Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 113 : Ibu Kota, Kota Teratai


__ADS_3

Satu hari panjang telah berlalu!


Sekarang adalah waktunya Zhou Fan untuk melanjutkan perjalanannya.


"Fan, apakah harus secepat ini?" Qing Yuwei bertanya dengan wajah sedih.


"Dia sudah memiliki banyak sekali musuh di kota ini, jika dia berada di tempat yang sama untuk jangka waktu yang lama, akan memposisikan dirinya dalam bahaya." Qing Si menasehati putrinya.


Huft...


Qing Yuwei menghela nafas kecewa, tapi dia sadar itu dilakukan juga untuknya di masa depan.


"Baiklah, kau harus ingat kau sudah punya dua, jangan nambah lagi!" ancamnya kepada Zhou Fan.


Qing Si yang sudah mengetahui perihal tersebut hanya diam.


"Akan kuusahakan," ucap Zhou Fan bercanda.


"Apa kau bilang?!" Qing Yuwei menatap Zhou Fan tajam.


"Iya iya, istriku yang bawel..." Zhou Fan tanpa sadar mengucapkan 'istriku' yang membuat pipi Qing yuwei memerah.


"Awas saja jika kau melupakannya." Qing yuwei dengan cepat berlari masuk ke dalam.


Khe khe...


Zhou Fan terkekeh melihatnya, sedangkan Qing Si hanya mengelengkan kepalanya.


"Bocah, jaga dirimu!" Hanya itu yang bisa Qing Si ucapkan.


Zhou Fan tersenyum lalu memeluk ayah mertuanya, kemudian pergi memulai perjalanannya kembali.


.


.


.


Sekarang Zhou Fan berada di perbatasan Kota Kapur Putih dengan Kota Teratai, setelah melakukan perjalanan yang agak memakan waktu, akhir dia sampai di perbatasan.


Dengan pedang darah malam yang selalu menggantung di punggungnya, dia berjalan keluar kota dengan santai. Melewatkan penjagaan tanpa beban, karena memang dia tak melakukan kesalahan.


Tak lama setelah keluar dari Kota Kapur Putih, Zhou Fan sudah berada dalam pintu masuk Kota Teratai.


Antrian dengan cepat menyusut, karena tak ada biaya masuk, hanya terdapat pemeriksaan, dan itupun hanya memeriksa secara kasar, tidak seluruhnya diperiksa.


Zhou Fan tak mendapatkan pemeriksaan, selain dari penampilannya yang biasa saja, dia juga tidak membawa perbekalan seperti lainnya, karena dia menyimpan barangnya di dalam cincin penyimpanan. Dan penjaga penjaga tersebut hanya memeriksa barang yang terlihat dari luar.

__ADS_1


Zhou Fan sampai berpikir, apakah sebegitu yakin kota ini dengan keamanannya, sampai pemeriksaan tak dijalankan dengan teliti.


Tapi Zhou Fan tak mau ambil pusing, dia berjalan menyusuri jalanan yang tampak ramai.


Terlihat jelas, Kota Teratai merupakan kota paling maju dan padat di kekaisaran. Selain karena memang kota ini adalah ibukota, mungkin banyaknya sakte yang berdiri juga berperan dalam kasus ini.


Zhou Fan mengetahui kalau kota teratai terdapat begitu banyak sakte tentu dari Patriark Qing, hampir satu jam Patriark Qing bercerita tentang Kota Teratai kepadanya, saat dia mengungkapkan akan pergi ke Kota Teratai.


"Memang kota yang besar," gumam Zhou Fan sambil memerhatikan jiruk pikuk para pengguna jalan.


Zhou Fan menghampiri salah satu orang ditemuinya, "Permisi paman."


Orang tersebut yang merupakan pria tua, menoleh kearah Zhou Fan. Dia menelisik Zhou Fan dengan begitu detailnya.


"Ya anak muda? Adakah yang dapat pria tua ini bantu?" Pria tua itu bertanya.


"Paman, apakah kau tahu dimana gedung paviliun obat, aku kesulitan menemukannya." Zhou Fan berkata sopan.


"Kau hanya perlu lurus saja, saat kau menemui persimpangan ke dua kau ambillah yang kanan dan kau akan menemukannya disana."


"Apakah gedung paviliun obat ada disana?" tanya Zhou Fan meyakinkan.


Eh? Pria tua itu malam terkejut dengan pertanyaan Zhou Fan.


"Kau bilang tadi taman obat. Kenapa sekarang berganti paviliun obat?" Pria tua itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Apa?! Sekarang Zhou Fan yang berganti terkejut.


"Sial!" umpat Zhou Fan dalam hati, kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Setalah mencari begitu lama dan berkat bantuan beberapa orang, akhirnya dia sampai di sebuah bangunan bertuliskan paviliun obat di bagian depan.


**


Sementara di waktu yang sama dua wanita muda, berpakaian serba putih sedangkan lainnya berpakaian serba merah, tengah berlatih tanding menggunakan dua pedang yang sejenis.


"Kenapa kau terlihat tak fokus Lin'er?" tanya salah satu wanita muda yang tak lain adalah Rourou.


Wei Guanlin yang di tegur segera menghentikan latih tandingnya dan berjalan menuju kursi yang tak jauh dari tempat keduanya.


Rourou pun mengikuti Wei Guanlin, dan duduk disampingnya dengan wajah penasaran.


"Entahlah senior, aku tiba tiba kepikiran Fan gege, entah mengapa aku merasa ia akan segera datang." Wei Guanlin meraih tangan Rourou dan berkata dengan senang.


Rourou menyipitkan matanya, kemudian mengembalikannya dengan cepat.


"Apakah kau bagitu senang dia bisa datang?" tanya Rourou.

__ADS_1


Wei Guanlin menundukkan kepalanya, pipinya sudah merah, dia merasa malu dengan seniornya.


"Aku sudah menebaknya. Kau begitu mencintainya, tapi dia mencari wanita lain saat kau tidak disisinya." Rourou berkata sinis.


"Aku mengenalnya, dan aku percaya dengan perkataannya waktu itu." Wei Guanlin bersikukuh pada pendiriannya.


"Aku rasa kau sudah mencintainya terlalu dalam putri, apakah Kaisar akan membiarkan putrinya untuk menikahi seorang pria yang mempunyai wanita lain?" Rourou memperingati Wei Guanlin.


Wei Guanlin seketika memasang wajah sedih, dia tahu kepribadian ayahnya.


Memang wajar jika seorang kultivator ataupun bangsawan untuk mempunyai istri lebih dari satu, tapi Kaisar Wei tentu tidak akan dengan mudah melepas putrinya apalagi dengan seorang pria yang memiliki wanita lain disisinya.


"Aku akan meyakinkan ayah. Setidaknya aku harus berusaha," ucap Wei Guanlin penuh tekad.


"Terserah." Rourou mengedikkan bahunya, kemudian berdiri dan pergi.


"Semoga kau tak kecewa pada akhirnya," gumam Rourou pelan tanpa menoleh.


Tak lama kemudian, Wei Guanlin bangkit dan pergi menemui gurunya.


Dia memasuki sebuah ruangan, ia dapat melihat seorang wanita tua tengah duduk bersila.


"Guru!"


Wei Guanlin memberikan salam kepada wanita tua di hadapannya yang tak diragukan lagi adalah gurunya.


"Lin'er, kau sudah sudah berada di tingkat grand master bintang 3, kau mungkin adalah yang terbaik di generasimu," ucap Li Mei


Wei Guanlin tak menyela perkataan gurunya, meskipun dia tahu ada seorang yang mungkin lebih pantas dikatakan terbaik.


Dia diam karena merasa gurunya akan menyampaikan suatu yang penting.


"Turnamen antar sakte akan segera dilaksanakan, kau sebagai murid paling menonjol di sakte pedang suci harus memberikan tempat pertama untuk sakte kita," sambung Li Mei


Wei Guanlin diam sejenak, lalu membungkuk hormat kepada gurunya.


"Murid akan berusaha," ucapnya dengan tegas.


Wei Guanlin keluar dengan wajah lelah, dia kepikiran perkataan Rourou.


"Bagaimana jika ayah tak memberi kami restunya?" Wei Guanlin bertanya dalam hati.


Wei Guanlin merupakan anak yang berbakti kepada orang tuanya, sepeninggal ibunya atau permaisuri Wei belasan tahun yang lalu, dia hanya mempunyai Ayahnya sebagai sandarannya, dia sebenarnya memiliki kakak, tapi sang kakak selalu sibuk dengan urusannya, karena kakaknya merupakan putra mahkota.


Kaisar Wei menjadikan Wei Guanlin sebagai wanita yang tangguh, karena dia tidak ingin kejadian istrinya terulang kapada anaknya.


Oleh sebab itu Wei Guanlin tinggal di sakte pedang suci setalah berhasil berkultivasi untuk pertama kalinya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku lebih fokus dengan apa yang ada di depan mata." Wei Guanlin mengelengkan kepalanya kuat.


Dia berniat untuk fokus dengan turnamen antar sakte yang setahunya akan diadakan tidak lama lagi.


__ADS_2