Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 229 : Rogue


__ADS_3

"Bag -- bagaimana mungkin?!" Sosok berjubah hitam terpaku melihat sosok di hadapannya.


Jelas dia sebelumnya tak merasakan keberadaan lawannya, tapi sekarang lawannya berdiri tanpa luka di tubuhnya.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Zhou Fan memutar pedang darah malam, kobaran api mulai menyebar.


"Heh... Meskipun kau belum mati, aku bisa membuatmu mati berkali kali." Sosok berjubah hitam melayangkan tangan menampar angin.


Lebah di belakang tubuhnya sekali lagi merespon, sekitar setengah dari jumlah keseluruhan, menerjang dengan jarum sebagai wajah.


"Tidak untuk kali ini." Zhou Fan mengayunkan pedang darah malam ke sekitar, kobaran api yang semula berputar di ujung menyebar membakar bangunan rumah penduduk.


"Apakah kau sudah menyerah?" Sosok berjubah hitam tertawa mencibir, dia merasa tindakan yang Zhou Fan lakukan hanyalah sia sia belaka.


Zhou Fan tak menjawab, dia masih berdiri tegak di tempatnya.


Sosok berjubah hitam yang sempat menahan serangannya, kembali mengangkat tangan dan mengarahkannya ke Zhou Fan.


Wosh... Wosh...


Sosok berjubah hitam mengerutkan kening, dia melakukan gerakan yang sama berulang, tapi lebahnya tak kunjung menyerang.


"Apa yang terjadi?" Sosok berjubah hitam menoleh ke belakang, matanya memerah saat melihat lebah lebahnya terbang kacau.


"Apa yang kau lakukan kepada mereka?" Sosok berjubah hitam mengeram marah, melihat lebahnya seolah kesakitan membuat dirinya juga ikut merasakan.


Zhou Fan hanya diam, dia tak menjelaskan. Dia merasa tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan terhadap lawannya.


Sosok berjubah hitam mengendus bau, dan tubuhnya seketika bergetar.


"Biadab! Kau meracuni lebah lebahku!" Sosok berjubah hitam maju menyerang Zhou Fan.


Kali ini dia tak menggunakan pasukan lebahnya, dia meraih belati di pinggang dan melesat mengincar nyawa Zhou Fan.


"Aku tak akan memaafkanmu!" Sosok berjubah hitam mengibaskan tangan membelah kepala Zhou Fan.


Tapi pemuda itu tidak remeh saat bertarung jarak dekat, dia menarik kepala lalu tangan yang memegang pedang ia kibaskan.


Prang...

__ADS_1


Saat membentur kaki sosok berjubah hitam, pedang darah malam seolah menghantam batangan besi.


Cih...


"Perlengkapan ini merepotkan saja." Sosok berjubah hitam akhirnya menampakkan wujud aslinya, bukan pria tua atau pun pria paruh baya, melainkan seorang gadis kecil dengan tinggi tak kurang dari perut Zhou Fan.


Zhou Fan menyipitkan mata, tak mengira sosok dibalik pengendali lebah merupakan seorang gadis berumur belasan tahun.


Dengan rambut panjang yang dikepang dua, lalu wajah yang bersih membuatnya terlihat begitu cantik, tapi tetap saja, gadis kecil tidak akan membuat Zhou Fan terpesona, dia hanya mengakui kecantikan gadis kecil di hadapannya.


"Jangan remehkan aku bajingan!" Gadis kecil itu melesat cepat dengan belati di tangan.


Prang..


Zhou Fan menahan dengan pedang darah malam, begitu kedua senjata menempel, tangan kiri Zhou Fan hendak menepuk tengkuk gadis itu.


Namun, gadis berusia dua belas tahun itu tak hanya pasrah menerima. Tangan kirinya yang semula hanya diam, meraih tangan Zhou Fan dan memutarnya.


Zhou Fan spontan menarik tangannya, pedang darah malam juga bergerak, menyambar pinggang kanan gadis kecil.


Srak!


Kulitnya tergores dalam, gadis kecil itu mengernyit menahan sakit.


"Bunuh saja, aku tak peduli!" Gadis itu berteriak kencang, dia seolah tak peduli dengan ancaman Zhou Fan.


Zhou Fan menggaruk tengkuk kepala yang tak gatal, sepertinya gadis di hadapannya tidak semengerikan yang terlihat.


Zhou Fan menarik pedangnya, lalu dia bergerak memadamkan api yang sudah merambah ke seluruh desa dengan persediaan air miliknya.


Setelah memadamkan api dia kembali ke tempat gadis kecil yang masih setia di tempatnya.


"Kenapa kau tak membunuhku?" Gadis kecil itu bertanya tanpa memandang wajah Zhou Fan.


"Aku rasa kau bukanlah orang jahat." Zhou Fan menghampiri Zhou Jim yang masih tak sadarkan diri.


"Aku sudah membuat desa ini menjadi desa mati, bahkan aku membuat peliharaanmu seperti itu."


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, kau sudah menunjukkan kau bukan orang jahat ketika kau menyerang tanpa adanya keinginan membunuh." Zhou Fan duduk di samping gadis kecil, gadis itu pun ikut duduk.

__ADS_1


Lebah yang tadinya terbang liar seolah tak terkendali sekarang lebih tenang setelah Zhou Fan memadamkan api yang terus mengeluarkan aroma menyengat.


Sebenarnya Zhou Fan telah menyelipkan serbuk bunga kenanga, dia awalnya tak mengira dengan memanfaatkan aroma menyengat bunga kenanga dapat membuat kacau lebah lebah itu, tapi setelah melihat hal itu, dia semakin banyak menaburkan bubuk bunga kenanga.


"Aku bisa menyerangmu dengan lebahku yang kini telah kembali normal," ucap gadis itu.


"Aku bisa melakukan hal yang sama jika hal itu terjadi." Zhou Fan menunjukkan kantong bubuk kenanga yang masih tersisa.


"Kau memang tidak tahu malu!" Gadis kecil itu mendengus sambil memalingkan wajahnya.


"Aku senang mendengarnya." Zhou Fan membalas dengan tersenyum.


"Apakah kau mempunyai penawar racun lebahmu?" Zhou Fan menunjukkan tubuh Zhou Jim yang mulai membiru.


"Aku rasa kau harus rela kehilangan peliharaan." Gadis itu berkata acuh.


"Aku tak akan membiarkannya mati begitu saja, meski kau tak mempunyainya, aku akan mencarinya." Zhou Fan bertekad dengan ekspresi serius.


Gadis kecil yang melihat tekad Zhou Fan merasa bersalah, dapat dilihatnya hubungan keduanya lebih dari sekedar tuan dan bawahan.


"Sebenarnya aku pernah mendengar terdapat penawar racun lebah jarum di ujung hutan bambu, tak tahu kau mau mempertaruhkan nyawa demi serigalamu atau tidak." Gadis itu memeriksa tubuh Zhou Jim yang terkena racun lebah peliharaannya.


"Sepertinya waktu yang tersisa tidaklah banyak. Kau harus berangkat sekarang jika tidak ingin nyawanya melayang." Gadis kecil itu berdiri dan mengambil jubah serta perlengkapan yang sempat dia lepaskan.


"Kau mau kemana?" tanya Zhou Fan dengan kening mengernyit.


"Tentu saja menunjukkan kau jalan, apakah kau bisa pergi sendiri? Jangan bercanda, kau bahkan tak tahu bagaimana rupa penawar yang kumaksud." Gadis kecil itu terkekeh pelan, tapi tersirat sindiran halus di setiap lekuk ekspresinya.


"Kau akan mencari penawarnya?" Zhou Fan mengedutkan bibirnya heran, gadis kecil di hadapannya tidak terlihat sepantar dengan usai aslinya.


"Bukan aku, tapi kita. Dan lagi! Aku melakukan ini karena kasihan terhadap serigalamu." Gadis kecil itu menakan perkataannya, ia tidak mau Zhou Fan memikirkan hal lain.


"Aku tahu kau adalah gadis kecil yang baik." Zhou Fan meraih Zhou Jim, dia menggendongnya di punggung sementara pedang darah malam ia simpan di dalam cincin penyimpanan.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku memiliki nama. Namaku adalah Rogue." Gadis kecil yang sekarang sudah setinggi Zhou Fan berkata sambil mendekati pemuda itu.


Zhou Fan termenung mendengar nama gadis kecil, tak dia sangka gadis manis itu memiliki nama yang terbilang aneh. Bagaimana mungkin namanya memiliki arti 'penipu'.


"Aku akan memanggilmu Rou?" Zhou Fan mengungkapkan sarannya, tidak mungkin dia tega menyebut gadis itu 'penipu'.

__ADS_1


Gadis kecil itu terdiam, dia seolah mendapatkan kehangatan yang selama ini dia harapkan. Namun, tak berselang lama, karena dia dengan sadar menggelengkan kepalanya.


"Terserah, asal jangan gadis kecil!"


__ADS_2