
"Lalu, apakah kau tahu siapa yang berada di belakang perkumpulan gerhana?" Wei Huan bertanya kepada Zhou Fan.
"Tentu saja, jika menurut orang yang aku tangkap, otak mereka adalah adik anda, Wei Jia, serta tuan besar Tang, perdana menteri Kekaisaran," jawab Zhou Fan.
Brak!
Wei Huan menggebrak meja dengan kedua tangan, dia tanpa sadar berdiri dari duduknya.
"Beraninya Tang Min merencanakan ini semua, dan untuk Wei Jia, aku tak mengira, ... Aku memperlakukannya tidak lebih buruk dari pada memperlakukan diriku sendiri, tapi dia merencanakan bersama setan tua itu." Wei Huan melontarkan amarah dalam hatinya.
Meskipun dia sudah memperkirakan tuan besar Tang, juga Wei Jia tidak menyukainya, ia mengira keduanya akan bergabung dan berniat menyerang dirinya.
Zhou Fan tidak mengatakan satu nama lagi, karena dia mendengar ada yang bermarga Du di istana, dia curiga itulah satu orang yang tersisa.
Zhou Fan ingin memastikan kedudukan orang bermarga Du dalam diri Kaisar Wei.
"Ayah mertua, eh... Yang Mulia," Zhou Fan tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk kepalanya, dia ikut berdiri mengikuti Wei Huan.
"Tak apa tak apa, panggil saja ayah mertua, lebih nyaman seperti itu," ujar Wei Huan membuat Zhou Fan melotot terkejut.
Zhou Fan tersenyum tipis, kemudian melanjutkan kembali ucapannya. "Ayah mertua, apakah ada orang di sampingmu yang bermarga Du?"
Wei Huan termenung sesaat kemudian mengatakan bahwa ada satu yang bermarga Du, bahkan orang itu adalah orang kepercayaannya sekaligus penasihatnya, Du Qiang.
Mendengar orang bermarga Du merupakan orang kepercayaan ayah mertuanya, Zhou Fan seketika memalingkan tubuhnya, dia memasang wajah bengis.
"Ternyata ada ular di istana," gumam Zhou Fan pelan tapi dapat terdengar Wei Huan.
"Apa yang kau maksud?" Wei Huan tak mengerti maksud perkataan pemuda yang sudah ia anggap sebagai menantu.
"Ayah mertua, apakah kau mempercayai ucapanku?" Zhou Fan yang semula memandang kesamping menghadap Wei Huan.
"Hem... Katakanlah," ucap Wei Huan.
"Sebenarnya ada tiga orang yang menjadi pemimpin perkumpulan gerhana, dua orang telah aku sebutkan, dan yang satunya adalah ... " Zhou Fan ragu akan mengatakannya.
Wei Huan mengerutkan keningnya, karena menantunya tidak kunjungan meneruskan perkataannya.
"Ya... Siapa? Katakan!" desak Wei Huan tak sabar, dia
"Penatua Du," ucap Zhou Fan cepat.
"Akh... Apa?" Wei Huan yang masih berusaha memenangkan dirinya tidak begitu jelas mendengar nama yang disebutkan.
__ADS_1
"Orang yang paling anda percaya, orang yang anda anggap sebagai orang baik, Penatua Du, Du Qiang!" ucap Zhou Fan mempertegas nama 'Di Qiang'.
Wei Huan menyipitkan matanya, dia berbalik membelakangi Zhou Fan.
"Itu tidak mungkin, Penatua Du merupakan orang kepercayaanku, dia selalu ada di sampingku. Tidak mungkin dia berkhianat terhadapku." Wei Huan menggeleng sambil berjalan keluar, hendak kembali ke ruangannya.
Zhou Fan menghembus nafas pasrah, dia sudah menduga tidak akan mudah meyakinkan ayah mertuanya untuk mencurigai orang kepercayaannya.
Sambil terus berpikir Zhou Fan mengikuti Wei Huan, tak ada sepatah katapun terucap dari keduanya.
Sampainya di ruangan tempatnya berkultivasi, Wei Huan memandang Zhou Fan. "Aku tidak bisa mempercayai tanpa adanya bukti, apalagi Penatua Du merupakan orang yang selama ini berada di sampingku."
"Aku paham, ayah mertua ... Selagi aku mencari bukti, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Penatua Du." Zhou Fan berjalan keluar sambil berpesan kepada sang ayah mertua.
"Heem.." Wei Huan hanya bergumam, dia tidak ingin percaya, tapi perkataan menantunya terlihat sangat meyakinkan, lagi pula tidak ada untungnya Zhou Fan membohongi dirinya, pemuda itu sudah mengatakan informasi yang sangat amat berguna baginya.
"Tidak ada salahnya sedia air sebelum kemarau," ujar Wei Huan dalam hati sambil kembali duduk bersila.
...
Zhou Fan keluar tanpa mengendap endap, dia bisa keluar masuk dengan semaunya, karena dia sekarang mempunyai token istana yang baru saja dikasih oleh ayah mertuanya.
Meskipun dia merasa Wei Huan terlalu mudah menerimanya, dia tidak terlalu memikirkannya, dia mengambil pikiran paling masuk akal.
Saat Zhou Fan masih berkeliling dengan wajah senang, tiba tiba seorang prajurit memanggilnya dari belakang.
"Hei tunggu! Kenapa kau disini, apakah kau hendak bolos latihan?" tebak prajurit itu setelah sampai di hadapan Zhou Fan.
Zhou Fan mengerutkan keningnya, saat dia akan berkata prajurit itu dengan cekatan memotong. "Tidak, aku buk.. "
"Jangan banyak alasan, cepat kembali ke sana, atau kau akan mendapatkan hukuman dari kepala."
Zhou Fan sempat berpikir mengeluarkan token istana, tapi mengingat Lee berada di sana, ia mengurungkan niatannya.
"Ya, aku akan kembali." Zhou Fan mengatakan sambil berjalan melalui prajurit tersebut.
Saat baru melintas satu langkah, prajurit itu mendengus mencibir. "Huh... Hanya orang tak berguna bermimpi menjadi prajurit Kekaisaran!"
Zhou Fan yang mendengar diam tak merespon, dia hanya terus berjalan seolah tak mendengar.
"Sudah tak berguna, pengecut pula," ujar prajurit itu lagi, sikap diam yang Zhou Fan ambil disalah artikan oleh pria yang memiliki kultivasi tingkat petarung master bintang dua.
Sampainya di lapangan yang amat sangat luas, dia berjalan menghampiri kumpulan yang di dalamnya terdapat orang yang ia cari.
__ADS_1
Baru saja dia akan masuk barisan, sebuah suara lantang memecah keheningan.
"Hei, kau!"
Seketika semua calon prajurit menoleh ke arah prajurit senior menunjuk. Sementara yang ditunjuk, celingukan layaknya tengah mencari sesuatu.
"Apakah aku yang dia maksud?" gumam Zhou Fan dalam benaknya.
Zhou Fan menunjuk dirinya tanpa bersuara,
"Ya, kau ... Siapa lagi," decak kesal prajurit senior.
Owh..
Zhou Fan maju tanpa beban ataupun grogi, berbeda dengan calon prajurit yang berkeringat dingin, padahal bukan mereka yang maju ke depan.
"Dia tak berubah, bahkan dengan prajurit sangar seperti itu dia tidak menampakkan wajah ragu bahkan segan," Lee menggeleng mengakui temannya yang memang memiliki mental yang sangat kuat.
Wajah pria paruh baya memburuk, dia seakan tidak memiliki wibawa di hadapan semua juniornya.
"Dari mana kau?!" ujarnya sok galak.
"Menemui Yang Mulia Kaisar," jawab singkat Zhou Fan.
Bhuahahaha....
Tawa pria paruh baya yang merupakan prajurit senior menggema bahkan beberapa prajurit yang tangah bertugas menghentikan tugasnya untuk melihat sekilas.
"Kau jangan mengada ada, ... Lari lima puluh putaran!" ucapnya sambil memasang wajah puas.
"Lima puluh putaran?" Salah satu calon prajurit membeo dengan suara melengking.
"Apa, tak terima, kau boleh menggantikannya jika kau keberatan." ucap prajurit senior dengan wajah menyeringai.
"Jangan bilang aku kejam, akun hanya bertugas," batinnya sambil tersenyum meremehkan Zhou Fan.
"Cih... Hanya lima puluh kan? Bahkan aku sudah melakukannya saat di hutan mati, tidak akan berarti apapun bagiku!" batin Zhou Fan, yang kemudian mulai mengambil ancang-ancang.
"Bukankah ini terlalu kejam? Bahkan aku yang sudah berada di tingkatan petarung master bintang satu akan kehabisan nafas di putaran tiga puluh."
"Lapangan pelatihan ini setidaknya memiliki keliling sepuluh kilometer, tidak mungkin pemuda yang terlihat lemah sepertinya akan sanggup melakukannya," timpal lainnya.
Semua calon prajurit yang berjumlah puluhan orang melihat Zhou Fan mulai melakukan hukumannya. Dari sekian banyak orang hanya seorang saja yang tak menampakkan ekspresi khawatir atau iba.
__ADS_1
"Kalian tidak tahu apapun tentangnya!"