
Sehari sebelum perang...
Perkumpulan gerhana merupakan kelompoknya yang bermarkas di kota Mawar, mereka sudah berdiri lama, tapi baru menunjukkan kekuatannya setelah bergerak diam diam begitu lama, mungkin mereka lelah untuk terus berdiam diri.
Wei Huan yang menaruh mata mata di setiap tempat Kota Mawar mendapat laporan pergerakan aneh dari beberapa kelompok kecil, setiap malam selalu ada saja rombongan yang bergerak menuju desa karbit, desa paling barat kota Mawar, berbatasan langsung dengan kota Teratai.
Meskipun sudah menebak kekuatan lawan, dia tidak mengira laporan yang ia dapatkan akan membuatnya semakin ragu. Menurut laporan seluruh kota Mawar sudah berada di tangan lawan, setidaknya kekuatan di sana merupakan kekuatan terbesar setelah Ibukota.
Wei Huan memutar otaknya, dia tak ingin bertindak gegabah, dia meminta pendapat perwakilan sekte juga keluarga yang mendukungnya.
"Perkumpulan gerhana sudah mulai gencar melakukan persiapan, bagaimana menurut kalian?" Wei Huan memandang satu persatu orang yang menjadi perwakilan.
Beberapa orang di sana saling pandang, mereka kemudian menoleh ke arah pria tua berjubah putih.
"Ehem.." Pria tua berjubah putih berdiri dari duduknya, dia perlahan berjalan ke tengah aula pertemuan.
"Yang mulia, saudara saudari semua... Jika menurut laporan mata mata yang Yang mulai sebutkan kita harus segara bertindak, jika hanya diam dan menunggu sampai mereka menyerang itu akan sangat terlambat,"
"Jika melakukan peperangan di tengah Ibukota, akan sangat menguntungkan lawan, selain mereka juga memiliki dukungan dari beberapa sekte serta keluarga bangsawan, mereka unggul dalam jumlah pasukan...,"
"Tapi jika kita bergerak dan menghadang di desa karang hijau, pihak kita akan mendapat keuntungan, di sana ada dinding beton yang sangat sulit dihancurkan, meskipun ketinggiannya hanya sekitar lima meter itu dapat memperlambat pergerakan musuh, juga kita dapat menyerang mereka dari atas benteng."
Pria tua berjubah Putih yang merupakan Patriark sekte pedang suci itu menoleh ke semua orang, ingin mendapatkan jawaban atas pemikirannya.
"Aku setuju dengan pemikiran Patriark Ban, meskipun pasukan lawan akan dapat menerobos benteng, jumlah mereka sudah banyak berkurang... Bagaimana menurut kalian?" Wei Huan kembali melontarkan pertanyaan, dia membutuhkan saran lain, jika ada yang mau menambahkan.
__ADS_1
"Yang di katakan Patriark Ban, sangat masuk akal, tapi bagaimana jika pasukan lawan yang bergerak di depan adalah petarung grand master bahkan petarung raja, kecepatan mereka tidak akan mudah ditangani oleh pasukan kita, mengingat kekuatan kita mungkin hanya sepertiga kekuatan lawan." Tuan besar Li berdiri dan mengatakan yang menjadi ganjalan pikirannya.
"Aku rasa mereka tidak akan bertindak bodoh dengan menempatkan petarung grand master di barisan depan, mereka tentu akan menyimpan kekuatan untuk pertarungan di dalam Ibukota, tidak mungkin mengorbankan petarung grand master untuk membuka jalan."
"Sebaiknya kita secepatnya bergerak, tidak ada yang tahu kapan lawan bergerak, kita harus satu langkah di depan lawan. Sebelum mereka bergerak kita harus sudah berada di desa karang hijau."
Satu persatu mengeluarkan suara, Wei Huan terus mencermat masukan demi masukan, dia tak ingin menganggap enteng masalah ini.
"Baiklah! Sekarang juga kita akan bergerak, siapkan pasukan juga orang kalian, berkumpul di taman kota, dan berangkat dengan pasukan besar, sekalian saja kita tunjukkan kepada mereka perlawanan kita!" Wei Huan berdiri dengan tangan memegang pedang, die berteriak dengan nada penuh semangat.
Keheningan menjalar di seluruh aula pertemuan, tapi tidak bertahan lama, mereka dengan semangat mengobar mengikuti apa yang dilakukan Wei Huan, berdiri dengan pedang menjulang.
"Hidup Yang Mulia!" Semuanya berseru lantang, seolah tengah menabuh genderang perang.
Pertemuan berjalan singkat, karena mereka semua memiliki satu pemikiran, bertempur sampai darah penghabisan.
Jika musuh dapat di hadang di luar Ibukota, kemenangan masih dapat diraih. Namun jika sudah menerobos ke dalam wilayah Kota Teratai itu akan sangat sulit dihentikan, terlebih banyak sekali warga yang akan menjadi korban.
Wei Huan memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai ratusan ribu, mereka bergerak dengan kecepatan sedang, sambil bergerak Wei Huan bersama Patriark sekte pedang suci, Ban Fulong terus berdiskusi, tak jarang keduanya meminta pendapat kepala keluarga juga Patriark sekte lain yang bergerak di belakang kedua pembesar itu.
Dengan pasukan besar yang mereka bawa, tak ayal membuat tanah Ibu kota berdetak kencang, gemuruh langkah kaki terdengar hebat, warga yang tak tahu tentang perang itu meringkuk dengan tubuh gemetar, mereka menutup pintu kediamannya dan menyaksikan dari dalam.
Begitu pasukan besar lewat, mereka dapat merasakan bencana akan datang.
Wei Huan beserta pasukannya sampai di desa karang hijau saat tengah malam, begitu sampai mereka langsung mendirikan tenda, dan melakukan persiapan.
__ADS_1
Pasukan yang terdiri dari anggota klan juga murid sekte itu menyisir daerah sekitar, semua warga diungsikan ke desa terdekat, tapi juga ada yang ikut bergabung dan menjadi pasukan Kekaisaran.
Wei Huan berdiri di atas benteng, pakaian logam yang ia pakaian terlihat bersinar terkena pantulan obor juga bulan.
Wei Huan menghela nafas panjang, dia mengingat bahwa putra pertamanya juga berada di kota Mawar, dia hanya berharap putranya baik baik saja.
"Yang Mulia,"
Wei Huan menoleh, dan menjumpai pria tua yang telah ia anggap sebagai paman, Patriark sekte pedang suci.
"Paman?" Wei Huan sangat menghormati Ban Fulong, pria tua itu merupakan teman dekat ayahnya, kaisar sebelumnya.
"Jangan memanggilku yang mulia jika hanya ada kita berdua, paman." Wei Huan mengatakan dengan pandangan ke depan, menatap gelapnya perbatasan, terlihat bintik bintik terang yang ia percaya adalah desa karbit.
"Apa yang kau pikirkan, Huan'er?" Ban Fulong mendekat dan berdiri di samping Wei Huan.
"Aku tak mengerti, kenapa orang selalu menginginkan suatu yang jelas bukan miliknya. Bukan hanya takhta Kekaisaran, tapi masih banyak lagi, misalnya barang berharga ataupun sumber daya ... "
"Andai Kekaisaran Wei dapat berdiri tanpa adanya masalah seperti ini, mungkin aku tak akan berpisah dengan keluarga kecilku." Mata Wei Huan tanpa sadar sudah basah dengan air mata, jika dia bisa memutar kembali waktu, dia akan lebih memilih meninggalkan kursi kaisar dan hidup dengan keluarga kecilnya.
"Kau menanyakan pertanyaan yang sangat sulit, bahkan aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaanmu," ujar Ban Fulong.
"Tapi memang begitulah dunia ini bekerja, kekuatan serta kekuasan menjadi dasar pemikiran, bahkan jika kau bukan seorang kaisar, kau tetap akan mengalami semacam ini, meskipun dalam hal yang berbeda ... "
"Jika aku boleh mengatakan, anggap saja semua ini adalah sebuah tes, yang akan mendapatkan hadiah jika kau dapat menyelesaikannya. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi, jadi jalani saja..." Ban Fulong menepuk bahu Wei Huan dan melangkah meninggalkan pria paruh baya itu sendiri.
__ADS_1
"Jalani saja..." Wei Huan mengulang dua kata yang dapat ia tangkap dari pembicaraannya dengan Patriark sekte pedang suci.