Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 241 : Perjalanan Air


__ADS_3

Tubuh Rogue yang masih dalam keadaan duduk berkultivasi, mengeluarkan pancaran energi yang semakin kuat. Nampak semakin jelas, air mukanya berubah.


Zhou Fan yang melihat tidak bisa mengganggu, dia hanya menyaksikan sambil tersenyum puas.


Sejurus kemudian, Rogue membuka mata, bersamaan dengan itu kultivasi nya meningkat satu tingkat lagi.


Rogue berdiri, begitu melihat Zhou Fan di sampingnya dia spontan menghamburkan dirinya ke pelukan pemuda itu.


"Terimakasih," ucap Rogue dengan suara lirih.


Sekarang dia sungguh merasakan apa yang selama ini ia harapkan, mendapatkan kakak seperti Zhou Fan merupakan anugrah baginya.


"Tidak perlu berterima kasih, kau adalah adikku, sudah seharusnya aku melakukan itu." Zhou Fan membelai rambut panjang Rogue.


Rogue mengangguk, meski dia tahu Zhou Fan tidak mengerti maksud terima kasihnya. Bukan untuk pill yang dia berikan, melainkan rasa nyaman itu sendiri.


Hari demi hari bahkan minggu berlalu begitu cepat, selama kurun waktu tersebut, Zhou Fan tidak beranjak dari rumah makan.


Dia juga sangat jarang keluar ruangan, hanya menunggu Rogue berkultivasi. Namun terkadang, dia keluar saat ingin merasakan makanan yang tidak disajikan rumah makan tersebut.


"Kapan kita melanjutkan perjalanan, bukankah kakak memiliki tujuan dalam perjalanan?" Rogue bertanya sambil mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


Zhou Fan yang berada di dekat jendela, menengok lalu mengangguk.


"Sebenarnya aku sangat penasaran." Rogue berkata lirih, wajahnya menunduk menampakkan keraguan.


Zhou Fan yang melihat hal itu mendekat, lalu duduk di sampingnya. "Katakan saja, kenapa harus sungkan."


Rogue mengangkat wajahnya, benar yang dikatakan Zhou Fan, tidak seharusnya dia bersikap demikian. Itu hanya akan membuat kakaknya merasa bersalah.


"Kemana tujuanmu, kakak?"


Zhou Fan melepaskan dekapan yang sebelumnya dia lingkar ke pundak gadis itu, dia lalu berdiri membelakangi Rogue.


Rogue sudah berwajah cemas, dia khawatir perkataannya membuat Zhou Fan keberatan. Namun yang terjadi malah sebaliknya, benar benar tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Menjemput seseorang." Zhou Fan menjawab dengan tersenyum, dia kembali mengingat Wei Guanlin, pasti dia tengah menunggu kedatangannya.


Rogue mangut mangut, dia berpikir pasti sosok tersebut sangat penting bagi Zhou Fan. Sampai mengatakannya dengan senyum yang begitu tulus.


...


"Penyelamat, apakah kalian berdua sungguh akan pergi?" Kepala Desa datang dengan pria tua di sampingnya, pria tua itu tak lain dan tak bukan adalah Kepala Hao.


"Kami sudah terlalu lama merepotkan tuan kepala desa, tidak mungkin kami akan terus melakukan itu." Zhou Fan tersenyum ramah sambil mencoba menyampaikan maksudnya.


"Tidak tidak..." Kepala desa menggoyangkan tangan dengan cepat, kepalanya juga menggeleng mencoba menepis pernyataan Zhou Fan.


"Bagaimana bisa dikatakan merepotkan, sungguh tidak sama sekali. Meskipun lebih lama, kami akan menyambut dengan senang." Kepala desa berkata dengan nada yakin, jakun keringnya naik turun bersamaan dengan suara tawanya.


"Baiklah, kami mohon pamit terlebih dahulu." Zhou Fan menangkup tangan lalu berbalik pergi, diikuti Rogue yang juga melakukan apa yang Zhou Fan lakukan.


Zhou Jim tak mau ketinggalan, dia menggoyangkan kepala dan ekor lalu melesat menyusul Zhou Fan dan juga Rogue.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu, Zhou Fan sampai di perbatasan Kota Quan dengan Kota Xiyu.


Di depan sudah terlihat dermaga sederhana, tapi tetap saja ramai akan aktivitas orang berlalu lalang.


Kapal kapal berjajar rapi, menaikkan penumpang yang akan melakukan perjalanan. Terlihat juga beberapa kapal yang baru singgah membawa puluhan bahkan ratusan orang di atasnya.


Di pinggir dermaga, terdapat orang mendirikan sebuah tempat untuk berdagang. Dan itu membuat dermaga semakin ramai.


Tak sengaja mata Zhou Fan menangkap seorang pria tua duduk di salah satu jajaran pedagang dengan keranjang di tangan.


Zhou Fan lebih memperhatikan pria tua itu, dengan sebuah tongkat di tangan lainnya, dia membuka suara menjajakan dagangan yang jika tidak salah dengar adalah roti kering.


Zhou Fan menyenggol bahu Rogue, dia lalu memberi isyarat agar gadis itu diam di sana beberapa waktu.


Mendapati anggukan, Zhou Fan lantas pergi ke tempat pria tua penjual roti kering.


"Permisi kakek?" Zhou Fan mengeluarkan koin emasnya yang masih terbalut kain.

__ADS_1


"Ya?" Kakek itu berkata dengan suara lemah, membuat Zhou Fan semakin prihatin.


"Kakek, aku ingin membeli roti keringnya. Beri aku tiga." Pria tua itu mengangkat wajahnya, dia lalu mengambil daun yang menggantung di keranjang dan menjadikannya sebagai alat untuk membungkus.


"Satu koin emas." Kakek itu memberikan tiga bungkus roti kering kepada Zhou Fan.


Zhou Fan menerimanya, sambil tangan kanannya memberikan koin emas sesuai yang dikatakan. Dia tidak mau memberikan koin emas lebih karena merasa pria tua itu tidak akan menerimanya.


Dilihat saja semua orang pasti tahu tekad pria tua itu amat sangat tinggi, di umurnya yang terbilang senja tidak membuatnya mengemis kepada orang lain, melainkan berusaha dengan kemampuannya.


Bagi orang sepertinya, pertolongan percuma yang diberikan oleh orang lain malah membuatnya merasa direndahkan. Menjadikan hal itu sebagai pertimbangan Zhou Fan tidak melebihkan harga yang dia keluarkan.


Zhou Fan membuka salah satu bungkus roti kering, dia lalu memakannya perlahan. Bentuknya yang memanjang sekitar satu jengkal dengan ruas sebesar dua ibu jari, membuat roti kering yang rasanya gurih dan manis itu tidak bisa masuk sekali lahap.


"Hem..." Zhou Fan menikmati rasa dari roti kering yang sarat akan kenangan.


Zhou Fan memejamkan mata, mengingat kenangan yang berhubungan dengan roti kering.


Jelas dalam ingatannya, roti kering adalah senjata ayahnya saat mencoba membujuk dirinya. Di saat dia sedih akan ketidakbergunaannya saat itu, ayahnya selalu membujuk dengan membawakan dia roti kering.


Mungkin beberapa orang akan menganggapnya terlalu berlebihan, karena itu hanya sebuah roti kering, makanan sederhana yang biasa dijajakan di pinggiran pasar.


Namun, bagi Zhou Fan itu adalah bentuk kasih sayang dan dukungan ayahnya kepadanya. Dan hal itu tidak dapat diukur dari berapa biaya yang dikeluarkan, melainkan dari siapa itu diberikan.


"Kakek, berikan aku enam lagi." Zhou Fan menyimpan dua roti kering yang masih tersisa, sementara kakek tua didepannya sibuk membungkus pesanan Zhou Fan.


Setelah mendapatkan pesanannya dan membayar harga sebesar dua koin emas, Zhou Fan kembali ke tempat dia meninggalkan Rogue sendirian. Meskipun sebenarnya Zhou Jim juga bersama gadis itu.


"Kapal terakhir akan segera berangkat." Rogue melirik Zhou Fan yang baru saja datang, telunjuknya mengarah ke sebuah kapal yang berdiri tanpa kawan.


"Aku sudah selesai, ayo kita naik." Zhou Fan berjalan santai menuju kapal yang sebentar lagi akan lepas landas.


Rogue mengikuti satu langkah di belakang Zhou Fan, sedang Zhou Jim berada tepat disebelah kanan gadis itu.


Menaiki kapal, beberapa orang memandangnya. Zhou Fan yang mendapati tatapan seperti itu balik memandang mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kenapa melihatku?"


__ADS_2