Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 245 : Mendapatkan Pengakuan


__ADS_3

Jendral besar Huang tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi dia tidak buta, dia masih bisa melihat jelas bahwa bawahannya telah kalah di tangan seorang pemuda.


Tak hanya jendral besar Huang yang terkejut, seluruh orang yang menyaksikan juga merasakan hal serupa.


Kasim Kao menjadi orang yang terlihat paling konyol, dengan wajah menatap serius ke atas altar pertarungan, mulutnya terbuka lebar dengan dagu tertarik ke bawah.


Zhou Fan setelah mengalahkan lawannya, dia berjalan mendekati jendral besar Huang, begitu sampai di depannya, pemuda itu seolah memberi hormat.


"Bagaimana menurut kakek mertua?" Zhou Fan memainkan alisnya, naik turun bagai ombak samudra.


Mendengar pemuda itu menyebut Jendral besar Huang sebagai kakek mertua, tak ayal menimbulkan perdebatan di kalangan orang di sana.


"Sebenarnya siapa dia, meskipun memiliki kemampuan tidak seharusnya memanggil Tuan Besar sembarangan." Pria paruh baya yang merupakan anggota keluarga Huang berkata dari pojok tempat latihan.


"Dia akan mendapatkan masalah karena mulutnya yang tidak bisa ia jaga."


Pemikiran demi pemikiran mereka keluarkan, menjadikan Zhou Fan sebagai obyek taruhan. Menebak apa yang akan terjadi memang sangat menarik bagi mereka.


Jendral besar Huang tak langsung membalas sapaan Zhou Fan, pria tua itu masih berpikir, apakah benar pemuda ini suami dari cucunya.


Setelah memikirkannya masak masak, jendral besar Huang tak mendapatkan kepercayaan, dia masih ragu mengenai pernyataan pemuda di hadapannya.


Namun dia tidak bisa mengungkapkan ketidak percayaannya di hadapan semua orang, mengingat persyaratan yang telah dia keluarkan.


Zhou Fan menunggu tanggapan jendral besar Huang, dia dapat mengerti ketidakyakinan jendral besar Kekaisaran Shi itu kepadanya.


Memang sulit jika sebelumnya tidak mendapatkan penggalan cerita, bahkan dia mengingat betul cucunya tidak pernah bercerita bahwa dirinya telah memiliki seorang suami.


Zhou Fan mengeluarkan sebuah liontin dari balik pakaian, dia lalu menyerahkannya kepada jendral tua di hadapannya.


"Jika anda masih tidak percaya, setidaknya anda masih mengenali benda satu ini." Dia baru ingat mengenai liontin yang ada padanya saat tak sengaja melihat salah seorang pelayan melintas dengan memegang kalung di lehernya.

__ADS_1


Mata Huang Yu menyipit, tangannya meraih liontin yang memang terasa tak asing dalam ingatannya.


"Dari mana kau mendapatkan liontin ini?" Huang Yu bertanya dengan suara serak, dia sangat kenal dengan cincin di tangannya.


"Kaisar Wei yang memberikannya, beliau berkata ini akan membantu jika anda tidak percaya bahwa saya adalah menantunya." Zhou Fan masih saja berkata sopan, bagaimanapun pria tua berambut putih itu adalah senior, apalagi jika mempertimbangkan identitasnya sebagai kakek mertua.


"Memang sialan si Wei Huan itu!" Jendral besar Huang berseru dengan suara tertahan, dia kemudian menyimpan liontin tersebut dalam cincin penyimpanan.


Terlihat dari dekat, wajah jendral besar itu sembab, matanya memerah menahan air mata yang memaksa untuk keluar.


Zhou Fan tahu mengapa pria tua itu bersikap demikian, karena Wei Huan telah menceritakan sedikit kenangan dari liontin tersebut.


Liontin itu merupakan barang berharga milik nyonya besar Huang, istri Huang Yu. Di saat putrinya dipinang Wei Huan, liontin itu menjadi hadiah yang diberikan kepada putrinya.


Liontin tersebut mengingatkan Jendral besar Huang akan dua wanita yang merupakan orang terkasihnya, begitu menderitanya dia saat mengetahui dua sosok tersebut meninggalkannya terlebih dahulu.


Di dalam hati paling dalam dia mempunyai harapan, ingin terlebih dahulu meninggal sebelum istri dan juga putrinya. Namun, takdir berkata lain.


Setelah termenung beberapa saat, jendral besar Huang melenggang pergi, dengan langkah pelan dia berjalan sambil mengenang kembali ingatan indah bersama istri dan juga putrinya.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh jendral besar Huang, mereka yang ada di sana memiliki satu pemikiran yang sama. Bahwa pemuda itu benar benar menantu jendral besar Huang.


Kasim Kao yang masih berada di sana, dengan cepat menghampiri Zhou Fan. Dia membungkuk meminta maaf atas ketidaksopanan yang telah diperbuatnya.


"Jangan kau pikirkan, kasim Kao. Wajar jika mempertahankan keamanan kediaman yang menjadi tempat tinggal. Semua orang akan melakukan hal serupa jika menjadi dirimu." Mendengar perkataan Zhou Fan, pandangan Kasim Kao kepada pemuda itu berubah sepenuhnya.


"Tuan muda, Tuan besar tengah dalam suasana hati yang buruk, sebaiknya tuan muda beristirahat. Mari ke ruangan tuan muda, biar saya tunjukkan." Kasim Kao bersikap begitu hormat, dia memang terkenal akan loyalitasnya kepada kediaman Jendral besar, walau dia bukan bagian resmi keluarga Huang.


Zhou Fan diberikan ruangan yang teramat mewah, tidak jauh berbeda dengan ruangan yang dia tempati saat berada di istana Kekaisaran Wei.


Rogue juga diberikan ruangan sendiri, tapi masih berada di dekat ruangan Zhou Fan. Sedangkan untuk Zhou Jim dia ditempatkan di ruangan khusus, karena seekor beast tidak diperbolehkan berkeliaran.

__ADS_1


Sebelumnya Zhou Fan sudah mengatakan bahwa Zhou Jim bukanlah beast yang pada umumnya, tapi tetap peraturan di kediaman jendral besar sudah paten.


Mau tak mau Zhou Fan harus menempatkan Zhou Jim di sana, juga serigala itu tidak keberatan, karena dijanjikan makanan untuknya.


Zhou Fan merebahkan tubuhnya, dia memikirkan Wei Guanlin, sebentar lagi mereka akan bertemu. Zhou Fan tersenyum memikirkan hal itu.


"Dimana Lin'er, apakah dia tidak mendengar kehebohan yang telah aku timbulkan?" Zhou Fan berpikir heran, apakah kediaman jendral teramat luas, sampai dia tidak bisa mendengar apa yang terjadi?


Tak lama ketukan pintu ruangan terdengar, dengan secepat kilat Zhou Fan mendekat, dan membukakan pintu untuknya.


Begitu pintu terbuka, terlihat wanita muda dengan rambut panjang.


Zhou Fan menyipitkan mata, meneliti wanita muda di depannya.


"Tuan muda, tuan besar mencari tuan muda agar segera menemui beliau di ruangannya." Wanita muda itu menyampaikan pesan dari Huang Yu.


Zhou Fan terkesiap. "Emn... Baiklah, kau pimpin jalan."


Zhou Fan mengulurkan tangan, isyarat agar wanita muda yang agaknya pelayan kediaman terlebih dahulu menunjukkan jalan.


"Tuan muda, maaf jika pelayan ini lancang. Tapi apakah benar tuan muda merupakan suami dari nona muda?" Pelayan itu berkata dengan wajah menunduk, sementara posisinya berada di belakang Zhou Fan.


"Apakah aku harus menjawab pertanyaan mu?" Zhou Fan bertanya santai.


"Ti - tidak, jika tuan muda tidak bersedia juga pelayan ini tidak mengapa. Karena tidak sedikit bangsawan muda yang datang hendak meminang nona muda, tapi semua ditolaknya mentah mentah." Pelayan itu dengan cepat menyanggah perkataannya.


"Kenapa kau merasa aku hanya membual?" Zhou Fan menyipitkan mata, langkah kakinya berhenti tapi tak berbalik menghadap pelayan di belakangnya.


"Bukan seperti tuan muda, hanya saja pelayan ini berpikir, tuan muda pasti memiliki suatu hal yang amat berkesan bagi nona muda, sampai tidak menghiraukan para bangsawan muda yang datang." Pelayan itu mencoba memperbaiki ucapannya, dia tidak mau mendapat masalah karena menyinggung Zhou Fan.


"Hal amat berkesan?" Zhou Fan membatin sambil tersenyum, dia memikirkan hal berkesan yang ada padanya.

__ADS_1


Sejurus kemudian dia kembali melangkahkan kakinya, dalam benaknya dia memikirkan hal berkesan yang ada padanya, seutas senyum tipis tersungging mengiring kepergiannya.


__ADS_2