
Sekarang adalah saat yang telah dinantikan oleh seluruh Kota Batu Hitam, meskipun bukan bagian dari mereka yang akan bertanding, mereka tetap terlihat antusias.
Seketika semua orang menjadi senyap, saat dua pemuda berjalan memasuki arena dari kedua sisi yang berbeda.
Beberapa saat kemudian suasana pun pecah setelah seseorang dari mereka mulai bertepuk tangan, tanpa di suruh semua orang ikut bertepuk tangan.
Zhou Han meninggikan dadanya melihat semua perhatian terpusat ke arahnya, atau lebih tepat ke arah dia dan Zhou Fan.
"Hahaha... di detik aku mengalahkannya, seluruh Kota Batu Hitam akan mengenal namaku, Zhou Han!" pemuda itu berteriak didalam hatinya sambil melirik Zhou Fan yang terlihat lebih santai.
Memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah memenangkan turnamen ini, membuat pemuda itu begitu bersemangat.
Zhou Han bahkan telah memikirkan pesta kemenangannya, ia memiliki keyakinan yang tinggi untuk menang, melihat lawannya adalah pemuda yang selama ini ia anggap sampah.
Zhou Han tidak tahu, sampah itu sekarang telah berevolusi menjadi suatu yang sangat 'mengerikan'.
Zhou Fan tetap tenang di tengah tatapan semua orang, terlihat pemuda itu sesekali bergumam sambil menunggu kapan pertarungan itu dimulai.
"Kenapa sangat lama?! apa harus aku sendiri yang memulainya?" Zhou Fan mencibir tuan kota dalam hati, yang seharusnya memulai pertandingannya malah sedang asik mengobrol.
"Ehem!!" Zhou Fan sengaja mengeraskan suaranya agar tuan kota mendengarnya.
Tuan kota berbalik dan melihat kedua peserta sudah berada di atas arena, dengan langkah terburu buru, tuan kota bergegas menghampiri keduanya yang terlihat sudah siap bertanding.
"Anak muda memang selalu tidak sabaran," Gerutu tuan kota setelah sampai di atas arena.
"Aku tidak bertanya, apakah kalian berdua siap. Siap tidak siap, aku akan memulainya." Tuan kota melirik ke kedua peserta.
"Saat koin ini terjatuh di lantai, kalian dapat memulainya setelah memastikan tidak ada pergerakan dari koin ini..." tuan kota menunjukkan sebuah koin di tangannya.
Mendengar hal itu, Zhou Fan mengeluarkan pedang rank masternya. Begitupun Zhou Han yang telah berdiri dengan pedang di tangannya.
Tak...
Dengan menggunakan sebuah koin, tuan kota memulai pertandingan itu. Koin itu belum berhenti menggelinding, oleh sebab itu Zhou Fan dan Zhuo Han belum bergeming dari posisinya.
Bukan hanya kedua peserta babak final yang tegang memerhatikan koin yang sedang menggelinding itu, tapi semua orang yang ada disana ikut tegang.
Tink...
Hening pun tercipta beberapa saat, ketika koin itu akhirnya diam setelah menggelinding beberapa meter.
Zhou Fan dan Zhou Han saling tatap, kemudian mereka berdua mulai melesat sambil membawa pedang di masing masing tangannya.
Zhou Fan menebaskan pedangnya secara vertikal, tetapi dengan pedang di tangannya Zhou Han menahannya.
Meskipun fisiknya tidak sebesar Zhou Han, kekuatan fisik Zhou Fan lebih besar dari lawannya itu.
Merasakan tekanan besar pada pedangnya, Zhou Han menghempaskan pedang Zhou Fan ke samping, sedangkan dirinya melompat ke arah samping lainnya.
__ADS_1
Zhou Fan pun mengambil jarak setelah serangannya berhasil dihadang.
"Ternyata 40 persen saja tidak cukup, aku akan menambah sedikit kekuatanku," Batin pemuda itu.
"Sial! bagaimana bisa dia mengeluarkan serangan yang dapat membuat tanganku gemetar." Zhou hanya melihat tangannya yang kini terlihat sedikit gemetar setelah menahan serangan Zhou Fan.
"Aku tak percaya akan kalah darimu, akan aku tunjukkan semua kemampuanku, " Gumam pemuda itu lagi.
Dengan tangan sedikit gemetar, Zhou Han berniat membalas serangan Zhou Fan.
Pemuda itu mengambil kuda kuda dan mengeluarkan teknik pedang sembilan pedang yang selama ini selalu ia bangga banggakan.
Zhou Fan diam, bahkan tak bergeming sedikitpun setelah melihat lawannya bersiap menyerangnya.
"Kenapa pemuda itu hanya diam, apakah dia menyerah begitu saja?" Beberapa orang yang tidak mengetahui kekuatan Zhou Fan mulai bertanya apa yang dilakukan pemuda itu.
"Tidak mungkin! kau pasti tidak melihat bagaimana pemuda itu bertarung sebelumnya." yang sudah melihat secara langsung Zhou Fan bertanding pun ikut nimbrung di dalamnya.
"Dia adalah jenius pedang sejati, bahkan patriark Shui mengakui kemampuan pedangnya," Ucapnya lagi.
Mendengar nama Patriark Shui, semua orang itu tercengang. Di kota batu hitam tidak ada yang dapat menandingi kemampuannya, wajar jika mereka terkejut mendengar patriark mengakui kemampuan pedang orang lain.
Zhou Fan memang diam, tapi ia tidak mengurangi kewaspadaan nya.
"Aarghh...." Zhou Han cepat sambil mengeluarkan tekniknya.
Meskipun begitu, Zhou Fan diam tak merespon, seakan akan semua indranya telah terkunci.
Tetapi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pemuda itu menyingkirkan keraguannya.
"Persetan! aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerangnya," Putus Zhou Han dalam hatinya.
Semua orang yang melihat Zhou Fan masih terdiam pun mulai berpikir, Zhou Han lah yang akan mendapatkan tempat pertama.
Saat Zhou Han merasa dirinya telah memenangkan pertarungan itu, ia harus membelalakkan matanya.
Trang...
Sebuah pedang memaksa pedang pemuda itu berhenti saat hanya tersisa beberapa jengkal dari tubuh Zhou Fan.
"Masih terlalu awal..," Gumam Zhou Fan.
Bughhh...
Zhou fan memberikan pukulan telak tepat mengenai perut Zhou Han, pemuda itu pun hanya bisa pasrah menerima pukulan di perutnya.
Uhuk....
Zhou Han berdiri, mengelap sudut bibirnya yang kini digenangi darah yang terus keluar dengan derasnya.
__ADS_1
Zhou Fan masih menahan pukulannya, sehingga Zhou Han tidak mendapatkan luka yang terlalu serius.
Jika mengunakan kekuatan penuhnya Zhou Fan tidak yakin pemuda dihadapannya itu akan masih terus bernafas.
Meskipun sudah terluka, Zhou Han tidak menyerah. Pemuda itu tidak dapat menerima kekalahan, terutama kekalahan ini di berikan oleh orang yang selalu ia anggap sampah.
Kalah dari seorang sampah, bukankah berarti lebih buruk dari sampah?, pikir pemuda itu.
"Sial! andai saja dapat mengkonsumsi pill," Gumam Zhou Han, ia merasa yakin mengalahkan Zhou Fan, andai tidak ada peraturan yang melarang mengkonsumsi pill saat pertarungan.
Jika Zhou Fan tahu apa yang sedang dipikirkan lawannya saat ini, mungkin dia akan melempari pemuda itu dengan pill pemulihan.
Pill pemulihannya sudah menggunung di dalam cincin penyimpanannya, ia sampai tidak dapat memperkirakan jumlahnya.
Karena Zhou Fan yakin, pemuda di hadapannya tak akan bisa mengalahkannya, bahkan jika di berikan beberapa celah sekalipun.
Zhou Han berpikir bagaimana mengalahkan Zhou Fan, setelah beberapa pertukaran dengan pemuda itu, ia sadar dari segi apapun dia berada di bawahnya.
"Apa aku akan kalah dari sampah ini?" Zhou Han mulai ragu dapat mengalahkan Zhou Fan.
Mengetahui pemuda dihadapannya meliriknya, Zhou Fan menyarungkan pedangnya. "Kau dapat menyerah sekarang,"
Meskipun Zhou Fan mengatakannya dengan nada yang santai, tetap merupakan suatu penghinaan bagi Zhou Han.
Pemuda itu merasa ia tidak butuh dikasihani oleh orang seperti Zhou Fan.
Zhou Han menatap tajam Zhou Fan, dia mengambil pedangnya yang sempat terlepas dari tangannya.
"Singkirkan omong kosongmu, aku tak akan menyerah selama aku masih bisa berdiri!" teriak Zhou Han yang membuat Zhou Fan mendengus kesal.
Zhou han maju menerjang Zhou Fan, tapi pemuda itu justru terpental karena Zhou Fan memberikan pukulan telak kepadanya.
Bugh... Brukkk....
Zhou han terduduk di lantai arena dengan darah yang terus mengalir dari sudut bibirnya.
Zhou Han kembali berdiri, lalu mengulangi langkah yang sama dan akhirnya mendapat akibat yang sama.
Bugh... Brukkk...
Sungguh bodoh, pikir Zhou Fan.
"Menyerah?" tanya Zhou Fan.
Zhou Han hanya diam tak bersuara, terlihat keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.
Karena Zhou Fan menggunakan auranya untuk menekan Zhou Han.
Tiba tiba Sebuah suara terdengar nyaring dari tempat duduk penonton, membuat semua orang terfokus kepada pemilik suara.
__ADS_1
"Sudah cukup Zhou Fan!"