
"Aku ingat kau bahkan menikmatinya, jadi seharusnya kau yang disebut mesum." Zhou Fan berbisik sambil menghembuskan nafasnya ke telinga Qing Yuwei.
Qing Yuwei mendorong Zhou Fan menjauh, lalu menggosok telinganya yang terasa gatal.
"Hng...." Qing Yuwei meninggalkan Zhou Fan sendiri, gadis itu benar benar malu sekarang. Ingin rasanya ia mengubur dirinya hingga tak ada seorang pun yang dapat melihatnya.
Zhou Fan menggeleng, ia tidak mengira, dalam perjalannya ia akan mendapatkan 'teman'.
"Aku harus memberikan penjelasan yang masuk akal terhadap Lin'er, atau aku akan mendapatkan masalah." Zhou Fanembagin dengan perasaan cemas.
Zhou Fan lalu mengejar Qing Yuwei yang berjalan di depannya.
"Wei'er!" Panggil Zhou Fan.
Seketika Qing Yuwei yang berjalan mendahului Zhou Fan, membalikkan badannya dan menatap Zhou Fan.
Zhou Fan tidak berkata lagi, dia hanya melambaikan tangannya sebagai tanda supaya gadis itu mendekat.
Qing yuwei berjalan kembali, mendekati Zhou Fan dengan cepat.
"Berbaliklah!" Suruh Zhou Fan.
Tanpa berkata gadis itu memutar tubuhnya membelakangi Zhou Fan.
"Bagaimana?" Tanya Zhou Fan setelah melakukan apa yang ia ingin lakukan.
"Cantik!" Qing Yuwei maraih liontin pada kalung yang dipasangkan Zhou Fan.
.
.
.
"Makam kuno akan terbuka sebentar lagi. Kalian semua, persiapkan diri kalian masing masing. Dan kami tekankan sekali lagi, hidup dan mati kalian tidak ada hubungannya dengan kota ini."
Seorang pria tua berkata dengan lantang. Pria tua itu terlihat sangat berwibawa dengan pakaian serba putihnya.
"Satu lagi! Kalian semua diharapkan segera keluar saat mendengar peringatan kami...."
Teettt..... Suara yang di maksud oleh pria tersebut.
"Kalian harus mengingat tanda peringatan ini. Makam kuno bukanlah tempat yang bisa kalian datangi dan pergi semau kalian, bahkan untuk kami juga begitu. Makam ini memiliki aturannya sendiri, jika kalian ingin tetap bertahan jangan berbuat hal yang sudah jelas dilarang," Ucapnya lagi.
__ADS_1
Tidak ada tanggapan ataupun sanggahan, semuanya hanya diam, memikirkan sebuah strategi yang menurut mereka adalah yang terbaik.
Pria tua itu kembali ke tempatnya yang berada di sekitaran orang orang terkemuka.
"Siapa pria tua barusan?" Tanya Zhou Fan kepada Qing Yuwei.
"Dia?" Qing Yuwei menunjukkan ke arah pria tua yang baru saja menyampaikan pesannya.
Mendapati anggukan Zhou Fan, Qing Yuwei mulai menjelaskan.
"Dia adalah tuan kota kapur putih. Dia adalah orang terkuat yang ada di kota ini, dengan tingkat petarung raja bintang 2. Yang disekelilingnya adalah ketua dan perwakilan klan besar... "
"Yang duduk tepat disampingnya adalah ayahku," Bisik Qing Yuwei pada Zhou Fan.
Zhou Fan seketika menoleh ke arah Qing Yuwei, dia tidak mengira gadis di sampingnya ini merupakan nona muda dari klan besar.
"Ayahmu seorang patriark?" Zhou Fan bertanya dengan raut wajah terkejut.
Qing Yuwei menggeleng, "Ayahku tetua kedua. Patriark sedang melakukan pelatihan tertutup, jadi ayahku lah yang mewakilinya."
Zhou Fan hanya membulatkan mulutnya paham.
"Hah..." Zhou Fan menghela nafas.
"Sepertinya ayahmu tidak begitu menyukai kedekatan kita, ayahmu dari tadi memerhatikan kita. Lihat! matanya melotot, bahkan aku rasa sedikit lagi akan keluar." Zhou Fan berkata dengan ngeri, tapi di akhiri candaan.
"Itu terdengar bagus!" Seru Zhou Fan dengan terkekeh lirih.
"Apanya yang bagus?!" Qing Yuwei menatap tajam Zhou Fan.
"Emm... Kesempatan bagus. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk menunjukkan kekuatanku untuk menjagamu kepada ayahmu." Zhou Fan mengarang dengan pandainya.
Beberapa saat, sebuah sinar menyilaukan muncul pada tebing batu yang berada di hadapan semua orang. Semakin lama semakin terang, bahkan penglihatan orang yang menutup matanya pun terpengaruh.
Tapi tak lama kemudian, cahaya itu mulai redup dan menampakkan sebuah portal selebar 10 meter.
Tebing batu itu adalah pintu masuk ke makam kuno, konon katanya, yang membuatnya adalah seorang ahli fornasi tingkat surgawi.
Ahli formasi adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk membuat suatu formasi ruang. Sama seperti alkemis yang mempunyai tingkatan, ahli formasi juga mempunyai tingkatan kemampuannya.
"Makam kuno telah terbuka!"
Teriakan ramai semua orang menyadarkan Zhou Fan dari lamuannya, dengan tetap menggenggam tangan Qing Yuwei, Zhou Fan melompat dan masuk ke Makam kuno.
__ADS_1
Buzh!
Seketika tubuh keduanya lenyap, seolah termakan oleh portal berwarna hitam kebiruan tersebut.
Di dalam area makam...
"Disini sangatlah lembab," Ucap Zhou Fan pelan sesaat setalah menapakkan kakinya di permukaan tanah.
"Pasti ada begitu tanaman herbal di sini," Gumamnya lagi.
Zhou Fan dan Qing Yuwei terdampar di tempat yang sangat lembab, dengan kepulan kabut tipis menambah kesan menyeramkan pada tempat ini.
"Tunggu. aku akan memeriksanya terlebih dahulu. Tetap dibelakangku." Entah mengapa firasat Zhou Fan mengatakan tempat ini tidak seperti kelihatannya.
Qing Yuwei dengan patuh mengekori Zhou Fan, dalam hatinya ia merasakan kehangatan. "Apakah ini rasanya dilindungi oleh orang yang kau cintai."
Qing Yuwei menunduk, pipinya sudah panas melihat Zhou Fan melindunginya.
Tanpa sadar mereka berdua telah terpisah begitu jauh, Zhou Fan yang lagi memeriksa sekitar, tanpa sadar berjalan terlalu jauh dari Qing Yuwei.
Sedangkan Qing Yuwei tidak sadar bahwa pria di depannya sudah tak terlihat lagi punggungnya. Gadis itu melangkah pelan, wajahnya terus menunduk, sampai ia tak sadar langkah kaki Zhou Fan tak lagi terdengar.
Setelah beberapa saat kemudian. Zhou Fan yang merasa gadis yang biasanya sangat berisik itu diam bagitu lama pun mulai merasakan keanehan.
"Wei'er?!" Zhou Fan memanggil nama gadis itu, tapi tak ada respon dari pemilik nama tersebut.
Zhou Fan berbalik dan matanya membulat ketika tidak menemukan siapapun dibelakangnya.
"Wei'er!" Panggil Zhou Fan sekali lagi.
Tapi seperti sebelumnya, tak ada balasan ataupun respon dari gadis itu.
Zhou Fan ingin melanjutkan mencari Qing Yuwei, tapi di satu sisi juga memikirkan kedaan sekitarnya yang menurutnya sedikit aneh. tanahnya begitu lembab, tapi tidak ada satupun tanaman yang dapat dilihatnya.
Zhou Fan berpikir, dia sedikit mendapati gambaran tentang kejadian ini. Dalam ingatannya yang pernah ia baca di kitab emperor, hanya satu penyebab tanah lembab tak terdapat tanaman tumbuh di atasnya.
Zhou Fan memutar kepalanya, mencari apa yang ada dalam pikirannya. Saat pandangan nya mendapatkan apa yang ia cari, matanya sedikit menyipit.
"Kubangan air," Gumam Zhou Fan. Lalu dengan cepat pemuda itu menuju ke arah kubangan tersebut.
Zhou Fan berjongkok di tepi kubangan air itu, Zhou Fan mengamati air di dalam kubangan tersebut sambil sesekali mencium aroma dari air tersebut, wajahnya seketika mengernyit.
"Memang benar...." Zhou Fan menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Cacing tanah!" Zhou Fan beralih ke sekitarannya, ternyata disekitarnya juga terdapat beberapa kubangan seperti yang ada di hadapannya.
Cacing tanah, sebenarnya lebih tepat jika di katakan sebagai ular. Cacing tanah memiliki tubuh yang panjangnya kurang lebih satu meter, dengan lebar tiga jari.