Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 294 : Antara Tongkat Dengan Pedang


__ADS_3

Kedua peserta telah berada di atas arena, masing masing sudah membawa senjata. Mereka hanya menunggu sang wasit untuk memulai pertarungan.


Tidak ada kata yang terucap diantara mereka, hanya diam memberikan tatapan tajam. Mereka seolah musuh bebuyutan yang bertemu demi menuntaskan sebuah dendam.


Tak hanya dua peserta itu yang menunggu, tapi juga para penonton yang bahkan lebih antusias dari pada yang masuk final. Namun wasit balum juga naik, entah mengapa dia masih berbincang dengan tetua Que.


Banyak murid yang tak sabar, bahkan mengeluarkan sumpah serapah yang seharusnya tidak mereka ucapkan. Namun apalah daya, mereka terlalu gemas dengan pertarungan puncak ini.


Setelah beberapa waktu, wasit itu terlihat mengakhiri pembicaraannya, membuat kelegaan di hati semua orang. Akan tetapi bukan naik ke atas arena, pria tua itu malah duduk di tempat para tetua.


Hal ini semakin memancing kegeraman semua yang menyaksikan.


"Apa apaan, apakah mungkin pertarungan gan tidak jadi dilaksanakan?"


"Mungkin sekte tidak mampu lagi membayar jasa wasit, hingga membuat wasit itu enggan melanjutkan."


Di atas arena tiba tiba saja muncul seorang pria tua berambut putih, dia adalah tetua Que. Dalam wajahnya dia melukis sebuah senyum tak berdaya, dia merasa konyol dengan ucapan murid muridnya.


"Ini adalah pertarungan terakhir, pertarungan final. Oleh sebab itu aku ingin memimpin secara langsung pertarungan ini."


Mendengar perkataan tetua Que, semua yang ada di sana mengangguk. Mereka perlahan mulai melupakan rasa kesal yang sempat melanda.

__ADS_1


"Mulai!"


Tanpa memberi tanda, tetua Que bersedih lantang. Zhou Fan yang selalu dalam sikap siaga langsung melesat dan mengayunkan pedangnya.


Yung Lao sedikit tidak menduga, dia terkejut saat tetua Que langsung berkata 'mulai'.


Namun gerakan refleknya juga tidak remeh, dia mengangkat tongkat dan mendorongnya ke depan. "Sialan, kau ingin menyerang diam diam?!"


"Salahkan saja kau yang tak cukup tangkas." Zhou Fan menarik pedangnya, kemudian menebas dari samping lainnya.


Prang...


Kedua senjata beradu, tubuh mereka sangat dekat, mungkin jaraknya hanya sekitar beberapa jengkal saja. Deru nafas terdengar bersahutan, meski itu sangat pelan.


Yung Lao mendengus, dia sadar memang kesalahan nya saat tidak terlalu fokus di awal pertarungan, membuatnya harus bekerja sedikit lebih keras.


"Tongkat semesta tingkat pertama!"


Yung Lao mengeluarkan teknik bertarung. Sama seperti pertarungan melawan Te Sha, di keningnya tercipta sebuah tanda, tapi masih terlihat samar.


Setelah itu Yung Lau menyerang, dia mengayun serta memutar tongkat dengan kuat. Zhou Fan harus menghentikan dengan sekuat tenaga, dia membentangkan pedang di depan dada.

__ADS_1


Trank...


Pedang darah malam masih terlihat kokoh, bahkan tongkat di tangan Yung Lao sedikit bergetar akibat beradu dengan pedang Zhou Fan.


Wajah Yung Lao sedikit jelek, dia mendengus kesal. Bagaimana hal ini bisa terjadi, senjatanya adalah pusaka tingkat legend, apakah pedang itu berada di atas nya?


Zhou Fan tak mempedulikan ekspresi lawan yang terlihat terkejut, dia menyarangkan tebasan yang mengincar bagian pinggang.


Namun Yung Lao mundur dua langkah, dia menaruh tongkat sejajar dengan tubuhnya, menghalau serangan pedang darah malam.


Sekali lagi tangan Yung Lao gemetar, dia merasakan sebuah sensasi yang tidak pernah dia rasakan. Perlahan matanya melirik ke arah pedang darah malam.


"Aku tak akan kalah!" Yung Lao merapalkan sebuah gerakan, dia melakukan seperti sebelumnya.


Tanda 'V' di kening semakin jelas, sama dengan kondisi di mana pertarungan melawan Te Sha.


"Tongkat semesta tingkat kedua!"


Yung Lao menatap bringas ke depan, dalam matanya hanya ada sebuah rasa ingin menang. Dia sudah menjadi murid luar peringkat pertama, bagaimana mungkin kalah dengan seorang murid pemula.


Zhou Fan bergeming di tempatnya, genggaman pedang darah malam semakin erat dia pegang. Perlahan pedang darah malam mengeluarkan sinar samar, pemuda itu hendak menggunakan teknik dewa pedang.

__ADS_1


"Kau teknik tongkat, aku teknik pedang."


__ADS_2