Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 255 : Amarah Penduduk Desa


__ADS_3

"Tuan muda, kami hanya bermain. Kami tidak serius." Bin Tuang seolah pribadi yang berbeda dari beberapa saat yang lalu, kearoganan dalam dirinya sepenuhnya lenyap digantikan rasa takut juga khawatir.


"Paman, aku juga ingin bermain. Bagaimana jika kau menemani ku beberapa tukaran?" Zhou Fan menarik sudut bibirnya, membuat seringai yang sangat mengerikan dalam pandangan Bin Tuang.


Pria berambut keriting itu sudah tak bisa lagi berdiri tegak, kakinya gemetar dengan butiran keringat yang terus merembes di kening dan juga punggung.


Bin Ruang meskipun memiliki kultivasi tinggi, juga tidak terlalu percaya jika bertarung, dia tak pernah berlatih teknik bertarung, biasanya dia hanya menggertak, jika tidak hanya sekedar mengeluarkan jurus andalannya.


Namun kultivasi petarung raja tidak bisa diremehkan, dengan itu saja dia sudah menaklukkan desa beserta isinya.


Bawahan yang tersisa juga tak kalah buruk, melihat ketua mereka memohon sebegitu giatnya, mereka memiliki satu pemikiran, bahwa pemuda itu terlalu mengerikan.


"Tak ku sangka dalam hidupku dapat melihat seorang Bin Tuang bertekuk lutut di hadapan seseorang, terlebih lagi adalah seorang pemuda."


"Itulah mengapa pepatah ada mengatakan, jangan menilai buku dari sampulnya."


"Dia pantas mendapatkannya, dia dan juga kelompoknya sudah terlalu sering meresahkan penduduk desa lainnya."


Beberapa orang di sekitar mereka tak tahan untuk hanya diam menonton, mereka seolah ikut senang dengan kondisi Bin Tuang yang memohon demi keselamatan nyawa sendiri.


Ironi! Biasanya Bin Tuang lah yang duduk dan menyaksikan orang memohon kepadanya, tapi sekarang benar benar terbalik, dia harus melakukan apa yang orang lakukan terhadapnya.


"Paman, saat orang memohon kepadamu, apakah kau akan mengampuni mereka?" Zhou Fan mengatakan sambil menaikkan kedua alisnya.


Bin Tuang menyipitkan mata, dia belum sepenuhnya paham akan maksud perkataan Zhou Fan, dia diam sejenak dan menjawab dengan ragu. "Itu tergantung siapa yang memohon."


Zhou Fan tersenyum samar, dia menggeleng lalu kembali berkata. "Lantas apakah kau pantas mendapatkan ampun dariku?"


"Pa - pantas, tentu saja pantas. Aku adalah ketua bandit, kau harus mengingat hal itu jikalau mau bertindak lebih lanjut terhadapku." Bin Tuang menakan bahwa dia adalah ketua bandit di desa ini.


"Namun, aku berpikir kau tidak memiliki apapun yang dapat membuatku terkesan."


Mendengar perkataan Zhou Fan, Bin Tuang sedikit ragu, dia tahu kekuatan mereka tidak sebanding, jika harus melawan dia yakin bukan dia yang akan menang.

__ADS_1


"Kau tidak pantas, lihat bagaimana semua orang memandang mu dengan penuh kebencian, entah apa yang sudah kau lakukan terhadap mereka, sampai menyimpan begitu banyak dendam." Zhou Fan melirik kumpulan orang di belakangnya.


Beberapa orang di sana menatap dengan dongkol, seolah mereka sangat ingin memakan Bin Tuang dengan kelompoknya. Namun mereka tidak bisa melakukan sendiri, mereka membutuhkan seseorang untuk melakukannya.


Dan sekarang harapan mereka akan segera terwujud, seorang pemuda dengan pedang berkepala naga berdiri gagah dan berhasil membuat Bin Tuang memohon ampun.


"Kau jangan keterlaluan. Meski aku tak akan bisa menang, dengan bertarung dengan seluruh orang ku, kau akan mendapatkan luka yang tak ringan."


Bin Tuang kembali berdiri, dia sudah merendah hingga titik terendahnya. Namun tetap tidak bisa membujuk Zhou Fan, dia merasa tidak akan mendapatkan apapun meskipun berlutut sepanjang hari di hadapan pemuda itu.


Dia mengubah metode dengan mengeluarkan sedikit perkataan yang sanggup menggoyahkan tekad Zhou Fan.


Zhou Fan hanya diam tak menanggapi ucapan Bin Tuang, dan itu membuat pria berambut keriting tersebut mengeram marah.


"Bangsat!" Umpatan tentu saja dikeluarkan dalam hati, tidak mungkin Bin Tuang memiliki keberanian untuk menyuarakan di hadapan Zhou Fan.


"Tuan muda, jika kau melepaskan kami. Bandit batu darah akan menjadi milikmu, aku akan memberikan tubuhku untukmu." Meskipun sedikit enggan, Bin Tuang mengambil langkah itu karena merasa memiliki kemungkinan paling besar.


Zhou Fan mengerutkan kening, dia fokus dengan perkataan Bin Tuang 'menyerahkan tubuh?' Itu terdengar fulgar di telinganya.


"Tubuhmu adalah milikku?" Zhou Fan mengulang perkataan Bin Tuang, membuat pria berambut keriting tersebut mengangguk dengan cepat.


"Ya, semua ini adalah milik tuan muda." Perkataannya begitu yakin, dia senang dapat menarik perhatian Zhou Fan.


Sementara penduduk desa yang menyaksikan tersenyum kecut, mereka yang mengharapkan kematian Bin Tuang harus menggigit jari. Sekarang mereka harus lebih siaga dengan bandit batu darah yang memiliki pimpinan baru.


Namun, belum juga semua orang selesai dalam gejolak perasaan masing masing, perkataan Zhou Fan sungguh membuat orang terkejut.


"Karena tubuhmu adalah milikku, aku bebas melakukan apapun terhadapmu." Sejurus kemudian, pedang darah malam sudah memisahkan kepala dari tubuhnya.


Semua orang tak lagi dapat berkata, bawahan yang berada di belakang Bin Tuang spontan menahan nafas, tak sanggup lagi berdiri, mereka jatuh terkulai seolah bukanlah seorang bandit yang disegani.


Sementara beberapa orang di belakang Zhou Fan juga terkejut, tapi berubah senang sedetik kemudian. Mereka berjalan mendekati Zhou Fan dengan langkah besar.

__ADS_1


"Tuan muda, terima kasih karena telah menumpas ketua bandit yang senantiasa menyebar teror di desa, kami sebagai penduduk desa sangat berterima kasih." Seluruh penduduk itu membungkuk dengan begitu hormat.


Zhou Fan mengangguk, sebenarnya dia melakukan ini bukan berhubungan dengan desa. Melainkan untuk dirinya sendiri, andai dia tidak memiliki kekuatan, atau kekuatannya lebih lemah dibandingkan dengan Bin Tuang, tentu nyawanya tak akan bertahan.


Namun ekspresi penduduk desa juga memiliki andil dalam keputusan untuk mengeksekusi pria berambut keriting tersebut.


Terlihat jelas bahwa Bin Tuang merupakan sosok yang sangat ditakuti, dan Zhou Fan sangat yakin tak sedikit orang yang sudah menantikan kematian pimpinan bandit batu darah itu.


"Tuan muda, apa yang harus dilakukan terhadap orang orang di sana. Sepertinya mereka belum mati." Seorang pria paruh baya berkata sembari menunjuk ke arah bawahan Bin Tuang.


Untuk sekilas Zhou Fan menengok, dia kemudian berkata. "Karena mereka mempunyai masalah terhadap kalian, kenapa tidak mengakhiri semuanya sekarang?"


Mendengar hal itu, penduduk desa tersebut puas. Perlahan mereka mendekat dan mengerumuni beberapa bawahan yang masih jatuh pingsan.


"Paman, apa yang akan kau berikan kepada mereka?" Zhou Fan yang melihat seorang pria paruh baya hendak menyuapkan cairan dalam wadah mengulurkan tangan menghentikan.


"Ini adalah ekstrak daun camelia, tidak berbahaya bagi tubuh. Namun mengandung afrodisiak, mereka sangat senang menggunakan cairan ini untuk putri putri kami, sekarang biar mereka merasakan terbakar dengan gairah yang menggebu."


Penjelasan pria paruh baya membuat Zhou Fan tersedak ludah sendiri, tak dia sangka para bandit juga melakukan hal seperti itu.


Zhou Fan tidak bisa melarang, dia hanya menyaksikan bagaimana respon beberapa bandit saat cairan itu masuk ke dalam tubuhnya.


Pria paruh baya memasukkan cairan tersebut secara merata, tak dia biarkan satu orangpun terlewat.


"Ikat mereka, jangan biarkan mereka membuat ulah." Pria paruh baya itu berkata kepada beberapa penduduk lain, dan langsung dilaksanakan oleh beberapa orang.


Sekitar delapan orang itu di ikat di batang pohon, wajah mereka sudah memerah dengan kening yang berkeringat. Sangat terlihat jelas bahwa mereka tersiksa dengan kondisi yang dialami.


Zhou Fan menutup mata, dalam diam dia berpikir. Sangat tidak nyaman dalam posisi mereka, dan itu juga sangat menyiksa. Sebagai seorang pria dia tentu dapat membayangkan betapa dahsyatnya penyiksaan tersebut.


Sambil mulai membuka mata, Zhou Fan memandang kedelapan pria yang kini sudah dengan kondisi sangat memprihatinkan.


"Kenikmatan yang mengerikan."

__ADS_1


__ADS_2