya dengan perasaan penuh rasa bersalah.
Tak henti hentinya dia meminta maaf, meskipun tak ada yang mendengarnya.
"Maafkan aku Lin'er, tak seharusnya aku memaksamu." Zhou Fan berkata dengan tersedu.
Zhou Fan memutuskan untuk tetap duduk di atap penginapan itu, memandang langit senja yang sungguh indah.
Tapi bayangan air mata Wei Guanlin terus menghantuinya, dia juga teringat akan perlakuannya kepada Qing Yuwei. Sesaat dia berpikir, dia tak pantas untuk kedua wanitanya.
Apakah aku keterlaluan?...
Zhou Fan terhanyut dalam lamunannya, bergulat dengan pikirannya.
Setelah merasa tenang, Zhou Fan kembali ke dalam kamarnya.
Zhou Fan masuk lewat jalur ia keluar, dilihatnya Wei Guanlin membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya yang menekuk di atas ranjang.
Apakah aku tak pantas untukmu! Zhou Fan mulai berpikir macam macam.
Apakah aku kurang berjuang, atau aku tak pantas, sampai dia tak rela aku menyentuhnya? Zhou Fan tersenyum pahit.
Tapi Zhou Fan tetap pada prinsipnya, dia tak akan meninggalkan siapa yang telah masuk bagian hidupnya. Dia akan menunggu sampai Wei Guanlin siap menerimanya.
"Tak perlu kau pikirkan, aku tak akan melakukannya."
Jlep...
Mendengar suaranya Wei Guanlin mengangkat wajahnya, entah mengapa hatinya merasa sakit saat mendengar ucapan Zhou Fan.
Seharusnya dia senang saat mendengarnya, dia tidak perlu melakukan apa yang tidak mau dia lakukan, tapi kenapa hatinya sakit?
"Aku akan keluar, sebaiknya kau tetap disini," Ucap Zhou Fan datar.
Wei Guanlin menatap sedu punggung Zhou Fan. Sementara Zhou Fan masih bergulat dalam perasaan bersalah.
Seolah hati keduanya terhubung, tanpa sadar mereka mengucapkan kata yang sama.
"Maaf...."
__ADS_1