
Zhou Fan mengangguk, menurut pandangannya, perkataan pria tua di hadapannya sangat masuk akal, tidak mungkin tanpa sebab lebah itu menghuni suatu desa yang letaknya jauh dari habitat aslinya.
"Kakek, lalu kenapa kau tidak meninggalkan desa ini dan pergi ke desa lain?" Itu adalah satu pertanyaan besar yang selalu mengambang dalam pikiran Zhou Fan.
"Itu karena desa ini terlalu berharga bagiku, walau aku harus mati, aku akan mati di desa ini." Kakek itu berkata dengan wajah sedu, seolah mengingat kenangan yang amat berharga baginya.
Zhou Fan tak membantah atau mencoba membujuk, dia hendak melakukan cepat, dia berpikir dengan kecepatannya akan mudah melewati desa tanpa perlu berhadapan dengan kawanan lebah yang bersarang di tiap bangunan.
Namun, baru satu langkah dia bergerak dengungan terdengar semakin kencang, pria tua itu seketika berwajah pucat.
"Mereka telah menyadari kita, sebaiknya kita bersembunyi." Kakek itu dengan cepat pergi dan bersembunyi.
Zhou Fan hendak menyusul, tapi kawanan lebah itu telah mengepungnya dari segala arah.
Mata Zhou Fan tak berkedip, ratusan bahkan ribuan lebah terbang berkerumun, meskipun ukurannya hanya seujung ibu jari, tidak menghilangkan julukan yang tertera pada mereka, menyeramkan.
Zhou Jim tak hentinya mengeram, serigala itu terus memandang bangunan yang dari tadi membuatnya gelisah.
Zhou Fan sebenarnya penasaran apa yang membuat serigalanya begitu gelisah, tapi ia harus memusatkan perhatian kepada kawanan lebah terlebih dahulu.
Ngung.... Ngung...
Dengungan semakin menggelora, mereka bergerak layaknya gelombang pasang yang siap siap akan menerjang.
Wush...
Kawanan lebah maju dengan seksama, Zhou Fan spontan mengambil langkah ke samping.
Zhou Jim yang masih di sana berjingkrak seolah kesurupan, dari mulutnya keluar geraman juga lolongan. Terlihat jelas serigala itu sangat risih dengan kawanan lebah yang mengerumuninya.
Melihat hal itu Zhou Fan mengeluarkan pedang darah malam, dengan sekali ayunan kobaran api menyambar kawanan lebah.
Berm...
Lebah itu seketika berhamburan, tapi langsung menyatu dan menghadap Zhou Fan. Seolah mengerti siapa yang menyerang mereka, semua lebah itu memasang posisi akan menusuk.
Ngung...
Lebah lebah menyerang Zhou Fan berkelompok, pemuda itu lantas mengeluarkan teknik dewa pedang, kobaran api mengelilinginya dan menghalangi kawanan lebah untuk menyerang.
Lebah itu mundur seolah tengah menilai situasi, Zhou Fan menarik sudut bibirnya, merasa berhasil menekan kawanan lebah.
Namun, kawanan lebah seolah tak peduli dengan kobaran api yang kian membesar, mereka menerobos masuk meski tubuh mereka harus terpanggang.
Ck...
__ADS_1
Zhou Fan berdecak kesal, dia mempererat gagang pedangnya, dan menari dengan sempurna.
Tak ayal lebah lebah itu terjatuh begitu masuk ke dalam pusaran api. Zhou Fan berhenti ketika tidak lagi melihat kawanan lebah yang akan menyerangnya.
Zhou Fan beralih ke Zhou Jim, serigala itu terlihat buruk dengan benjolan di beberapa bagian tubuhnya. Tapi dia masih bisa berdiri tegak di tengah mayat lebah yang berhasil dia bunuh.
Bruk...
Padahal baru saja serigala itu terlihat gagah, tapi sejenak saja langsung ambruk.
Zhou Fan menghampiri Zhou Jim, dia memeriksa tubuh serigala yang saat ini berukuran tak lebih kecil darinya.
"Dia terkena racun." Zhou Fan bergumam dengan wajah mengernyit.
"Telan." Zhou Fan mengeluarkan pill pemulihan, dia berharap pill pemulihan dapat menghambat racun yang sudah bersarang di tubuh Zhou Jim.
Serigala itu dengan patuh menelan pill pemulihan yang disodorkan kepadanya.
Perlahan serigala itu terlihat lebih baik, tapi belum juga memperlihatkan kesembuhan dari racun.
Bagh!
Zhou Fan menghantam tanah keras, tak peduli lagi tangannya terluka karena kuku sendiri.
"Aku akan mencari orang dibalik ini semua." Zhou Fan berkata dengan wajah merah, bukan karena tersipu, tapi amarah yang teramat memuncak.
Zhou Fan lantas menengadahkan kepala, dia lalu berdiri dengan ekspresi penuh dendam. "Aku kira akan sangat sulit membuatmu keluar."
"Aku tidak akan hanya diam, menyaksikan temanku kau bantai." Sosok berjubah hitam dengan tudung berdiri dengan begitu banyak lebah di belakangnya.
Suara riuh lebah itu sungguh membuat orang merinding, meskipun merupakan beast tingkat tiga, tapi jumlahnya yang mencapai ribuan membuat tak mudah untuk mengalahkannya.
"Kenapa kau membuat kekacauan di desa ini?" Zhou Fan masih begitu penasaran dengan alasan 'mengapa'.
"Karena aku ingin!" Sosok berjubah hitam mengangkat tangannya, bersamaan dengan itu lebah di belakangnya membentuk pusaran besar.
"Dan aku sangat membenci orang yang ikut campur urusanku!" Sosok berjubah hitam menurunkan tangannya dengan hentakan tegas.
Ribuan lebah itu langsung bergerak ke arah Zhou Fan. Pemuda itu menoleh ke belakang, di sana tergeletak Zhou Jim yang masih belum juga sadar.
Wush...
Zhou Fan melesat dan meraih Zhou Jim, dia lalu menempatkan Zhou Jim di tempat yang agak jauh lalu melesat ke arah pusaran lebah.
"Tebasan ganda!"
__ADS_1
Zhou Fan menfokuskan tanaga dalamnya, dengan pedang yang dia genggam menggunakan dua tangan, dia menebas tegak lurus dua kali.
Siluet tebasan bergerak meluncur dengan kecepatan tinggi, di lain arah pusaran lebah juga bergerak cepat.
Blar!
Keduanya bertabrakan, lebah lebah itu langsung berhamburan, beberapa diantaranya terjatuh dan mati.
"Sialan!" Sosok berjubah hitam kembali mengangkat tangannya, tangan kanan lalu terbuka dan melambai di udara.
Seolah mengerti, lebah lebah itu kembali berkumpul, tidak hanya berkumpul, mereka membentuk dua koloni. Satu berbentuk tangan sementara yang lain membentuk pedang.
Zhou Fan membuka mata lebar, tak dia sangka hal seperti itu dapat dilakukan.
Sosok berjubah hitam menggerakkan tangan layaknya menggenggam pedang, dia seolah tengah memperagakan sebuah teknik bertarung.
Zhou Fan yang semula fokus terhadap sosok berjubah hitam, melompat menjauh karena lebah lebah itu bergerak sesuai yang diperagakan tuannya.
Zhou Fan menyerang dengan teknik dewa pedang, tapi terdapat kesulitan tersendiri saat melawan kawanan lebah. Lebah akan menyebar saat pedang darah malam akan menebas, tapi sewaktu waktu bisa mengeras dan membuat tubuh Zhou Fan terluka.
Beruntung tidak terdapat racun yang berhasil masuk ke dalam tubuh, atau dia tidak lagi mempunyai waktu untuk melawan.
Zhou Fan mengambil jarak, dia menyadari bahwa dia tidak akan bisa menang jika hal ini terus berlanjut.
"Dia selalu menjaga jarak dariku, sementara lebahnya selalu menekan dan terus menyerang. Jika aku bisa mengunci gerakannya tentu akan ada kemungkinan untuk menang." Zhou Fan membatin sambil memperhatikan lawan yang seolah tengah memberikan waktu dia untuk berpikir.
Zhou Fan terus berpikir bagaimana caranya agar bisa mendekati pengendali lebah. Otaknya tak pernah berhenti berputar, tapi lawan tak sesabar yang terlihat.
"Tidak ada jalan selain kematian, sudah cukup waktu bersenang-senangnya!" Sosok berjubah hitam menyatukan tangan membentuk kepalan, bersamaan dengan itu lebah kembali menyatu.
"Katakan saja bahwa kau sedang sial karena bertemu denganku, jika kau menyesal, maka maaf kau tidak mempunyai kesempatan untuk mengulang!" Sosok berjubah hitam meregangkan tangan, lalu membantuk dua buah cakar.
Lebah lebah itu juga menirukan, cakar besar tercipta di atas kepalanya.
"Selamat Tinggal!"
Blam!
Tempat Zhou Fan berdiri hancur tertindih cakar lebah, tanah berlubang bahkan berhamburan.
"Tenang lah di alam sana." Sosok berjubah hitam mengangkat kedua tangannya, mengikuti gerakan tangan lebah lebah itu menyebar dan kembali ke belakang tuannya.
Asap masih mengepul di sekitar, sosok berjubah hitam berbalik, ia sangat yakin bahwa lawannya telah tiada.
Namun, gerakannya terhenti dan matanya melotot seakan hendak melompat keluar.
__ADS_1
Seorang pemuda keluar dari kepulan debu yang masih berputar, di bahunya sudah ada pedang yang memancarkan aura mencekam.
"Pertarungan baru saja dimulai!"