
"Khe Khe... Kau selalu berkata kubunuh kau kubunuh kau, tapi mengoyak pakaianku pun kau tak sanggup, entah apa yang ada di kepalamu, aku sungguh tak habis pikir denganmu." Zhou Fan menggeleng sembari menampilkan senyum remeh.
Mendapati balasan sengak dari Zhou Fan, Shang Qiu menjadi kalut, wajahnya menggelap, dengan sigap dia melesat, kembali menyerang Zhou Fan.
"Hyatt.."
Zhou Fan membentangkan pedangnya menyambut serangan Shang Qiu yang tengah dirundung emosi.
Sambil menangkis serangan Shang Qiu dia menggeleng, melihat begitu lebarnya celah yang di perlihatkan kepadanya.
"Meskipun kau emosi, tidak seharusnya kau membiarkan amarah menguasai pikiranmu." Zhou Fan bergumam dalam hatinya.
Swush... Swush..
Zhou Fan memutar pedangnya, angin semakin kencang disekitarnya membuat Shang Qiu mundur seketika.
Melihat lawannya melompat mundur Zhou Fan tersenyum, kemudian melompat menerjang Shang Qiu.
Shut!
Trang!
Tebasan pedang Zhou Fan bisa ditahan oleh Shang Qiu, tapi gerakan Zhou Fan tidak sampai disitu saja.
Pemuda itu mengait kaki pria tua dihadapannya, membuat Shang Qiu terpaksa melompat menghindarinya.
__ADS_1
Sambil melompat Shang Qiu menarik pedangnya, kemudian menebas ke mengincar kepala Zhou Fan.
Zhou Fan dengan sigap menunduk, membiarkan pedang melewati atas kepalanya.
Memanfaatkan Shang Qiu yang masih di udara, Zhou Fan yang menunduk melancarkan tinjunya,
Shang Qiu melotot kesal, dia tak sempat untuk menghindar, kumparan energi yang di kumpulkan di kepalanya tangannya menusuk telah perut pria tua itu.
Bugh!
Shang Qiu terpental kebelakang, seolah terbang dia terlempar melayang.
Zhou Fan tidak berniat melepaskannya, dia menghentakkan kakinya dan melesat memburu tubuh tak berdaya Shang Qiu.
Sret... Crebs!
Wajah Shang Lu pucat pasi, pedang di tangannya terjatuh, tangannya bergetar, tak sanggup menahan beban pedangnya.
Zhou Fan yang semula berdiri membelakangi Shang Lu, memutar tubuhnya, kemudian berjalan mendekati Shang Lu.
Di mata Shang Lu sosok Zhou Fan bagaikan malaikat pencabut nyawa, dengan pedang yang mengalir cairan berwarna merah, dan pakaian bernoda sama, membuat Zhou Fan begitu mengerikan.
Tepat di hadapan Shang Lu, Zhou Fan mengangkat pedangnya, menempatkannya di depan leher Shang Lu.
"Cepat pergi dan bawa tuan mudamu itu." Zhou Fan berkata dingin, dengusan nafasnya seolah pungutan waktu di telinga Shang lu.
__ADS_1
Dengan cepat Shang Lu bergerak ke arah tuan mudanya berada, memapahnya berdiri kemudian pergi dengan wajah masih pucat.
Zhou Fan duduk di kursi di dekatnya setelah kepergiaan kedua orang tersebut, memandang mayat Shang Qiu, kemudian menangkup wajahnya kasar.
Setelah merenung sesaat Zhou Fan kemudian beranjak dari duduknya, dia keluar melalui jendela.
Sebelum keluar, dia tidak lupa meninggalkan sekantong koin emas yang kira kira ada seribu koin emas di dalamnya.
Zhou Fan melesat menuju penginapan, tepat memasuki sebuah bangunan yang merupakan tempatnya menginap, dia disambut oleh beberapa pelayan
Sebelum naik ke ruangannya dia tidak lupa memesan makanan, dia berpesan untuk mengantarkan makannya ke ruangannya.
Acara makan yang seharusnya memuaskan harus kacau akibat datangnya tiga serangkai bangsawan Shang.
Memikirkan bangsawan Shang, Zhou Fan tersenyum kecut, membayangkan bagaimana reaksi Shang Yui saat pemuda itu terbangun dari pingsannya.
Mendapati tubuhnya terluka parah saja sudah merupakan kabar buruk baginya, di tambah dengan kematian paman dan juga ayahnya, membuat Zhou Fan sedikit prihatin.
Juga, jika Shang Yui mengetahui siapa yang membunuh ayahnya mungkin dia akan melihat Zhou Fan sebagai musuh abadinya.
Meskipun sedikit iba dangan kondisi yang akan di hadapi Shang Yui, tidak ada sedikitpun jejak penyesalan dalam wajahnya, bukan dia yang mencari masalah dengan keduanya, tapi mereka lah yang memaksanya.
Andai Zhou Fan belum sekuat sekarang, mungkin dialah yang akan terbunuh. Zhou Fan hanya mengikuti apa yang menurutnya benar, dia tidak peduli dengan pandangan orang kepadanya.
Hukum dunia mengatakan, kuat berkuasa, lemah tak dapat bicara.
__ADS_1
Jika kau kuat, kau akan memiliki kekuasaan, perkataanmu adalah hukum bagi lainnya, tapi jika kau lemah, kau ditakdirkan untuk ditindas, bahkan perkataannya tidak akan dianggap ada.