
"Nona, aku rasa kau berlebihan. Ini hanya sebuah kesalahan pahaman, kau tidak perlu membuatnya se-meriah ini." Zhou Fan mulai jengah dengan gadis di hadapannya.
"Diam!!" Gadis itu berteriak tepat di muka Zhou Fan, tangannya menunjuk Zhou Fan dengan marah.
Zhou Fan pun sedikit emosi, pemuda itu mengangkat tangannya, dan menggenggam tangan gadis dihadapannya dengan kuat.
"Nona, sebaiknya kau jangan keterlaluan." Zhou Fan dengan sekuat tenaga menahan amarahnya.
"Kenapa kau terlihat marah, disini akulah korbannya." Sarkah gadis itu seraya menarik tangannya.
"Cih!" Zhou Fan mendecih, lalu berbalik meninggalkan tempat itu dengan wajah kesal.
"Hei, kau. Kemana kau pergi?! urusan kita belum selesai!" Teriak gadis itu.
"Hng... " Zhou Fan mendengus, pemuda itu terus berjalan meninggalkan gadis itu untuk melihat lihat lantai dua.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, lalu mengikuti Zhou Fan. "Hei, aku berbicara kepadamu!"
Zhou Fan lagi lagi tidak menganggap keberadaan gadis itu. Dia lebih tertarik dengan koleksi pusat senjata.
Gadis itu semakin kesal, dia menepuk punggung Zhou fan dengan mengunakan sedikit tenaganya.
Pukk...
Zhou Fan menoleh, gadis itu memasang wajah kesal, dengan tangan bersendekap dan kaki mengetuk lantai pelan.
Tapi apa yang dilakukan Zhou Fan membuat gadis itu sekali lagi menghentakkan kakinya kuat ke lantai.
"Siapa yang menepuk punggungku?" Zhou Fan menoleh kebelakang, pemuda itu bersikap seolah tidak ada siapapun yang ada di belakangnya.
Zhou Fan mengangkat kedua bahunya, lalu kembali memutar tubuhnya. Tapi, baru berniat memutar tubuhnya gadis itu menendang kakinya.
Bruak...
Sebuah tendangan mengenai kaki Zhou Fan yang membuat pemuda itu sedikit terhuyung dan terjatuh ke belakang.
"A... Apa yang kau lakukan." Gadis itu gugup ketika Zhou Fan terjatuh menimpanya.
Zhou Fan menindih dengan sebelah tangan di samping wajah gadis itu, dia berusaha menahan berat badannya, agar tak menimpa gadis di bawahnya.
"Bukankah ini yang kau inginkan." Zhou Fan menatap lekat lekat gadis di bawah tubuhnya, pemuda itu juga mengeluarkan seringainya.
"Apa yang kau katakan?" Gadis itu mencerna ucapan Zhou Fan dengan sedikit lambat. "Aku tidak melakukannya dengan sengaja!"
"Ck" Zhou Fan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
__ADS_1
Semakin dekat, semakin dekat...
Apa yang ingin dia lakukan? Eh, si mesum ini terlihat tampan juga... Apa yang kau pikirkan Qing Yuwei! gadis itu terjerat dalam pemikirannya.
Semakin dekat.... Bahkan gadis itu terlihat pasrah, dan memejamkan matanya. Tapi saat jaraknya hanya beberapa centi, Zhou Fan berkata.
"Lihat! Kau begitu berharap..." Zhou Fan berdiri dan menepuk nepuk pakaiannya, membersihkan pakaiannya bagian depan dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Ap...apa!" Qing Yuwei tersadar dari lamunannya saat Zhou fan berkata.
"Aku memang tampan. Tapi aku tekankan kepadamu, aku...." Zhou Fan sengaja mengantung kalimatnya.
Qing Yuwei menaikkan alisnya, "Aku apa?!"
"Aku tidak tertarik dengan wanita setengah jadi." Zhou Fan berkata dengan tangan menutup bibirnya, seolah dia menahan untuk tidak tertawa.
Ucapan Zhou Fan berhasil membuat Qing Yuwei memelototkan matanya, "Siapa yang kau bilang wanita setengah jadi!"
"Aku ini wanita tulen, apakah matamu itu tidak berfungsi? Apakah seorang pria memiliki ini." Tanpa sadar Qing Yuwei menunjuk dadanya yang tidak terlalu besar.
"Itu apa?" Zhou Fan mendekatkan wajahnya, terlihat matanya berbinar, menatap penuh harap.
"Tentu sa...," Ucapannya terpotong, memandang Zhou fan, mengikuti kemana arah pandangan pemuda itu.
"..." Qing Yuwei dengan spontan melambaikan tangannya.
Qing Yuwei memberikan cap lima jari kepada Zhou Fan, pipi pemuda itu sampai berwarna merah dibuatnya.
"Apa yang kau lihat mesum!" Qing Yuwei menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya
"Cih! Apa yang mau dilihat," Gerutu Zhou Fan melirik ke arah dada Qing Yuwei, tangannya mengelus pipinya yang terasa sedikit panas.
"Apakah matamu mau aku congkel!" Qing Yuwei menatap tajam Zhou Fan.
"Sudahlah. Sekarang, kenapa kau mengikutiku nona." Zhou Fan mengibaskan tangannya.
"Siapa yang mengikutimu, kau terlalu percaya diri." Qing Yuwei mengangkat wajahnya, lalu berjalan meninggalkan Zhou Fan.
Zhou Fan memandang kepergian Qing Yuwei, mengedikkan bahunya kemudian kembali menyelusuri tempat tersebut.
Setelah lama berkeliling dan tak menemukan apa yang membuatnya tertarik, dia meninggalkan gedung pusat senjata.
Dua hari kemudian....
Zhou Fan kembali lagi ke gedung pusat senjata untuk mengambil senjata pesanannya.
__ADS_1
"Oh, anak muda, apakah kau kemari untuk mengambil pesananmu?" Tanya pria tua yang kebetulan adalah pria tua yang sama dengan saat pertama kali Zhou Fan ke gedung ini.
"Heem, apakah sudah selesai?" Zhou Fan mengangguk.
"Kebetulan sekali, senjata pesananmu baru saja selesai. Kau sebenarnya untuk apa, pisau terbang sebegitu banyaknya." Tanya pak tua sekali lagi.
"Hanya berjaga jaga, pemuda lemah sepertiku harus mempunyai rencana b untuk melindungi diri sendiri." Zhou Fan memasang wajah tak berdaya.
Meskipun sedikit kurang puas dengan jawaban yang di lontarkan Zhou Fan, pria tua itu tetap menuntun Zhou Fan ke arah tempat penyimpanan.
Pria tua itu mengambil sebuah kotak dari salah satu meja di sana, lalu menyerahkannya kepada Zhou Fan.
"Periksalah, seharusnya sesuai dengan yang kau pesan," Ucap pria tua itu.
Zhou Fan menerima kotak itu dan membukanya, ia mengambil cincin penyimpanan di dalamnya dan mengeluarkan isinya di dalam ruangan itu.
Tak lama berselang, keluarlah semua pisau terbang yang Zhou Fan pesan. Zhou Fan melihat tumpukan pisau terbang di hadapannya yang kurang lebih berjumlah 300 bilah, lalu menoleh ke arah pria tua dan mengangguk puas.
"Hem... terima ini, sesuai kesepakatan. Kau bisa menghitung nya," Ucap Zhou Fan saat melihat pria tua itu melihat kantong yang ia berikan.
"Tidak tidak, aku percaya. Kau tidak akan menipu kami." Pria tua itu berkata dengan cepat, dia merasa bersalah karena telah mencurigai pelanggannya.
Zhou Fan meninggalkan gedung pusat senjata, dan kembali ke penginapannya.
**...
Di sebuah ruangan, seorang wanita muda tengah tengkurap di ranjangnya, kedua tangannya ia tekuk dan dijadikan sebagai alas kepalanya.
Huuuff...
"Kenapa aku selalu memikirkannya." Qing Yuwei membenamkan wajah, selama beberapa hari terakhir dia selalu terbayang wajah pemuda 'mesum' yang dia temui beberapa hari lalu.
Qing Yuwei berguling, mencoba membalikkan posisinya, sekarang dia memandang langit langit ruangannya.
"Kalau di ingat, dia tampan juga..." Senyuman di wajahnya tanpa sadar terukir, membayangkan wajah Zhou Fan.
Sepersekian detik setelahnya, Qing Yuwei berubah kesal.
"Tapi dia sungguh menyebalkan, dan lagi dia sangat mesum, memang pantas aku memberikan sebutan mesum kepadanya," Gumam Qing Yuwei, mengingat tragedi beberapa hari lalu.
"Akh! Kenapa dia selalu muncul dalam pikiranku?!" Teriak Qing Yuwei gemas, dia mengusap wajahnya kasar.
"Bahkan aku tidak mengetahui siapa namanya, tapi dia sudah masuk dalam pikiranku." Qing Yuwei terus bermonolog, selayaknya orang tak waras dia terkadang teriak dan juga cekikikan.
"Entah kenapa aku berharap dapat bertemu dengannya," Gumam Qing Yuwei pelan.
__ADS_1
****