Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 177


__ADS_3

Matahari sudah membumbung tinggi, tapi seolah tidak terpengaruh dengan teriknya mentari mereka terus bertarung.


Pasukan Wei Huan yang semula sangat kacau dan tidak mempunyai semangat juang, seketika berubah seratus delapan puluh derajat sejak ke datangan putra mahkota, Wei Yun.


Dengan pasukan sekitar dua puluhan ribu orang Wei Yun datang dengan bendera Kekaisaran Wei, membawa bala bantuan yang sangat dibutuhkan.


....


Sementara itu pasukan bantuan yang dibawa Tang Yu'er mengalami bentrok di desa bambu panjang dengan pasukan Klan Kota Kapur Putih yang dipimpin oleh Klan Qin serta klan besar lainnya, seluruh klan saling membahu menangani lawan yang di dalamnya terdapat orang kapur putih itu sendiri.


Tuan Kota yang sebenarnya enggan berada di pihak musuh, harus patuh atau adik serta keponakannya akan menjadi bayaran.


Tuan Kota kapur Putih, Chu Zhen. Tidak ingin orang berharga baginya meninggalkannya, dia rela menyandang sebutan pemberontak agar adiknya selamat.


Desa Bambu Panjang berada tepat di sebelah desa barisan, kedua pihak tanpa sengaja berpapakan di desa tersebut, dan karena mengenali jubah yang dipakai beberapa anggota perkumpulan gerhana, tetua pertama klan Yu yang sudah menjadi Patriark langsung meloncat di temani orangnya.


Tuan Kota serta pasukan yang dibawah kendalinya terpaksa menyerang pasukan yang dipimpin klan Yu juga klan Qing.


Pasukan Klan Kapur Putih harus berhadapan dengan Tuan Kota serta pasukannya yang selalu menjadi tiang kota kapur putih.


Sikap yang diambil Tuan Kota tak ayal mendapatkan lontaran kata pedas dari pasukan kota batu hitam, tuan kota hanya termenung tanpa bisa memberikan jawaban.


.....


Di tangah perang yang terjadi di desa karang hijau juga bambu panjang, seorang pemuda melesat terus menuju kota mawar melewati jalur utara, tepatnya melalui desa kabut.


Meski terdengar angker, desa itu tidak semengerikan namanya, bahkan desa ini terlihat layaknya desa pada umumnya, tapi itu sebelum berita perang menyebar.


Setelah berita perang menyebar, meskipun tempat mereka tidak dalam cakupan peperangan mereka tetap waspada dan berhati-hati dalam melakukan aktivitas.


Zhou Fan memilih melewati jalur Utara karena dia berpikir pertarungan terjadi di seluruh kota mawar, dia tidak tahu tentang pertarungan yang berpusat di desa karang hijau.


Zhou Fan terus melesat dengan kecepatan tinggi, dia menyisir pinggiran kota mawar tapi tak ada bekas atau tanda pertempuran.


Zhou Fan semakin masuk ke dalam kota mawar, alangkah terkejutnya dia saat melihat keadaan kota yang kosong melompong.

__ADS_1


Zhou Fan mencoba menghiraukan kesepian kota mawar dan dia terus bergerak, tapi sampai beberapa waktu tak kunjung juga menemukan anggota perkumpulan gerhana.


Tiba tiba Zhou Fan merasakan firasat buruk. "Sial... Apakah pertarungan terjadi di kota Teratai?"


Zhou Fan melesat dengan kecepatan dua kali lipat, dia berniat melalui jalur selatan yang tidak dia lalui. Namun, dia secara spontan menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu yang aneh


Zhou Fan celingukan, mencoba memastikan juga menelisik keadaan sekitar. "Perasaan aku mendengar suara minta tolong ... "


Zhou Fan menyipitkan mata saat melihat bayangan berkelebat tak jauh darinya, spontan Zhou Fan melompat mengejar bayangan hitam tersebut.


"Jangan lari kau!" Zhou Fan mempercepat langkahnya sambil bergumam mengeluh.


Phak..


Zhou Fan berhasil meraih pundak sosok tersebut dan dengan cepat menarik ke belakang.


Bruak!


Akibat kekuatan Zhou Fan yang terlalu besar, bayangan itu terpelanting menabrak dinding bangunan.


"Siapa kau?!" Zhou Fan berdiri memandang pria paruh baya lusuh yang kini meringkuk dengan mulut keluar darah.


Namun, tiba tiba pria baya itu berteriak dengan melemparkan pisau terbang dari balik pakaiannya.


Trang... Trang...


Zhou Fan menangkis dengan pedang darah malam, kemudian menodong pria paruh baya tepat di leher.


"Bunuh aku! Tapi bisakah kau melepaskan istriku? Aku rela menukarnya dengan nyawaku." Pria paruh baya itu memohon dengan wajah frustasi.


Zhou Fan semakin bingung dengan apa yang dilakukan pria paruh baya di hadapannya.


"Apa maksud anda, paman?" Zhou Fan menarik pedangnya, menaruhnya kembali di balik punggung dan bertanya lebih sopan.


"Apakah kalian sangat suka berpura pura, kalian menculik para wanita juga anak anak seluruh kota dan memaksa kami patuh terhadap kalian, apakah masih kurang dengan apa yang kalian lakukan?" Pria itu berteriak histeris.

__ADS_1


Pria yang merupakan petarung tingkat grand master itu terduduk dengan wajah berurai air mata.


Zhou Fan mensejajarkan tubuhnya, kemudian dia memberikan pil pemulihan kepada pria paruh baya.


"Paman, sepertinya kau salah paham, aku bukanlah mereka yang paman katakan ... " Zhou Fan berusaha menenangkan pria tua lusuh itu, dia tak tega untuk tidak menghiraukannya.


Perlahan pria paruh baya itu tenang, Zhou Fan yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi bertanya kepada pria paruh baya itu, dan dengan harapan uluran tangan, pria paruh baya memberitahukan semua yang dia ketahui.


"Jadi, di desa ini perkumpulan gerhana menyekap sanderanya," pikir Zhou Fan sambil celingukan ke sana-kemari.


Zhou Fan berpikir suara yang dia dengar hanya perasaannya saja, tapi setelah mendengar cerita pria paruh baya di hadapannya dia menjadi yakin suara tersebut bukanlah sekedar ilusi.


"Tapi kenapa sangat sepi?" gumam Zhou Fan yang tak sengaja terdengar pria paruh baya.


Seharusnya ada beberapa orang yang menjaga mereka, apalagi mereka adalah alat untuk memaksa keluarga lainnya berada di pihak perkumpulan gerhana.


"Mungkin mereka terlalu percaya diri akan memenangkan pertempuran, mereka mengira tak akan ada yang berpikir untuk mendatangi markas mereka yang ada di desa ini. Jadi mereka tak lagi memusingkan tawanan yang ada di sini...," ucap pria paruh baya menjelaskan.


"Kepercayaan diri terlalu tinggi akan membawa petaka." Zhou Fan membatin pelan dan melesat sambil memeriksa setiap bangunan.


"Tuan, anda tak perlu mencari, karena aku sudah mempersempit daerah sini, aku sudah menyisir dan kemungkinan para tawanan berada di ruang bawah tanah bangunan besar di ujung jalan." Pria paruh baya mempercepat langkahnya mengimbangi Zhou Fan.


"Oh... Itu bagus, dangan begitu kita akan lebih cepat menemukan mereka." Zhou Fan semakin mempercepat geraknya, meninggalkan pria paruh baya dengan wajah mengeluh.


"Dia masih muda, tapi kekuatannya berada sangat jauh di atasku ... Waktu terus berjalan, yang tua akan digantikan oleh yang muda, dan yang muda yang akan berkuasa." Pria paruh baya bergumam sambil menggelengkan kepala.


....


"Huh... Sungguh keterlaluan, aku adalah petarung tingkat raja, tapi aku ditugaskan untuk menjaga tawanan yang jelas jelas tak bisa apa apa. Apakah mereka meremehkan ku?" Pria botak dengan bekas luka sayatan di mata kiri mendengus mengeluh.


"Mungkin Tuan Wei merasa kau sangat di butuhkan di sini, karena para tawanan di dalam merupakan kunci untuk mengendalikan beberapa orang yang menjadi dukungan dalam pertempuran ... "


"Menjaga di sini juga termasuk berperan penting, kita akan mendapatkan sumber daya dan bisa memasuki aula peninggalan yang konon katanya sangat misterius itu." Salah satu pria berperawakan agak kerdil mengatakan sambil menggerakkan bidak di papan permainan.


Booom!

__ADS_1


Tiba tiba sebuah ledakan ringan terdengar diiringi dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat.


"Terlalu sepi, biar aku temani bermain!!"


__ADS_2