
"Di sebelah kanan menara terdapat tugu, sekte bulan sejati menyebutnya dengan tiang penilaian. Di sana kalian dapat mengetahui peringkat kalian, baik sesama peserta babak ke tiga ataupun dengan nilai murid sekte bulan sejati lainnya."
Mendengar perkataan tetua Que, semua mata langsung memandang tugu setinggi belasan meter berdiri dengan kokoh di samping menara.
Tugu tersebut mempunyai tiga sisi, di setiap sisi telah tercatat nama murid beserta penilaian.
"Dua puluh lima teratas akan langsung masuk menjadi murid sekte bulan sejati, sedang yang lainnya harus kembali. Namun yang belum berhasil jangan risau, karena setiap beberapa beberapa bulan sekte bulan sejati selalu mengadakan seleksi."
Tetua Que melihat wajah beberapa orang mulai tak semangat, mereka seolah tidak percaya diri dapat menjadi dua puluh lima orang yang beruntung.
Sts...
Yin Cun mendesis sambil jari telunjuknya menekan pinggang Zhou Fan, sontak pemuda itu langsung melirik.
"Apa?" Mungkin itu yang akan keluar jika Zhou Fan bersuara, tapi dia hanya menaikkan sebelah alisnya saja.
"Mari kita bertaruh, siapa yang mendapat posisi lebih rendah, akan memanggil yang lebih tinggi dengan sebutan kakak." Yin Cun terlihat begitu percaya diri, dia sangat menantikan saat saat dimana Zhou Fan memanggilnya kakak.
Bahkan pemuda itu telah membayangkan jika hal itu benar benar terjadi.
"Bagaimana?" Yin Cun mengedipkan sebelah matanya, dia mencoba memprovokasi Zhou Fan agar ikut ke dalam permainannya.
Zhou Fan yang semula fokus memandang ke depan, seketika memalingkan wajah menatap Yin Cun. "Aku tak tertarik memiliki adik seperti kau."
Zhou Fan memutar kembali kepalanya, dia lebih tertarik dengan menara beserta tugu di sampingnya.
"Kau terlalu percaya diri, di babak ke tiga ini, akan aku pastikan berada di atas mu." Yin Cun menampilkan ekspresi mengejek.
"Tidak akan terjadi," ucap Zhou Fan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau takut?" Yin Cun menyeringai.
"Takut?" Zhou Fan hanya mengulang dengan nada membeo.
"Kau takut akan kalah dan memanggilku kakak. Heh... Aku sudah tak akal bulus mu." Yin Cun berkata dengan percaya diri.
Mata Zhou Fan menyipit, keningnya juga nampak mengerut. "Baik baik, akan aku terima. Namun asal kau tahu, memiliki saudara seperti kau merupakan kutukan bagiku."
Zhou Fan mengakhiri perkataan dengan tawa lirih, hal itu tentu menyulut kekesalan pada Yin Cun.
"Cih... Lihat saja, saat kau memanggilku kakak, kau harus patuh terhadap ucapan kakakmu." Yin Cun tersenyum begitu cerah, seolah dia sangat yakin dapat mendapatkan posisi lebih tinggi dari pada Zhou Fan.
__ADS_1
Semua peserta babak ke tiga satu persatu melompat menuju pintu yang telah mereka incar. Zhou Fan masih di tempatnya, Yin Cun pun sama, keduanya belum bergerak ke tempat pintu yang telah lama menunggu mereka.
"Jika kau kalah, jangan menyesal." Setelah berkata, Zhou Fan langsung melompat menuju pintu yang berada di tingkat ke dua barus nomor empat.
Tak mau kalah dengan temannya, Yin Cun turut melompat mengincar pintu miliknya.
"Gunakan token yang sebelumnya kalian dapatkan, dengan token tersebut tiang penilaian akan dapat merespon sesuai dengan sejauh mana kalian dapat bertahan."
Tetua Que memberikan instruksi dari tempatnya, dia sedikit menengadahkan kepala karena beberapa orang ada yang memilih lantai teratas dalam menara.
Mereka berpikir semakin tinggi tempat masuk mereka, semakin mudah tantangannya. Namun itu sama sekali tidak benar, karena seluruh pintu masuk tersebut memiliki tingkat kesulitan yang hampir sama.
Zhou Fan sekilas menatap token di tangannya, setelah melihat beberapa orang mulai memasukkan token ke kotak di samping pintu masuk yang dipilih, Zhou Fan pun melakukan hal serupa.
Pintu yang semula tertutup perlahan terbuka, menampakkan ruangan gelap tanpa ada cahaya. Tak ada yang dapat dilihat sama sekali, seolah terdapat kain hitam yang menutup mata dengan begitu erat.
Begitu masuk, pintu langsung tertutup. Di saat ini Zhou Fan tak lagi dapat melihat apapun, bahkan tangan yang dia layangkan di depan wajah sendiri pun tak terlihat olehnya.
Bles...
Suasana gelap dan sunyi seketika berubah dengan latar hutan belantara, meskipun tidak lebat, juga tidak bisa dikatakan tidak rimbun.
Zhou Fan mengalihkan pandangan ke segala penjuru, tapi tetap tak menemukan apa yang dia cari.
"Kapan ujian akan dimulai?" Zhou Fan bertanya tanya dalam benaknya, sambil bergumam dia terus mengamati keadaan sekitar.
Begitu pandangannya mengarah ke belakang, dia dapat melihat beberapa musang ekor panjang berdiri dengan wajah bringas.
"Beast tingkat 4..." Zhou Fan mengamati fluktuasi aura yang terpancar dari delapan musang di depannya.
Zhou Fan dapat menilai bahwasanya musang musang ini setara dengan petarung grand master bintang lima sampai sembilan.
Grg...
Musang musang itu terlihat sudah mulai tidak sabar, gigi runcingnya selalu diperlihatkan, seolah ingin mengatakan bahwa giginya sangat tajam.
Zhou Fan meraih belati raja api yang menggantung di pinggangnya, sambil mengeluarkan senjata pemuda itu melesat memburu kawanan Beast di depannya.
Grr...
Musang musang itu pun menyerbu dengan jumlah tak kurang dari delapan ekor.
__ADS_1
Crash...
Satu kali gerakan, satu kepala musang tergeletak di tanah. Sudah setengah dari jumlah awal musang musang jatuh ke tangan Zhou Fan.
Crebs...
Zhou Fan menusuk musang yang sebenarnya sudah tak bernyawa, dia kemudian menarik sambil menginjak tubuh musang ekor panjang.
Membinasakan kawanan musang tingkat empat bukan hal sulit bagi seorang petarung kaisar seperti Zhou Fan. Setelah hanya memandang keempat musang yang tersisa, Zhou Fan kembali memasang belatinya ke posisi siap menyerang.
Musang musang itu seolah belum jera, padahal temannya sudah hilang sebagian, tapi tetap bersikukuh memangsa Zhou Fan.
Shut...
Zhou Fan melesat dengan belati yang siap menggorok leher, begitu dia melintas satu kepala terlepas.
Bruk bruk...
Satu persatu musang ekor panjang terjatuh tak bernyawa. Saat Zhou Fan hendak menyimpan mayat musang, badan musang ekor panjang lenyap tanpa jejak.
Apa yang terjadi? Zhou Fan belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Balum juga hilang rasa penasaran akan hilangnya mayat musang ekor panjang yang telah dia kalahkan, dua singa tingkat lima muncul di hadapannya.
Zhou Fan mengerutkan kening, dia sebelumnya tak mendeteksi adanya pergerakan di sekitarnya. Namun dua singa yang terlihat sama sama pejantan itu sudah berdiri di depannya dengan cakar keluar.
"Apakah Beast Beast ini tidaklah nyata?" Hanya itu yang dapat disimpulkan oleh Zhou Fan, dia merasa pemikiran tersebut paling masuk akal.
"Kemari lah kucing besar!" Zhou Fan mengayunkan tangan seolah benar benar memanggil dua singa di depannya.
Dua singa itu juga merespon, keduanya mengaum dan langsung menerjang tanpa ragu.
Melihat satu singa melayangkan kaki bagian depan, sedang singa lainnnya membuka mulut lebar, Zhou Fan tak sama sekali bergerak, dia hanya memandang dengan wajah penasaran.
Bugh...
Kaki depan singa pertama masuk menghantam perut bagian kiri, Zhou Fan terpental dengan sedikit meringis menahan sakit.
Pemuda itu lantas berdiri sambil menampilkan wajah sedikit dongkol.
"Sial, ternyata beast beast ini bukan sekedar ilusi!"
__ADS_1