Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 156 : Kehancuran Klan Bai


__ADS_3

Sesosok bayangan melintas dalam kegelapan, melesat tanpa ada yang menyadarinya, dia bergerak dari atap ke atap.


Zhou Fan berada dalam wilayah kekuasaan Klan Bai, dia akan menuntut balas atas apa yang telah dilakukan Patriark Bai terhadap klannya.


Menurut apa yang dikatakan Tuan Kota, wanita yang menemuinya merupakan tangan kanan orang misterius, meskipun Tuan Kota tidak mengetahui identitas pastinya, dia mengetahui mereka merupakan kelompok yang berniat melengserkan kaisar dari posisinya.


Awalnya itu hanya dugaan Tuan Kota, dia pun sedikit ragu dengan pemikirannya, tapi dugaannya semakin kuat kala wanita itu mengancamnya agar berada di pihak mereka, atau dia akan kehilangan orang terkasihnya.


Meskipun Tuan Kota terlihat patuh terhadap perkataan wanita itu, tapi dalam hati terdalamnya dia menolak, jika bukan karena diancam dia adalah orang pertama yang akan melawannya.


Saat Zhou Fan bertanya, kenapa tidak menyampaikannya ke pihak Kekaisaran. Tuan Kota menjawab bahwa itu merupakan pedang bermata dua, dia memang bisa menyelesaikan masalah pemberontakan, tapi keselamatan adik serta keponakannya menjadi tumbal.


Tuan Kota menambahkan, seharusnya pihak Kekaisaran juga sudah mengetahuinya, meskipun masih samar, pergerakan mereka sudah mulai terlihat gencar akhir akhir ini.


Zhou Fan mengetahui ciri khas orang yang telah memihak kelompok pemberontak, Tuan Kota menyampaikan kepadanya, jika setiap orang yang telah bergabung akan memiliki sebuah tato berlambang matahari dan bulan sabit yang tergambar di telapak tangan mereka.


Tak sengaja mata Zhou Fan terarah ke sebuah bangunan yang tampak masih gemerlap. Zhou Fan mendekat, dan berusaha memeriksanya.


Begitu jarak sudah dekat, dia dapat mendengar suara bersahutan dari dalam.


"Tetua, oh tidak Patriark... Apa langkah Klan Bai selanjutnya, sekarang Klan Bai berada di bawah kekuasaan anda," ucap seseorang dengan nada layaknya wanita.


"Ya.. Patriark, anda 'kan sudah memimpin Klan Bai, apa langkah yang akan anda ambil."


Beberapa orang menyanjung pria tua yang disebut sebagai Patriark, Zhou Fan memperkirakan pria tua itu merupakan tetua Klan Bai, tapi dia beralih menjadi Patriark setelah kematian Patriark Bai sebelumnya.


"Aku akan membawa Klan Bai pada arah yang lebih baik, dengan tunduk kepada perkumpulan gerhana, Klan Bai akan menjadi penguasa Kota Kapur Putih ... "


" ... Meskipun penyerangan Klan Zhou di kota batu hitam gagal, tapi dengan hal itu perkumpulan gerhana akan lebih memandang kita."


"Kita dapat kembali menyerang Klan Zhou dan mengambil apa yang diinginkan perkumpulan gerhana." Sambung lainnya.


Begitu mendengar perkataan Patriark Bai, Zhou Fan seketika membelalakkan mata.


Brak!


Pintu bangunan terbuka dengan paksa, memperlihatkan seorang pemuda tengah menggenggam pedang dengan wajah suram.


"Siapa kau! Beraninya mengganggu pertemuan Klan Bai!" tetua Klan Bai berteriak sambil menunjuk Zhou Fan.


"Cih! Persetan dengan Klan Bai!"


Shut!


Zhou Fan melesat dengan ekspresi kaku, wajahnya memancarkan keinginan balas dendam.


Trang!


"Kau terlalu arogan, apakah kau pikir dapat mengalahkan kami berempat sekaligus?!" Patriark Bai mengeluarkan pedangnya, dan melompat menyerang Zhou Fan.


Begitu pun dengan ketiga orang lainnya, mereka mengepung pemuda yang entah kenapa memancarkan aura mengekang pada mereka.


Trang... Tring...

__ADS_1


Zhou Fan melakukan tebasan brutal, tangannya melingkar menyabet mengincar kepala Patriark Bai.


Tapi dengan merendahkan tubuhnya, Patriark Bai dapat menghindari serangan Zhou Fan.


Seolah merasa teremehkan oleh seorang pemuda, mereka berempat mendengus marah. Kemudian merangsek menyerang Zhou Fan.


"Tebasan ganda!!"


Zhou Fan berteriak dingin. Setelahnya muncul bayangan tebasan yang bergerak cepat mengincar salah satu tetua Klan Bai.


Bhomm!


Seketika tubuh tetua yang menjadi incaran mencelat tak karuan, dengan kultivasi petarung raja bintang satu tak mampu menahan serangan jurus Zhou Fan.


Ketiga orang menjerit serentak, kemudian melesat dengan wajah bergurat emosi.


Seolah telah dirasuki iblis, ketiganya menyerang semakin gencar.


Tapakan, sepakan serta tebasan terus mereka lesatkan, Zhou Fan terus memainkan pedang darah malam, pedangnya sudah memancarkan aura gelap kemerahan, pertanda dia akan beraksi.


Trang Tring!! ...


Zhou Fan mengibaskan pedangnya dan menari memperagakan Teknik Dewa Pedang.


Wosh... Wosh...


Keributan angin memekakkan telinga, kobaran api semakin membesar, Zhou Fan bergerak liar, mengincar sang lawan.


Ketiga lawan mulai terdesak dan banyak luka mulai tercipta, tapi seolah belum puas dengan hal itu, Zhou Fan meluruskan pedangnya dan menebas tegas dengan dua tangan.


"Tebasan ganda!!"


Ledakan teredam akibat ketiga orang itu mencoba melawannya, tapi pada akhirnya malah sama sama terpental dan menubruk tembok sampai menimbulkan retakan.


Huk! Uhuk!


Serempak ketiganya menyemburkan cairan merah gelap, mereka seakan tak bisa lagi untuk berdiri.


"Siapa kau! Apa yang kau mau, kenapa mencari masalah dengan Klan Bai?!" Patriark Bai mengatakan dengan mulut terus memuntahkan darah.


"Namaku adalah Fan, margaku adalah Zhou!" ucap Zhou Fan, jawaban pemuda itu tak ayal membuat ketiga orang dalam keadaan setengah sadar itu tak percaya.


Mereka akhirnya tahu, kenapa patriark Bai serta pasukannya tak kembali dari penyerangan Klan Zhou. Itu karena terdapat monster yang berdiri di belakang Klan kota batu hitam tersebut.


Jleb...


Zhou Fan menusuk perut patriark Bai, membuat tubuh pria tua itu bergetar hebat, sementara yang lain merinding ketakutan.


"Apa yang kalian ketahui tentang perkumpulan gerhana?!"


Tak ada jawaban Zhou Fan mulai menggerakkan pedangnya yang masih tertancap di perut patriark Bai.


Arg!!!

__ADS_1


Teriakan menggugah jiwa benar benar membangunkan anggota Klan Bai lainnya.


Tch!


Zhou Fan mengumpat kesal, kemudian dia memenggal ketiga orang di hadapannya karena dia merasakan beberapa orang bergerak ke arahnya.


"Siapa kau!" Seorang pria paruh baya berteriak kepada Zhou Fan sambil memeriksa kekacauan yang terjadi.


Tak lama kerumunan orang datang dan memenuhi bangunan, sebagian lagi masih berada di luar mengepung.


"Cepat juga meraka datang!" batin Zhou Fan yang mulai berdiri, yang semula berjongkok memungut cincin keempat orang yang telah tak bernyawa.


"Siapa kau!" sekali lagi pria paruh baya itu berteriak, karena Zhou Fan senantiasa diam di tempatnya berdiri.


Seorang pria terlihat muda terlihat membisikkan sesuatu, membuat pria paruh baya itu berwajah tegas, rahangnya mengeras akibat menahan amarah.


"Aku akan mengirimmu ke neraka!"


Pria itu melesat diikuti beberapa orang di belakangnya.


Zhou Fan mendecih, kemudian melesat keluar bangunan, bertarung di ruang sempit dengan begitu banyak orang akan mempersulitnya, dia tak bisa mengeluarkan segenap kemampuannya jika hal itu terjadi.


"Jangan lari kau!" Pria paruh baya itu ikut melesat sambil menggenggam tongkat besinya.


"Apakah kau dapat lari begitu saja setelah membunuh tetua juga patriark Klan Bai? Tidak mungkin."


Pria paruh baya tersenyum sinis, dia merasa sosok berjubah itu tengah bingung karena terkepung dengan orang Klan Bai lainnya.


"Serang!"


Perkataan pria paruh baya itu seolah tanda, mereka maju serentak, tak ada yang hanya diam.


Huh


Zhou Fan mendengus dan mulai mengeluarkan teknik dewa pedang, desiran angin mulai berputar sekitarnya.


Pria paruh baya yang tak mengetahui cara kerja teknik Zhou Fan malah tertawa sangat keras.


"Hahaha, apakah kau sudah frustasi... Maka terimalah kematianmu!"


Wush....


Blar!


Jurus pria paruh baya menghantam tempat Zhou Fan berdiri, tapi pemuda itu dapat menghindarinya dengan sekali lompatan.


Sambil melompat dia terus bergerak, perputaran pedangnya semakin cepat, dan disaat kobaran api mulai menyebar, teriakan serta jeritan tak dapat lagi terhindarkan.


Sekitar puluhan bahkan ratusan orang Klan Bai mulai terkikis dan habis di tangan Zhou Fan. Pemuda itu terus bergerak membantai lawan, sementara wajah pria paruh baya memburuk sempurna.


Tak ada yang mengira Klan Bai akan tiada dalam satu malam, dan itu dilakukan hanya oleh satu orang.


Bruk...

__ADS_1


Pria paruh baya tak lagi mempunyai tenaga untuk tetap menopang tubuhnya, dia yang semula angkuh dengan pasukan di belakangnya, seketika ambruk melihat orang Klan Bai terbantai.


Sosok Zhou Fan bagaikan dewa pembantaian yang datang menyelesaikan tugasnya.


__ADS_2