
Merasa diperdaya oleh pria bermata satu, Zhou Fan memburu pria yang sudah melesat menjauh dengan tertatih itu.
Saat terdesak pria bermata satu menampilkan wajah yang terlihat tertindas, seolah dia bukanlah orang yang bersalah dalam hal ini. Namun pandangan tersebut hancur berkeping-keping saat pria bermata satu kabur setelah mendapat tatapannya.
Tak sampai lima ratus meter, Zhou Fan sudah menangkap tangan kiri pria bermata satu, dia dengan spontan menahan pergerakan pria paruh baya itu.
Zhou Fan manarik tangan pria bermata satu, saat tubuh pria itu menghadap ke arahnya, dengan cepat dia mendaratkan pukulan.
Phak!
Namun tangan kanan pria bermata satu dengan cepat menangkis pukulan Zhou Fan.
Kedua pihak melompat mundur sambil mengeluarkan senjata masing masing.
Pria bermata satu kembali menampilkan wajah tak berdosa, dan itu membuat Zhou Fan semakin kesal.
"Sialan! Hapus ekspresi tak berdayamu itu!" Zhou Fan maju sambil mulai mengayunkan pedangnya.
Seolah tak peduli, pria bermata satu tak merubah raut wajahnya, dia menggerakkan senjata di tangannya dan berusaha keluar dari desakan Zhou Fan.
Trang....
Zhou Fan tak habis pikir dengan pria bermata satu, pria itu seolah bisu, bahkan tak mengeluarkan suara saat menyerang ataupun bertahan.
Zhou Fan cukup kagum dengan seseorang yang dapat begitu serius dalam pertarungan.
Shuts...
Pedang darah malam melesat mengincar kepala, tapi masih dapat dihindari oleh pria bermata satu.
Tak sampai di situ, Zhou Fan menjajakkan kakinya, menendang perut pria bermata satu.
Bugh!
Pria bermata satu mundur beberapa langkah, namun dengan cepat melesat kembali.
Trang... Tring...
Pedang keduanya terus beradu, namun dapat di lihat wajah pias pria bermata satu. Sementara Zhou Fan masih berwajah biasa.
Zhou Fan terus menyerang hingga pada akhirnya dapat mengalahkan pria bermata satu setalah melakukan puluhan gerakan.
Zhou Fan akui pria bermata satu merupakan lawan yang merepotkan, tapi tidak dapat dibandingkan dengannya.
Zhou Fan menggotong tubuh pria bermata satu dan membawanya ke tempat pria berikat kepala, kemudian dia melemparkan pria dalam cengkeramannya.
Bruk...
__ADS_1
Pria bermata satu tergeletak dengan tubuh terbaring kaku, bukan karena mati, tapi karena mendapatkan serangan tepat di leher bagian belakangnya.
"Maafkan aku paman, yang tak terlebih dahulu mengamati situasi." Zhou Fan menangkup tinju sambil meminta maaf, dia sungguh menyesal dengan perbuatannya.
"Tak apa..." Meskipun dia mengatakan 'tak apa' wajah kakunya memancarkan ketidak sukaan.
"Andai dia tidak lebih kuat dariku, aku akan mematahkan hidungnya. Beraninya dia menyerangku seenaknya." Pria berikat kepala mendengus dan bergumam dalam benaknya.
"Aku lega mendengarnya...," ucap Zhou Fan seolah beban bersalahnya telah terangkat.
"Yang penting pencuri bisu ini sudah tertangkap," tambah pria berikat kepala sambil melirik ke arah pria yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
Ek?!
Mendengar perkataan pria berikat kepala yang mengatakan bahwa pria bermata satu adalah pencuri tuli, Zhou Fan menggerutu kesal.
"Pantas saja aku berbicara padanya tak juga dia balas, ternyata dia bisu... Sialan!"
"Sampai jumpa paman," ucap Zhou Fan sambil melesat meninggalkan dua pria paruh baya itu di sana.
"Ya... Semoga tak bertemu lagi." Pria berikat kepala mengatakan dengan terkekeh, kemudian membawa pencuri bisu pergi.
.
.
.
.
Zhou Jim yang melihat serta mencium aroma daging seketika mendekati Zhou Fan, dia melompat mencoba meraih daging yang selalu naik saat moncongnya mendekat.
Auk...
Zhou Jim memelas dengan posisi duduk dua kaki, wajahnya dibuat sedih mencari empati.
Ck..
Zhou Fan berdecak kesal, baru saja dia ingin bermain, tapi serigalanya itu sudah menampilkan ekspresi andalannya.
Haih...
Zhou Fan melemparkan daging kering itu dan berhasil ditangkap Zhou Jim dengan sekali lompatan.
Zhou Jim langsung berlari kembali dan menggosokkan kepalanya diantara kaki Zhou Fan, membuat pemuda itu tersenyum samar.
"Kau ini... Tahunya hanya makan saja, kapan kau akan naik tingkat." Zhou Fan merendahkan tubuhnya dan mengelus kepala Zhou Jim.
__ADS_1
Zhou Fan kemudian memasuki kamar mandi, dan membersihkan diri di sana. Begitu dia keluar, alangkah terkejutnya dia mendapati Zhou Jim dikelilingi cahaya kekuningan.
Zhou Fan berjalan ke ranjangnya dengan tatapan tak teralihkan dari Zhou Jim yang tengah terlungkup dengan kepala diantara kaki depannya.
"Apakah dia akan naik tingkat?" gumam Zhou Fan pelan, dia kemudian berbaring di atas ranjang, tapi pandangannya terus menuju ke arah serigalanya.
Setelah cahaya kekuningan itu terus berputar mengelilingi tubuh Zhou Jim, cahaya tersebut melesat ke simbol yang berada di kening serigala itu.
Zhou Jim seketika tersadar dan mulai beranjak bangun dan kembali aktif.
Auk!
Suara Zhou Jim berubah sedikit menjadi besar, serigala itu kemudian melompat ke ranjang menerjang Zhou Fan yang masih terus memandang.
Sekarang keduanya berada di atas ranjang, Zhou Fan menilik kekuatan Zhou Jim, seutas senyuman tipis terluka saat dia merasakan kekuatan serigala di sampingnya itu sudah berevolusi menjadi beast tingkat empat.
Meski dengan tubuh kecil, tidak menjadi halangan bagi Zhou Jim. Bahkan bagi Zhou Fan, Zhou Jim terlalu menakutkan dalam peningkatan kekuatan, mengingat serigala itu naik dari tingkatan petarung master bintang delapan menjadi tingkatan petarung grand master bintang satu.
....
Zhou Fan memutari desa biyu, kata seorang penduduk asli desa ini, terdapat sebuah acara khusus yang diadakan setahun sekali, dan kebetulan hari ini adalah bertepatan dengan acara khusus tersebut di adakan.
Tak membutuhkan waktu lama, Zhou Fan dapat menemukan tempat acara, banyak sekali petarung tingkat raja berkeliaran di desa ini, sangat berbeda dengan Kekaisaran Wei dimana petarung raja merupakan hal yang diagungkan.
Yang membuat Zhou Fan tertarik dengan acara satu ini adalah, acara ini bukan acara yang umum dia temui, di sini semua orang berhak menjadi peserta, mencari lawan dengan bermodal taruhan.
Nominal taruhan dapat dirundingkan, yang penting kedua belah pihak saling setuju, tak ada batasan ataupun aturan khusus lainnya.
Zhou Fan terlebih dahulu melihat, ingin tahu bagaimana acara ini berjalan.
Di tengah tengah sudah terdapat satu arena besar, dan di atasnya sudah berdiri satu orang, dia adalah juara bertahan tahun sebelumnya.
Dia di atas arena bertujuan mencari lawan untuknya, jika tidak ada yang berani, dia terlebih dahulu harus menyingkir dan membiarkan petarung baru naik dan mencari lawan.
Namun, belum juga selesai sang juara bertahan mengenalkan diri, sudah ada beberapa orang bersahutan ingin melawannya.
"Pilih aku! Aku bertarung sepuluh ribu koin emas!"
"Bagaimana denganku, lima belas koin emas!"
"Aku saja, dua belas koin emas!"
Semua tampak bersemangat mengajukan tawaran, mereka harus terima jika yang di atas tidak memilih mereka, karena itu adalah aturan tidak tertulis lainnya dalam acara ini.
Akhirnya sangat juara bertahan memilih orang dengan tawaran tertinggi, mereka harus bertarung sampai lawan menyerah bahkan mati, karena tak ada peraturan yang mengatakan dilarang membunuh.
Namun, mereka tetap menghormati orang yang terlebih dahulu menyerah.
__ADS_1
Zhou Fan memandang dua orang yang kini tengah bersiap, dia kemudian menyenggol pria di sampingnya.
"Bagaimana kalau kita bertaruh?!"