Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 214 : Terluka


__ADS_3

Setelah kepergian Xiao LingYun, Zhou Fan dengan cepat merebahkan tubuhnya di samping Zhou Jim.


Namun, baru saja dia meletakkan tubuhnya, punggungnya terasa sakit, seolah tertusuk sesuatu dari dalam pakaiannya.


Zhou Fan pun merogohnya, dan mendapatkan sesuatu di sana. Dengan spontan dia menarik tangannya, sebuah cincin penyimpanan yang entah milik siapa.


Dahi Zhou Fan menyipit, matanya meneliti cincin dalam japitan jarinya.


"Cincin penyimpanan siapa?" batin Zhou Fan.


"Apakah ini milik gadis itu," pikir Zhou Fan, karena hanya putri tuan kota tersebut yang terakhir berinteraksi dengannya.


Zhou Fan kemudian mengingat dimana saat dia mengurung Xiao LingYun dengan kedua tangannya, saat itu Xiao LingYun dengan sekuat tenaga mendorong Zhou Fan sambil memukul bahu serta perut Zhou Fan.


"Mungkin saat dia menarik tangannya, tanpa sengaja cincinnya terlepas," gumam Zhou Fan.


"Sebaiknya aku kembalikan kepadanya." Zhou Fan merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan akibat ulahnya sendiri.


Saat akan berdiri sebuah teriakan marah menggelegar memekakkan telinga.


"Sialan! Apa yang sudah kau lakukan terhadap putriku!"


Buagh!


Zhou Fan yang belum siap langsung terpental menabrak dinding.


Zhou Fan mengangkat kepalanya, mendapati tuan kota berdiri dengan wajah penuh amarah.


Zhou Jim yang semula tertidur lantas melompat dengan nyawa yang masih belum terkumpul.


Auk!


Kedua pria berbeda usia menatap serigala kecil dengan pandangan aneh.


"Tuanmu ada di sana serigala bodoh!" Tuan kota menendang Zhou Jim ke arah Zhou Fan.


"Apakah anda salah orang, tuan kota?" tanya Zhou Fan dengan senyum kaku, dia tak berniat menunjukkan kekuatannya, setidaknya jika tuan kota tidak serius menghadapinya.


"Tidak!" jawab singkat tuan kota dengan suara tegas.


Zhou Fan mengerutkan kening, tangan kanannya yang masih memegang cincin Xiao LingYun tak sengaja terangkat dan menggaruk pelipisnya.


Mata tuan kota semakin memerah, dugaannya diperkuat dengan bukti berupa cincin putrinya.


"Keparat!"


Bruk...


Zhou Fan terjatuh dengan tuan kota berada di atas tubuhnya.


"Apa yang sudah kau lakukan terhadap putriku?!" sergah tuan kota.


Srak!


Tangan tuan kota merampas cincin putrinya dari tangan Zhou Fan.


"Jangan mengelak! Bukti sudah sangat jelas ... Katakan, atau aku akan membunuhmu!" Tuan kita menunjukkan cincin yang sudah berada di tangannya.

__ADS_1


"Sial, kenapa pak tua ini datang diwaktu yang sangat tepat," ucap Zhou Fan mengutuk nasibnya.


"Pasti pak tua ini melihat anaknya keluar dari ruanganku, dan melihat cincin putrinya ditanganku." Zhou Fan menebak apa yang ada di kepala tuan kota. Bahkan jika orang bijak pun akan berpikir hal serupa.


"Apakah kau akan bungkam?!" ancam tuan kita dengan pedang mengkilat di tangannya.


"Apakah anda akan percaya jika aku mengatakan ini hanya kesalah pahaman?" ujar Zhou Fan dengan tersenyum canggung.


"Kesalahpahaman?!" tuan kota mengernyitkan dahinya, menatap Zhou Fan semakin dalam. Kemudian melanjutkan perkataannya. "Apakah kau pikir aku orang bodoh?!"


"Anda jangan bertindak keterlaluan, tidak ada bukti jika saya menindas putri anda!" ucap Zhou Fan tak terima.


"Aku adalah bukti, selama aku hidup tidak akan ada yang dapat memperlakukan putriku dengan buruk!"


Blar!


Selepas tuan kota berkata, tubuhnya terlempar dengan pakaian terkoyak.


Heheh...


"Ternyata kau punya kemampuan, pantas saja kau sangat tenang, tapi apakah kau pikir tuan kota ini bisa dikalahkan begitu mudah?"


Shut...


Tuan kota Xiao Tang melesat dengan pedang di tangannya, Zhou Fan yang semula tak ingin bertarung terpaksa harus mengeluarkan kemampuannya.


Trang...


Kedua pedang beradu, sedang tuan kota menatap Zhou Fan tak percaya.


Keduanya kemudian kembali melesat, tuan kota langsung mengeluarkan teknik pedang miliknya, membuat Zhou Fan terpaksa dalam kondisi bertahan.


Zhou Fan tak akan lolos jika tak mengeluarkan seluruh kemampuannya, dia mulai menggerakkan tangan serta pedang darah malam.


Teknik dewa pedang terasa tirani bagi lawan, termasuk tuan kita yang masih dalam keadaan menyerang, keduanya melancarkan serangan, tidak ada yang dalam posisi bertahan.


Ruangan yang agak jauh dari ruangan lain membuat pertarungan tak mudah didengar orang, apalagi ruangan Zhou Fan berada di paling ujung kediaman tuan kota.


Prang...


Pedang keduanya terus beradu, walau dalam kekuatan tuan kota unggul, dia tidak bisa mengalahkan Zhou Fan, dia pun mudur sambil mengatur nafas yang sudah memburu.


Tuan kota lalu mengeluarkan siulan, tak lama seorang pria tua datang dari atas dengan pakaian hitam.


"Khu Tao, serang dia!" Tuan kota menunjuk Zhou Fan yang masih memegang pedang darah malam.


Ekspresi Zhou Fan memburuk saat tidak bisa merasakan kekuatan pria tua yang dipanggil Khu Tao.


"Apakah kau akan kabur? Tidak mungkin!" Khu Tao menggerakkan tangannya, perlahan sebuah kubus samar terbuat mengurung dirinya dan juga Zhou Fan.


"Sial, dia petarung kaisar!" batin Zhou Fan, ekspresinya benar benar berubah memburuk sempurna.


Semua orang tahu, jika hanya petarung tingkat kaisar ke atas yang bisa membuat formasi. Jelas pria tua ini merupakan petarung kaisar, karena melihat kubus samar yang merupakan formasi yang dia buat.


"Akui kesalahanmu dan berlutut sekarang juga!" ucap Khu Tao seraya mengeluarkan aura tingkat petarung kaisar.


Zhou Fan mengangkat pedang darah malam dengan kedua tangan, meskipun dia mati, pantang baginya untuk berlutut di hadapan sembarangan orang.

__ADS_1


Hyat!


Shing....


Bust!


Zhou Fan mengeluarkan jurus tebasan ganda, tapi dapat dengan mudah dihalau. Hanya dengan melambaikan senjatanya yang berupa golok, dia menghapus siluet tebasan yang mengarah ke arahnya.


Zhou Fan melompat dengan tekad kuat, dia akan melawan pria bernama Khu Tao, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.


Trang...


Sekali gerakan Khu Tao berhasil membuat Zhou Fan mundur, pedang darah malam di tangan Zhou Fan mulai bercahaya, tapi kekuatannya tak cukup untuk melawan petarung kaisar.


Zhou Fan terus melompat menyerang, tapi berakhir dengan dirinya yang terlempar menabrak formasi, suara pertarungan hanya berputar di dalam kubus samar.


Bruak!


Kali ini Zhou Fan terlempar tapi masih dalam keadaaan berdiri.


"Hentikan ayah!"


Tuan kota menoleh ke arah belakang, mendapati putrinya sudah berdiri tak jauh darinya. Dia kemudian mengayunkan tangan memerintahkan Khu Tao untuk membuka formasi.


Dengan patuh pria tua yang merupakan pelindung dari keluarga Kekaisaran pun melakukan apa yang dimintanya.


Xiao Tang berjalan menghampiri Zhou Fan, sementara Xiao LingYun menatap ayahnya meminta penjelasan.


"Apa yang akan ayah lakukan?" tanya Xiao LingYun.


"Membunuhnya!" ucap tuan kota datar.


Mata indah Xiao LingYun membulat, kemudian bertanya apa alasannya.


"Dia menindasmu, kau tak perlu melindunginya, juga aku melihat cincin mungkin ada di tangannya." Xiao Tang menunjukkan cincin di tangannya dan memberikan kembali kepada putrinya.


Xiao LingYun termenung sejenak, dia sangat tidak nyaman dengan sikap ayahnya yang terlalu perhatian kepadanya, ayahnya selalu melakukan hal yang sama, bahkan dia tidak akan melepaskan anak kecil jika itu menyangkut dirinya.


Xiao LingYun bukan gadis pendendam yang senantiasa membalas perbuatan orang, dia juga bukan gadis arogan yang di sapa lalu ingin membalasnya. Meskipun dia kesal terhadap Zhou Fan, dia tidak bisa melihat pemuda itu mati di tangan ayahnya.


Sikap ayahnya membuat dirinya menjadi gadis malang yang tidak mempunyai teman, seingatnya, teman terakhirnya menjauhinya karena terluka parah oleh ayahnya.


Temannya adalah wanita, tapi ayahnya tidak membedakan jenis kelamin. Hanya kerena menumpahkan makanan ke pakaian Xiao LingYun, Xiao Tang membuat tangannya bengkak, hingga membuatnya harus mengistirahatkan tangannya selama satu minggu.


Semenjak kejadian itu, Xiao LingYun tidak lagi mempunyai teman, meskipun hidup dalam keluarga terpandang juga berkecukupan, dia hanya wanita muda yang juga membutuhkan teman.


"Yun'er?" panggil Xiao Tang kepada putrinya yang malah terbengong.


"Ayah, dia kekasihku... Aku hanya pergi untuk mengambil barang, aku menitipkan cincinku kepadanya." Perkataan Xiao LingYun bukan hanya membuat Xiao Tang terkejut, tapi juga Zhou Fan.


"Aku akan membawanya ke ruanganku," ucap Xiao LingYun seraya memapah Zhou Fan menuju ruangannya, meninggalkan Xiao Tang dalam ekspresi buruk.


Meskipun Zhou Fan masih dalam keadaan berdiri, dan masih menyisakan sedikit tenaga, dia tak menolak ajakan Xiao LingYun.


"Apakah kau dengar apa yang dikatakannya, dia lebih mementingkan pemuda itu dibandingkan dengan ayahnya?" ucap Xiao Tang kepada Khu Tao.


"Hamba mendengarnya pangeran," Status Xiao Tang adalah pangeran, meskipun dia telah lama meninggalkan istana Kekaisaran, tidak merubah fakta bahwa dia merupakan pangeran kedua Kekaisaran Xiao.

__ADS_1


Xiao Tang merepalkan tangannya, kemudian berjalan dengan wajah kesal.


"Aku akan membunuhnya!"


__ADS_2