
Zhou Fan kini tengah berjalan menuju kediaman Qing Yuwei, untuk menghadiri undangan ayahnya.
"Apa yang seharusnya aku bawa?" Zhou Fan berpikir sebentar.
Suatu yang menarik untuk petarung tingkat grand master.
Cling...
Sebuah ide muncul dalam kotak pikiran Zhou Fan, "Seharusnya ini akan mempermulus keadaan."
Zhou Fan mengeluarkan kotak pill, yang di dalamnya terdapat beberapa botol pill.
"Tidak mungkinkan ini akan di tolak!" Zhou Fan berniat memberikan pill kultivasi tingkat 4 dan beberapa pill lainnya.
Meskipun terdapat alkemis bintang tiga, hanya tersedia pilll kultivasi bintang tiga di kota ini.
Zhou Fan tidak berniat memberikan pill tingkat lima karena pill kultivasi tingkat lima hanya tersisa beberapa dan itu untuk persediannya selama satu minggu.
Tepat di depan pintu kediaman Qing Yuwei, Zhou Fan mengetuk pintu itu sedikit keras.
Tak lama seorang wanita tua yang nampak seperti pelayan, membukakan pintu untuknya.
"Bisa saya bantu tuan?" Tanya sopan pelayan tua.
"Saya kemari menjawab undangan tetua kedua." Jawab Zhou Fan secepat kilat.
Pelayan itu kemudian membuka pintu lebih lebar, lalu meminta Zhou Fan mengikutinya.
"Tuan dan nona sudah menunggu," Ucapnya mempersilahkan.
Zhou Fan melewati area lapang yang luas, nampak di ujung terdapat sebuah joglo. Sangat indah.
Shut...
Seseorang tiba tiba melesat menyerang Zhou Fan, beruntung dapat pemuda itu hindari.
"Hehe... Anakku sepertinya tak salah menilai," Ucap pria paruh baya yang Zhou Fan yakini adalah ayah Qing Yuwei.
"Salam paman!" Zhou Fan membungkuk setengah badan sambil memberi kepalan tangan.
"Tak perlu bertele tele, kau harus menerima tantanganku sebelum kau mendapatkan putriku." Seru Qing Si.
"Takutnya ayah mertua tak akan sanggup dengan tulang yang sudah sepuh itu." Zhou Fan terkekeh.
Bukan membual, Zhou Fan sanggup menghadapi seorang petarung grand master bintang sembilan sekalipun, sedangkan Qing Si berada di tingkat petarung grand master bintang 8.
"Mulutmu sangat pedas bocah, aku tak akan sungkan kali ini." Qing Si berkata serius.
Hiat...
Zhou Fan ikut maju menyerang, sesama pengguna pedang mereka beradu teknik pedang.
Di awal Qing Si masih bisa menahan serangan Zhou Fan, namun lama kelamaan pria paruh baya itu mulai kewalahan.
Trang... Tring....
__ADS_1
"Sial! Bocah ini benar benar kuat."
Qing Si diliputi perasaan jengkel, tapi disisi lain dia juga senang, karena pemuda itu adalah calon menantunya.
"Bocah, sebenarnya berapa umurmu?" Tanya Qing Si yang ragu dengan umur asli Zhou Fan.
"20 tahun!"
Mata Qing Si seakan mau melompat keluar mendengar jawaban Zhou Fan.
Qing Si awalnya mengira Zhou Fan setidaknya berumur 27 tahun, karena berpikir syarat memasuki makam maksimal 27 tahun.
Mendengar umur Zhou fan masih 20 tahun membuat dirinya sangat tertekan, di umurnya yang ke empat puluh dua tidak dapat mengalahkan pemuda berusia kurang dari setengah umurnya.
Tapi mengingat Zhou Fan minimal alkemis bintang tiga, keraguannya memudar, jika didukung kemampuan membuat pillnya dan bimbingan orang hebat itu terdengar masuk akal baginya.
"Apakah akan dilanjutkan, ayah mertua?!" Tanya Zhou Fan sengaja.
"Cukup sampai disini saja. Eh... Siapa yang kau panggil ayah mertua, bocah!" Qing Si yang tadinya tenang kembali berapi api.
"Tuan, makanannya sudah siap, nona sudah menunggu di dalam," Lapor seorang pengawal.
"Bocah, aku belum sepenuhnya menyerahkan putriku kepadamu, tapi aku tertarik padamu." Qing Si merangkul Zhou Fan, lengannya mengalung di leher pemuda itu.
Eh?!
"Pak tua kau harus menjaga jarak dariku, aku masih lebih menyukai putrimu daripada seorang pria tua sepertimu." Berontak Zhou Fan.
"Apa yang kau pikirkan bocah." Qing Si merapatkan rangkulannya, mambuat Zhou f
Fan semakin sesak.
Sementara Qing Yuwei dari luar pintu kediamannya, menatap dua pria berbeda usia itu dengan penuh senyum, melihat ayah dan kekasihnya akur membuat hatinya begitu gembira.
Mereka bertiga pun makan malam bersama, sambil berbincang membuat waktu seolah berjalan sangat cepat.
Tak terasa, langit sudah sangat gelap. Zhou Fan yang merasa waktunya untuk berpamitan, berdiri dari kursinya.
"Ayah mertua?!" Panggil Zhou Fan tanpa sungkan.
"Bocah ini tetap saja," Gerutu Qing Si dalam hati.
Sementara Qing Yuwei nampak tersenyum malu mendengar Zhou Fan memanggil ayahnya, ayah mertua.
"Anggap saja hadiah dari menantumu ini...," Ucap Zhou Fan sambil mengeluarkan kotak yang sudah ia persiapkan.
Qing Si menerimanya, lalu mengintip sedikit apa yang ada di dalamnya. Matanya berbinar saat melihat botol botol pill di dalamnya. Ia sudah memiliki gambaran apa isi kotak.
"Apa kau menyuapku bocah!" Qing Si setengah bercanda dengan nada sedikit galak.
Kedekatan Qing Si dan Zhou Fan bisa dikatakan sangat baik, mereka saling nyambung saat mengobrol.
"Kalau ayah mertua tidak mau, aku akan memberikannya pada pengemis pinggir jalan." Tantang Zhou Fan.
"Cih, siapa yang mengatakan tidak mau. Aku hanya bertanya, kalau tidak ya sudah." Qing Si tersenyum kecut.
__ADS_1
Barang se berharga ini akan di berikan kepada pengemis pinggir jalan? gila, umpat Qing Si dalam hati.
Qing Yuwei mengantar Zhou Fan sampai gerbang kediamannya, tak ada percakapan di antara mereka selama perjalanan.
"Sampai jumpa Wei'er." Zhou Fan melambai tanpa membalikkan badannya dan dibalas lambaian tangan oleh Qing Yuwei.
Qing Yuwei berbalik, kemudian memegang dadanya yang dari tadi tak mau diam. Padahal dia sudah sangat dekat dengan Zhou Fan, bahkan sudah 'melakukannya', tapi Qing Yuwei masih tersipu mendengar percakapan ayah serta kekasihnya itu.
Perbincangan Qing Si dan Zhou Fan selalu tak jauh dari Qing Yuwei, mulai dari masa lalu, hal hal yang disukai sampai masa depan turut diperbincangkan oleh pasangan calon menantu dan ayah mertua itu.
Zhou Fan sekarang sudah berada di depan pintu kamarnya, saat ia akan mengetuk pintu, ia ragu untuk melakukannya, mengingat Wei Guanlin ada di dalam.
"Apakah aku menyewa kamar lain saja?" Zhou Fan merasa sedikit bimbang.
"Ah, sebaiknya begitu saja...," Putus Zhou Fan.
Saat akan melangkah menjauh, pintu kamarnya terbuka, dan menampakkan gadis cantik dengan wajah penuh air mata.
Sebenarnya ingin rasanya Zhou Fan memeluk gadis itu, tapi mengingat ia di tolak olehnya membuat Zhou Fan ragu untuk melakukannya.
"Kembalilah, aku akan menyewa kamar lain," Ucap Zhou Fan seraya membalikkan badannya.
Tapi sebuah pelukan menghentikannya, ia menoleh dan menemukan Wei Guanlin menangis sampai sesegukan.
Zhou Fan kemudian mambalikkan badannya agar berhadapan dengan Wei Guanlin, kemudian meraih kedua bahunya.
"Kau kenapa?" Pertanyaan datar dari Zhou Fan membuat hati Wei Guanlin semakin remuk.
"Aku sudah siap!" Wei Guanlin berkata pelan.
Ha? Zhou Fan terbengong.
"Apakah dia sudah menerimaku sepenuhnya, tapi mengapa?"
Zhou Fan tak bisa mencerna sesuatu yang baginya sangat tiba tiba.
"Aku tak akan memaksamu Lin'er, jangan lakukan jika kau tidak menginginkannya."
Zhou Fan berkata lebih lembut.
Wei Guanlin menggeleng, "Aku tak terpaksa, aku sungguh bersedia."
"Sudahlah, Wei'er aku tak memaksamu. Biarlah waktu yang menjawab." Zhou Fan berusaha membalikkan badannya.
Tapi Wei Guanlin mencengkram erat tubuhnya
"Apa kau tak menginginkan aku lagi. hiks hiks..." Wei Guanlin berkata lirih.
"Apa kau yakin?" Tanya Zhou Fan.
Wei Guanlin mengangguk dengan yakin.
"kau yakin?" Tanya Zhou Fan sekali lagi.
Lagi lagi Wei Guanlin mengangguk.
__ADS_1
Zhou Fan langsung menangkup wajah Wei Guanlin dan membopongnya ke kamar.....
Skip... Lanjutkan sendiri😌