Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 153 : Kembali ke Kota Kapur Putih


__ADS_3

Di Kota Kapur Putih, sebuah kedai...


"Apakah kau tahu kabar kematian Patriark Bai, di malam dimana kabar tersebut menyebar, seluruh kediaman Klan Bai di paksa untuk terjaga, mereka semua berkabung atas matinya Patriark mereka,"


"Tapi mereka tidak mengetahui siapa pembunuh Patriark mereka, sungguh konyol, bagaimana bisa tidak ada satupun yang tahu, bahkan mereka tidak dapat menemukan mayatnya, sungguh malang." Pria paruh baya bercaping berucap sambil menggeleng, seakan dia ikut merasakan kemalangan yang dialami Patriark Bai.


"Tutup mulutmu, jangan keras keras, atau kau tidak menyadari kepalamu sudah terlepas dari tempatnya." Teman semeja pria bercaping memelototi temannya.


Pria bercaping diam seketika, dia sangat takut terhadap temannya.


"Tapi yang kau katakan tidak salah, memang sangat malang, aku dengar tidak hanya Patriark Klan Bai, di Klan Yu juga mengalami hal serupa,"


"Bahkan katanya Patriark Yu pergi dengan membawa hampir seluruh kekayaan Klan Yu, sekarang Klan Yu dipaksa hidup hemat, atau meraka tidak akan bisa bertahan dalam waktu lama." Pria paruh baya bermuka hitam berkata dengan menyesal.


"Phuah! ... Belum juga kering bibirnya saat melarangku bergosip, tapi dia dengan tidak tahu malunya ikut bergosip." Pria bercaping menggerutu dalam hati.


"Memang tidak ada yang tahan, jika membicarakan orang lain...," Pria bercaping terkekeh geli sambil kembali membatin.


Tepat di sebelah tempat duduk sepasang pria itu, terdapat seseorang dengan jubah hitam menutupi keseluruhan tubuhnya, hanya telapak tangan serta mukanya saja yang terlihat darinya.


"Apakah benar yang mereka katakan, aku belum memeriksa apa yang ada di dalam cincin kedua pria tua itu. Jika memang ada banyak kekayaan, tentu aku sungguh merasa beruntung." Zhou Fan kemudian mengeluarkan cincin kedua Patriark yang sudah menjadi miliknya.


Tanpa kedua pria paruh baya itu sadari, Zhou Fan telah mendengar keseluruhan cerita dari keduanya, dia memakai pakaian tertutup agar keinginannya untuk mencari tahu siapa dalang di balik penyerangan Klan Zhou.


Zhou Fan tidak ingin ada yang tahu anggota Klan Zhou berada di kota kapur putih, atau otak serangan Klan Zhou akan menjadi waspada.


Saat Zhou Fan akan memeriksa isi di dalamnya, kedua pria di sebelahnya membahas lebih dalam kisah yang mereka ketahui, dengan cepat Zhou Fan memasang telinganya lebar lebar.


"Waktu itu aku melihat Patriark Bai bertemu dengan seseorang, orang itu begitu misterius, Patriark Bai terlihat bercakap-cakap, entah apa yang mereka bicarakan."

__ADS_1


"Aku yang berada sedikit jauh dari tempat keduanya hanya bisa mendengar samar, dan aku mendengar, kalau tidak salah ... Mereka membicarakan Klan di Kota Batu Hitam, juga sebuah liontin...,"


"Saat aku hendak menguping lebih dekat, salah seorang anak buah Patriark Bai menghalangiku, bahkan melempar ku jauh keluar. Huh... Aku sangat kesal jika mengingat kejadian itu, enak saja dia melemparku layaknya sebuah karung," Pria bercaping terus berkoar, dia tak peduli temannya mendengarkan atau tidak.


"Oh ya... Kalau tidak salah pria misterius itu mengenakan topeng, tapi topengnya hanya menutupi setengah wajahnya, dia juga mengenakan jubah, di baguan belakang jubahnya terdapat gambar matahari dan bulan," ujarnya lagi.


Brak...


Pria bermuka hitam menggebrak meja pelan, tapi sudah cukup untuk membuat temannya diam.


"Bisakah kau tidak bicara ceplas ceplos? Kau akan membawaku dalam masalah jika ada yang mendengarnya." Pria bermuka hitam teriak dengan suara ditahan, dia tak mau membuat keributan di dalam kedai, meskipun tidak terlalu ramai, kedai tersebut juga tidak sepi.


Memang jika malam hari keadaan kedai terbilang sedang, tidak ramai juga tidak sepi, seperti hari ini, di dalam kedai setidaknya ada beberapa orang yang tengah duduk bersantai.


"Yayaya... Aku akan menutup mulut. Hem.." Pria bercaping menunjukkan mulutnya yang sudah terkunci rapat.


"Seseorang bertopeng dengan jubah yang terdapat gambar di punggungnya." Zhou Fan membatin, dia mencatat sosok yang kemungkinan adalah dalang dibalik penyerangan Klan Zhou.


Setelah mengetuk meja beberapa kali, Zhou Fan keluar, tapi sebelum itu dia meninggalkan sejumlah koin emas di atas meja sebagai bayaran atas makanan yang ia pesan.


"Kemana aku harus mencarinya." Tanpa sadar Zhou Fan berjalan mengarah ke sebuah bangunan besar.


"Bukankah ini adalah kediaman Tuan Kota?" Zhou Fan bergumam pelan, siapa yang tak tahu jika bangunan besar tersebut merupakan milik Tuan Kota, karena di atas atap kediaman jelas terpampang tulisan, 'Tuan Kota'. Yang terlihat jelas dengan obor yang meneranginya.


Zhou Fan hendak berbalik, tapi pandangannya tanpa sengaja mengarah ke seorang wanita dengan jubah hitam dengan gambar matahari bulan di belakang punggung.


Mata Zhou Fan menyipit, dia menajamkan penglihatannya, matanya membulat saat matanya menjumpai Tuan Kota berdiri di samping wanita tersebut.


"Aku harus mendekat!" Zhou Fan menelan pill yang sama saat dia membantai satu persatu pasukan dua Patriark.

__ADS_1


Perlahan hawa keberadaan Zhou Fan menghilang, saat sudah merasa sudah waktunya, dia bergerak dengan hati-hati.


Shut...


Zhou Fan melesat dan bersembunyi di balik bangunan sayap kanan, tepat di samping kedua orang itu berada.


"Seharusnya sudah tidak masalah mendengar dari sini." Zhou Fan memfokuskan pendengarannya.


"Aku sudah bilang, masalah kedudukan Kekaisaran tidak ada hubungannya denganku, kau jangan memaksaku." Tuan Kota berkata dengan suara tidak enak, terlihat dia tidak sependapat dengan wanita lawan bicaranya.


"Aku tidak memaksamu, aku hanya memperingati, kau jangan lupa akan nyawa adikmu, dia berada di tangan kami, jika kau tidak berniat menyelamatkannya maka lupakan saja...,"


Wanita itu hendak pergi, tapi Tuan Kota menghentikannya, meskipun dengan wajah sedikit enggan.


"Jika kau membuang waktuku, kau akan mendapati sebuah kepala menggantung di depan pintu kediamanmu saat pagi datang." Wanita itu berkata tanpa membalikkan badannya, dia masih membelakangi Tuan Kota yang sudah dalam ekspresi sulit.


"Jangan sentuh adikku, aku akan melakukan apa yang kau katakan. Namun,..." Tuan Kota mengatakan dengan nada memohon.


"Kau tidak berhak melakukan penawaran. Jika kau patuh, tentu nyawa adik perempuanmu serta anaknya akan baik baik saja. Begitupun sebaliknya." Wanita itu mendengus, sengaja memotong perkataan Tuan Kota yang hendak mengeluarkan syarat, dia mengancam dengan menekankan beberapa kata.


Seketika wajah Tuan Kota berubah suram, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, jika dengan membunuh wanita di hadapannya dapat membebaskan adiknya, tentu dia akan melakukannya tanpa pertimbangan.


Tapi tidak mungkin semudah itu, selain kekuatan wanita di hadapannya tak jauh berbeda darinya, terdapat beberapa pasang mata yang mengincar dari kegelapan mengawasi pergerakannya.


"Ingat, jangan macam macam, karena sepasang nyawa berada di tanganmu. Khe khe..." Wanita itu berkata santai sambil tertawa pelan, tapi perkataannya sungguh dapat mengguncang Tuan Kota.


Setelah berkata, wanita itu sudah tak berada di tempatnya, bayangan dalam kegelapan juga meninggalkan tempatnya, mengikuti wanita itu.


Zhou Fan yang dari tadi bersembunyi di samping kediaman, mencoba mencerna situasi, tapi informasi dalam dirinya terlalu minim, dia belum dapat menyimpulkan motif wanita tersebut.

__ADS_1


Dia pun memutuskan untuk keluar, menghampiri Tuan Kota yang sudah akan masuk kembali ke kediamannya.


"Tunggu Tuan Kota!"


__ADS_2