
"Kau jangan keterlaluan bocah! beraninya kau tak memberikan muka kepada patriark bahkan setelah dirinya merendah di hadapanmu." Zhou Kay berteriak marah, beberapa tetua dan anggota lain klan Zhou ikut mendukung Zhou Kay.
"Hahaha... Memberi muka?" Zhou Fan menatap sinis semua orang yang memojokkan nya.
"Bukan aku yang tidak mau memberikan muka, dari awal Klan Zhou tidak menganggapku, kenapa aku harus memberikan muka?! asal kalian tahu...,"
"Andai tidak ada yang menahanku untuk tetap bertahan, aku tidak akan sudi tetap di klan yang memperlakukan sesamanya dengan begitu condong." Zhou Fan terus mengeluarkan apa yang selama ini menjadi ganjalan dalam hatinya.
Semua orang tidak berani menyela ataupun menengahi masalah internal Klan Zhou, bahkan klan besar lainnya pun terlihat hanya diam dan menyaksikan drama yang menurut mereka sangat menarik itu.
"Itu baru namanya anakku...," Batin Zhou Hu, manatap bangga putranya, ia tidak mengira putra kecilnya dulu kini telah menjadi seorang pria muda yang gagah.
Berbeda dengan tetua kelima, semua orang klan Zhou kecuali Zhou Kay menundukkan kepala mereka, Zhou Yin pun ikut merasakan apa yang dirasakan semua orang klan Zhou, bagaimanapun sikapnya kepada pemuda itu termasuk sudah melebihi batas.
"Jika kalian menginginkan tempat pertama, silahkan ambil saja! Tidak penting bagiku mendapatkannya atau tidak." Zhou Fan berkata dengan acuh lalu meninggalkan arena pertandingan, dia sudah tidak peduli dengan turnamen itu.
Hadiah? Dia sungguh tak memerlukannya, dalam cincin sang guru sudah banyak barang berharga yang dapat ia pakai sepuasnya.
Tujuannya mengikuti turnamen hanya satu, membuang sebutan sampah pada dirinya dan melihat wajah penyesalan klan Zhou.
Melihat wajah menyesal semua orang yang telah memandang rendah dirinya membuat pemuda itu begitu puas.
Zhou Fan bukanlah orang yang tidak tahu balas budi. Meskipun klannya telah memandang rendah dirinya selama ini, Zhou Fan tetap merasa klannya ini telah menjadi tempat bernaung dirinya dan keluarganya, tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja.
Hening, itulah yang dapat dilihat dari tempat itu setelah kepergian Zhou Fan. Terutama semua orang dari klan Zhou, mereka baru menyadari telah menyia-nyiakan permata dihadapan mereka.
Mereka selama ini menganggap sebuah batu disekitar mereka tidak berharga, tetapi setelah batu itu terpoles dan menunjukkan bentuk aslinya, mereka sudah terlambat.
Hanya karena batu itu berbeda, membuat mereka semua berpikir batu itu tidaklah berharga, saat mereka menyadarinya, mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.
"Hng..." Zhou Hu mendengus, kemudian melesat menyusul putranya.
Meskipun kekuatan Zhou Fei berada dia atasnya, ia tidak takut berhadapan dengan patriark nya tersebut.
Seandainya mereka bertarung memang Zhou Hu lah yang menjadi pihak yang kalah, tapi Zhou Fei tidak akan jauh berbeda dengannya.
"Klan Zhou bermuka tebal, bahkan dengan bangganya mengatakan dirinya yang menang. Memang orang klan Zhou yang menang, tapi dia tidak membawa nama klannya saat bertanding." Semua orang mulai berbisik dan mencela klan Zhou.
__ADS_1
Meskipun sangat pelan, tentu Zhou Fei mendengarnya. Dia telah di tingkat petarung grand master bintang 9, semakin tinggi kultivasi semakin tinggi pula kualitas indra yang dimilikinya.
Dengan wajah menahan malu Zhou Fei keluar dari arena, ia sudah tidak punya muka untuk tetap berdiri di sana.
**
Di sebuah penginapan...
Seorang pemuda tampan dengan pakaian biru laut sedang duduk dan menyantap makanannya,
Setelah makanan di depannya sudah habis tak tersisa, pemuda itu menenggak anggur yang sudah berada di tangannya.
Zhou Fan meninggalkan tempat turnamen pemuda dan kembali ke penginapan.
"Setelah ini, aku akan pergi kemana? Banyak tempat yang belum pernah aku datangi, Kota Batu Hitam merupakan kota terkecil, aku tidak akan meraih batas ku dengan hanya berdiam diri disini," Gumam Zhou Fan bermonolog.
"Mm... Itu bisa kupikirkan nanti, yang pasti aku akan mencari pengalaman dan terus meningkatkan kekuatanku." Pemuda itu menguatkan tekadnya.
Tujuan Zhou Fan hanya satu, ingin melindungi orang yang menurutnya berharga.
"Fan'er!"
Zhou Fan yang sedang termenung, terkejut saat merasakan bahunya ditepuk.
Plak...
Tanpa sengaja Zhou Fan melesatkan pukulan yang tepat mengenai wajah orang yang telah menepuknya. orang itu terhuyung kebelakang karena tidak mengira akan mendapatkan kejutan.
Zhou Fan mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pria disampingnya itu, tapi pria itu memegang wajahnya yang terkena pukulan Zhou Fan, seolah menutupi wajahnya dengan sengaja.
Seketika keringat dingin merembes di sela bajunya saat pria disampingnya menurunkan tangannya.
"A... Ayah, kenapa kau kemari? kau mengejutkanku." Zhou Fan berdiri dan menghadap ayahnya, berusaha menyatakan dirinya tidak bersalah.
Setelah berhasil menyeimbangkan tubuhnya, Zhou Hu menatap tajam Zhou Fan. "Kau sudah berani sekarang, bahkan ayahmu sendiri kau berikan pukulan."
Zhou Fan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah, meskipun dirinya tidak sengaja melakukannya tetap ia mengakuinya.
__ADS_1
"Hahaha... Tidak aku sangka kau masih tetaplah bocah kecil yang dulu..." Suasana yang tadinya menegangkan kembali menghangat. Zhou Fan tampak kikuk, pemuda itu hanya menggaruk tungkuk kepalanya yang tak gatal.
Zhou Hu meraih kepala Zhou Fan, kemudian menggosok pelan puncak kepala anaknya itu. Pikirannya jauh menerawang ke kenangan masa lalunya bersama Zhou fan kecil.
Saat Zhou Fan kecil melakukan kesalahan, dan kesalahan itu diketahui oleh dirinya ataupun istrinya, putranya itu selalu berdiri sambil menundukkan kepalanya tanda ia mengakui kesalahannya.
"Ayah kenapa kau ikut kemari? Apakah di sana sudah selesai?" Tanya Zhou Fan.
"Tentu saja belum, aku tak lagi berselera untuk tetap disana."
"Ohh... " Zhou Fan mengangguk, dan tidak berniat bertanya lebih.
***
Sudah seminggu sejak hari final turnamen. Di kediaman tetua kelima, Zhou Fan tengah asik mempelajari jurus jurus baru dari kitab emperor miliknya.
Zhou Fan meninggalkan desa beringin tepat setelah bertemu ayahnya di penginapan, ia memasrahkan hadiah kemenangannya kepada Klan Zhou. Masalah klannya itu bersedia atau tidak itu akan diserahkan kepada ayahnya.
Pada akhirnya Zhou Hu lah yang mengambilnya, sebenarnya ia enggan mengambil hadiah itu, karena anaknya sudah menyerahkannya kepada Klan Zhou. Zhou Hu dengan terpaksa mengambilnya setelah tidak ada yang mau mengambilnya dari pihak Klan Zhou, mereka mengaku tidak punya muka untuk menerima hadiah itu.
"Fan'er kemari! ada sesuatu yang ingin ayah dan ibu berikan kepadamu."
Mendengar suara ayahnya yang terlihat serius, Zhou fan dengan siap langsung keluar kamarnya, dan berniat ketempat ayahnya berada.
"Ada apa sebenarnya? tidak biasanya ayah seserius itu." gumam pemuda itu sambil mempercepat langkahnya.
Zhou Fan sampai di ruang keluarga, dan melihat ayah dan ibunya sedang duduk disana.
"Ada apa ayah, ibu?" Zhou Fan bertanya sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Duduklah terlebih dahulu!" Pinta ibunya tanpa mempedulikan pertanyaan Zhou Fan.
Zhou Fan pun hanya bisa mengikuti apa yang di suruh ibunya, ia duduk tepat dihadapan kedua orang tuanya yang duduk berdampingan.
Zhou Hu menghela nafas kemudian melihat istrinya, dan mendapat anggukan sebagai jawabannya.
"Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memberitahumu..."
__ADS_1