Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 162


__ADS_3

"Aku takkan memberitahu apapun kepadamu, siapa kau sebenarnya!" Tetua kedua berteriak saat Zhou Fan meregangkan cekikannya.


Bukan jawaban yang dia inginkan keluar dari mulut pria tua itu, membuat Zhou Fan kembali mengeratkan cekikan.


Akhkkk...


Tetua kedua semakin lemas karena tidak bisa bernafas, bahkan untuk membuka mulut dia kesusahan, rahangnya tertahan tangan Zhou Fan.


"Aku tanya sekali lagi, jika kau tidak menjawab makan kau tidak ada gunanya bagiku!" Zhou Fan kembali mengendurkan tekanan tangannya, tapi dia tak melepaskan tetua kedua.


Tetua kedua berkeringat dingin, pupil matanya tak berani menatap wajah Zhou Fan.


"Apa yang aku dapatkan jika aku mengatakan kepadamu?" ujar Tetua kedua.


Zhou Fan mengerutkan keningnya, tak percaya dengan apa yang diucapkan tetua kedua. Sedetik kemudian pemuda itu menarik sudut bibirnya.


"Apakah kau berada dalam posisi untuk menawar?" tanya Zhou Fan santai, tapi terdengar angker bagi tetua kedua.


Dengan cepat tetua kedua menggeleng. "Tidak tidak tidak, aku akan memberitahu apa yang aku ketahui tentang perkumpulan gerhana."


"Cepat katakan!" Zhou Fan berkata sambil menatap tetua kedua tajam.


"Bisakah kau melepaskan cengkraman tanganmu, mungkin tidak akan terdengar jelas jika kau terus menekan tenggorokanku," mohon tetua kedua, pria tua yang semula angkuh dengan wajah selalu terdongak bangga kini menunduk meminta belas kasihan seorang pemuda.


Zhou Fan sejenak berpikir, perlahan menarik tangannya, melepas cengkraman leher tetua kedua.


Tetua kedua bingung ingin memulai dari mana, ingin berkata, tapi dia tak berani bertanya.


"Katakan!" sentak Zhou Fan kesal, dia menunggu jawaban, tapi hanya kesunyian yang ia dapatkan.


"Emn ... Tak banyak yang kutahu tentang perkumpulan gerhana, yang aku tahu perkumpulan gerhana..." Tetua kedua ragi hendak mengatakannya, tiba tiba dia teringat akan ancaman jika ketahuan menyebarkan informasi perkumpulan gerhana.


Mendapati pria tua di hadapannya diam membisu, Zhou Fan menatapnya lekat.


"Kenapa kau diam, apakah kau sudah bosan menghirup udara segar?" Zhou Fan mengeluarkan pedang dan menghunuskan ke arah leher tetua kedua.


"Tidak ada artinya aku takut ancaman, jika aku tidak pergi dengan selamat." Tetua kedua membatin, dia menimang kembali apa yang akan dia lakukan.


"Biarkan dia puas kali ini, saat aku pergi dengan selamat, aku akan kembali dengan dewa kematian bersamaku!" Tetua kedua tanpa sadar menyeringai.


Plak!


Auh!

__ADS_1


"Ap..."


Tetua kedua yang hendak memaki pelaku penamparan, seketika menelan ludah paksa.


Zhou Fan berdiri dengan wajah marah, dia terlalu banyak membuang waktu hanya untuk menyelesaikan tetua kedua.


"Ternyata kau lebih memilih bungkam, biar aku bantu kau untuk tetap bungkam selamanya!" Zhou Fan mengangkat tangan yang menggenggam pedang, bersiap menebas leher tetua kedua.


"Tunggu, aku akan mengatakannya," sela tetua kedua dengan cepat.


.


.


" ... Itu adalah semua yang aku ketahui tentang perkumpulan gerhana, aku tidak tahu terlalu banyak, karena aku hanya sebuah pion." Tetua kedua mengatakan informasi yang Zhou Fan inginkan, meskipun tidak semua ia katakan.


"Aku rasa urusanmu denganku sudah selesai, aku akan pergi, kau sudah berjanji untuk membiarkanku pergi, seorang pria tidak menarik ucapannya." Tetua kedua mewanti Zhou Fan untuk tak menghentikannya.


"Pergilah, kau juga sudah tidak berguna bagiku!" Zhou Fan menggerakkan tangannya, seolah memberi isyarat kepada tetua kedua agar segera meninggalkannya.


"Hng... Awas kau, aku tak akan melupakan penghinaan hari ini, salahkan saja dirimu yang terlalu lembut, begitu mudah melepaskan musuh!"


Tetua kedua memasang senyum terpaksa. Dia kemudian berbalik dan pergi dengan cepat.


"Bodoh! Hari dimana aku bertemu denganmu, aku akan melihat wajah penyesalan saat kematian menjemputmu!" Sambil berlari tetua kedua membatin, terlintas dalam pikirannya untuk menoleh, dia pun menoleh, tapi seketika matanya melotot penuh amarah.


Booom!


"Terima salam perpisahan dariku, yang khusus aku persembahkan kepadamu!"


"Aku mengatakan, akan membiarkannya pergi. Mungkin seharusnya aku lebih memperjelasnya, pergi ke alam baka!" Zhou Fan kembali menggantungkan pedang darah malam di punggung.


Zhou Fan melesat pergi setelah mengantongi harta tetua kedua, sekarang tujuannya adalah kembali ke Ibukota, dia sudah mendapat informasi yang cukup berguna baginya, setidaknya dia mendapat gambaran kasar tentang perkumpulan gerhana.


Zhou Fan melaju hendak ke istana, tapi dia urungkan karena akan sia sia jika langsung pergi ke sana.


Dia pun berbelok arah dan mengunjungi Ketua Sin. Saat Zhou Fan memasuki gedung, semua orang menatapnya.


"Apakah mereka belum pernah melihat pria tampan?" Tanpa peduli pandangan semua orang Zhou Fan berjalan semakin ke dalam.


Di lantai dua dia melihat Zhang Xiaoyu tengah membaca sebuah kitab, Zhou Fan menghampirinya dan berdiri tepat di sebelah gadis itu.


"Apa yang kau baca?"

__ADS_1


Zhang Xiaoyu spontan melempar kitab di tangannya, beruntung Zhou Fan menangkap kitab tersebut sebelum jatuh menimpa kepalanya.


"Kau! Sejak kapan kau di sini?" Zhang Xiaoyu bertanya dengan panik, seolah melihat Zhou Fan adalah makhluk mengerikan.


"Baru saja, oh ya... Apakah ketua Sin ada? Aku ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengannya." Zhou Fan mengatakan tanpa basa basi.


"Emn... Oh, guru? Ada dia ada di ruangannya, ayo aku temani." Zhang Xiaoyu berjalan semangat.


"Kenapa dia yang bersemangat, padahal aku yang mempunyai urusan." Zhou Fan membatin sambil mengikuti Zhang Xiaoyu.


Di depan sebuah ruangan, Zhang Xiaoyu berhenti. "Kau masuklah, mungkin guru sedang bersantai, karena memang siang hari adalah waktu untuk guru bersantai."


"Apakah kau tidak masuk?" Zhou Fan menatap aneh gadis di hadapannya.


"Apakah kau berharap aku masuk bersamamu?" tanya Zhang Xiaoyu sambil mengerlingkan matanya.


"Terserah kau saja," ujar Zhou Fan malas, kemudian mulai mendorong pintu ruangan Ketua Sin.


Begitu dia masuk, terdengar suara tak asing dalam ingatannya.


"Oh, kau pemuda Zhou, ada apa, sampai kau menemui pria tua ini?" Ketua Sin yang tiduran di kursi goyang hanya melirik sekilas.


"Ketua, arus informasi paviliun obat adalah yang terdepan, anda pasti sudah mengetahui tentang perkumpulan gerhana." Zhou Fan menghampiri Ketua Sin, setelah dekat dia duduk di kursi sebelah kursi goyang.


"Hm... Ya, aku sudah mengetahuinya, lalu apa?" Ketua Sin bertanya seolah dia tidak peduli.


"Apakah anda hanya berpaku tangan melihat Kekaisaran Wei jatuh?" tanya Zhou Fan.


Ketua Sin masih terlihat santai, dia bahkan seolah tidak mempermasalahkan perihal tersebut.


"Meskipun pemberontakan berhasil, Kekaisaran Wei tidak akan jatuh, karena yang memimpin pemberontakan juga merupakan keluarga Kekaisaran." Ketua Sin mengatakan dengan mata terpejam.


Apa?


Zhou Fan menoleh ke arah Ketua Sin. "Apa maksudmu Ketua? Apakah yang merencanakan adalah putra mahkota? Tapi mengapa, bukankah terlalu gegabah jika demikian?"


Plak!


Ah..


Ketua Sin menepuk tangan pemuda yang duduk di sebelahnya. "Apa yang membuatmu berpikir itu adalah putra mahkota?"


"Owh, bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja bukan, apakah perlu putra mahkota melakukannya jika suatu saat dia juga yang memimpin Kekaisaran, yang melakukannya adalah Wei Jia, dia adalah saudara tiri Kaisar Huan, lebih tepatnya adik tiri Kaisar," jawab Ketua Sin masih dengan mata terpejam.


Zhou Fan diam termenung, dia berpikir, apakah orang bernama Wei Jia ini yang menjadi dalang pemfitnahan keluarga bangsawan Cao, serta penyerangan Klan Zhou? Dia tidak akan melepaskan orang ini dengan mudah.


__ADS_2