
Halaman belakang kediaman Tuan Kota, sepasang pria berbeda usia berdiri saling berhadapan.
"Apakah kau siap, Tuan Kota?" Zhou Fan berdiri dengan pedang darah malam di tangannya.
"Yah, seorang petarung terlahir untuk selalu siap!" ujar Tuan Kota dari seberang, keduanya kini berhadapan dengan masing masing senjata di tangan.
Terlepas dari cincin kedua Patriark, Tuan Kota masih sedikit ragu dengan kemampuan Zhou Fan, dia menantang pemuda itu agar bertarung melawannya.
Bukan sekedar bertarung, Tuan Kota mengatakan akan memberitahu semua yang ia ketahui jika Zhou Fan bisa mengalahkannya.
Tanpa pikir panjang Zhou Fan menyanggupi tantangan Tuan Kota, lagi pula tidak ada ruginya jika dia kalah, walau dia seratus persen dapat mengalahkan Tuan Kota yang berada di tingkat petarung raja bintang dua.
"Jangan mencari alasan jika anda kalah, Tuan Kota? Atau Kota Kapur Putih akan merasa malu mempunyai pemimpin seperti anda.. Khe khe.." Zhou Fan terkekeh pelan.
Mata Tuan Kota melotot tajam, tidak ia sangka, orang pertama yang menghina dirinya setelah menjadi Tuan Kota adalah seorang pemuda yang bahkan usianya tak sampai setengah usianya.
"Aku pasti akan menerima kekalahan, tapi aku tidak berpikir akan kalah darimu." Tuan Kota mengatakan dengan tersenyum, tapi uratnya nampak keluar, wajahnya kaku menahan amarah.
"Owh... Aku berharap seperti yang anda katakan." Zhou Fan tak lagi di tempatnya setelah mengatakan ucapannya.
Desing...
Tiba tiba Zhou Fan sudah berada di sebelah Tuan Kota.
"Serangan pembuka!" Sambil teriak Zhou Fan mengayunkan pedangnya.
Meskipun terkejut dengan kecepatan yang dimiliki Zhou Fan, Tuan Kota berpikir cepat, dia dengan spontan mengarahkan pedangnya menghadang pedang Zhou Fan.
Trang...
"Lebih cepat!" Zhou Fan menyakitkan pedang darah malam dengan kecepatan tinggi, dia tak memberikan ruang Tian Kota untuk bergerak leluasa.
Trang... Tring...
"Kau memang kuat, tapi apakah hanya segini kemampuanmu? Apakah kau pikir kekuatanmu sudah cukup untuk melawan 'mereka'?" Sambil terus menangis dan membalas serangan Zhou Fan, Tuan Kota mengatakan dengan keras.
Zhou Fan hanya diam dan terus menyerang, dia tak memasukkan perkataan Tuan Kota ke dalam pikirannya.
"Jika itu yang kau inginkan, maka bersiaplah ... Teknik Dewa Pedang!" Zhou Fan berteriak sambil menerjang ke arah Tuan Kota.
Tuan Kota yang semula sangat menikmati alur pertarungan, perlahan wajahnya berubah pias, dia tak mengira pemuda lawannya akan memiliki teknik bertarung yang sangat mengerikan.
"Cih! Aku tak puas jika tak mengeluarkan seluruh kemampuanku!" Tuan Kota memasang wajah serius, pria tua itu kemudian memutar pedangnya, dan mulai menggerakkan tangannya.
__ADS_1
Trang... Tring...
Zhou Fan menarik sudut bibirnya, bersamaan dengan itu percikan api mulai merambat keluar dari pedang darah malam.
Wosh... Wosh..
Zhou Fan terus mengayunkan pedangnya, berusaha mengalahkan Tuan Kota.
Tuan Kota sedikit menjaga jarak dari pemuda itu, tubuh lawannya seolah terbungkus dengan api, dia tidak bisa mendekat.
Tuan Kota mundur dengan melompat tinggi, sambil melompat dia mengeluarkan jurus.
"Pembelah Laut!!" Tuan Kota berteriak sambil mengayunkan pedangnya dengan kedua tangan.
Slash ... Blar!
Ledakan dahsyat menumbangkan salah satu pohon di halaman. Zhou Fan yang menjadi target incaran berhasil menghindar dengan menarik tubuhnya ke samping.
Keduanya kini saling tatap, seolah tidak ada yang ingin mengalah.
"Bocah yang satu tahun lalu aku lindungi sekarang sudah setara denganku!" Tuan Kota membatin bangga, dia mengingat saat dimana dia menghentikan Yu Dan Rui yang mencekik Zhou Fan di tangah taman Kota.
Tak pernah sekalipun terbesit pikiran bahwa pemuda yang saat itu dalam satu tahun akan mengimbanginya, bahkan memaksanya bertahan.
Zhou Fan menekuk lehernya beberapa kali, dia juga memutar bahunya yang menggenggam pedang darah malam.
"Kekuatan pak tua ini ternyata tidak lemah, dengan tujuh puluh lima persen kekuatanku tidak mampu mengalahkannya." Zhou Fan bergumam dengan nada mengeluh.
Andai Tuan Kota mendengar apa yang digumamkan Zhou Fan mungkin dia akan menarik lidah pemuda itu, dia sudah sangat malu mengatakan dirinya seimbang dengan Zhou Fan, apalagi jika dia harus mengaku kalah dari pemuda itu, sungguh menghancurkan harga diri seorang Tuan Kota.
"Apakah sudah cukup, Tuan Kota?" Zhou Fan memiringkan kepalanya, dia bertanya dengan suara ramah.
Tuan Kota tersentak mendengar perkataan Zhou Fan, tapi dia segara menyelaraskan ekspresinya.
"Ehm... Apakah kau mengaku kalah?" Tuan Kota berkata dengan wajah tersenyum puas.
"Apa-apaan pak tua ini, aku memberikan muka kepadanya agar tidak kalah di hadapan para pengawalnya, tapi dia mengatakan aku menyerah? Ckck.." Zhou Fan berkata dalam hati sambil melirik ke beberapa orang yang menyaksikan dari jauh.
"Hem?" Tuan Kota manaik turunkan alisnya beberapa kali, menunggu jawaban Zhou Fan.
"Terserah!" Tanpa bersuara Zhou Fan menggantungkan pedang darah malam ke punggung, kemudian menghampiri Tuan Kota.
"Aku rasa sudah cukup," ujar Zhou Fan saat tepat di depan Tuan Kota.
__ADS_1
"Karena aku lagi senang, aku akan memberitahukan apa yang kau inginkan. Di mana lagi kau menemukan orang sebaik diriku, Hahaha..." Tuan Kota mengajak Zhou Fan masuk kembali, sekarang dia berada dalam suasana hati yang gembira.
Sambil berjalan Tuan Kota masih sempat semuanya untuk menasehati Zhou Fan.
"Kau harus lebih banyak mempraktekkan teknik pedangmu, meskipun sudah sangat baik, tapi kau bahkan tidak bisa memberikan luka fatal kepadaku." Tuan Kota berkata dengan wajah bangga.
Semenjak berakhir pertarungan, Tuan Kota tak habis-habisnya memberikan saran yang sebenarnya tidak berguna bagi Zhou Fan, bahkan semua kultivator akan melakukan apa yang di katakan Tuan Kota tanpa disuruh, karena memang itulah garis besar hidup seorang kultivator.
Zhou Fan hanya bisa diam. Awal-awal dia masih tahan, dia mencoba menutup telinga, tapi lama kelamaan mulut Tuan Kota semakin menjadi, seakan bibirnya memiliki nyawa, tidak tahan jika diam sebentar.
"Jika tahu seperti ini, aku tidak akan memberikan dia muka, sekalian saja aku buang mukanya, agar aku tak mendengar bualannya!" keluh Zhou Fan dalam hati.
Tak lama seorang pelayanan datang dengan dua gelas minuman, pelayan tersebut kembali masuk setelah menempatkan minuman di atas meja.
"Minumlah! Bahkan aku menyediakan minum untukmu, seharusnya kau yang menyediakan, karena kau 'kalah'!" Tuan Kota dengan sengaja menekan kata terakhir.
"Arg!!" Zhou Fan berteriak tak bersuara, dia sangat ingin menggaruk mulut pria tua di hadapannya.
"Percaya atau tidak, aku sangat ingin mengebirinya!" Zhou Fan membatin sambil tersenyum paksa.
"Kenapa wajahmu? Kau tidak perlu terlalu memikirkan kekalahan, aku tahu bagaimana rasanya kalah, meskipun aku tidak pernah merasakannya secara langsung... Hahaha..." Tuan Kota tertawa bahagia, sementara wajah Zhou Fan mulai menggelap.
Brak!
Tuan Kota seketika terdiam, kemudian memandang pemuda di hadapannya yang tampak berwajah suram.
Huftm..
Zhou Fan menghela nafas panjang, kemudian mengatur suaranya agar tidak terdengar marah.
"Ehem... Bisakah anda memberitahuku, semua yang anda ketahui tentang wanita itu?" tanya Zhou Fan dengan tersenyum, tapi gertakan gigi terdengar jelas dari mulutnya.
Eh...
"Apakah aku memukul mulut, atau wajahmu?" tanya Tuan Kota dengan wajah bingung sambil mengingat saat pertarungan.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya balik Zhou Fan dengan ekspresi aneh, tangannya marah gelas yang berada tepat di hadapannya.
Tuan Kota mengusut dagunya, tak terlihat lagi aura kewibawaan darinya, dia bertingkah layaknya pria tua dengan cucunya.
"Aku rasa gigimu lepas!"
Bhuah!
__ADS_1
Zhou Fan menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.